
Bocah laki-laki dengan perut bulat dan pipi gembilnya berlarian
mengejar kupu-kupu ditaman mansion.
Tak dipedulikan keringat yang mulai membasahi baju serta wajahnya.
Dia masih melanjutkan aktifitas yang digemarinya. Dan seolah tidak merasa
terganggu dengan bajunya yang mulai basah.
Dia tetap berlari dan terkadang berguling-guling di atas
rerumputan. Baju yang semula berwarna putih bersih menjadi coklat oleh tanah
berlumpur.
Taman tempatnya bermain baru saja disiram petugas underwood
mansion. Meninggalkan jejak-jejak basah direrumputan. Karena tugas sang surya
belum sepenuhnya terpenuhi. Penguasa siang itu masih malu-malu untuk menampakan
diri.
Hanya tawa kegembiraan yang keluar dari mulut mungil itu. Saat
lidahnya bisa menangkap kupu-kupu yang sedang hinggap dikelopak mawar warna
putih.
Serangga itu pun berpindah ke tangan sang bocah yang sedang
berjingkrak kesenangan. Karena terlalu bersemangat kupu-kupu pun terlepas dan
terbang menjauh.
Semakin tinggi kemudian hinggap di pucuk pohon mangga yang ada
ditengah taman. Penasaran sang bocah dengan kaki mungilnya memanjat tanaman
yang berusia sepuluh tahun itu.
Dia beralih dari batang pohon ke cabang dimana serangga cantik
tersebut hinggap. Saat kaki mungilnya menginjak bagian ranting terkecil dekat
dedaunan. Dia tergelincir dan meluncur jatuh dari ketinggian lima ratus meter.
Sang mama pun berteriak ngeri. Memanggil para pengawal agar
menyiapkan diri dibawah pohon. Untuk menangkap sang tuan kecil dari debaman ke
atas tanah.
Empat orang pria dewasa pun menyiapkan matras dan memegang erat
disetiap sisinya. Saat sang tuan kecil hampir menyentuh matras. Keajaiban pun
terjadi. Tubuhnya kembali melayang ke udara dengan posisi berdiri.
“Mommy aku bisa terbang!” teriaknya.
“Galee…hati-hati nak!”
“I know momy but I can fly. See!”
__ADS_1
“Ya honey. Mommy tahu. Bisakah kamu turun dari situ? Give me a big
hug, will you?”
“Oke mom”.
Gale pun melayang turun. Saat ujung kakinya telah menjejak tanah. Dia
berlari menghambur ke mamanya dan memberikan pelukan dan menciumi pipinya
berkali-kali. Sedangkan Suti tersenyum dan membalas perlakuan putranya dengan
mengeluarkan suara geraman seperti induk ayam yang tengah memberi makan
anaknya.
Kembali Gale tertawa riang, merasa geli dengan suara yang
dikeluarkan mommy pada saat memeluk dan menciuminya.
Melihat interaksi itu para bodyguard hanya bisa menggelengkan
kepala. Apalagi ketika melihat sang tuan kecil dengan kekuatannya. Tak satupun
diantara mereka yang merasa heran. Karena hampir setiap hari pengawal mansion
menemui bocah gembil tersebut menunjukan ilmu warisan sang leluhur yang
bersemayam dalam raganya.
Seperti janji nenek buyut The Robinson pada sang guru. Cicitnya
adalah wadah yang sempurna bagi Naga Lelono dan Naga Gini. Siluman kembar milik
pasangan Peter Jansen dan Darsi Subiantoro.
ilmu mereka. Dan sang bunda memberinya nama ‘Gale Bimantara Cartwright
Robinson’.
Sang pewaris The Cartwright sekaligus pemutus tali kutukan dari
sang nenek Laura London. Yang tak pernah berkeinginan menjadi pewaris darah
keturunan Anne Van Den Berg.
Sepuluh meter dari keributan ditengah taman. Tampak seorang baby
sister sedang mengawasi seorang nona kecil yang tengah bermain boneka.
Dengan serius dia menyajikan teh sore kepada semua boneka yang
sedang duduk dikursi mainan. Bocah perempuan berkepang dua dengan pipi gembil
menyerupai kakak laki-lakinya tampak berceloteh dengan riang.
Seolah dia sedang berbincang dengan dua orang. Ketika tiba-tiba
dia mengatakan, “Silahkan diminum tehnya granny Darsi dan grandpa Jansen”.
Dia pun terkikik geli saat poninya menyibak kesamping. Seolah ada
yang membetulkan posisi rambut yang menutupi mata hazelnya.
“Oke granny. Aku akan menyuruh nanny untuk menjepitnya, “katanya
__ADS_1
kembali.
Dia pun memberikan kode kepada perempuan berpakaian perawat
disampingnya untuk menjepit anak rambut yang berantakan. Dan benda berkilauan
berbentuk hati pun tersemat dirambut pirangnya.
Tak lama kemudian senandung ‘Yen ing tawang ono lintang’ keluar
dari mulut mungil itu. Dia tengah menidurkan boneka diatas gendongan. Tanpa
disadari awan mulai bergerak menutupi sinar matahari.
Kilauan kilat pun ikut menimpali diantara arakan awan yang mulai
menghitam. Dan tak lama kemudian bunyi Guntur terdengar bersamaan dengan curah
hujan kebumi.
Angin pun berhembus dengan kencang. Mengikuti alunan nada dari
sang nona kecil yang tengah menidurkan bonekanya.
“Arseeen. Hentikan lagunya sayang!” teriak sang mama dari tengah
taman.
Bocah nan cantik dengan mata hazel pun menoleh ke arah sang bunda.
Dan mencebikan bibir kala kesenangannya dilarang.
Sang mama membentuk tanda love dari tangannya. Dan seolah
melemparkan ke arah Arsen yang tengah merajuk.
Bocah itu pun berteriak kegirangan sambil menerima tanda cinta
bundanya. Dan membalasnya dengan memasukan dalam dada.
Keduanya pun tersenyum. Saling mengangkat jempol ke udara. Anak
perempuan nan manis pun menari berputar-putar dengan boneka kesayangannya.
Dan alam pun kembali tenang. Awan yang semula menutupi sinar
mentari bergerak menjauh. Menyisakan kilauan dari sang surya, menyinari bumi.
Dedaunan pun diam tak bergerak. Seolah tak sesuatu pun terjadi.
"Yah dia adalah ‘Arsen Bimantara Cartwright Robinson’. Kembaran
Gale yang tidak terdeteksi oleh USG saat berada di perut ibunya".
Bocah perempuan ini pun mewarisi kekuatan nenek dan kakek
buyutnya. Meskipun raganya bukan wadah bagi kedua siluman ular kembar milik
sang maha guru. Karena darah The Robinson juga mengalir dalam jiwanya.
Kehebohan Mansion dengan kehadiran The Twin Cartwright, menjadi
pelengkap kesibukan keluarga itu. Sedangkan sang nanny selalu siap menjaga
segala kemungkinan yang diluar nalar dengan kekuatan yang dipunyainya.
__ADS_1
Sinta dan Santi kakak adik utusan paman sang nyonya muda.