MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB II


__ADS_3

Dengan langkah mantab ku menuju ruang sidang, ada tiga dosen yang


siap membabat habis thesis ku. Gemetar rasa tubuh ini, “ketakutan? Tentu saja”.


Aku merasa seperti anak kucing yang tersiram air, ringkih dan


mengenaskan. Namun semuanya berjalan dengan lancar, pertanyaan-pertanyaan yang


diajukan oleh dosen penguji, kujawab dengan argumen-argumen yang mengena.


Hingga ******* napas lega keluar dari bibir mungilku. Saat dosen pengujiku


berkata,


“Baiklah kamu boleh meninggalkan tempat ini, tunggu hasilnya di


depan ruangan!”


“Terima kasih pak”, angguk ku sopan.


Tepat jam lima sore pengumuman itu kuterima dengan suka cita pun


teman-teman yang kebetulan satu sesi denganku. Gurat-gurat kebahagiaan


terpancar dari wajah mereka. Tuntas sudah tugas kami, usai sudah beban berat


yang kami rasakan selama ini. Tertebus dengan satu kata “lulus”.


Saat ku melompat-lompat kegirangan di sudut lantai dua dekat ruang


sidang. Dia lewat, pria yang selama ini mengisi hari-hari serta mimpiku. Aku


terhenyak ketika secara tidak sengaja netraku bersirobok dengannya. Pun saat


dia melengos kesamping dan menghembuskan napasnya keras, serta rahangnya


mengetat sempurna.


“Apakah dia masih marah?” batinku. Aku pun menunduk ketika dia


lewat di depanku bagai angin lalu. Seolah tak menganggap aku tak ada. “Mengapa


apa salahku?”


(satu bulan yang lalu)


“Suti, ada tamu tuh”, anak ibu kos ku memanggil dari balik kelambu


kamar.


“Siapa, mbak?”


“Gak tahu, katanya sih teman satu kelas mu”.


“Sudah mbak tanya, namanya siapa?” jawabku dengan


mengerjap-ngerjapkan mata jenaka.


“Mana tahu lah, kayaknya sih bukan teman satu kelasmu deh. Kalau iya


kan aku tahu dan kenal semua”.


“Laki-laki apa perempuan”, tanyaku lagi dengan rasa malas.


“Laki-laki, cepat temui sana. Kayaknya dia sudah tidak sabar. Tuh


lihat saja ekspresinya. Kebingungan dan gelisah”.


“Hah! . “Perasaan aku tidak janjian dengan seseorang. Apalagi


teman satu kampus. Jangan-jangan seperti kemarin?” perasaanku kebat-kebit tak


karuan membayangkan kejadian kemarin.


Ketika ada sesorang yang mengaku kenal denganku bahkan meng-klaim


dirinya kekasihku. Serta edannya lagi dia berkata “kekasih dari masa laluku”.


“Gawat!” di saat hubunganku dengan mas Hendri tidak berjalan dengan

__ADS_1


mulus. Karena hadirnya ‘Selly’ gadis ganjen dari kelas pagi. Yang terus


merangsek dan memporak-porandakan hubungan kami. Apalagi saat netraku secara


tidak sengaja melihat gadis itu bermanja-manja di lengan Hendri seusai jam


kuliah berlangsung. Sangat mesra.


Sementara dia yang mengaku sebagai kekasihku membalasnya dengan


tersenyum manis, seolah memberi si ganjen itu sejuta harapan.


“Dasar pelakor tak tahu malu!” hardik ku dalam hati.


Mataku memerah, tanganku mengepal. Ingin saat itu juga ku


cakar-cakar wajah cantiknya itu. Ku tendang dengan jurus silat ku. Sehingga dia


tersungkur dan berdarah-darah. Tapi apalah dayaku. Ini lingkungan kampus dan


aku tidak boleh bertindak sembrono. Atau nama baik Hendri tercoreng dari


mahasiswa terbaik dan instansi tempat dia bekerja.


“Yaah…dia ambil kuliah sore karena paginya harus bekerja sebagai


seorang teknisi mesin di perusahaan penerbangan. Pernah sedikit dia mengungkap


jati dirinya, jika kuliah yang saat ini dijalaninya hanya sebagai prasayarat


untuk menuju ke jenjang jabatan yang lebih tinggi. Aku maklum”.


Kutemui Hendri di ruang tamu kos. Dia tampak gelisah berkali-kali


melihat jam tangannya. Aku yang tidak nyaman dengan perilakunya mendengkus


kasar dan bertanya,


“Ada apa Hend?”


