
Clark’s Company.
“Dave, bagaimana kabar keberadaan Selly!”
“Dia sudah mati, bos. Terbunuh”.
“Heem, dari kepolisian kita”.
“Menemui jalan buntu. Sementara ini kasusnya ditangguhkan. Dan
masih menyelidikinya terlebih jauh lagi”.
“Aaah, baiklah. Tinggalkan aku sendiri”.
“Saya pamit bos” menganggukan kepala dan menutup pintu dengan
pelan.
Clark yang sendirian tertawa pelan. Raut mukanya penuh dengan
kemenangan, atas semua usahanya yang tak pernah sia-sia.
“Heemmms…sedikit lagi nyai. Tinggal selangkah lagi. Kita dapat
bersatu kembali. He…he…he”.
Cartwright Mansion.
Jodi masih terbaring tak sadarkan diri dalam kamar utama. Seluruh
peralatan medis yang melekat di badannya telah dilepas. Dan hanya menyisakan
alat pendeteksi denyut jantung.
Layar monitor menunjukan grafik yang normal. Tampak Laura berdiri
disamping kasur dengan seorang perawat yang sedang memeriksa denyut nadi anak
semata wayang. Setelah itu dia meninggalkan sang nyonya besar sendirian.
Diraihnya tangan Jodi yang semakin memucat. Hampir dua tahun, dia
hanya terbaring di kamar perawatan, tanpa pernah bersentuhan dengan sinar
matahari.
Menepuknya dengan sayang. “Jody sweety, kapan kamu bangun nak?
Mama merindukan kejailan dan senyuman manismu. Tak inginkah kau bangun tuk
membantuku?”
Tidak ada respon, dia pun menghembuskan napas besarnya. Dan
berlalu menuju ruang kerja.
Jeff sedang menatap layar monitor komputer yang terhubung dengan
ruang bawah tanah.
“Ceklleeek”.
Mendengar suara pintu yang dibuka dia pun menoleh.
“Ada perubahan Jeff?” tanya Laura.
“Belum. Ini belum tepat jam dua belas malam. Kita masih punya satu
jam lagi”.
“Apakah dia sudah sadar?”
“Tak ada pergerakan”.
“Kamu sudah mempersiapkan semuanya Jeff”.
“Sudah nyonya. Ke empat paranormal utusan Lek Parjo pun sudah siap
di ruangan”.
“Tunjukan padaku”.
“Silahkan”.
Suti yang tak sadarkan diri, masih belum berubah wujud dengan
sempurna. Hanya tangan yang mulai membentuk cakar serta bersisik. Sedangkan
wajah serta kakinya masih seperti manusia normal.
Laura menatap gambar tangkapan CCTV itu dengan serius. Tiba-tiba,
__ADS_1
“Hei Jeff, lihat dia mulai menggerakan tangannya!”
Sang ketua pengawal pribadi itu pun segera menghampiri dan ikut
menatap layar pipih dimeja.
“Be-benar bos”.
“A-apa yang harus kita lakukan Jeff. Aku kuatir jika dia berubah
dan menjadi buas”.
“Jangan kuatir. Nyonya lihat, keempat dukun itu sudah bersiap-siap
dengan jurus mereka”.
“Hem kau benar”.
“Kita tunggu saja dari sini. Sambil memantau bos besar”.
“Siagakan anak buahmu Jeff”.
“Siap”.
Dia pun menghubungi anak buahnya melalui Handy Talkie. Untuk
menempati posisi masing-masing. Sahutan siap terdengar dari beberapa orang.
Jeff lantas menemani Laura menatap monitor kembali.
Ruang bawah tanah.
“Grrrrmmm…ssssssssh. Kurang ajar siapa yang berani menahanku!”
“Tenang nyai. Kendalikan dirimu”.
“Siapa kalian!” sambil berusaha keluar dari jaring.
“Kami bukan musuhmu” kata ketua dukun itu.
“Manusia laknat. Keluarkan aku dari sini! Sssssh…grrrrrrrm”
Makhluk itu meronta-ronta dalam wujud manusia setengah ular.
Ekornya membelit erat pada jaring seolah bersiap untuk mematahkan.
Tapi setiap kali dia mencoba menggigit. Tubuhnya terpental kembali
Kelelahan dengan usaha yang tak membuahkan hasil. Iblis itu
mendesis marah. Umpatan serta sumpah serapah, ia lontarkan. Bahkan ancaman terhadap
keturunan orang yang menyekapnya pun dia ungkapkan.
