
Bents Plaza.
Suti mendorong troli belanjaannya menuju elevator lantai dua. Dia
hendak membeli keperluan dapur mansion yang mulai habis. Kegiatan ini biasanya
dilakukan oleh Wati. Tapi anehnya mama Laura malah menyuruhnya dengan alasan
untuk menghirup udara segar diluar mansion.
Melangkah pelan-pelan sambil netranya melirik ke kiri dan kanan di
setiap los sayuran plaza. Tak menemukan yang dia inginkan. Suti pun melangkah
lurus menuju tempat ikan laut segar berada.
Di akuarium besar dari swalayan dia melihat berbagai macam jenis
ikan berenang dengan bebasnya. Berpikir untuk membeli gurame yang paling besar,
dia mengurungkan niatnya mengingat hari sudah hampir sore.
Akhirnya pilihan jatuh pada gurame yang sudah di frozen didekat
akuarium itu. Setelah ditimbang dan diberi label oleh petugas, Suti pun
mendorong trolinya ke arah kasir.
Begitu selesai dia pun menyuruh Bondan, salah satu dari bodyguard
untuk membawanya ke mobil di tempat parkir plaza.
Ia sendiri menaiki elevator menuju food court dilantai tiga. Saat kakinya
menginjak lantai diujung tangga berjalan itu, dia mendengar seseorang memanggil
namanya. Celingukan mencari sumber suara.
“Hei kamu Suti kan?” tanya seseorang dari restoran cepat saji
makanan Jepang.
Dia menoleh kesana dan senyumnya pun mengembang sempurna.
“Hai kak Ester, itu kamu?”
“Ya ini aku Suti, bagaimana kabarmu?”
Kami pun berpelukan dan saling mencium pipi kanan kiri.
“Ayo duduklah!”
“Hem baiklah”.
“Lama tak jumpa ya, aku sampai kangen loh”.
“Sungguh kak Ester kangen padaku?”
“Tentu saja dan kamu makin cantik Suti”.
__ADS_1
“Terima kasih pujiannya. Kakak pun sama tambah cantik”.
“Ha…ha…ha bercanda kamu. Aku tuh tidak makin cantik tapi tambah
tua. Itu yang benar”.
“Siapa yang bilang?”
“Suamiku lah, masak orang lain”.
“Kakak tidak marah dibilang seperti itu?”
“Em tidak asal dia yang ngomong, kalau orang lain sih bisa-bisa ada piring
melayang nanti”.
“Woi tetap saja pemarah”.
Keduanya tertawa bersamaan.
“Kamu sudah makan?”
“Belum aku kesini mau makan siang, perutku lapar sekali”.
“Bisa dilihat dari wajahmu, memang kelaparan sekali. Ini restoran
Jepang kamu suka?”
“It’s okay”.
“Waitress tolong menunya”, kata Ester sambil melambaikan tangan.
Semenit kemudian seorang wanita berseragam resto menghampiri.
note ordernya. Dirasa pelanggan sudah selesai dengan orderannya dia pun pamit
untuk menuju dapur.
Menunggu makanannya datang Ester mulai bergosip.
“Eh….eh kamu tahu tidak kabar Hendri sekarang?”
“Em tidak, kami tidak pernah bertemu sejak pengumuman tesis dulu. Saat
itu dia marah kepadaku karena kedatangan Jodi di tempat kos”.
“Jadi kalian sudah tidak ada kontak sama sekali”.
“Bisa dikatakan begitu”.
“Heem pantas”, kalimatnya menggantung.
“Pantas apa kak? Bikin penasaran saja nih”.
“Hem begini….dua bulan yang lalu aku ditugaskan kantor untuk
survey lokasi di daerah pinggir kota. Nah disekitar lokasi kan masih banyak
pertanian tuh. Aku bertemu dengan Hendri disana”.
__ADS_1
“Loh bukannya kantor dia di daerah Singosari ya kak?”
“Itu dulu Suti, sebelum dia pensiun”.
“Oh”.
“Hanya itu reaksimu pada sang mantan?”
“Lantas harus bagaimana? Apa jingkrak-jingkrak begitu?”
“Ya tidak sebegitunya kali, maksudku reaksimu kurang heboh…..kurang
antusias”.
“Ha…ha…ha ada-ada saja kau ini”.
“Mau dilanjut tidak?”
“Boleh tapi setelah makan ya, aku lapar sekali”.
“Okay”.
Setelah cerita antusias sepihak dari Ester mereka pun saling
berpelukan lama dan pamit undur diri melanjutkan kegiatannya masing-masing.
Saat ini Suti duduk di bangku penumpang mobil yang dikemudikan
oleh Tarno menuju Mansion. Selama perjalanan dia hanya diam mencerna semua
cerita dari sahabatnya dulu.
Tentang Hendri yang dipecat tidak hormat karena menghamili
perempuan yang jadi istrinya sekarang. Dan tentang pekerjaannya sebagai buruh
di perkebunan apel dengan upah lima belas ribu per hari.
“Malang sekali nasibmu Hend, bahkan lebih menderita dari ku dulu”,
batinnya.
“Tapi itu salahmu sebagai seorang abdi Negara kamu dianggap
melakukan kesalahan fatal. Seharusnya kamu tidak mementingkan nafsumu”,
pikirnya kembali.
Suti sejenak menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah tidak terima
dengan nasib buruk sang mantan. Sedangkan dari balik spion Tarno hanya melihat
sang nona muda yang melamun.
“Dia mikir apa sih, tumben-tumbenan diam melulu dari tadi?”
gumamnya pelan.
Tak ingin kehilangan konsentrasi dia pun mengalihkan pandangannya
__ADS_1
ke depan serta melajukan mobilnya agar segera sampai di mansion, sebelum tuan
mudanya pulang dari kantor.