MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XIII


__ADS_3

Kantor Jay, Cartwright building.


“Oh ****, apakah dia marah. Apakah dia cemburu. Apa kata mama


nanti?”, bingung Jay.


“Bruuuk”, merebahkan tubuhnya ke sofa sembari memijit-mijit


keningnya yang terasa lelah. Matanya memerah menahan amarah atas ke egoisanya


barusan, membuat Jay terduduk dan meraih telepon didekatnya.


“Jeff, ikuti nyonya muda!”


“Iii….ikuti kemana bos. Bukannya nyonya bersama anda sekarang?”


“Damn you Jeff, jika dia ada disini buat apa aku menyuruhmu?”


“Maaf bos, saya tidak tahu”.


“Kerahkan anak-anak dari base camp”.


“Siap bos”.


“Suruh bagian IT meretas CCTV kota”.


“Oke bos”.


Setelahnya Jay merapikan dasi dan baju yang berantakan akibat ulah


Selly. Gegas menuju ruang istirahat tuk mengganti bajunya yang kusut. Depan


wastafel dia berkali-kali membasuh mukanya dengan air. Mencoba menghilangkan


jejak Selly dari sana. Tapi tak bisa. Dengan kesal tangan kanannya meninju


cermin dan berantakan, hancur berkeping-keping ke lantai.


“Brengsek, mengapa aku begitu brengsek”, sesalnya berkali-kali.


Air basuhan menetes dari wajah serta rambut yang berantakan, ia


menatap wajah penuh penyesalan dari sana, betapa kepalanya seakan mau pecah.


Sedetik kemudian,


“Blaamm”, pintu terbanting.


Jay mengambil tas di atas meja, menuju keluar ruangan. Tanpa


menoleh dia berkata,


“Selly saya ada urusan diluar, cancel semua jadwal hari ini.


Alihkan besok!”


“Baik Mr. Jay”.


Jay melangkah menuju lift. Smirk Selly semakin lebar dan pancaran


euporia kegembiran begitu kentara diwajahnya. Sayangnya hal itu tak tertangkap


mata Jay.


“Ting”.


Tepat dimeja resepsionis. Jay yang hendak meninggalkan kantor


berbalik arah menghampiri petugas yang sedang melakukan panggilan telepon.


“Em Santi”.


“Ya Mr. Jay”.


“Bilang pada Andrew untuk menghandle tugas ku hari ini. Aku lupa


mengatakannya tadi”.


“Baik pak”.


“Ingat Santi sampaikan sekarang via phone ya”, tegasnya sekali


lagi.


“Oke bos, semoga perjalanan anda menyenangkan”, jawabnya sambil


menangkupkan tangan.


Menjentikan jari, ia memanggil sekuriti yang berada didekat pintu


masuk gedung sembari berkata,


“Panggil sopirku kemari!”, titahnya.


“Oke bos”.


Didalam mobil Jay berkali-kali mengurut pelipisnya yang berkedut


menahan emosi. Jiwanya hilang sesaat memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang


akan dihadapinya terutama mamanya yang tentu akan sangat bersedih.


“Ini gila”, rutuknya dalam hati. “Bagaimana bisa aku terjebak dalam


permainan Selly?”

__ADS_1


“Kita kemana bos?”, tanya Jeff yang saat ini sedang mengemudi.


“Ada info terbaru tentang nyonya muda?”


“Belum bos tapi pakar IT kita bilang jika mobil yang dikendarai


pak Tarno sedang melaju keluar kota”.


“Apa dia dalam keadaan terburu-buru?”


“Em…tidak bos. Lajunya normal sekitar enam puluh kilometer per


jam”.


“Apakah sudah kelihatan mobil itu memasuki kota lagi?”


“Sepertinya tidak bos”.


“Damn, kemana dia ini sudah larut malam?”


“Bos, nyonya muda menuju kampung lek Parjo di prigen”.


“Apaa!”


Di daerah pegunungan Prigen.


Udaranya asri dan segar, tak banyak polusi disini. Jalan yang naik


dan berkelok tajam, merupakan pemandangan yang lumrah. Penduduk asli sudah


terbiasa dengan lingkungan tersebut, akan terasa berbeda dengan orang dari luar


daerah yang justru memandang keadaan itu sebagai pengalaman mengerikan.


Terutama daerah patung kuda yang sisi kanan dan kirinya merupakan perkebunan


dan taman bunga. Jika ada rumah penduduk itu pun jarang sekali.


Tarno yang punya pengalaman selama bertahun-tahun sebagai supir


truk terbiasa akan hal itu. Mengantar barang antar kota bahkan antar propinsi


adalah hal yang menjadi kebiasaannya dulu di perusahaan Cartwright. Ya dia


adalah salah satu sopir perusahaan Jay sebelum diangkat menjadi sopir keluarga


karena jasanya terhadap tuan Bob, ayah kandung Jay.


Suami mama Laura, yang meninggal karena pembunuhan berencana.


Dimata orang normal seperti pembunuhan oleh senjata tajam, saat malam naas itu


beliau pulang dari kantor dan sedang dikeroyok empat orang berbadan besar serta


memakai cadar.


mobilnya sendirian karena akan memberikan pesta kejutan ulang tahun kepada


istrinya, sengaja dilakukan karena sang sopir disuruh menjemput sang istri


menuju tempat pesta rahasianya.


Malam yang sepi tak tampak satupun sekuriti perusahaan di gerbang,


membuatnya tak mencurigai sesuatu pun. Sampai kemudian datang ke empat orang


tersebut dengan membawa belati masing-masing di tangan kanan.


