MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB LXXIX


__ADS_3

The Forest Guardian


Di kilometer seratus dari arah jalan raya, kesibukan luar biasa


terjadi. Banyak pria dewasa mengenakan topi kuning proyek, sedang sibuk


mengerjakan tugas masing-masing.


Baju dan celana jeans mereka tampak lusuh dan kotor terkena debu


dari alat-alat berat yang sedang beroperasi.


Ditengah kesibukan itu berdiri kokoh tenda besar dimana perancang


bangunan dan asistennya tengah berdiskusi.


Mereka mengalami kesulitan untuk menyingkirkan batu besar seukuran


rumah seribu meter persegi yang berdiri kokoh di tengah areal.


Sudah hampir enam bulan para pekerja konstruksi, tak menemukan


cara. Bahkan telah memanggil paranormal setempat dan luar daerah untuk


melakukan ritual khusus. Namun benda gunung tersebut tak bergeser se-inci-pun.


Bahkan dukun terakhir dari gunung kidul lari tunggang langgang


sebelum memulai ritualnya. Dia ditemui oleh wanita cantik berambut panjang. Aromanya


harum seperti melati.


Perempuan itu menggoda sang dukun saat sedang mempersiapkan


sesajennya. Dan tiba-tiba dia mengubah dirinya menjadi macan putih raksasa yang


hendak menerkamnya.


Dengan hembusan napasnya semua persiapan sang dukun pun porak


poranda. Yang membuat si empunya ketakutan sampai terkencing dicelana. Itu adalah


usaha terakhir dari kontraktor bangunan yang tengah berdebat dengan bawahannya


saat ini.


Sang insinyur bangunan berencana menggunakan bahan peledak. Sedangkan


asistennya menyarankan cara lain. Dengan ritual khusus yang dilakukan oleh


paranormal setempat. Yaitu memanggil Lek Parjo pemilik padepokan Nogo Kembar.


Perdebatan yang tak berujung pun terus berlanjut hingga malam


hari. Dimana semua pekerja telah kembali ke tenda masing-masing untuk


beristirahat. Dan waktu menunjukan pukul dua belas malam.


Percakapan mereka terhenti kala mendengar suara auman dari


kejauhan. Yang semakin lama semakin mendekat disekitar tenda mereka.


Dan tak lama kemudian hembusan angin menggerakan seluruh


konstruksi tenda. Benda itu bergoyang-goyang seolah hendak roboh. Getarannya semakin


keras bak gempa bumi.

__ADS_1


Kejadian itu menyiutkan nyali sang insinyur dan tiga orang


asistennya. Bersimpuh ditanah, keempat pria tersebut memohon ampun berulang


kali.


Sampai terdengar, “He…he…he. Apakah kalian takut?”


“Am-ampun. Ampuni kami…”


“Tinggalkan tempat ini. Jangan sekali-kali kalian mengusiknya!”


“Ta-tapi Ki?” jawab sang insinyur.


“Tidak ada alasan. Kalian ingin mampus saat ini juga!”


“Maafkan kami, Ki. Kami hanya pekerja disini. Bagaimana nasib


keluarga kami nanti?”


“Heeem, “sahut suara tanpa wujud terdengar.


“Siapa nama pemilik dari pekerjaan kalian?” tanya suara itu


kembali.


“Tuan Hendro, ki. Dari The Hendro Company”.


“Ho…ho…ho. Dia~aku tahu dia. Kalian harus hentikan pekerjaan ini.


Biar si tua Bangka serakah itu menjadi urusanku!”


“Ba~baik ki, “jawab ke empatnya serempak.


Tak lama kemudian hembusan angin bergerak menjauh dari tenda. Dan suasana


malam nan hening kembali menyelimuti area tersebut. Sedangkan di dalam tenda


Saat pagi menjelang, lokasi pembangunan menjadi heboh. Dengan pingsannya


pemimpin mereka. Para pekerja yang kebingungan memanggil dokter setempat.


Akhirnya mereka yang pingsan pun sadar kembali. Dengan terbata-bata


dan penuh ketakutan, cerita meluncur dari mulut mereka.


Semua yang ada disana kebingungan dan tak satupun dari mereka yang


bekerja. Ketakutan betul-betul menguasai para pria pekerja konstruksi.


Hingga siang menjelang, seorang lelaki paruh baya mendatanginya. Dia


berbicara dengan sang pemimpin proyek agar tak meneruskan rencana awal.


Tapi menggantinya dengan yang baru. Si empunya proyek kebingungan.


Dia dilema antara menuruti orang yang mengaku kepala desa itu atau mengikuti


perintah bos-nya.


“Bapak harus percaya dengan saya. Silahkan buatkan maket plan yang


baru untuk pembangunan disini. Jika tidak anda semua tidak bisa melanjutkan


usaha kalian”.


“Ta~tapi pak?”

__ADS_1


“Percayalah pada saya, “sambil menepuk bahu sang insinyur pelan.


Deringan telepon dari saku insinyur terdengar. Sedikit terkesiap


dia menerimanya. Pembicaraan singkat terjadi dengan jawaban, “Baik bos”. Dan telepon


pun diakhiri.


Pria paruh baya dihadapannya tersenyum dan dijawab dengan anggukan


sopan perencana bangunan.


Insinyur tersebut mulai menggambil alat tulis di tasnya. Goresan-goresan


perencanaan bangunan pun mulai terlukis di atas kertas putih dihadapan.


Sedangkan pria paruh baya tadi tengah menatap kerimbunan pohon. Pandangannya


jauh melewati pepohonan. Dia mengangguk dan tersenyum seolah sedang melakukan


komunikasi dari jarak jauh.


Sebentar kemudian pria itu meninggalkan lokasi pembangunan. Dan berpamitan


dengan semua para pekerja yang ada disana.


Di sudut tenda terbesar, pria paruh baya tersebut menjejakan


kakinya ke tanah dan “Blassh”, dia pun menghilang.


Jauh diatas ketinggian, tepatnya di sebuah batu besar yang ada


ditengah hutan Gunung Ringgit. Seorang lelaki tua tengah berdiri dan bersedekap


sambil melihat ke arah orang-orang tersebut.


Dia mengangguk ke pada pria paruh baya yang baru saja menghilang


dari sana. Senyumnya pun terukir kala kata sepakat terjadi.


Lelaki tua yang menyebut dirinya ‘The Forest Guardian’ pun duduk


kembali. Dia mengayunkan kakinya yang tengah menggantung. Ke depan dan belakang


mengikuti irama lagu campursari yang terdengar.


Tak lama kemudian hembusan angin bertiup disekitarnya. Dia sedikit


menoleh, “Kalian ada disini?”


“Ya~Ki. Aku dan suamiku ingin menemanimu”.


“Tumben, bagaimana kabar cicit-cicit kalian?”


“Mereka baik-baik saja. Seperti janjiku padamu dulu, kehadiran


pewaris kami sekaligus pemutus kutukan Laura”.


“Heem, baguslah. Kalian mau mendengarkan lagu?”


“Ya~Ki, “jawab keduanya serempak.


Ki Nogo pun mengeluarkan sebuah telepon genggam android merek apel


dari sakunya. Dan lantunan lagu langgam nan merdu terdengar.


Mengikuti irama langgam ketiga makhluk beda alam pun menggoyangkan

__ADS_1


kepalanya ke kiri dan kanan. “Ya…Nogo Sosro tengah menikmati suara merdu sang


biduan dengan arwah Darsi dan Peter Jansen”.


__ADS_2