MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB LXXV


__ADS_3

Bocah laki-laki dengan perut bulat dan pipi gembilnya berlarian


mengejar kupu-kupu ditaman mansion.


Tak dipedulikan keringat yang mulai membasahi baju serta wajahnya.


Dia masih melanjutkan aktifitas yang digemarinya. Dan seolah tidak merasa


terganggu dengan bajunya yang mulai basah.


Dia tetap berlari dan terkadang berguling-guling di atas


rerumputan. Baju yang semula berwarna putih bersih menjadi coklat oleh tanah


berlumpur.


Taman tempatnya bermain baru saja disiram petugas underwood


mansion. Meninggalkan jejak-jejak basah direrumputan. Karena tugas sang surya


belum sepenuhnya terpenuhi. Penguasa siang itu masih malu-malu untuk menampakan


diri.


Hanya tawa kegembiraan yang keluar dari mulut mungil itu. Saat


lidahnya bisa menangkap kupu-kupu yang sedang hinggap dikelopak mawar warna


putih.


Serangga itu pun berpindah ke tangan sang bocah yang sedang


berjingkrak kesenangan. Karena terlalu bersemangat kupu-kupu pun terlepas dan


terbang menjauh.


Semakin tinggi kemudian hinggap di pucuk pohon mangga yang ada


ditengah taman. Penasaran sang bocah dengan kaki mungilnya memanjat tanaman


yang berusia sepuluh tahun itu.


Dia beralih dari batang pohon ke cabang dimana serangga cantik


tersebut hinggap. Saat kaki mungilnya menginjak bagian ranting terkecil dekat


dedaunan. Dia tergelincir dan meluncur jatuh dari ketinggian lima ratus meter.


Sang mama pun berteriak ngeri. Memanggil para pengawal agar


menyiapkan diri dibawah pohon. Untuk menangkap sang tuan kecil dari debaman ke


atas tanah.


Empat orang pria dewasa pun menyiapkan matras dan memegang erat


disetiap sisinya. Saat sang tuan kecil hampir menyentuh matras. Keajaiban pun


terjadi. Tubuhnya kembali melayang ke udara dengan posisi berdiri.


“Mommy aku bisa terbang!” teriaknya.


“Galee…hati-hati nak!”


“I know momy but I can fly. See!”

__ADS_1


“Ya honey. Mommy tahu. Bisakah kamu turun dari situ? Give me a big


hug, will you?”


“Oke mom”.


Gale pun melayang turun. Saat ujung kakinya telah menjejak tanah. Dia


berlari menghambur ke mamanya dan memberikan pelukan dan menciumi pipinya


berkali-kali. Sedangkan Suti tersenyum dan membalas perlakuan putranya dengan


mengeluarkan suara geraman seperti induk ayam yang tengah memberi makan


anaknya.


Kembali Gale tertawa riang, merasa geli dengan suara yang


dikeluarkan mommy pada saat memeluk dan menciuminya.


Melihat interaksi itu para bodyguard hanya bisa menggelengkan


kepala. Apalagi ketika melihat sang tuan kecil dengan kekuatannya. Tak satupun


diantara mereka yang merasa heran. Karena hampir setiap hari pengawal mansion


menemui bocah gembil tersebut menunjukan ilmu warisan sang leluhur yang


bersemayam dalam raganya.


Seperti janji nenek buyut The Robinson pada sang guru. Cicitnya


adalah wadah yang sempurna bagi Naga Lelono dan Naga Gini. Siluman kembar milik


pasangan Peter Jansen dan Darsi Subiantoro.


ilmu mereka. Dan sang bunda memberinya nama ‘Gale Bimantara Cartwright


Robinson’.


Sang pewaris The Cartwright sekaligus pemutus tali kutukan dari


sang nenek Laura London. Yang tak pernah berkeinginan menjadi pewaris darah


keturunan Anne Van Den Berg.


Sepuluh meter dari keributan ditengah taman. Tampak seorang baby


sister sedang mengawasi seorang nona kecil yang tengah bermain boneka.


Dengan serius dia menyajikan teh sore kepada semua boneka yang


sedang duduk dikursi mainan. Bocah perempuan berkepang dua dengan pipi gembil


menyerupai kakak laki-lakinya tampak berceloteh dengan riang.


Seolah dia sedang berbincang dengan dua orang. Ketika tiba-tiba


dia mengatakan, “Silahkan diminum tehnya granny Darsi dan grandpa Jansen”.


Dia pun terkikik geli saat poninya menyibak kesamping. Seolah ada


yang membetulkan posisi rambut yang menutupi mata hazelnya.


“Oke granny. Aku akan menyuruh nanny untuk menjepitnya, “katanya

__ADS_1


kembali.


Dia pun memberikan kode kepada perempuan berpakaian perawat


disampingnya untuk menjepit anak rambut yang berantakan. Dan benda berkilauan


berbentuk hati pun tersemat dirambut pirangnya.


Tak lama kemudian senandung ‘Yen ing tawang ono lintang’ keluar


dari mulut mungil itu. Dia tengah menidurkan boneka diatas gendongan. Tanpa


disadari awan mulai bergerak menutupi sinar matahari.


Kilauan kilat pun ikut menimpali diantara arakan awan yang mulai


menghitam. Dan tak lama kemudian bunyi Guntur terdengar bersamaan dengan curah


hujan kebumi.


Angin pun berhembus dengan kencang. Mengikuti alunan nada dari


sang nona kecil yang tengah menidurkan bonekanya.


“Arseeen. Hentikan lagunya sayang!” teriak sang mama dari tengah


taman.


Bocah nan cantik dengan mata hazel pun menoleh ke arah sang bunda.


Dan mencebikan bibir kala kesenangannya dilarang.


Sang mama membentuk tanda love dari tangannya. Dan seolah


melemparkan ke arah Arsen yang tengah merajuk.


Bocah itu pun berteriak kegirangan sambil menerima tanda cinta


bundanya. Dan membalasnya dengan memasukan dalam dada.


Keduanya pun tersenyum. Saling mengangkat jempol ke udara. Anak


perempuan nan manis pun menari berputar-putar dengan boneka kesayangannya.


Dan alam pun kembali tenang. Awan yang semula menutupi sinar


mentari bergerak menjauh. Menyisakan kilauan dari sang surya, menyinari bumi.


Dedaunan pun diam tak bergerak. Seolah tak sesuatu pun terjadi.


"Yah dia adalah ‘Arsen Bimantara Cartwright Robinson’. Kembaran


Gale yang tidak terdeteksi oleh USG saat berada di perut ibunya".


Bocah perempuan ini pun mewarisi kekuatan nenek dan kakek


buyutnya. Meskipun raganya bukan wadah bagi kedua siluman ular kembar milik


sang maha guru. Karena darah The Robinson juga mengalir dalam jiwanya.


Kehebohan Mansion dengan kehadiran The Twin Cartwright, menjadi


pelengkap kesibukan keluarga itu. Sedangkan sang nanny selalu siap menjaga


segala kemungkinan yang diluar nalar dengan kekuatan yang dipunyainya.

__ADS_1


Sinta dan Santi kakak adik utusan paman sang nyonya muda.


__ADS_2