
Setengah jam kemudian.
“Tok…tok”.
“Suti sayang, boleh mama masuk?”
“Silahkan mam, pintu tidak terkunci”.
“Ceklek”.
“Bagaimana keadaanmu. Lihat mama bawakan air jahe hangat.
Minumlah!”
Mengambil gelas yang diulurkan mama Laura, Suti meminumnya dengan
rakus tak tersisa.
“Glek……glek”.
“Honey, pelan-pelan minumnya!”
“Heem”.
Suti mengelap sudut bibirnya yang terkena air minum dengan
punggung tangan sebelum mengucapkan terima kasih.
“Mama mau pergi ke restoran, untuk mengecek laporan bulanan. Apa
kamu mau ikut?”
Dia hanya menggelengkan kepala.
“Atau kamu pesan sesuatu untuk dimakan?”
Sekali lagi menggelengkan kepala dan hanya menatap kosong ke arah
si pembicara.
“Em baiklah, aku mungkin pulang saat makan malam tiba. Kamu tidak
apa-apa sendirian dirumah. Para asisten rumah tangga akan siap membantumu jika
kamu butuhkan”.
“Ya mam, pergilah lakukan tugasmu!”
“Ouh sayang kau mengusirku”.
“He….he…he”, hanya kekehan kecil sebagai balasan.
“Oke mama pergi dulu ya. Baik-baiklah dirumah”.
“Siap bos”, kelakar Suti.
Laura Asian and continental resto.
Tampak si empunya restoran duduk bersandar dikursi kerja sambil
mengetuk-ngetuk kan pulpen kemeja. Sedetik kemudian dia meraih handphone
dihadapannya dan memasang headset. Menekan nomor yang dia hapal serta melakukan
panggilan.
“Halo Jay, ini mama”.
“Ya ma ada apa meneleponku pagi-pagi?’
“Apa kamu tidak kuatir dengan Suti?”
“Maksud mama apa?”
“Dia sedikit melamun tadi ketika mama berpamitan mau ke resto”.
“Mungkin kesehatannya sedikit menurun sehingga dia berbuat seperti
itu”.
__ADS_1
“Tidak Jay bukan itu saja, saat mama kasih air minum hangat. Dia
menenggaknya langsung tanpa jeda. Seolah kehausan selama seribu tahun”.
“Ha…ha mama ada-ada saja”.
“Serius Jay. Perhatikan lagi istrimu itu. Siapa tahu dia sedang
mengandung anakmu”.
“Mengandung….eh iya ma”.
“Bagaimana mungkin, aku dan dia kaaan”, pikir Jay.
“Nanti kita mengunjungi dokter Wiwik di poli kandungan ma”,
jawabnya lagi lugas.
“Heem”.
“Tut”.
Sambungan pun terputus.
Mansion Cartwright, siang hari.
“Sutiiii, bangun datanglah ke bunda ratu”.
Suara itu datang bersamaan dengan angin sepoi yang menerpa
wajahnya.
“Ehmmm”, gumaman tidak jelas terdengar dari mulutnya berkali-kali.
Pikiran warasnya menolak terhadap panggilan itu.
“Datanglah……datanglah!”
Suara itu semakin santer terdengar. Tak lama kemudian angin
kencang berhembus dan,
Pintu kamar terbuka dengan lebar, Suti pun membuka mata. Tatapan
bengisnya menyorot ke segala arah. Mulutnya menyeringai licik. Perlahan-lahan
tubuhnya terangkat, sedikit melayang menuruni anak tangga menuju lantai bawah.
Tepat didepan pintu kayu berukiran Jepara, ia berhenti mulutnya
komat-kamit seolah merapal sesuatu. Sedetik kemudian pintu yang terkunci rapat
itu pun terbuka lebar. Kabut tipis menyeruak dari dalam. Tak ia pedulikan,
tubuh Suti melayang menuju sofa besar ditengah ruangan.
Ditatapnya lukisan seorang perempuan berwajah khas Jawa yang didampingi
oleh pria berwajah Eropa, sedang duduk disebuah kursi mirip dengan singasana dengan
tatapan tajamnya, ia memindainya sejenak sebelum tatapan matanya berubah
menjadi hijau dengan pupil meruncing seperti ular. Kedua tangannya diangkat
seolah mendorong sesuatu dan,
“Sssssshhhh, bangkitlah saudaraku. Sudah lama kau tertidur dalam
lukisan itu”, sambil menjulurkan lidahnya yang bercabang ke segala arah.
“Bangkit….bangkitlah. Keturunan kita tersakiti, ini saatnya untuk
membalas, sssssshhhhh”, desisnya lagi.
Sinar merah menyilaukan muncul dari lukisan perempuan itu.
Bayangan putih diselimuti kabut melesat merasuki tubuh Suti. Dia bergetar hebat,
kepalanya mengeluarkan asap tipis dan perlahan-lahan menghilang seolah terhisap
__ADS_1
kedalamnya.
Seringai puas menyembul, tubuhnya kembali melayang keluar ruangan.
Pada saat yang bersamaan pintu ruang museum keluarga Cartwright pun tertutup
sendirinya dengan keras. Sedangkan Suti kembali tertidur dikamarnya seolah tak
terjadi sesuatu pun.
Rumah itu kembali sunyi senyap menyisakan suara gareng, sang
serangga musim yang biasa terdengar apabila panas akan menjelang. Kerikan
sayapnya yang nyaring dan berirama terdengar di seantero mansion. Wati
mengerenyitkan dahinya ia merasa berada di daerah pegunungan dengan ciri khas
suara itu. Sejenak ia terbuai, tapi pada saat tersadar bergumam sendiri,
“Sejak kapan ada gareng di mansion ya, biasanya hanya kupu-kupu.
Bukankah binatang itu sudah punah berpuluh-puluh tahun yang lalu. Semenjak
kawasan perumahan ini didirikan. Rasa ini seperti di Prigen saja”, ia tersenyum
kecil mengingat nyonya mudanya berasal.
Di Australia, gedung perkantoran Clark brothers.
Lelaki itu tersenyum memandang ke arah awan yang berarak menuju
barat. Cerahnya warna biru dilangit perlahan-lahan tergeser oleh jingga diufuk
barat.
Dia semakin menyeringai lebar saat malam mulai menyelimuti kota
Melbourne. Tangan kanannya meraih handphone disaku celana dan memencet sebuah
nomor.
“Trut….trut…..trut”.
“Halo, sir”, suara perempuan dari seberang sana menjawab.
“Ya, apakah kamu sudah menjalankan tugas yang ku-emailkan?”
“Sudah, all set sesuai planning, tapi dia tidak pernah
meninggalkan mansion semenjak peristiwa itu”.
“Daamn, mungkin pemicu mu kurang kuat”.
“Maksudnya, sir?”
“Bodoh, apa aku harus memeragakannya didepanmu sekarang agar kau
mengerti”, hardiknya kasar.
“Aku mengerti yang anda maksud, tapi bagaimana dia bisa melihat
jika orangnya saja tak pernah keluar mansion”.
“Sangat-sangat tolol. Apa kamu tahu benda yang sedang kamu pegang
saat ini?”
“Maksud anda telepon genggam?”
“Bingo kau bisa menggunakannya untuk menjalankan misimu”.
“Ouuuh, baiklah aku paham”.
“Heem”.
“Tut”.
Seringai culas muncul dari bibir perempuan itu sesaat setelah
__ADS_1
mereka mengakhiri panggilan.