MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XXX


__ADS_3

Bents Plaza.


Suti mendorong troli belanjaannya menuju elevator lantai dua. Dia


hendak membeli keperluan dapur mansion yang mulai habis. Kegiatan ini biasanya


dilakukan oleh Wati. Tapi anehnya mama Laura malah menyuruhnya dengan alasan


untuk menghirup udara segar diluar mansion.


Melangkah pelan-pelan sambil netranya melirik ke kiri dan kanan di


setiap los sayuran plaza. Tak menemukan yang dia inginkan. Suti pun melangkah


lurus menuju tempat ikan laut segar berada.


Di akuarium besar dari swalayan dia melihat berbagai macam jenis


ikan berenang dengan bebasnya. Berpikir untuk membeli gurame yang paling besar,


dia mengurungkan niatnya mengingat hari sudah hampir sore.


Akhirnya pilihan jatuh pada gurame yang sudah di frozen didekat


akuarium itu. Setelah ditimbang dan diberi label oleh petugas, Suti pun


mendorong trolinya ke arah kasir.


Begitu selesai dia pun menyuruh Bondan, salah satu dari bodyguard


untuk membawanya ke mobil di tempat parkir plaza.


Ia sendiri menaiki elevator menuju food court dilantai tiga. Saat kakinya


menginjak lantai diujung tangga berjalan itu, dia mendengar seseorang memanggil


namanya. Celingukan mencari sumber suara.


“Hei kamu Suti kan?” tanya seseorang dari restoran cepat saji


makanan Jepang.


Dia menoleh kesana dan senyumnya pun mengembang sempurna.


“Hai kak Ester, itu kamu?”


“Ya ini aku Suti, bagaimana kabarmu?”


Kami pun berpelukan dan saling mencium pipi kanan kiri.


“Ayo duduklah!”


“Hem baiklah”.


“Lama tak jumpa ya, aku sampai kangen loh”.


“Sungguh kak Ester kangen padaku?”


“Tentu saja dan kamu makin cantik Suti”.

__ADS_1


“Terima kasih pujiannya. Kakak pun sama tambah cantik”.


“Ha…ha…ha bercanda kamu. Aku tuh tidak makin cantik tapi tambah


tua. Itu yang benar”.


“Siapa yang bilang?”


“Suamiku lah, masak orang lain”.


“Kakak tidak marah dibilang seperti itu?”


“Em tidak asal dia yang ngomong, kalau orang lain sih bisa-bisa ada piring


melayang nanti”.


“Woi tetap saja pemarah”.


Keduanya tertawa bersamaan.


“Kamu sudah makan?”


“Belum aku kesini mau makan siang, perutku lapar sekali”.


“Bisa dilihat dari wajahmu, memang kelaparan sekali. Ini restoran


Jepang kamu suka?”


“It’s okay”.


“Waitress tolong menunya”, kata Ester sambil melambaikan tangan.


Semenit kemudian seorang wanita berseragam resto menghampiri.


note ordernya. Dirasa pelanggan sudah selesai dengan orderannya dia pun pamit


untuk menuju dapur.


Menunggu makanannya datang Ester mulai bergosip.


“Eh….eh kamu tahu tidak kabar Hendri sekarang?”


“Em tidak, kami tidak pernah bertemu sejak pengumuman tesis dulu. Saat


itu dia marah kepadaku karena kedatangan Jodi di tempat kos”.


“Jadi kalian sudah tidak ada kontak sama sekali”.


“Bisa dikatakan begitu”.


“Heem pantas”, kalimatnya menggantung.


“Pantas apa kak? Bikin penasaran saja nih”.


“Hem begini….dua bulan yang lalu aku ditugaskan kantor untuk


survey lokasi di daerah pinggir kota. Nah disekitar lokasi kan masih banyak


pertanian tuh. Aku bertemu dengan Hendri disana”.

__ADS_1


“Loh bukannya kantor dia di daerah Singosari ya kak?”


“Itu dulu Suti, sebelum dia pensiun”.


“Oh”.


“Hanya itu reaksimu pada sang mantan?”


“Lantas harus bagaimana? Apa jingkrak-jingkrak begitu?”


“Ya tidak sebegitunya kali, maksudku reaksimu kurang heboh…..kurang


antusias”.


“Ha…ha…ha ada-ada saja kau ini”.


“Mau dilanjut tidak?”


“Boleh tapi setelah makan ya, aku lapar sekali”.


“Okay”.


Setelah cerita antusias sepihak dari Ester mereka pun saling


berpelukan lama dan pamit undur diri melanjutkan kegiatannya masing-masing.


Saat ini Suti duduk di bangku penumpang mobil yang dikemudikan


oleh Tarno menuju Mansion. Selama perjalanan dia hanya diam mencerna semua


cerita dari sahabatnya dulu.


Tentang Hendri yang dipecat tidak hormat karena menghamili


perempuan yang jadi istrinya sekarang. Dan tentang pekerjaannya sebagai buruh


di perkebunan apel dengan upah lima belas ribu per hari.


“Malang sekali nasibmu Hend, bahkan lebih menderita dari ku dulu”,


batinnya.


“Tapi itu salahmu sebagai seorang abdi Negara kamu dianggap


melakukan kesalahan fatal. Seharusnya kamu tidak mementingkan nafsumu”,


pikirnya kembali.


Suti sejenak menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah tidak terima


dengan nasib buruk sang mantan. Sedangkan dari balik spion Tarno hanya melihat


sang nona muda yang melamun.


“Dia mikir apa sih, tumben-tumbenan diam melulu dari tadi?”


gumamnya pelan.


Tak ingin kehilangan konsentrasi dia pun mengalihkan pandangannya

__ADS_1


ke depan serta melajukan mobilnya agar segera sampai di mansion, sebelum tuan


mudanya pulang dari kantor.


__ADS_2