
Clark duduk di balkon kamar 302, tatapan matanya lurus ke birunya langit
dan arakan mendung yang beriringan hendak menuju ke barat. Semburat merah di
ujung langit berlahan-lahan tenggelam dan digantikan dengan pekat menyelimuti
batas cakrawala. Tak lama kemudian di atas sana mulai bertaburan benda langit
sebagai tanda malam mulai menjelang.
Mengambil sebatang rokok yang ada di meja sampingnya, Clark mulai
menyalakan menggunakan pemantik api otomatis yang berbentuk seperti pena.
Sedetik kemudian ia mulai bersenandung lagu favoritnya ‘yen ing tawang ono
lintang’.
Nadanya yang fasih terdengar seolah dia bukanlah orang Australia tapi
penduduk asli pribumi. Sedangkan David yang sedari tadi duduk di kasur dan
sedang mengerjakan sesuatu di depan laptop, menghentikan kegiatan. Melirik ke
arah bosnya, mengerenyitkan dahi saat ia mendengar nada lagu yang terasa asing
di telinga.
Begitu lagu itu tepat pada kalimat ‘akuu ngenteni seliramuu’, langit
tiba-tiba bergemuruh dengan suara petir menyambar. Angin pun datang menimpali.
Tampak gorden memisah jarak antara balkon dan kamar mulai berkebat-kebit dengan
suara yang keras.
David tak beranjak sedikitpun dari tempatnya duduk. Meskipun keinginan
hatinya untuk mengajak sang tuan masuk karena cuaca yang mulai tak bersahabat
di luar sana.
Sedangkan Clark mulai menyembulkan smirknya. Tatapan matanya berubah
semakin bengis. Benak dan hatinya melanglang buana ke sebuah tempat yang penuh
dengan hingar bingar kesenangan dunia malam. Ia pun tersenyum lebar.
Night Club, Jakarta.
Dentuman musik dari box yang dimainkan oleh seorang DJ di atas panggung
menggema ke seantero club. Alunan rancak dari lagu itu membuat semua pengunjung
bergoyang. Tak terkecuali dengan dua orang bartender di balik meja minuman.
Mereka meracik minumannya dengan mengoyangkan badan dan sedikit gelengan di
kepala.
Bahkan di sudut counter minuman yang lain tampak salah satu di antaranya
sedang melakukan atraksi dengan shaker. Dia mengocok tempat pencampur minuman
itu dengan kedua tangannya sambil mengikuti irama musik.
Atraksi yang dilakukannya menjadi tontonan bagi pengunjung yang duduk di
depan meja counter sembari menunggu pesanan mereka siap. Bahkan tak jarang
mereka menyemangati bartender tersebut dengan teriakan, saat dia melempar
shakernya ke atas dan menangkapnya kembali tanpa menumpahkan isi di dalamnya.
Dalam keramaian itu terlihat seorang wanita berusia tiga puluh lima tahun
__ADS_1
berjalan menuju pria asing yang sedang duduk sendirian di meja sudut ruang.
Menyesap rokok yang ada di tangan dan menyemburkan asapnya ke udara. Dia
memejamkan matanya seolah menikmati kesendirian yang ia ciptakan dalam
keremangan serta keramaian club tersebut.
Perempuan bergaun merah menyala itu membawa minuman di tangan kiri. Rambut
panjangnya ia kibaskan berkali-kali seolah menggoda para pria dalam ruangan
itu. Belahan gaun yang hampir mencapai ujung pahanya ia sibakkan semakin ke
atas sebelum duduk dikursi depan pria asing tersebut.
‘Sendirian tuan?’
Masih sambil memejamkan mata, ‘heem’.
‘Can you speak Indonesia?’
Tak menghiraukan.
‘Apakah kamu tuli?’, tanyanya lagi gemes.
‘Hey, lady. Leave me alone, will you?’
‘Dasar bule budeg. Songong’, umpat perempuan itu hendak meninggalkannya.
‘Ha....ha....ha. Siapa yang kamu bilang songong nona?’, tanyanya tiba-tiba.
