MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XXII


__ADS_3

Clark duduk di balkon kamar 302, tatapan matanya lurus ke birunya langit


dan arakan mendung yang beriringan hendak menuju ke barat. Semburat merah di


ujung langit berlahan-lahan tenggelam dan digantikan dengan pekat menyelimuti


batas cakrawala. Tak lama kemudian di atas sana mulai bertaburan benda langit


sebagai tanda malam mulai menjelang.


Mengambil sebatang rokok yang ada di meja sampingnya, Clark mulai


menyalakan menggunakan pemantik api otomatis yang berbentuk seperti pena.


Sedetik kemudian ia mulai bersenandung lagu favoritnya ‘yen ing tawang ono


lintang’.


Nadanya yang fasih terdengar seolah dia bukanlah orang Australia tapi


penduduk asli pribumi. Sedangkan David yang sedari tadi duduk di kasur dan


sedang mengerjakan sesuatu di depan laptop, menghentikan kegiatan. Melirik ke


arah bosnya, mengerenyitkan dahi saat ia mendengar nada lagu yang terasa asing


di telinga.


Begitu lagu itu tepat pada kalimat ‘akuu ngenteni seliramuu’, langit


tiba-tiba bergemuruh dengan suara petir menyambar. Angin pun datang menimpali.


Tampak gorden memisah jarak antara balkon dan kamar mulai berkebat-kebit dengan


suara yang keras.


David tak beranjak sedikitpun dari tempatnya duduk. Meskipun keinginan


hatinya untuk mengajak sang tuan masuk karena cuaca yang mulai tak bersahabat


di luar sana.


Sedangkan Clark mulai menyembulkan smirknya. Tatapan matanya berubah


semakin bengis. Benak dan hatinya melanglang buana ke sebuah tempat yang penuh


dengan hingar bingar kesenangan dunia malam. Ia pun tersenyum lebar.


Night Club, Jakarta.


Dentuman musik dari box yang dimainkan oleh seorang DJ di atas panggung


menggema ke seantero club. Alunan rancak dari lagu itu membuat semua pengunjung


bergoyang. Tak terkecuali dengan dua orang bartender di balik meja minuman.


Mereka meracik minumannya dengan mengoyangkan badan dan sedikit gelengan di


kepala.


Bahkan di sudut counter minuman yang lain tampak salah satu di antaranya


sedang melakukan atraksi dengan shaker. Dia mengocok tempat pencampur minuman


itu dengan kedua tangannya sambil mengikuti irama musik.


Atraksi yang dilakukannya menjadi tontonan bagi pengunjung yang duduk di


depan meja counter sembari menunggu pesanan mereka siap. Bahkan tak jarang


mereka menyemangati bartender tersebut dengan teriakan, saat dia melempar


shakernya ke atas dan menangkapnya kembali tanpa menumpahkan isi di dalamnya.


Dalam keramaian itu terlihat seorang wanita berusia tiga puluh lima tahun

__ADS_1


berjalan menuju pria asing yang sedang duduk sendirian di meja sudut ruang.


Menyesap rokok yang ada di tangan dan menyemburkan asapnya ke udara. Dia


memejamkan matanya seolah menikmati kesendirian yang ia ciptakan dalam


keremangan serta keramaian club tersebut.


Perempuan bergaun merah menyala itu membawa minuman di tangan kiri. Rambut


panjangnya ia kibaskan berkali-kali seolah menggoda para pria dalam ruangan


itu. Belahan gaun yang hampir mencapai ujung pahanya ia sibakkan semakin ke


atas sebelum duduk dikursi depan pria asing tersebut.


‘Sendirian tuan?’


Masih sambil memejamkan mata, ‘heem’.


‘Can you speak Indonesia?’


Tak menghiraukan.


‘Apakah kamu tuli?’, tanyanya lagi gemes.


‘Hey, lady. Leave me alone, will you?’


‘Dasar bule budeg. Songong’, umpat perempuan itu hendak meninggalkannya.


‘Ha....ha....ha. Siapa yang kamu bilang songong nona?’, tanyanya tiba-tiba.


