MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB V


__ADS_3

Selama perjalanan, aku hanya diam menikmati


kegugupanku. Netraku lebih banyak memandang keluar jendela mobil. Menikmati


lajunya bayangan benda-benda yang semakin tertinggal di belakang.


‘Jay’ terlihat acuh dan dingin memainkan


tablet yang ada ditangannya. Tak sedikitpun ia menoleh atau sekedar bertanya,


‘Bagaimana kabarku? Setelah sekian lama tak


jumpa. ‘Ah, apalah aku ini dihadapannya?’, kuhembuskan napas pelan.


‘Bos, kita sudah sampai’, Bondan sang


bodyguard sekaligus sopir berkata.


‘Heeemm’, sahutnya.


‘Silahkan, nona’, kata Bondan sambil membuka


pintu mobil di sisiku.


‘Terima kasih’.


Mengekori langkah panjang Jay, aku tertinggal


jauh. Dua langkahku satu langkah buatnya. Sesampai di ruang tengah rumah nan


megah bergaya Eropa itu, aku tertegun, menikmati lampu Kristal yang tergantung


di tengah ruangan.


Andai boleh mungkin air liurku sudah jatuh


berceceran di lantai mengkilap ini. Bagaimana tidak, aku yang notabene pengagum


keindahan ini dihadapkan dengan kemewahan yang hanya ada di negeri dongeng.


Sedetik….dua detik….sampai hampir lima menit, kakiku tak kunjung beranjak dari


tempat semula sampai,


’Heiii, perempuan sampai kapan kamu berdiri


disitu?’ bentaknya kasar.


Telingaku sampai berdengung mendengarnya.


Kupaksa alam khayalku kembali ke dunia nyata sambil mendengus,


’Apa?’, ketusku.


‘Watiii, persiapkan wanita itu untuk nanti


malam!’, teriaknya pada salah seorang asisten rumah tangga yang berjejer di


dekat tangga lantai dua.


‘Hei, apa maksudmu dengan untuk nanti malam?’,


sahutku keras.


Jay tidak memandangku sama sekali, dia terus


melangkah menuju lantai dua, sejurus kemudian kudengar


‘Blaammm,’ pintu yang ditutup dengan keras.


Aku terlonjak sesaat sebelum kewarasanku


menyapa lagi, aku pun teriak,


’Jaaaay awas saja kau kalau macam-macam


denganku. Aku tidak akan melepaskanmu sampai ke akhirat pun akan kucari kamu,


kuhantui kamu. Lebih baik aku mati dalam kemiskinan dari pada menjual diriku


padamu, brengsek!’, umpatku panjang lebar.


‘Nona, silahkan ikut saya!’, petunjuk Wati

__ADS_1


dengan sopan.


‘Tidaak, untuk apa aku harus ikut. Bilang pada


majikan gendengmu itu untuk melepaskanku’.


‘Maaf nona, anda tahu Mr. Jay tidak suka


dibantah?’


‘Dan katakan padanya, akulah orang pertama


yang akan melakukannya. Atau?’,


‘Atau apa nona?’.


‘Aku akan melakukan hal yang dia paling tidak


sukai di dunia ini. Dia tahu apa itu’, ancamku.


Sebelum aku hempaskan bokongku di atas sofa


panjang yang ada di ruang tamu. Empuk dan nyaman, hal yang pertama kali


kurasakan. Santai dengan mengerakan kaki ini ke depan belakang. Bersandar pada


bantalan kursi, kucoba memejamkan mata.


Tak kupedulikan tatapan horror serta kuatir


Wati, dihadapanku.


‘Paling dia mengkhawatirkan barang-barang


disini yang nanti kotor tercemari bajuku yang lusuh berdebu dan bau keringat


ini, terserahlah. Asal si Jay gila itu tak macam-macam padaku’.


Aku tertawa dalam hati mengingat


bantahan-bantahan yang selalu kulontarkan setiap bertemu dengannya. Bukan hanya


saat ini pun hal itu terjadi bertahun-tahun yang lalu dimana kebersamaan itu


Tak beberapa lama kemudian.


Sayup-sayup terdengar gumaman tidak jelas di


kejauhan. Hembusan napas hangat kurasakan menggelitik ditelinga.


