
Akar dari segalanya
Di padepokan Suryadiningrat.
“Jebllaaar”.
“Blassssh. Ciut…suit…blaaaar”.
“Yaaah terkena tempat kosong. Brengsek!”
“Adiwangsa jaga ucapanmu!”
“Nggih Romo, maaf”.
“Lanjutkan lagi latihannya!”
“Sendiko room”.
Di sisi lain dari padepokan.
“Yen ing tawang ono lintang cah ayu…….”
Kidungan terdengar dari mulut bocah lelaki yang tak kalah
tampannya dengan Adiwangsa. Dan alam pun menyambut suara merdu itu.
Pepohonan mulai bergoyang. Awan mengikuti dengan menata dirinya.
Sang surya tersingkirkan sinarnya. Kegelapan mulai menyelimuti di ikuti bunyi
petir yang menggelegar di angkasa.
Hujan pun turun seolah tercurahkan dari langit. Dan kilat
menyambar semua benda yang ada di sekitar padepokan.
“Braaak…praaang…duaaar”.
“Pletak…pletak…blaaarrrr”.
“Woooossh….wusssh”.
“Adiwijaya hentikan!”
“Nggih romo”.
Dalam sekejap semua keributan terhenti bersamaan dengan sahutan si
empunya kidungan.
“Kalian berdua cepat kemari!”
“Sendiko Romo! Serentak jawaban terdengar.
Kedua bocah menjejakan kakinya ke tanah, tubuhnya pun melayang
menuju gazebo dimana sang ayahanda menunggu. Membungkukan badannya sebentar
sebelum duduk bersila dihadapan sang ayahanda.
“Aku lihat sudah banyak kemajuan dari latihan kalian hari ini.
Jadi romo akan memberikan keris Kanoragan kembar kepada kalian berdua”.
“Sendiko Romo, “jawab keduanya.
“Ini untuk Adiwangsa~sebagai kakak tertua, kuberikan Keris Nogo
kepadamu, “sembari mengangsurkan benda bertuah itu.
“Terima kasih, “membuka warangka-nya. Keris pun mengeluarkan asap
sebentar. Dan memasuki raga Adiwangsa.
“Dan ini untuk Adiwijaya. Romo berikan keris Macan Putih kepadamu,
“beliau pun memberikan keris kedua kepada bocah yang lebih muda.
“Terima kasih bopo”.
Kembali peristiwa yang sama terjadi. Benda itu bergetar sebentar
sebelum memasuki tubuh Adiwijaya.
“Sekarang kalian dengarkan baik-baik. Benda yang ada dalam tubuh
__ADS_1
kalian kelak akan menolong sebuah keluarga sekaligus musibah bagi mereka. Aku minta
bersikaplah dengan bijaksana dalam menghadapinya”.
“Ampun bopo jika ananda lancang. Apakah mereka keturunan kita?”
sambil menangkupkan tangan menghormat.
“Tidak Adiwijaya, mereka bukan darah daging keluarga kita. Tapi karena
takdir keluarga itu terikat dengan kalian si kembar dari Suryadiningrat. Kelak mereka
dan keturunannya yang mewarisi ilmu kalian. Dan semuanya sudah kutuliskan dalam
perkamen kulit lembu ini”.
Benda tersebut diangsurkan kepada kedua anaknya.
“Jika kalian menemui kesulitan, carilah jawabannya disini”.
“Sendiko bopo, “jawab keduanya serempak.
“Sekarang istirahatlah dan temui kanjeng ibu di dalam”.
“Nggih bopo, “keduanya menjura hormat dan meninggalkan gazebo. Dimana
sang ayahanda tersenyum mengiringi kepergian putra kembarnya.
Dalam hati Suryadiningrat bergumam, “Heemss~kelak permasalahan
kalian berdua lebih rumit. Semoga kalian bisa menyelesaikannya. Ayahanda berdoa
untuk kalian”.
***
Beberapa tahun kemudian.
Adiwijaya dan Adiwangsa bertarung mati-matian melindungi sang
pangeran dari serangan para pemberontak.
Dalam istana terjadi peperangan pungkasan yang besar. Pemberontakan
itu dipimpin oleh sang Mahapatih, orang terdekat dari pangeran.
menggulingkan pangeran putra dari sang permaisuri.