Tak bergeming dengan suara dari makhluk tersebut, utusan Lek Parjo
tetap melantunkan mantra penjinak. Lengkingan kesakitan dari perubahan wujud Suti
membahana ke seluruh ruangan.
Sampai keluar dari luar mansion. Dan terdengar sahutan desisan
merespon.
Seolah mengerti jika ada makhluk yang sama dengannya. Suti pun
meronta-ronta kembali.
“Lepaskan aku kalian manusia jahanam!”
Dukun itu semakin mempercepat mantranya.
“Aaaaaah, dasar manusia terkutuk kalian!” umpat Suti sebelum diam
tanpa perlawanan.
Makhluk itu memejamkan mata. Sesekali lidahnya menjulur keluar
serta mengeluarkan desisan lemah.
Empat orang suruhan Lek Parjo, memperlambat alunan mantra-mantra.
Bersedekap dan memejamkan mata. Ruang bawah tanah pun kembali sunyi.
“Ssssssssh…ssssssh, nyai. Bangunlah. Mari kita pergi dari sini”
suara itu makin santer terdengar.
Suti membuka matanya lebar. “Ki…apakah itu kamu?”
“Betul nyai. Bisakah kau merasakan kehadiranku?”
__ADS_1
“Suaramu terdengar jauh Ki. Dimana kamu?”
“Aku disekitarmu nyai. Aku pun tak bisa melihatmu. Rupanya ada
orang yang memasang Panglimunan disekitar kita”.
“Apa yang harus kita lakukan Ki. Tolong…aku sangat tersiksa dalam jaring
ini. Badanku panas. Ragaku melepuh. Aku tak mau mati konyol. Ssssssh”.
Sementara itu diatap mansion, Clark yang berwujud setengah ular
mendesis marah. Ketidak mampuannya dalam mendeteksi sang kekasih membuat dia
bingung.
Raganya merayap dan sesekali ekornya menghantam atap, sehingga
menimbulkan getaran didalam Mansion. Ulahnya membuat para normal membuka mata.
Menatap nyalang ke atap mansion.
“Dia sudah datang, bersiaplah kalian!” ujar sang ketua.
“Baik” jawab ketiganya kompak.
Kembali mereka merapal mantra, saat terdengar kidungan dari luar
Mansion. Lantunan yang menyayat hati pun disambut oleh gelegar di angkasa. Disusul
dengan hujan turun ditimpali angin ribut.
Tiba-tiba Suti juga mulai bergumam mengikuti lantunan dari luar
mansion. Tak lama kemudian dia dapat mengendus keberadaan Clark. Ia mendesis,
tawanya semakin keras. Saat kedua iblis itu bisa mendeteksi satu sama lain.
Clark mulai membelitkan ekornya ke salah satu pohon palm yang
paling besar. Dan menghantamkan ke tembok museum keluarga hingga hancur
berkeping-keping.
Kembali dia melemparkan pohon palm berikutnya ke arah yang sama. Kali
ini tepat menghantam ruang bawah tanah yang berada dibawah museum.
Netranya nyalang sempurna saat melihat Suti yang lemah, dibawah jaring
penakluk. Dalam sekejap tubuh Clark memasuki ruang itu. Mendesis marah.
“Ssssh…nyai. Mari kita tinggalkan tempat ini”.
“Tolong aku Ki. Aku tidak bisa lepas dari perangkap ini”.
Iblis lelaki itu menjulurkan ekornya ke arah Suti. Dan, “Braaaak”
tubuhnya terpental menghantam tembok.
“Bedebah!”
Dia pun menoleh ke arah empat pria yang sedang duduk bersila dalam
ruangan itu. Membelit mereka dan membantingnya ke tanah.
“Bruuuk” ke empatnya pun jatuh dalam posisi tengkurap.
Seolah tak merasakan sakit. Paranormal itu langsung bangkit dengan
bunyi, “Kreetek”. Meluruskan badan sebentar serta memasang kuda-kuda.
Pertarungan sengit pun terjadi. Ciutan tenaga dalam dari kedua
kubu memporak porandakan seisi ruang. Tanpa sengaja mengenai jala diatas tubuh
Suti.
“Kraaak” makhluk itu pun terbebas.
“Ha…ha…ha. Rasakan pembalasanku manusia laknat!”
Dia mengibaskan ekor keempatnya. Merekapun terjungkal tak sadarkan
diri.
“Sssssssh, nyai”.
“Sssssh, ki. Mari kita pergi dari sini”.
Saling membelitkan ekor. Detik berikutnya mereka melesat menuju ke
__ADS_1
utara.