Malu dengan hal itu dia meralat ucapannya.


‘Ma....maaf. Tuan bisa berbahasa Indonesia?’


‘Tentu saja. Bahkan aku bisa berbahasa Jawa?’


‘Sungguh!’


‘Em, tentu saja. Coba tuan katakan sesuatu dalam bahasa Jawa!’


‘Baiklah’. Berpikir sejenak. ‘Bagaimana kalau, awakmu ngancani aku bengi


iki?’


‘Wow, bravo tuan sangat fasih mengucapkannya’.


‘Matur nuwun’, sambil mengangguk sopan.


‘Apakah tuan sendirian?’


‘Yaah’.


Menyibakan rambutnya ke belakang dan memperlihatkan leher jenjangnya yang


putih mulus. Membasahi bibir dengan lidah dan membetulkan string gaun di


pundaknya. Menggoda.


‘Bagaimana kalau kita sedikit bersenang-senang tuan?’, nadanya dengan


sedikit *******.


‘Heem, menarik. Berapa tarifmu?’, tatapnya intens.


‘Tergantung penampilan tuan di tempat tidur’.


‘Maksudmu?’


‘He....he. Jika performa tuan sangat luar biasa, anda tak perlu membayarku.


Dan jika tidak, tarifku semalam sepuluh juta tuan?’


Menilik reaksi dari pria yang di ajaknya berbicara, perempuan itu menyimpan

__ADS_1


sedikit was-was di hatinya.


‘Bagaimana jika dia tidak setuju? Aku pasti kehilangan kesempatan untuk


mendapatkan belaian dari lelaki asing ini. Padahal dia sangat menarik, aku suka


dengannya’, batinnya.


Tanpa ekspresi berlebihan lelaki itu hanya tersenyum dan mengangguk.


Sedangkan wanita itu bersorak dalam hatinya. Sebelum meninggalkan club, pria


asing itu menyodorkan minuman yang ada dimejanya.


‘Minumlah!’


‘Apa ini tuan?’


‘Itu root beer ditambah dengan ramuan penambah stamina’, katanya lagi.


Menyesap dengan ujung lidahnya, dia merasakan pahit dan manis yang tak


biasa. Bahkan bau menyengat dari minuman itu terasa aneh. Meskipun demikian


karena tak ingin mengecewakan lelaki yang di incarnya, ia pun menghabiskan


dengan sekali tenggak.


Tak beberapa lama kemudian kedua orang itu pun meninggalkan club, dengan


menyisipkan dua lembar uang dollar ke pelayan laki-laki yang hendak


membersihkan meja mereka.


Berjalan sedikit sempoyongan, wanita itu mengekori pria asing didepannya.


Pandangan yang sedikit kabur membuat ia beberapa kali tersandung oleh permukaan


karpet yang terbentang disepanjang pintu utama.


Beberapa meter dari mobil, pria asing tersebut menghentikan langkah dan


menoleh ke belakang. Tangannya bersedekap serta menatap lurus ke arah perempuan


yang jalannya terseok-seok.


‘Heemmsh’, hembusnya kasar.


‘Hei perempuan kapan kita bisa bersenang-senang kalau jalan mu seperti


siput begitu?’, lanjutnya lagi.


Mengusap pelipis dengan kasar. Lantas mengucek kedua matanya, ia menjawab,


‘ Maaf tuan kepalaku sedikit pusing’.


‘Perlukah aku menggendong mu ke mobil?’


‘Ehmm, jika tidak merepotkan anda’, sambil tersungging.


‘Fine, tunggu aku disitu’.


Seolah tanpa beban pria asing itu pun menggendongnya. Postur tubuhnya yang


tinggi besar membuat ia tak kesulitan membawa perempuan yang tampak kecil dalam


rengkuhan kedua tangannya yang kokoh. Membuka pintu depan dengan tangan kiri,


dan meletakannya di kursi serta memasang sabuk pengaman.


Menutup pintu dengan pelan, dia melangkah menuju kemudi.


‘Breeemmmm’.


Mobil pun melaju meninggalkan area parkir.

__ADS_1


__ADS_2