Mahapatih Adara adalah putra dari selir ketujuhbelas, yang haus
akan kekuasaan dan hendak menggulingkan tahta dari pangeran ‘Abinaya’.
Sang pangeran yang masih berusia tiga belas tahun belum mengerti
akan keserakahan sang paman. Trik licik yang dilakukan antek-anteknya pun tak
dapat dibacanya.
Beruntunglah Abinaya dikelilingi oleh orang-orang kepercayaan
ayahandanya. Sehingga tak sampai terguling dari tahtanya.
Bahkan saat di istana peperangan sudah mereda, jauh dilereng kaki
gunung Ringgit masih terjadi perkelahian sengit antara Adiwijaya dan Adiwangsa
dengan dukun sakti kerajaan utusan sang Mahapatih.
Sang dukun sangat sakti, sehingga kedua pemuda kembar itu
mengeluarkan ilmu pamungkasnya. Dengan berubah wujud menjadi siluman ular dan
macan putih raksasa.
Namun malang tak dapat ditolak, saat penyatuan wujud keduanya
tubuh Adiwangsa terbakar oleh serangan sang dukun.
Ketika keduanya memenangkan pertarungan, sukma sang adik pun berdiam
dalam raga kakaknya agar tak hancur. Alhasil raga Adiwijaya sering berbicara
sendiri dengan suara yang berbeda, saat bertolak pendapat terjadi di antara
keduanya.
__ADS_1
Bahkan kini pengawal pribadi Pangeran Abinaya, tidak berani
kembali ke kerajaan karena wujud mereka yang berbeda.
Keduanya menjadi satu wujud siluman ular dan macan putih yang
perlahan menggeser sifat manusianya. Dengan bentuk yang buruk layaknya siluman
lainnya. Adiwijaya bertapa di gua ular yang ada di hutan Ringgit, untuk
memulihkan tenaga dan mengembalikan sisi manusianya.
Beruntunglah siluman-siluman tersebut hanya memangsa darah hewan
disekitar hutan. Sehingga tak pernah sedikitpun terdengar korban dari penduduk
pribumi yang tinggal di daerah Prigen.
Sang pengawal pun menjuluki dirinya sendiri dengan nama ‘Ki Nogo
Sosro’ yang merupakan cikal bakal semuanya berasal.
Dia menikahi perempuan yang bernama ‘Ava Khandra Ardhana’ yang maknanya,
perempuan berpenampilan tenang yang bercita-cita tinggi untuk menyinari
kehidupan.
Ava punya ciri khusus tahi lalat yang menutupi di punggung sebelah
kirinya. Tanda alami jika sang empunya tubuh merupakan penakluk semua siluman
yang ada dibumi.
Wataknya yang pemberani, baik dan jujur serta punya khodam
sendiri, tak mempan akan semua serangan dari perwujudan Ki Nogo Sosro.
Dan lahirlah keturunan pasangan itu yang bernama ‘Arum’. Dari perempuan
inilah terlahir generasi kedua puluh ‘Sukirno’, pria tua yang sangat setia
kepada majikannya ‘Peter Jansen’.
Hingga berabad-abad kemudian ‘Nogo Sosro’ yang masih hidup merasa
heran dengan perkamen warisan ayahandanya yang dikoleksi oleh keluarga The Cartwright.
Ki Nogo melihat ada
informasi yang hilang saat pertempuran pamungkasan dengan Peter Jansen, ada
sedikit peristiwa yang tak tertulis di atas gulungan kuno tersebut.
Saat perwujudan Lelono memakai tipuan wujud manusianya dan memohon
ampun. Kemudian dia disadarkan oleh Darsi, jika itu bukan Peter Jansen tapi
tipuan siluman ularnya. “Betul-betul cara penyerangan yang penuh tipuan, kan?”
The end.
***
Dear my lovely readers.
Thanks for your support by reading my novel. Hopefully you will
read my writing again and again. Then give your tumb, vote, comments and
flowers on it.
Don’t forget to wait my next novel by PUTRI CAROLINE.
See you…..
Para pembacaku tercinta.
Terima kasih atas dukungannya dengan membaca novel othor. Dan saya
berharap kalian akan membaca goresan pena-ku lagi dan lagi. Kemudian
meninggalkan jejak like, vote, komentar dan bunga.
Jangan lupa untuk menunggu karya othor selanjutnya oleh PUTRI
__ADS_1
CAROLINE.
Sampai jumpaaa…..