MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XXV


__ADS_3

Clark duduk di balkon kamar 302, tatapan


matanya lurus ke birunya langit dan arakan mendung yang beriringan hendak


menuju ke barat. Semburat merah di ujung langit berlahan-lahan tenggelam dan


digantikan dengan pekat menyelimuti batas cakrawala. Tak lama kemudian di atas


sana mulai bertaburan benda langit sebagai tanda malam mulai menjelang.


Mengambil sebatang rokok yang ada di meja


sampingnya, Clark mulai menyalakan menggunakan pemantik api otomatis yang


berbentuk seperti pena. Sedetik kemudian ia mulai bersenandung lagu favoritnya


‘yen ing tawang ono lintang’.


Nadanya yang fasih terdengar seolah dia


bukanlah orang Australia tapi penduduk asli pribumi. Sedangkan David yang


sedari tadi duduk di kasur dan sedang mengerjakan sesuatu di depan laptop,


menghentikan kegiatan. Melirik ke arah bosnya, mengerenyitkan dahi saat ia


mendengar nada lagu yang terasa asing di telinga.


Begitu lagu itu tepat pada kalimat ‘akuu


ngenteni seliramuu’, langit tiba-tiba bergemuruh dengan suara petir menyambar.


Angin pun datang menimpali. Tampak gorden memisah jarak antara balkon dan kamar


mulai berkebat-kebit dengan suara yang keras.


David tak beranjak sedikitpun dari tempatnya


duduk. Meskipun keinginan hatinya untuk mengajak sang tuan masuk karena cuaca


yang mulai tak bersahabat di luar sana.


Sedangkan Clark mulai menyembulkan smirknya.


Tatapan matanya berubah semakin bengis. Benak dan hatinya melanglang buana ke


sebuah tempat yang penuh dengan hingar bingar kesenangan dunia malam. Ia pun


tersenyum lebar.


Night Club, Jakarta.


Dentuman musik dari box yang dimainkan oleh


seorang DJ di atas panggung menggema ke seantero club. Alunan rancak dari lagu


itu membuat semua pengunjung bergoyang. Tak terkecuali dengan dua orang


bartender di balik meja minuman. Mereka meracik minumannya dengan mengoyangkan


badan dan sedikit gelengan di kepala.


Bahkan di sudut counter minuman yang lain


tampak salah satu di antaranya sedang melakukan atraksi dengan shaker. Dia


mengocok tempat pencampur minuman itu dengan kedua tangannya sambil mengikuti


irama musik.


Atraksi yang dilakukannya menjadi tontonan


bagi pengunjung yang duduk di depan meja counter sembari menunggu pesanan


mereka siap. Bahkan tak jarang mereka menyemangati bartender tersebut dengan


teriakan, saat dia melempar shakernya ke atas dan menangkapnya kembali tanpa


menumpahkan isi di dalamnya.


Dalam keramaian itu terlihat seorang wanita


berusia tiga puluh lima tahun berjalan menuju pria asing yang sedang duduk sendirian

__ADS_1


di meja sudut ruang. Menyesap rokok yang ada di tangan dan menyemburkan asapnya


ke udara. Dia memejamkan matanya seolah menikmati kesendirian yang ia ciptakan dalam


keremangan serta keramaian club tersebut.


Perempuan bergaun merah menyala itu membawa


minuman di tangan kiri. Rambut panjangnya ia kibaskan berkali-kali seolah


menggoda para pria dalam ruangan itu. Belahan gaun yang hampir mencapai ujung


pahanya ia sibakkan semakin ke atas sebelum duduk dikursi depan pria asing


tersebut.


“Sendirian tuan?”


Masih sambil memejamkan mata, “heem”.


“Can you speak Indonesia?”


Tak menghiraukan.


“Apakah kamu tuli?”, tanyanya lagi gemes.


“Hey, lady. Leave me alone, will you?”


“Dasar bule budeg. Songong”, umpat perempuan


itu hendak meninggalkannya.


