
Makan malam melalui layanan kamar, Clark menuju balkon untuk
merokok. Dipandanginya kerlip bintang-bintang yang bertaburan di atas langit
kota Malang. Kegelapan yang mendominasi membuatnya tersenyum.
Sejenak kemudian dia mengarahkan pandangan netranya kebawah, pun
tak kalah dengan pemandangan langit yang menyuguhkan pekat dengan titik-titik
bintang yang berkerlipan, disana juga menyuguhkan keindahan malam sebuah kota
besar dengan hiruk pikuk manusia dan lampu-lampu kota yang beraneka warna.
Melirik jam di pergelangan tangannya, ia mendengkus.
“Heem, malam sudah semakin larut tapi mengapa orang-orang itu
tidak tidur. Apa mereka punya energy cadangan untuk beraktifitas esok hari?”,
dia mengelengkan-gelengkan kepalanya tak mengerti.
Lantas tangan kanannya meraih telepon genggam dari saku wardrobe
yang ia kenakan. Mencari nomer dari kontak whatsapp nya serta memencetnya.
“Truuut….truuut”.
“Halo selamat malam, Selly speaking”.
“Malam, dimana kamu sekarang. Mengapa berisik sekali dari sana?”
“Ouh, maaf bos. Aku sedang ada di club”.
“What, enak sekali kamu bersenang-senang. Apa kamu melupakan
tugasmu hari ini?”
“Eh, tidak bos. Aku akan menjalankannya segera”.
“Akan menjalankannya katamu. Jadi selama ini uang yang aku
keluarkan untuk misimu belum ada yang berhasil. Tak satu pun. Bodoh betul-betul
bodoh. Dimana otak kecilmu itu kau simpan?”
“Ma….maaf bos. Sudah berulang kali aku mendekatinya dengan cara
cantik dan kasar tapi dia bisa selamat menghindariku. Aku juga tak mengerti
seolah dia punya pelindung dari dunia lain”.
“Heemmmsh, alasan saja kau itu”.
“Jujur bos, bahkan yang terakhir kali kubuat dia tak sadar dengan
minuman yang kucampur dengan obat tidur. Sudah akan ku eksekusi dia dikamar
hotel. Tapi si Andrew memergokinya, jadi gagal sudah rencanaku. Malah sekarang
aku tidak berani mendekat dalam jarak lima ratus meter pun. Penjagaan dia
perketat. Bahkan menambah bodyguard nya sekarang”.
“Haish, tapi bukan berarti kamu harus terus hanya bersantai
seperti itu, Sellly. Jika kamu tidak bisa mendekat lagi, apakah kota ini
kekurangan perempuan lain?”, tanyanya lebih kasar lagi.
“Maksudnya bos?”, mulai paham.
“Yaah, kamu mengerti apa yang aku maksudkan. Gunakan kekuatan uang
itu, paham. Jangan sampai aku sendiri yang turun tangan. Jika itu terjadi Selly,
kamu tidak akan hanya kehilangan pekerjaan tapi juga nyawamu, paham!”
“Pa…paham bos”, sahutnya terbata serta penuh ketakutan.
“Heem”.
“Tut”.
Smirknya mengembang sempurna. Kekehan kecil terdengar dari
mulutnya yang mulai menyesap rokok yang ia letakan di pinggir asbak. Dijentikan
abu rokok yang mulai memanjang membakar, sebelum melanjutkan kegiatannya
kembali.
Menyelonjorkan kaki, duduk sambil sedikit rebah ke atas kursi. Ia
melemaskan otot-otot tubuhnya dan netranya kembali menatap ke depan, nun jauh
disana ke kegelapan malam yang tak bertepi.
