MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB LXXX


__ADS_3

Akar dari segalanya


Di padepokan Suryadiningrat.


“Jebllaaar”.


“Blassssh. Ciut…suit…blaaaar”.


“Yaaah terkena tempat kosong. Brengsek!”


“Adiwangsa jaga ucapanmu!”


“Nggih Romo, maaf”.


“Lanjutkan lagi latihannya!”


“Sendiko room”.


Di sisi lain dari padepokan.


“Yen ing tawang ono lintang cah ayu…….”


Kidungan terdengar dari mulut bocah lelaki yang tak kalah


tampannya dengan Adiwangsa. Dan alam pun menyambut suara merdu itu.


Pepohonan mulai bergoyang. Awan mengikuti dengan menata dirinya.


Sang surya tersingkirkan sinarnya. Kegelapan mulai menyelimuti di ikuti bunyi


petir yang menggelegar di angkasa.


Hujan pun turun seolah tercurahkan dari langit. Dan kilat


menyambar semua benda yang ada di sekitar padepokan.


“Braaak…praaang…duaaar”.


“Pletak…pletak…blaaarrrr”.


“Woooossh….wusssh”.


“Adiwijaya hentikan!”


“Nggih romo”.


Dalam sekejap semua keributan terhenti bersamaan dengan sahutan si


empunya kidungan.


“Kalian berdua cepat kemari!”


“Sendiko Romo! Serentak jawaban terdengar.


Kedua bocah menjejakan kakinya ke tanah, tubuhnya pun melayang


menuju gazebo dimana sang ayahanda menunggu. Membungkukan badannya sebentar


sebelum duduk bersila dihadapan sang ayahanda.


“Aku lihat sudah banyak kemajuan dari latihan kalian hari ini.


Jadi romo akan memberikan keris Kanoragan kembar kepada kalian berdua”.


“Sendiko Romo, “jawab keduanya.


“Ini untuk Adiwangsa~sebagai kakak tertua, kuberikan Keris Nogo


kepadamu, “sembari mengangsurkan benda bertuah itu.


“Terima kasih, “membuka warangka-nya. Keris pun mengeluarkan asap


sebentar. Dan memasuki raga Adiwangsa.


“Dan ini untuk Adiwijaya. Romo berikan keris Macan Putih kepadamu,


“beliau pun memberikan keris kedua kepada bocah yang lebih muda.


“Terima kasih bopo”.


Kembali peristiwa yang sama terjadi. Benda itu bergetar sebentar


sebelum memasuki tubuh Adiwijaya.


“Sekarang kalian dengarkan baik-baik. Benda yang ada dalam tubuh

__ADS_1


kalian kelak akan menolong sebuah keluarga sekaligus musibah bagi mereka. Aku minta


bersikaplah dengan bijaksana dalam menghadapinya”.


“Ampun bopo jika ananda lancang. Apakah mereka keturunan kita?”


sambil menangkupkan tangan menghormat.


“Tidak Adiwijaya, mereka bukan darah daging keluarga kita. Tapi karena


takdir keluarga itu terikat dengan kalian si kembar dari Suryadiningrat. Kelak mereka


dan keturunannya yang mewarisi ilmu kalian. Dan semuanya sudah kutuliskan dalam


perkamen kulit lembu ini”.


Benda tersebut diangsurkan kepada kedua anaknya.


“Jika kalian menemui kesulitan, carilah jawabannya disini”.


“Sendiko bopo, “jawab keduanya serempak.


“Sekarang istirahatlah dan temui kanjeng ibu di dalam”.


“Nggih bopo, “keduanya menjura hormat dan meninggalkan gazebo. Dimana


sang ayahanda tersenyum mengiringi kepergian putra kembarnya.


Dalam hati Suryadiningrat bergumam, “Heemss~kelak permasalahan


kalian berdua lebih rumit. Semoga kalian bisa menyelesaikannya. Ayahanda berdoa


untuk kalian”.


***


Beberapa tahun kemudian.


Adiwijaya dan Adiwangsa bertarung mati-matian melindungi sang


pangeran dari serangan para pemberontak.


Dalam istana terjadi peperangan pungkasan yang besar. Pemberontakan


itu dipimpin oleh sang Mahapatih, orang terdekat dari pangeran.


menggulingkan pangeran putra dari sang permaisuri.


