MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XXVIII


__ADS_3

Darsi yang terbebas dari kejaran para centeng terus berlari


menjauh semakin memasuki hutan belantara di kaki gunung ringgit. Ketika dirasa


orang-orang suruhan Anne Van Den Berg tak terdengar lagi suaranya dia mulai


berhenti.


Menghempaskan bokongnya ke atas batu besar yang ada di situ dengan


hati-hati. Dielusnya bayi dalam perutnya sayang sekedar mengurangi kram yang


dirasakannya saat berlari dengan kencang tadi.


“Maafkan emak sayang. Kamu harus kuat, kita harus tetap hidup agar


bisa bertemu dengan Vader mu”, bisiknya.


Dia menatap langit yang mulai menggelap. Suara binatang malam pun


santer terdengar. Kuatir akan keselamatan diri dan bayinya, Darsi pun mencari


tempat untuk berlindung.


Tak jauh dari tempatnya duduk, ia melihat gua yang mulutnya


tertutup oleh semak belukar. Pelan-pelan ia pun melangkah memasukinya.


Bau amis begitu menyengat saat ia melangkah semakin jauh ke dalam.


Kegelapan yang menyelimuti seluruh ruang, tak menyurutkan langkah tuk terus


mencari sudut ternyaman dari tempat itu.


Sepi, hanya suara langkah kaki dan deru nafasnya sendiri menggema


ke seantero ruangan. Telapak kakinya semakin perih saat menyentuh tanah lembab


dalam gua tersebut.


Ketika keputus asaan mulai merajai hati, netranya menangkap sebuah


tempat lapang dan bersih.


“Hei aneh. Mengapa tempat ini lebih bersih dan nyaman”, gumamnya.

__ADS_1


Tak berpikir panjang dia pun mulai merebahkan diri di atas ceruk


gua yang lapang. Luasnya cukup untuk ditempati orang dewasa dan ia pun memejamkan


mata.


Kelelahan menyebabkan Darsi tertidur pulas, tak menyadari bahaya


yang sedang mengintai. Seseorang sedang memindai seluruh tubuhnya dari ujung


kepala sampai kaki dengan mata memerah. Sesekali dia mendesis serta menjulurkan


lidah bercabangnya ke segala arah. Tak lama kemudian orang itu menghentikan


tatapannya ke wajah Darsi dengan air liur yang mulai menetes.


Tetesan itu menyentuh pipinya, semakin banyak sehingga dia pun


terbangun merasakan hawa dingin yang semakin mengigit di sana. Tersentak ia pun


langsung duduk dan mengusap pipinya dengan ujung baju yang dikenakan.


Mengerjapkan matanya sejenak untuk menambah kesadaran dan fokusnya


terkejut. Setelah itu wajah datarnya kembali.


“Kau tidak takut padaku nyai?”


“Em tidak”.


“Mengapa kau tidak takut padaku? Sedangkan orang lain diluar sana


akan lari terbirit-birit begitu mencium bau ku”.


“Untuk apa aku takut padamu, hidupku sudah tamat. Bagiku tak ada


bedanya jika mati disini atau diluar sana”.


“Grrrrr….ssssh. Kamu adalah manusia pertama yang tidak takut


padaku. Ha…..ha….ha. Menarik”.


Dia menjulurkan lidahnya dan menjilati seluruh tubuh Darsi


berulang kali.

__ADS_1


“Heeem…..ssssh. Manis. Bahkan rasanya akan lebih manis apabila aku


memakan bayi dalam perutmu itu”.


“Lakukanlah, setelah itu kau pun harus membunuhku juga”.


Mendengar jawaban Darsi makhluk itu menghentikan kegiatannya.


“Grrrrr….ssssh. Manusia ini sangat putus asa, kyai”.


“Ya dan darahnya sangat manis. Ini akan cukup memulihkan tenaga


kita sebelum bertapa kembali”.


Darsi hanya mengerenyitkan dahinya melihat keanehan makhluk


setengah manusia itu berbicara sendiri.


“Apakah kamu jadi membunuhku?”


“Grrrrr……sssssh. Ha…ha….ha”, hanya itu yang terdengar.


Lantas makhluk itu melompat dan kemudian melata meninggalkannya


sendirian di gua.


Sepi hening dan kegelapan kembali menyelimuti gua. Rasa ketakutan


yang sempat terbersit dalam benak Darsi pun menghilang. Dia masih mampu meraba


bahwa makhluk setengah manusia harimau dan ular itu, adalah lebih baik daripada


centeng utusan Anne Van Den Berg.


Termenung memikirkan nasibnya kembali, dia pun menangis tak


bersuara. Sedangkan tanpa ia ketahui di langit-langit gua, makhluk itu


memandanginya dengan air liur yang menetes ke tanah lembab di sisinya.


Tiba-tiba mata makhluk itu pun berubah menjadi terang seperti


manusia biasa bahkan cenderung teduh seolah sinar sang petapa. Yang bijak dan


melindungi.

__ADS_1


__ADS_2