“Bisa kah kamu menemuiku nanti malam di hotel Horizon?”


“Eem ini penting bagiku. Kantor mengadakan acara family gathering


dan yang masih bujangan diminta untuk membawa calon istrinya”.


“Apakah itu wajib?”


“Harus Suti aku tidak mau dipermalukan dengan kesendirianku ini”,


pintanya penuh harap.


“Baiklah”.


“Aku akan menjemputmu, okay”.


“Tidak perlu, katakan saja dimana nanti acaranya akan


diselenggarakan”.


“Di aula Anggrek, lantai dua”.


“Heem”.


Sebulan kemudian.


Hinggar binggar malam pentas seni wisuda, masuk ke telinga. Ika,


sahabatku, sudah manggut-manggut goyang kiri kanan mengikuti irama lagu


kegemarannya, seandainya saja tak ku ikat pinggang ia dengan selendang tari


yang kubawa dari tempat kos siang tadi, mungkin dia sudah jingkrak-jingkrak


seperti orang kesetanan.


Netraku melirik setiap pergerakan bestie ku ini.


“Wow”, sungguh tak punya lara sedikitpun dalam hidupnya. Bahagia

__ADS_1


terus sampai tua! Padahal baru sebulan yang lalu dia putus dengan sang pujaan


hati yang arema itu. Tapi anehnya tak sedikit pun rasa sedih tercetak di wajah


semi Arabnya nan cantik menawan.


Kutoleh kan pandangan ke penjuru aula serta kesetiap sudut ruangan


nan remang-remang, tapi tak kutangkap siluet “Hendri, dimana dia?” batinku.


Ketika rasa lelah merasuk ke dalam raga dan jiwaku, aku hanya mampu menunduk


dan menyimpan tangis dalam hati.


“Betapa bodohnya aku, yang setiap hari disetiap ******* napasku,


masih berharap dan bergantung padanya”.


“Woii, kamu mulai gila ya”, teriak Ika dekat telingaku.


“Hadeew, bisa ngak pakai teriak begitu. Aku tidak tuli tau!”


“He…..he….syukur deh, kirain udah gila. Habis ngedumel sendirian


sedari tadi. Ngapain loh, mbayangin si Hendri lagi. Sudah gak usah dipikir,


nikmati saja hiburan malam ini. Dugem, girl! Kapan lagi kita bisa menikmati


malam pentas nan menyenangkan ini. Bentar lagi kita akan disibukan dengan


pekerjaan dan karir”.


“Oh ayolah, Suti, jangan cengeng, please! Move on! Masih banyak


tuh cowok-cowok yang nganggur di luar sana untuk kita gebet, okay”, rayunya


lagi.


“Malas, ah! Paling sama kayak dia, nyakitin hati”.


“Kalau malas ya tidur aja sono! Bikin tai mata sebanyak mungkin!”


“Tidur di atas panggung, gila lu ya. Bisa dilempar tomat gue, sama


penonton. Apalagi anak FPOK tu, pada beringas kalau dengar lagu kesukaan


mereka. Lu lihat ngak, sebelah sana! Si Yono sama Hari, haduuh, goyangannya


sampai segitunya. Senggol kanan kiri, untung mereka satu kelas kalau tidak,


sudah dilempar ke ruang sebelah tu anak”, aku bergidik ngeri membayangkannya.


“Udah, ngak usah dipikir. Nikmatin aja girl, malam terakhir kita


di kampus nih”, kata Ika lagi sembari geleng-geleng mengikuti musik yang di


panggung.


“Eh, Suti, lihat tuh, siapa yang lagi tampil. Idolamu neeek! Wuuuuuh!”


“Oh, dasar makhluk tak ber akhlak”, umpatku dalam hati.


Ketika sosok itu muncul di panggung. Cinta pertamaku di kampus. Tapi


aneh, tak ada yang berkesan dalam hubungan kami yang terjalin tiga tahun.


Tahun-tahun yang penuh canda dan tawa dengan gaya berpacaran yang konvensional.


Yakni jalan bersama, makan-makan dan tak pernah ada free *** selayaknya


sepasang kekasih lainnya.


Aku sedikit tersenyum mengingat momen tersebut. Seolah mengerti


dengan sinyal yang aku lontarkan. Jodi menatap sebentar ke arahku sebelum ia


memulai pertunjukannya.


Teriakan histeris dari ciwi-ciwi jurusan Bahasa dan keuangan

__ADS_1


memenuhi ruangan mengiringi penampilannya. “Sungguh-sungguh idola sejati”.


__ADS_2