Tanpa persiapan Bob melawan mereka menggunakan tangan kosong,


kalah jumlah dan tenaga dia terkapar ditanah dengan darah berhamburan dari dada


serta perutnya.


Satpam perusahaan yang telah dilumpuhkan dan di ikat oleh lawan


hanya mampu membeliakan mata tanpa bersuara. Mereka ngeri dan menangis dalam


diam saat pemandangan sadis pembantaian sang majikan tergambar dengan jelas


melalui kamera pengintai keamanan.


Tergeletak tak berdaya Bob ditinggalkan orang yang menyerangnya,


mereka kabur menuju arah timur dengan mobil van berwarna perak.


Tarno yang habis bongkar muatan di gudang perusahaan bagian


belakang hendak pulang kerumah setelah berhari-hari mengangkut bahan baku dari


Jawa Barat, membuat nyawa Mr. Bobby terselamatkan walaupun sebulan kemudian dia


meninggal dengan cara mengenaskan. Dia sembuh total setelah dirawat dari rumah


sakit tapi serangan gagal jantungnya, mematikan.


Lirikan netranya kembali ia gulirkan ke majikan mudanya di bangku


penumpang. Ia yang tak mampu merangkai kata-kata manis sebagai penghiburan


membuatnya diam sambil melajukan kendaraannya pelan. Hingga sampai dikawasan


yang penuh dengan perkebunan serta sawah yang padinya tampak tumbuh subur


dimana-mana, didengarnya sebuah perintah.

__ADS_1


“Pak kita turun disini!”, tunjuknya pada area sawah yang dekat


dengan sungai dimana penduduk desa biasanya mencuci dan mandi.


“Tapi non rumah lek Parjo kan masih jauh”.


“Tak apa, pak. Ini juga merupakan sawahnya”.


“Non mau apa disini?” dia bertanya ketika netranya melirik sang


majikan yang melepas sepatu.


“Tunggu disini pak, aku akan duduk dibatu besar ditengah sawah


itu”.


“Tapi non”, hendak melanjutkan kalimatnya tak jadi saat melihat


air muka majikannya yang tampak antusias dengan sedikit senyuman tersembul dari


bibirnya yang cantik.


Tak tega ia pun membiarkan dan hanya menunggu di tepian sawah


sambil melihat sekeliling memastikan keamanan sang nona muda.


Suti melangkah dengan mantap menuju batu favoritnya. Ia yang


biasanya berjalan hati-hati, cenderung terburu agar segera mencapai tempat itu.


Sesaat begitu tiba kaki kanan diangkat dengan tumpuan kedua


tangannya diatas batu. Permukaan batu yang sedikit kasar tak menyurutkan


tekadnya.


Sedetik kemudian posisi bersila menghadap arah barat memandangi


rerimbunan hutan nun jauh disana tercapai. Memejamkan mata, menikmati hembusan


angin sore membuat tercapainya relaksasi.


Dia membuang semua bayangan kejadian dikantor Jay siang ini.


Posisi intim suaminya dengan sang sekretaris diatas meja kerja tergambar dengan


jelas. Decapan ciuman bibir dari kedua makhluk yang akrab dengannya itu


tergiang kembali, ia pun menggelengkan kepala berkali-kali. Dalam hatinya


mengeluh,


“Bunda angkat sakit hati ini. Buang jauh-jauh penderitaanku. Bunda


biarkan aku ikut denganmu. Beban hidup ini sudah tak ingin kutanggung lagi.


Bunda tolong aku”.


Sedetik kemudian kepala Suti tertunduk terkulai memandangi batu


besar tempatnya duduk saat ini. Tampak kemudian tubuh Suti tersentak seolah


sadar akan sesuatu. Pupil matanya berubah hijau dengan aura jahat didalamnya.


Ketika adzan isya’ berkumandang dari musholla ditengah pedesaan, dia kembali


normal.


Senyum sumringah terpancar dari wajahnya yang pucat terkena angin


malam, ia pun turun dari sana menuju Tarno yang sedang menunggu. Tak menyadari


ada perubahan dari sang majikan dia membukakan pintu penumpang.


“Kita kemana lagi non?”


“Pulang pak”.


“Ke kota maksudnya apa ke rumah pamannya non?”


“Mama Laura”, hanya sahutan pendek yang didengarnya.


“Brrrrrrrrrm”.


Mobil pun kembali melaju diantara bukit dan jalanan yang berkelok


menukik tajam. Lampu zein dihidupkan sebagai penerang diantara keheningan malam


yang tiba-tiba sunyi seolah ada makhluk gaib yang sedang melintas. Tak terpikirkan


sedikit pun oleh Tarno, karena ini adalah daerah pedesaan.


“Tin…….tin….tin”.


Pintu gerbang dibuka, mobil pun melaju menuju depan pintu masuk


mansion Cartwright. Wati sang asisten rumah tangga membukakan pintu dan


mengucap selamat datang kepada nyonya mudanya yang dibalas hanya dengan


anggukan, sebelum menuju kamarnya di lantai dua.


Sementara Tarno membawa mobilnya menuju garasi, sesaat hendak


menutup pintu mobil ia merasakan hawa dingin berhembus. Merasa aneh dia

__ADS_1


mengusap tengkuknya serta menoleh kesekeliling, tak ada. Ia pun membuka pintu


samping garasi, menuju kamar tuk beristirahat.


__ADS_2