MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XXII


__ADS_3

Horizon hotel, kamar 302.


Duduk bersandar di sofa tunggal sambil menyesap wine. Clark tampak


berpikir keras. Dahinya berkerut matanya menatap tajam ke depan. Pelipisnya


berkedut. Dengan tangan kiri yang bebas dia menyugar rambutnya ke belakang.


“Heemmssh, nyai bagaimana bisa aku salah mengendus keberadaan mu?”,


batinnya. “Selama ini aku tak pernah salah, bahkan ketika kamu menempel pada


pepohonan yang ada di hutan pun. Apa karena kamu sekarang mulai mencintai orang


lain?”, lanjutnya lagi.


“Daveee, cari keberadaan Selly sekarang!”, perintahnya gusar.


“Oke bos”.


Kemudian David menelepon seseorang diseberang sana untuk membawa


perempuan itu ke markas para pemburu bayaran.


“Beri kami waktu dua puluh empat jam”, sahut suara lelaki dari


ujung telepon.


“Deal”, jawab David tegas.


Butterfly night club.


Pengunjung club itu penuh sesak, dengan arahan seorang DJ mereka


berjingkrak-jingkrak mengikuti alunan nada dari music box yang dia mainkan. Tak


ada raut kesedihan dari wajah-wajah para pengunjung. Wanita yang berpakaian


seksi mengumbar tubuh mereka seolah mengundang para lelaki disana untuk


menjamah. Betul-betul memanjakan mata bagi orang yang mementingkan kesenangan


sesaat.


Sementara itu di ruang VIP bertolak belakang dengan keadaan club


di luar sana. Begitu tenang dan santai, suara hingar bingar yang merupakan ciri


khas dari night club. Yang ada hanya tiga pria dewasa sedang menikmati minuman


beralkohol sembari berbincang santai.


“Bagaimana Mr. Clark, apakah anda sudah menjelajah seluruh kota


beberapa hari ini?”


“Heem, belum Mr. Jay. Aku berniat mengunjungi sebuah tempat di


luar kota. Tapi setelah semua pekerjaan ku disini selesai”.


“Jadi ada hanya berdiam diri di hotel?”


“Tidak juga, saya sempat ke C & C mall kemarin”.


“Apa ada yang membuat anda tertarik disana?”


Smirk nya terulas sebelum pada akhirnya menjawab, “Ada Mr.


Jay…..ada”, jawabnya santai seolah tanpa beban.


“Baguslah”.


Clark sedikit memutar cincin permata merah yang ada di jari


manisnya sebelum melanjutkan kalimat.


“Well, Mr. Jay. Aku minta seorang pelayan club untuk membawakan


kita minuman beralkohol tinggi, bagaimana?”


“Eh, tidak sir, kadar toleransi ku pada minuman tidak terlalu


bagus. Aku tidak mau pulang dalam keadaan mabuk. Anda tahu istriku seorang


muslim meskipun tidak terlalu taat tapi dia tidak akan mentolerir apa pun yang


dia tidak suka”.


“Oke, jadi kita akan memesan plain wine saja?”

__ADS_1


“Boleh”.


“Dave panggilkan waitress club, suruh dia bawa pesanan kita dan


jangan lupakan makanan ringan. Kau mengerti?”, perintahnya sambil memberi kode.


Dia mengerti apa yang dimaksudkan oleh sang bos, ia pun


mengangguk. Meninggalkan mereka sebentar dan beranjak menuju meja bartender


diluar. Saat urusannya di meja itu selesai Dave balik ke private room,


menunggu.


Tak lama kemudian.


“Tok…tok”.


“Masuk”, jawab Dave.


Perempuan muda berpakaian seragam club datang sambil membawa


nampan yang berisi cemilan dan tiga buah gelas berisi wine putih. Gayanya yang


malu-malu saat menyajikannya di hadapan tiga pria dewasa itu, membuat Jay


terpesona dan menatap lekat ke arahnya.


“Ss….Suti”, bisiknya.


“Em maaf tuan saya Dina pelayan baru disini”.


“Apakah kamu punya saudara kembar?”


“Tidak tuan, saya anak pertama dari dua bersaudara”.


“Oh”, jawab Jay sembari memijat pelipis. Berulang kali dia mencoba


fokus dengan pandangan matanya tapi tak bisa. Pening mulai menguasai kewarasan


tubuhnya.


Melihat hal itu Clark tersenyum culas sambil memberikan kode


terhadap perempuan itu.


“Layani dia dengan baik!”, perintahnya.


Dalam sekejap perempuan itu menyingkap rok. Membuka kancing baju


seragamnya dan memperlihatkan bagian tubuh yang putih mulus. Dia duduk di


pangkuan Jay serta menciuminya dengan ganas.