“Tunggu aku sayang. Sebentar lagi kita akan bersama lagi seperti
__ADS_1
dulu. Menikmati keindahan dunia dan tentu saja, dengan kekuatanmu kita akan
menaklukan semua ini. Tak ada lagi Jay. Tak ada lagi Cartwright yang akan
menganggu kita. Yaah, hanya kita berdua. Kau dan aku”, tersenyum puas dengan
rencananya. Ia pun mulai bersenandung pelan, lagu langgam jawa, ‘Yen ing tawang
ono lintang’.
Seolah bereaksi dengan suara yang Clark lantunkan. Langit pun
mengeluarkan suara gemuruh dan angin mulai berhembus sedikit kencang.
“Woi hujan…..hujan. Ayo berteduh selamatkan dagangan kalian!”
Terdengar keributan dibawah sana, perpaduan suara manusia yang
menyelamatkan dirinya dari curah hujan yang mulai mengganas. Malam yang tenang
pun sedikit kacau dengan datangnya musim yang tak seharusnya terjadi.
“Heeem, kau mendengarkan ku, nyai?”, gumam Clark.
Mansion Cartwright.
Suti tertidur dengan gelisah dibalik selimut tebal yang membungkus
tubuhnya. Berkali dia menggelengkan kepala seolah menolak akan sesuatu. Gumaman
tak jelas ia lontarkan dan tubuhnya dibanjiri dengan keringat. Hawa dingin yang
keluar dari AC diatas ruangan tak mampu menghilangkan jejak-jejak keringat dari
tubuhnya.
Jay yang sedang berada di balkon pun menolehkan kepala ke arah tempat
tidur. Netranya melihat Suti yang tidur dengan gelisah, gegas ia menutup
jendela balkon dan menghampiri, ditepuk-tepuk pipi istrinya pelan seraya
berbisik,
“Sayang bagunlah. Apa yang kau mimpikan?”
“Hem….hem”.
“Bangun Suti!”, diguncangkan badannya sedikit keras.
“Hem, a….apa yang kamu lakukan Jay?”, pertanyaan itu terlontar
begitu saja.
“Apa yang terjadi?”, sahutnya linglung.
“Kau tidak tahu apa yang terjadi. Kamu gelisah dalam tidurmu dan
lihat itu keringat membasahi baju yang kau kenakan”, tunjuknya dengan mata ke
tubuh Suti.
Reflek ia menutupi dada yang masih terbungkus dengan baju tidur.
Gambar itu tercetak dengan jelas karena bahan yang menutupi sudah tak mampu
melindungi gegara basah oleh keringat. Suti pun menaik kan selimut yang mulai
melorot, dengan sedikit melotot ia melihat Jay yang menelan salivanya kasar.
“Apa yang kamu lihat!”, sentaknya.
Jay mengalihkan pandangan ke arah lain dan mendengkus.
“Bangunlah, ganti bajumu itu. Jika tidak ingin hal lain terjadi!”,
perintahnya sebelum bangkit dari sisi ranjang menuju sofa.
“Fine, pejamkan matamu dan jangan coba-coba mengintip!”
“Apa yang salah dengan itu. Kamu kan istri syah ku”.
“Ya…tapi kita masih belum syah selama kamu masih belum bisa
menerima ku seperti dulu, Jay. Jangan lupakan itu”, sahutnya sedikit sengit.
“Terserahlah”, dia pun merebahkan diri dan mulai menutup mata.
Suti yang melihat hal itu pun menyingkap selimut, menuju almari
mengambil baju tidur ganti dan gegas ke kamar mandi. Membasuh wajahnya
berkali-kali di wastafel seraya bergumam,
“Wuuuf, mimpi apa itu? Seperti nyata”.
Sejenak ia melamun, memutar memorinya ke kejadian beberapa waktu
yang lalu. Kegelisahan dan ketakutan ia rasakan. Dan sedetik kemudian sorot
__ADS_1
matanya berubah menjadi hijau, pupil hitam kelam miliknya meruncing memancarkan
aura jahat ke seantero ruang. Dan smirknya mulai muncul di bibir. Rasa takut
dan gelisah yang sempat dia rasakan pun musnah tak berbekas.