“Ha....ha....ha. Siapa yang kamu bilang


songong nona?”, tanyanya tiba-tiba.


Malu dengan hal itu dia meralat ucapannya.


“Ma....maaf. Tuan bisa berbahasa Indonesia?”


“Tentu saja. Bahkan aku bisa berbahasa Jawa?”


“Sungguh!”


“Em, tentu saja. Coba tuan katakan sesuatu


dalam bahasa Jawa!”


“Baiklah”. Berpikir sejenak. “Bagaimana


kalau, awakmu ngancani aku bengi iki?”


“Wow, bravo tuan sangat fasih mengucapkannya”.


“Matur nuwun”, sambil mengangguk sopan.


“Apakah tuan sendirian?”


“Yaah”.


Menyibakan rambutnya ke belakang dan


memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus. Membasahi bibir dengan lidah


dan membetulkan string gaun di pundaknya. Menggoda.


“Bagaimana kalau kita sedikit


bersenang-senang tuan?”, nadanya dengan sedikit *******.


“Heem, menarik. Berapa tarifmu?”, tatapnya


intens.


“Tergantung penampilan tuan di tempat tidur”.


“Maksudmu?”


“He....he. Jika performa tuan sangat luar


biasa, anda tak perlu membayarku. Dan jika tidak, tarifku semalam sepuluh juta


tuan?”

__ADS_1


Menilik reaksi dari pria yang di ajaknya


berbicara, perempuan itu menyimpan sedikit was-was di hatinya.


“Bagaimana jika dia tidak setuju? Aku pasti


kehilangan kesempatan untuk mendapatkan belaian dari lelaki asing ini. Padahal


dia sangat menarik, aku suka dengannya”, batinnya.


Tanpa ekspresi berlebihan lelaki itu hanya


tersenyum dan mengangguk. Sedangkan wanita itu bersorak dalam hatinya. Sebelum


meninggalkan club, pria asing itu menyodorkan minuman yang ada dimejanya.


“Minumlah!”


“Apa ini tuan?”


“Itu root beer ditambah dengan ramuan


penambah stamina”, katanya lagi.


Menyesap dengan ujung lidahnya, dia merasakan


pahit dan manis yang tak biasa. Bahkan bau menyengat dari minuman itu terasa


aneh. Meskipun demikian karena tak ingin mengecewakan lelaki yang di incarnya,


ia pun menghabiskan dengan sekali tenggak.


Tak beberapa lama kemudian kedua orang itu


pun meninggalkan club, dengan menyisipkan dua lembar uang dollar ke pelayan


laki-laki yang hendak membersihkan meja mereka.


Berjalan sedikit sempoyongan, wanita itu mengekori


pria asing didepannya. Pandangan yang sedikit kabur membuat ia beberapa kali


tersandung oleh permukaan karpet yang terbentang disepanjang pintu utama.


Beberapa meter dari mobil, pria asing


tersebut menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. Tangannya bersedekap


serta menatap lurus ke arah perempuan yang jalannya terseok-seok.


“Heemmsh”, hembusnya kasar.


“Hei perempuan kapan kita bisa


bersenang-senang kalau jalan mu seperti siput begitu?”, lanjutnya lagi.


Mengusap pelipis dengan kasar. Lantas mengucek


kedua matanya, ia menjawab, “Maaf tuan kepalaku sedikit pusing”.


“Perlukah aku menggendong mu ke mobil?”


“Ehmm, jika tidak merepotkan anda”, sambil


tersungging.


“Fine, tunggu aku disitu!”


Seolah tanpa beban pria asing itu pun


menggendongnya. Postur tubuhnya yang tinggi besar membuat ia tak kesulitan


membawa perempuan yang tampak kecil dalam rengkuhan kedua tangannya yang kokoh.


Membuka pintu depan dengan tangan kiri, dan meletakannya di kursi serta


memasang sabuk pengaman.


Menutup pintu dengan pelan, dia melangkah


menuju kemudi.


“Breeemmmm”.

__ADS_1


Mobil pun melaju meninggalkan area parkir.


__ADS_2