Tangannya semakin nakal meraba seluruh tubuhnya. Decapan bibir


yang dia buat seolah menikmati permainan itu. Posisinya yang intim meyakinkan


semua orang bahwa mereka bercinta.


Jay yang teler hanya mampu pasrah dengan yang dilakukan wanita


itu, meskipun kesadarannya menolak. Apa yang bisa dia lakukan karena tubuhnya


lunglai seperti tak bertenaga. Jadilah pemandangan panas itu terpampang dengan


jelas dimata Clark dan David.


David yang mendapat lirikan dari bos nya langsung merekam kejadian


itu tanpa jeda, durasinya tiga puluh menit. Dirasa cukup ia pun mematikan


telepon genggamnya.


“Bagaimana tuan, apa ini cukup?”, tanya perempuan itu lagi sembari


merapikan bajunya kembali.


“Cukup, kau bisa ambil uang mu di asistenku”.


“Terima kasih tuan”.


Gegas perempuan itu mengikuti David keluar ruangan. Menuju ke


halaman parkir night club. Ketika sampai di taksi online yang menjemputnya, Dave


menuliskan nominal di cek yang menjadi kesepakatan mereka.


“Kau bisa mencairkannya besok. Di bank yang menjadi rekanan dari

__ADS_1


cek ini. Ingat setelahnya kamu jangan pernah muncul lagi dihadapan kami.


Terutama dengan pria yang baru kau ajak bercumbu itu. Dan jangan kembali ke desa


tempat kamu tinggal. Paham”.


“Paham bos, aku juga tidak bodoh untuk tetap disana”.


“Seseorang akan membantu dalam pelarianmu”.


Perempuan itu hanya menganggukan kepalanya.


“Bagus, pergilah”, Dave menutup pintu taksi begitu perempuan itu


duduk. Mobil itu pun melaju meninggalkan halaman parkir club.


Saat sudah tak terlihat lagi dalam pandangan dia masuk kembali ke


dalam club menemui Clark yang tampak santai memeloti Jay yang tidak sadar.


“Bos semua sudah beres”.


“Bagus”.


“Apa yang kita lakukan padanya”.


“Bawa dia ke hotel club. Pesan satu kamar atas nama dia dan


perempuan itu”.


“Oke bos, sesuai perintah”, mengangguk dan menuju keluar ruangan.


“Heem”. Tersenyum puas dengan hasil hari ini, dia pun menyenderkan


badannya ke kursi.


Butterfly club hotel, pagi hari.


“Whoof, kepalaku pusing sekali”, mengerjapkan matanya dan berusaha


meraih kesadaran.


“Dimana aku?”, netranya nyalang menghadap ke atas.


Ketika kesadarannya mulai terkumpul dia duduk dan terkejut saat


melihat dirinya yang telanjang dan hanya mengenakan boxer.


“Ouuh tidak….ini gila”, mencoba mengingat-ingat kejadian semalam.


“Apa aku tidur dengannya. Bodoh betul-betul bodoh”, memukul-mukul


kepalanya.


Menoleh kesamping, pakaiannya teronggok di atas sofa. Dia tak


melihat seorang pun di ruangan itu kecuali kasur yang berantakan. Lantas


mencoba mendengarkan suara gemericik air kamar mandi. Pun tetap sama sepi.


Gegas ia menuju kesana tuk membersihkan diri.


“Blaam”, ditutupnya pintu dengan kasar.


Menatap dirinya lama di cermin, refleksi kemarahan jelas terpapar


disana. Matanya memerah rahangnya mengeras. Berkali-kali ia memukulkan bogemnya


ke tembok hingga buku-buku jarinya mengeluarkan tetesan darah. Kemarahan kali


ini melebihi saat dia memergoki perselingkuhan Cella dan Jodi.


Memutar shower dengan air dingin, ia mulai mengguyur badannya. Tak


dipedulikan hawa dingin yang mulai menusuk kulit melalui pori-pori. Dia


menyabuni seluruh tubuhnya berkali-kali seolah ingin menghilangkan jejak


perempuan itu sembari mengumpat kata-kata kotor dalam hatinya.


“Aku akan mencarimu perempuan brengsek. Ke lubang semut pun aku


akan memburumu”, sumpahnya.


Dia keluar dari kamar mandi mengenakan handuk yang dililitkan di


pinggang. Meraih handle telepon di atas nakas dan meminta layanan kamar


mengantarkan obat untuk tangannya. Setelahnya memencet nomer Andrew dengan

__ADS_1


telepon genggam tuk membawakan baju ganti.


__ADS_2