Malu dengan hal itu dia meralat ucapannya.
‘Ma....maaf. Tuan bisa berbahasa Indonesia?’
‘Tentu saja. Bahkan aku bisa berbahasa Jawa?’
‘Sungguh!’
‘Em, tentu saja. Coba tuan katakan sesuatu dalam bahasa Jawa!’
‘Baiklah’. Berpikir sejenak. ‘Bagaimana kalau, awakmu ngancani aku bengi
iki?’
‘Wow, bravo tuan sangat fasih mengucapkannya’.
‘Matur nuwun’, sambil mengangguk sopan.
‘Apakah tuan sendirian?’
‘Yaah’.
Menyibakan rambutnya ke belakang dan memperlihatkan leher jenjangnya yang
putih mulus. Membasahi bibir dengan lidah dan membetulkan string gaun di
pundaknya. Menggoda.
‘Bagaimana kalau kita sedikit bersenang-senang tuan?’, nadanya dengan
sedikit *******.
‘Heem, menarik. Berapa tarifmu?’, tatapnya intens.
‘Tergantung penampilan tuan di tempat tidur’.
‘Maksudmu?’
‘He....he. Jika performa tuan sangat luar biasa, anda tak perlu membayarku.
Dan jika tidak, tarifku semalam sepuluh juta tuan?’
Menilik reaksi dari pria yang di ajaknya berbicara, perempuan itu menyimpan
__ADS_1
sedikit was-was di hatinya.
‘Bagaimana jika dia tidak setuju? Aku pasti kehilangan kesempatan untuk
mendapatkan belaian dari lelaki asing ini. Padahal dia sangat menarik, aku suka
dengannya’, batinnya.
Tanpa ekspresi berlebihan lelaki itu hanya tersenyum dan mengangguk.
Sedangkan wanita itu bersorak dalam hatinya. Sebelum meninggalkan club, pria
asing itu menyodorkan minuman yang ada dimejanya.
‘Minumlah!’
‘Apa ini tuan?’
‘Itu root beer ditambah dengan ramuan penambah stamina’, katanya lagi.
Menyesap dengan ujung lidahnya, dia merasakan pahit dan manis yang tak
biasa. Bahkan bau menyengat dari minuman itu terasa aneh. Meskipun demikian
karena tak ingin mengecewakan lelaki yang di incarnya, ia pun menghabiskan
dengan sekali tenggak.
Tak beberapa lama kemudian kedua orang itu pun meninggalkan club, dengan
menyisipkan dua lembar uang dollar ke pelayan laki-laki yang hendak
membersihkan meja mereka.
Berjalan sedikit sempoyongan, wanita itu mengekori pria asing didepannya.
Pandangan yang sedikit kabur membuat ia beberapa kali tersandung oleh permukaan
karpet yang terbentang disepanjang pintu utama.
Beberapa meter dari mobil, pria asing tersebut menghentikan langkah dan
menoleh ke belakang. Tangannya bersedekap serta menatap lurus ke arah perempuan
yang jalannya terseok-seok.
‘Heemmsh’, hembusnya kasar.
‘Hei perempuan kapan kita bisa bersenang-senang kalau jalan mu seperti
siput begitu?’, lanjutnya lagi.
Mengusap pelipis dengan kasar. Lantas mengucek kedua matanya, ia menjawab,
‘ Maaf tuan kepalaku sedikit pusing’.
‘Perlukah aku menggendong mu ke mobil?’
‘Ehmm, jika tidak merepotkan anda’, sambil tersungging.
‘Fine, tunggu aku disitu’.
Seolah tanpa beban pria asing itu pun menggendongnya. Postur tubuhnya yang
tinggi besar membuat ia tak kesulitan membawa perempuan yang tampak kecil dalam
rengkuhan kedua tangannya yang kokoh. Membuka pintu depan dengan tangan kiri,
dan meletakannya di kursi serta memasang sabuk pengaman.
Menutup pintu dengan pelan, dia melangkah menuju kemudi.
‘Breeemmmm’.
Mobil pun melaju meninggalkan area parkir.
__ADS_1