
POV
Marcella
“Dia datang wow, Jodi datang!” Mata ini membeliak tak percaya.
“Hei tunggu dengan siapa itu? Apakah rekan bisnisnya atau partner
one night standnya, sepertinya bukan? Aku tidak pernah melihat perempuan itu?
Gayanya anggun sekali dan hei dia cantik. Kulitnya eksotis khas orang
Indonesia. Pasangan yang pas buat Jodi yang keturunan eropa. Aku jadi cemburu”,
batinku.
Pun begitu kupaksakan senyum mengembang di bibir ini saat mereka
menghampiri kami di pelaminan dan mengucapkan selamat. Rico suamiku sudah
mengetatkan rahang dan mengepalkan tangan kanannya. Kusenggol dia dengan ujung
siku kananku.
“Relaks Rico, ingat ini pernikahan kita”, bisik ku kepadanya.
Sedetik kemudian wajah yang tersenyum dipaksakan kembali tersembul di wajah
itu.
Walau tak beberapa lama kemudian raut muka Rico kembali memerah
menahan amarah ketika Jodi mengucapkan hal yang tak terduga. Kupikir dia datang
ke pesta kami karena hatinya sudah merelakan semua yang terjadi, ternyata
tidak.
“Uuuuh betapa bodohnya aku. Dia kesini hanya untuk menunjukkan
dirinya mampu move on dariku. Itu adalah salah satu ego tertinggi dari Jodi.
Meskipun kalah dia akan tetap menunjukkan taringnya”.
Kupandangi lekat perempuan di sisinya yang selalu menebar senyum
manisnya kemana-mana. Aku sedikit kesal dan iri pada dia, bagaimana tidak, baru
sebulan yang lalu kuakhiri hubungan cintaku dengan Jodi, ternyata dia sudah
secepat ini dapat gantinya.
Padahal yang kutahu setelah dia putus dari kekasih pertama yang
simpang siur informasi dari hubungan tersebut. Jodi baru mau menerimaku sebagai
kekasih hatinya menggantikan si dia yang telah pergi dengan lelaki lain.
Itu pun setelah aku merasa lelah
mengejar cinta yang ternyata bukan untuk ku, bahkan setelah enam tahun kita
sebagai sepasang kekasih. Betapa nelangsanya aku saat bermesraan, tiba-tiba
saja dia menyebut kekasih dari masa lalunya.
“What the hell?”
Akhir yang manis saat aku bertemu dengan Rico di salah satu
perjamuan perusahaan. Dia yang seperti orang kebingungan karena perusahaan
keluarganya hampir bangkrut dengan kesalahan pengelolahan manajemen, serta
campur aduk antara uang perusahaan yang dipakai untuk kepentingan pribadi oleh
ayah tirinya.
Aku tak mau ambil pusing dengan hal itu saat Rico kujebak dengan
permainan ranjang yang panas dan kubuat seolah aku menjadi korban, dia akhirnya
mau menikahiku. Dengan syarat aku mau investasi di perusahaan keluarganya.
“It’s no problem, karena aku adalah insvestor dengan banyak modal
dibidang apapun. Meski aku tak langsung terjun menangani sendiri disetiap saham
yang aku tanam, tapi hasilnya sangat bisa diandalkan”.
“Yaah dua keuntungan dengan membunuh dua burung dengan satu batu”.
Aku mendapatkan perusahaan baru dan disisi lain dendamku pada Jodi terbalas,
Rico adalah sahabat terbaik yang dia punya, aku yakin ia sangat-sangat sakit
hati dan terpuruk.
Tapi nyatanya aku salah, dia datang dengan kekasih barunya.
“Ouch”, betapa kesalnya aku. Menatapi pergerakan mereka di ruangan
pesta ini, kemesraan yang ditampilkan alami. Gerah seolah semuanya
menyelimutiku dalam ruangan tertutup serta panas, terasa sesak sekali.
…………………………………………………
__ADS_1
POV
RICO
“Brengsek mau apa Jodi kesini, mempermalukanku. Tunggu saja kalau
ia membuat ulah dipesta ini?” ancamku.
Entah lah persahabatanku dengan dia rusak gara-gara kami
menginginkan perempuan yang sama. Dia sangat mencintai Marcella saat aku hadir
di tengah-tengah mereka. Perasaanku sangat puas ketika mampu menjauhkan dia
dari wanita yang sangat kucintai ini.
Betapa tidak, Marcella tengah mengandung anak ku. Sebentar lagi
aku akan menjadi seorang ayah. Sangat bahagia, itu jelas. Meskipun aku bukanlah
pria pertama yang menjamah tubuhnya. Setidaknya aku satu-satunya yang membuat
dia hamil.
Kubenci Jodi karena dia munafik. Pemabuk berat, suka clubbing
adalah kegiatan yang acapkali dilakukan. Aku yang semula anak mommy, mulai
terhanyut oleh hasutannya. Jadilah kami berdua sering pulang kerumah dalam
keadaan mabuk. Atau harus berakhir disebuah apartemen karena one night stand
yang kita lakukan dengan para wanita dari night club.
Tak ada penyesalan saat Jodi menjadi sahabat toxic ku. Sampai
suatu malam aku terjebak dengan Marcella di apartemen pribadiku. Lenguhan dan
******* menuntut dari ia membuatku berkali-kali melakukannya. Dia pun tak
keberatan, bahkan mampu mengimbangi permainanku.
