
Darsi yang terbebas dari kejaran para centeng terus berlari
menjauh semakin memasuki hutan belantara di kaki gunung ringgit. Ketika dirasa
orang-orang suruhan Anne Van Den Berg tak terdengar lagi suaranya dia mulai
berhenti.
Menghempaskan bokongnya ke atas batu besar yang ada di situ dengan
hati-hati. Dielusnya bayi dalam perutnya sayang sekedar mengurangi kram yang
dirasakannya saat berlari dengan kencang tadi.
“Maafkan emak sayang. Kamu harus kuat, kita harus tetap hidup agar
bisa bertemu dengan Vader mu”, bisiknya.
Dia menatap langit yang mulai menggelap. Suara binatang malam pun
santer terdengar. Kuatir akan keselamatan diri dan bayinya, Darsi pun mencari
tempat untuk berlindung.
Tak jauh dari tempatnya duduk, ia melihat gua yang mulutnya
tertutup oleh semak belukar. Pelan-pelan ia pun melangkah memasukinya.
Bau amis begitu menyengat saat ia melangkah semakin jauh ke dalam.
Kegelapan yang menyelimuti seluruh ruang, tak menyurutkan langkah tuk terus
mencari sudut ternyaman dari tempat itu.
Sepi, hanya suara langkah kaki dan deru nafasnya sendiri menggema
ke seantero ruangan. Telapak kakinya semakin perih saat menyentuh tanah lembab
dalam gua tersebut.
Ketika keputus asaan mulai merajai hati, netranya menangkap sebuah
tempat lapang dan bersih.
“Hei aneh. Mengapa tempat ini lebih bersih dan nyaman”, gumamnya.
__ADS_1
Tak berpikir panjang dia pun mulai merebahkan diri di atas ceruk
gua yang lapang. Luasnya cukup untuk ditempati orang dewasa dan ia pun memejamkan
mata.
Kelelahan menyebabkan Darsi tertidur pulas, tak menyadari bahaya
yang sedang mengintai. Seseorang sedang memindai seluruh tubuhnya dari ujung
kepala sampai kaki dengan mata memerah. Sesekali dia mendesis serta menjulurkan
lidah bercabangnya ke segala arah. Tak lama kemudian orang itu menghentikan
tatapannya ke wajah Darsi dengan air liur yang mulai menetes.
Tetesan itu menyentuh pipinya, semakin banyak sehingga dia pun
terbangun merasakan hawa dingin yang semakin mengigit di sana. Tersentak ia pun
langsung duduk dan mengusap pipinya dengan ujung baju yang dikenakan.
Mengerjapkan matanya sejenak untuk menambah kesadaran dan fokusnya
terkejut. Setelah itu wajah datarnya kembali.
“Kau tidak takut padaku nyai?”
“Em tidak”.
“Mengapa kau tidak takut padaku? Sedangkan orang lain diluar sana
akan lari terbirit-birit begitu mencium bau ku”.
“Untuk apa aku takut padamu, hidupku sudah tamat. Bagiku tak ada
bedanya jika mati disini atau diluar sana”.
“Grrrrr….ssssh. Kamu adalah manusia pertama yang tidak takut
padaku. Ha…..ha….ha. Menarik”.
Dia menjulurkan lidahnya dan menjilati seluruh tubuh Darsi
berulang kali.
__ADS_1
“Heeem…..ssssh. Manis. Bahkan rasanya akan lebih manis apabila aku
memakan bayi dalam perutmu itu”.
“Lakukanlah, setelah itu kau pun harus membunuhku juga”.
Mendengar jawaban Darsi makhluk itu menghentikan kegiatannya.
“Grrrrr….ssssh. Manusia ini sangat putus asa, kyai”.
“Ya dan darahnya sangat manis. Ini akan cukup memulihkan tenaga
kita sebelum bertapa kembali”.
Darsi hanya mengerenyitkan dahinya melihat keanehan makhluk
setengah manusia itu berbicara sendiri.
“Apakah kamu jadi membunuhku?”
“Grrrrr……sssssh. Ha…ha….ha”, hanya itu yang terdengar.
Lantas makhluk itu melompat dan kemudian melata meninggalkannya
sendirian di gua.
Sepi hening dan kegelapan kembali menyelimuti gua. Rasa ketakutan
yang sempat terbersit dalam benak Darsi pun menghilang. Dia masih mampu meraba
bahwa makhluk setengah manusia harimau dan ular itu, adalah lebih baik daripada
centeng utusan Anne Van Den Berg.
Termenung memikirkan nasibnya kembali, dia pun menangis tak
bersuara. Sedangkan tanpa ia ketahui di langit-langit gua, makhluk itu
memandanginya dengan air liur yang menetes ke tanah lembab di sisinya.
Tiba-tiba mata makhluk itu pun berubah menjadi terang seperti
manusia biasa bahkan cenderung teduh seolah sinar sang petapa. Yang bijak dan
melindungi.
__ADS_1