Sementara itu di luar mansion, gemuruh air hujan yang di iringi
dengan petir yang menyambar, pun hilang tak berbekas tergantikan oleh sinar
rembulan yang bulat sempurna dan bunyi gareng pung bersahutan di mana-mana.
Malam kembali sunyi seolah tak terjadi sesuatu.
Balkon kamar 302.
“Heeem, nyai kau sudah bangkit rupanya”, desisan lirih Clark.
“Well, semakin menarik. Apa dia bisa merasakan kehadiranku?”, lantas
ia menghitung sesuatu dengan jemarinya.
“Emm, seharusnya tidak, dia sepertinya masih terlalu lemah ditubuh
itu”, monolognya kembali. Memejamkan mata dia pun tertidur di kursi balkon.
Dalam lelap jiwa Clark melanglang buana ke masa lalu.
Di tahun 1596 masehi saat Belanda pertama kali mendarat di
Indonesia. Peter Jansen adalah seorang pemuda gagah nan tampan, dengan tinggi
badan seratus delapan puluh centimeter, rambut ikal dan blonde serta bermata
biru gelap membuatnya di gandrungi noni-noni belanda yang mengenalnya.
Perawakan Jansen yang mirip dengan dewa-dewa dari Yunani itu pun
membuat mereka histeris ketika secara tidak sengaja dia bertemu dan
melewatinya. Jansen bukanlah seorang tentara dia adalah pengusaha yang bergerak
di bidang makanan, kesuksesannya dalam mengelola berbagai macam usaha di
Nederland, membuat pemerintah belanda mengirimkannya ke Indonesia untuk
memimpin perusahaan pabrik gula. Suiker fabriek ini didirikan di Kediri dan
menjadikan Jansen sebagai presiden direkturnya.
Sebagaimana pengusaha yang lain dia tentunya punya tempat untuk
berlibur dalam melepaskan segala kepenatan. Berjalan-jalan ke Tretes adalah
aktifitas wajib yang ia lakukan. Sebuah loji dengan taman yang luas di daerah
taman wisata menjadi tujuannya bersama dengan Anna van den berg, salah satu
noni belanda yang beruntung bisa bersanding kemana pun Peter pergi.
Anna yang manja, cantik serta penuh pesona mampu menghibur
kesepiannya, tatkala berada di Indonesia. Seperti saat ini mereka sedang berada
di tengah taman loji menikmati teh sore hari.
“Jansen, temani aku ke bawah sana ya”, tunjuknya pada area
pedesaan dibawah bukit.
“Aku malas, pergilah dengan Sukirno, penjaga loji. Dia tahu dengan
baik area sini. Kamu tidak akan tersesat lagi seperti dulu”.
“Ouuh, ayolah Peter. Aku tidak mau ditemani dia. Aku maunya kamu”,
katanya sembari mengguncang lengan Jansen manja.
Mengubah posisi Anna memeluknya dari belakang serta mengusap
kepalanya dengan dagu. Kedua tangannya melingkar di dada Peter.
Tak tahan dengan itu dia mengalah, “baiklah mooi, bersiaplah”.
Terlonjak kegirangan ia memerintah, ”mbok Ginah ambilkan payungku!”
“Nggih, ndoro”.
Jansen mengulurkan lengan kirinya dan Anna melingkarkan tangan
kanannya erat seolah tak mau lepas dari Jansen. Sedetik kemudian mereka mulai
melangkahkan kaki menuju bawah perbukitan. Sepanjang perjalanan banyak yang dia
obrolkan mulai dari hal kecil hingga merambah ke bisnis yang sedang digeluti
oleh sang pujaan hati.
Berkali-kali Anna memancing pembicaraan serius tentang pernikahan,
__ADS_1
tapi tampaknya dia tak merespon sama sekali. Lelah dengan usahanya noni belanda
itu pun mengalihkan topik ke hal lain.