Bukan hanya sekali dua kali kita melakukannya dimanapun, kapanpun
saat ada kesempatan, yang sayangnya malam itu terpergok oleh Jodi. Dia datang
dengan membawa buket bunga besar serta kotak cincin permata untuk melamar
Marcella. Adegan panasku pun terjeda saat pintu apartemen ditendang dari luar.
“Braak”.
“Rico….Cella. Apa yang kalian lakukan? Teganya kalian
menghianatiku”.
selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Sedangkan aku sibuk menarik boxer yang
ada dipojok kasur.
Jodi menatap kami berdua penuh amarah, tak kupedulikan. Bahkan
ketika dia meninju muka ku berkali-kali sampai darah mengucur disudut bibir ini
tak kuhiraukan. Cella menangis histeris diantara perkelahian ini.
“Jodi sudah, hentikan!”
“Tak ada ampun bagi penghianat seperti dia Cella. Katakan padaku
apa dia memaksamu, lelaki brengsek”.
“Apa maksudmu dengan memaksa Jodi?” tanyanya bingung.
“Dia mencampurkan obat perangsang kedalam minumanmu kan, sehingga
kamu tak sadar untuk mengikuti permainannya”, kata Jodi sembari hendak melayangkan
pukulannya lagi.
Tenagaku yang sudah terkuras habis karena menggauli Marcella
ditambah perkelahian ini, membuatku hanya terengah disudut ruang.
“Kamu salah Jodi. Aku melakukannya dengan sukarela”.
“Kamu mencintainya Cella?” tanyanya terkejut.
“Iya aku mencintainya, jadi jangan pukul lagi. Aku tidak mau ayah
dari anaku babak belur”.
“Jadi ba…..bagaimana dengan ku Cella. Bagaimana dengan hubungan
kita. Lihat aku membawakanmu buket ini dan cincin yang kamu inginkan. Aku akan
menjadikanmu istriku. Menjadi penerus keluarga Cartwright!” teriaknya marah.
“Aku tak peduli….aku sudah tak mencintaimu lagi Jay. Kamu pun
begitu, kan?”
“Apa maksud dari pertanyaanmu?”
“Oooh ayolah Jay, kamu masih mencintai dia, kan? Gadis dari masa
lalumu. Itulah sebabnya ketika ku ajak kau bercinta, bayangan dia selalu hadir
__ADS_1
ditengah-tengah permainan. Dan aku sangat kecewa dengan itu. Jadi lupakanlah
Jay. Ku akhiri hubungan ini”.
“Tidaaak kau kejam Cella……kau sangat jahat. Lihat saja apa yang
kuperbuat nanti”.
“Lakukanlah sesukamu Jay, aku tidak peduli”, Marcella mengucapkan
kalimat itu sambil menangis serta menepuk-nepuk pipi membuatku sadar.
“Rico…bangun sayang aku disini. Bangunlah demi anak kita”,
bisiknya.
Ketika ku membuka mata hanya terlihat kilatan penuh emosi dari
wajah Jodi, tangannya mengepal dan berkali-kali dia meninju tembok disebelahku.
Aku tak peduli karena kini Marcella merangkulku serta menciumiku. Dengan smirk
lebar serta sorot penuh penghinaan kulayangkan pada Jodi.
Dia yang marah membanting semua yang dibawanya ke arahku dan
Marcella yang duduk bersimpuh dilantai sebelum pergi meninggalkan kami dengan
suara,
“Braaak!”
…………………………………………
POV
JODI
“Jeff”.
“Ya bos”.
“Ikuti dia tapi jangan sampai dia tahu”.
“Eemm, ada lagi Bos?”
“Pastikan dia selamat sampai ke kosannya”.
“Baik bos”.
“Dan ingat jika ada yang tergores seujung kuku pun dari tubuhnya,
kau harus lenyap juga dari muka bumi ini”.
“Siap bos, jangan kuatirkan hal itu”.
“Tarno, ayo jalan. Biar si Jeff mengurus sisanya”.
“Baik tuan”.
Setelah itu suara mobil melaju di jalan raya terdengar nyaring di
seantero alun-alun kota. Malam yang sunyi dari segala hiruk pikuk kegiatan
manusia, membuat mobil Bentley itu menebarkan histerisnya.
Sebelumnya……………………
Pada saat aku menurunkan Suti di alun-alun kota, kupandangi
lekat-lekat punggung wanitaku itu. Dia tak menyadari walau mata tajamku
menghunus tepat ke arahnya.
Heran, kemana sifat mudah perasa miliknya. Padahal dulu dalam
jarak lima ratus meter pun apabila ada orang yang melotot penuh kebencian ke
arahnya dia akan menoleh balik ke orang tersebut. Seolah punya indra ke enam
dan punya mata dibalik belakang kepalanya.
“He….he, kutertawai pemikiranku yang konyol. Punya mata dibelakang
kepala mungkin mirip laba-laba koleksi daddy dulu, yang sempat tak terurus
karena meninggal mendadak terkena serangan jantung”.
“Apa yang membuat Suti seperti itu, tak punya rasa kuatir sama
sekali terhadap bahaya yang mungkin mengintai disekitar, apalagi ini sudah
malam hari”.
Kekuatiran akan hal buruk terjadi kusuruh si Jeff menguntit dan
menjaganya sampai di kosan. Pikiranku melayang membandingkan sikap Suti
sekarang dengan dahulu, kugelengkan kepala berkali-kali sebelum memerintahkan
sopirku menjalankan mobil ini.
“Tak perlu kuatir lagi toh, Jeff adalah bodyguard kepercayaanku.
Dan mungkin aku bisa, heeemmmm”, berbagai rencana terbit di benak. Aku pun
tersenyum.
__ADS_1