Mahapatih Adara adalah putra dari selir ketujuhbelas, yang haus


akan kekuasaan dan hendak menggulingkan tahta dari pangeran ‘Abinaya’.


Sang pangeran yang masih berusia tiga belas tahun belum mengerti


akan keserakahan sang paman. Trik licik yang dilakukan antek-anteknya pun tak


dapat dibacanya.


Beruntunglah Abinaya dikelilingi oleh orang-orang kepercayaan


ayahandanya. Sehingga tak sampai terguling dari tahtanya.


Bahkan saat di istana peperangan sudah mereda, jauh dilereng kaki


gunung Ringgit masih terjadi perkelahian sengit antara Adiwijaya dan Adiwangsa


dengan dukun sakti kerajaan utusan sang Mahapatih.


Sang dukun sangat sakti, sehingga kedua pemuda kembar itu


mengeluarkan ilmu pamungkasnya. Dengan berubah wujud menjadi siluman ular dan


macan putih raksasa.


Namun malang tak dapat ditolak, saat penyatuan wujud keduanya


tubuh Adiwangsa terbakar oleh serangan sang dukun.


Ketika keduanya memenangkan pertarungan, sukma sang adik pun berdiam


dalam raga kakaknya agar tak hancur. Alhasil raga Adiwijaya sering berbicara


sendiri dengan suara yang berbeda, saat bertolak pendapat terjadi di antara


keduanya.

__ADS_1


Bahkan kini pengawal pribadi Pangeran Abinaya, tidak berani


kembali ke kerajaan karena wujud mereka yang berbeda.


Keduanya menjadi satu wujud siluman ular dan macan putih yang


perlahan menggeser sifat manusianya. Dengan bentuk yang buruk layaknya siluman


lainnya. Adiwijaya bertapa di gua ular yang ada di hutan Ringgit, untuk


memulihkan tenaga dan mengembalikan sisi manusianya.


Beruntunglah siluman-siluman tersebut hanya memangsa darah hewan


disekitar hutan. Sehingga tak pernah sedikitpun terdengar korban dari penduduk


pribumi yang tinggal di daerah Prigen.


Sang pengawal pun menjuluki dirinya sendiri dengan nama ‘Ki Nogo


Sosro’ yang merupakan cikal bakal semuanya berasal.


Dia menikahi perempuan yang bernama ‘Ava Khandra Ardhana’ yang maknanya,


perempuan berpenampilan tenang yang bercita-cita tinggi untuk menyinari


kehidupan.


Ava punya ciri khusus tahi lalat yang menutupi di punggung sebelah


kirinya. Tanda alami jika sang empunya tubuh merupakan penakluk semua siluman


yang ada dibumi.


Wataknya yang pemberani, baik dan jujur serta punya khodam


sendiri, tak mempan akan semua serangan dari perwujudan Ki Nogo Sosro.


Dan lahirlah keturunan pasangan itu yang bernama ‘Arum’. Dari perempuan


inilah terlahir generasi kedua puluh ‘Sukirno’, pria tua yang sangat setia


kepada majikannya ‘Peter Jansen’.


Hingga berabad-abad kemudian ‘Nogo Sosro’ yang masih hidup merasa


heran dengan perkamen warisan ayahandanya yang dikoleksi oleh keluarga The Cartwright.


 Ki Nogo melihat ada


informasi yang hilang saat pertempuran pamungkasan dengan Peter Jansen, ada


sedikit peristiwa yang tak tertulis di atas gulungan kuno tersebut.


Saat perwujudan Lelono memakai tipuan wujud manusianya dan memohon


ampun. Kemudian dia disadarkan oleh Darsi, jika itu bukan Peter Jansen tapi


tipuan siluman ularnya. “Betul-betul cara penyerangan yang penuh tipuan, kan?”


The end.


***


Dear my lovely readers.


Thanks for your support by reading my novel. Hopefully you will


read my writing again and again. Then give your tumb, vote, comments and


flowers on it.


Don’t forget to wait my next novel by PUTRI CAROLINE.


See you…..


Para pembacaku tercinta.


Terima kasih atas dukungannya dengan membaca novel othor. Dan saya


berharap kalian akan membaca goresan pena-ku lagi dan lagi. Kemudian


meninggalkan jejak like, vote, komentar dan bunga.


Jangan lupa untuk menunggu karya othor selanjutnya oleh PUTRI

__ADS_1


CAROLINE.


Sampai jumpaaa…..


__ADS_2