‘Sebentar lagi, mak. Aku masih mengantuk. Iya


aku hari ini masuk agak siangan’, dan aku pun kembali terlelap dalam mimpi yang


panjang.


Bahkan tak ku hiraukan tawa geli dari emak yang mencoba membangunkan. Sampai kemudian


orang yang melahirkan aku ke dunia ini menyerah sembari berkata,


’Mungkin dia terlalu lelah, biarkan saja’.


Semenit kemudian tubuhku melayang di udara.


Aku merasa nyaman serta merta ku meringkuk di dada yang hangat ini.


Sisi pikiran warasku protes, ’hei sejak kapan


emak kuat sekali tenaganya bisa menggendongku seperti ini’, tapi hal itu


tergerus oleh rasa kantuk hebat dan tanpa kusadari aku semakin lelap tenggelam kealam


bawah sadarku.


‘Emaaak tolong….tolongi Suti. Aku takut mak….tidak….tidak


jangan mendekat, jangan gigit aku. Apa mau mu pergi….pergi!’, ku usir ular raksasa


bertubuh hitam dengan taring panjang serta mata bengis berwarna kuning


kehijauan itu.


Pupil hitamnya yang kejam hitam mengikis habis

__ADS_1


keberanianku. Aku menggigil ketakutan. Keringatku keluar tak beraturan


membanjiri wajah dan tubuh ini. Kebingungan antara melompat ke dalam sungai


hitam tak berombak di depan atau harus melawan ular raksasa di depanku.


‘Tidaaaak’, ku terbangun dengan napas


tersengal-sengal.


‘Hei ini bukan kamarku’, mengerjapkan mata


sembari mengumpulkan kesadaran.


Netraku sejenak menatap lampu Kristal yang ada


di langit-langit kamar. Sinarnya agak sedikit redup. Bingung, tubuhku terasa


kaku. Sejenak ku tolehkan kepala ke samping tak ada siapa pun. Hembusan angin


dingin dari arah balkon menarik ku kealam sadar.


Kuraba seluruh tubuh ini, ‘untung masih


lengkap’. Tapi ini gila!’, histerisku.


‘Ceeks, selalu seperti itu. Tidak bisa kah


kamu tanpa teriakan?’


‘Apa yang sudah kamu lakukan Jay? Menodaiku?’


‘Hei perempuan kalau ngomong jangan


sembarangan. Aku tidak cukup gila menidurimu dalam keadaan tidak sadar seperti


itu. Tidak ada rasanya tahu. Seperti tidur dengan batang pohon pisang saja.


Kaku dan dingin. Kalau kamu mau sekarang saja, bagaimana? Mumpung kesadaranmu


sudah pulih. Sehingga mampu mengimbangi gerakan erotisku, heemmm’, mendekatkan


wajahnya ke arahku.


‘Kamu gila Jay. Tak sudi aku menyerahkan diri


pada lelaki mesum tak berperasaan seperti mu’, ku lempar bantal ke arahnya.


‘Ha…ha…ha. Tubuhmu masih menarik seperti dulu.


Tapi apakah masih merupakan levelku. Lihatlah aku sekarang, buka matamu


lebar-lebar. Apa pantas perempuan seperti mu untuk kutiduri. Sedangkan diluar


sana banyak sekali wanita yang mau one night stand denganku. Mau yang


bagaimana, artis, pengusaha, manajer perusahaan atau bahkan owner perusahaan


nan sexy dan bahenol pun bisa kudapatkan dengan menjentikan jari’.


Aku merasa terhina tapi benar juga apa yang


dia katakan.


Membatin, ’tapi aku tahu siapa dia yang penuh


intrik serta menghalalkan segala cara hanya untuk mendapatkan keinginannya.


Setelah bosan ia akan campak kan semudah meniup daun kering ke tanah.


‘Kau tidak menyentuhku kan. Lantas bagaimana


aku bisa berganti baju tidur ini. Siapa yang menggendongku ke kamar ini. Dan


mengapa kamu berada di sini?’


‘Kamu lupa ini rumah siapa? Sesuka ku lah aku


mau ada dimana. Dan perlu kamu tahu ini adalah kamarku, perempuan’, jawabnya


sembari mendongakan kepala menunjukan kesombongannya.


‘Heeemsssh’, dengusku kasar.

__ADS_1


__ADS_2