MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB LXVIII


__ADS_3

Satu tahun berselang.


Mobil sport berwarna putih menghentikan lajunya di depan gedung


perkantoran yang menjulang tinggi. Seorang pengawal berseragam hitam,


membukakan pintu.


Kaki jenjang berbalut celana chamomile abu pun melangkah keluar.


Berdiri tegak disamping pintu. Merapikan jasnya sebentar, sebelum melangkah


menuju pintu utama dengan di ikuti sang bodyguard.


Resepsionis kantor pun menangkup kedua tangan di dada saat sang


CEO melewatinya. Anggukan samar diterima sebagai tanda balasan.


Menuju lift khusus manajer, sang pengawal memencet tombol buka.


“Wuuuuung”.


“Ting,” tepat di lantai dua puluh benda itu berhenti.


Begitu pintu lift terbuka, sambutan dari asisten pribadi dan


sekretaris perusahaan diterima. Mempersilahkan sang bos didepan, ketiganya lantas


mengekori. Menuju kantornya di ujung koridor.


Tepat depan pintu yang bertuliskan CEO, pengawal pribadi


membukakan pintu. Mempersilahkan ketiga orang tersebut masuk dan menutupnya


kembali. Sedangkan sang bodyguard berdiri tegap di depan, menjaga sang majikan


didepan pintu ruang.


“Duduklah,” perintah terdengar kala sang CEO mencapai meja


kerjanya.


Sang asisten dan sekretaris pun menduduki kursi bersisian dekat


meja sang bos.


“Baiklah kamu bisa memulai laporanmu, Dave”.


“All set bos. Tinggal melanjutkan semua dokumen perjanjian


perusahaan yang ada”.


“Heem. Bagaimana denganmu, Nora?”


“Ada permintaan kerja sama dari perusahaan The Cartwright, bos.


Surelnya sudah anda terima tadi malam”.


“Oh itu ya. Aku masih belum sempat membacanya. Aku akan melihatnya


sebentar lagi. Ada lagi?”


“Perwakilan perusahaan ingin bertemu dengan anda siang ini”.


“Tidak bisa, Nora. Aku harus ke makam kedua orang tuaku dan


mengurus wasiatnya dengan Dave sepanjang sore nanti. Atur pertemuannya besok


saat makan siang”.


“Baik bos”.


“Fine, kalian bisa meninggalkan ruangan. Aku akan cek semua

__ADS_1


dokumennya”.


“Baik bos~kami permisi,” keduanya pun meninggalkan ruangan.


Menghembuskan napasnya sejenak, sebelum menggulirkan matanya ke


arah dokumen yang berada di meja. Menggerakan pena di atasnya sebagai tanda


approved.


Dalam sekejap semua berkas yang menumpuk di atas meja, telah


selesai ditangani. Lantas sang CEO mulai membuka laptop di hadapan. Netranya


pun memindai satu persatu file yang terketik rapi dari layar monitor.


Memberikan tanda tangan dengan pena khusus layar gadget android. Hingga


selesailah sudah semua tugasnya. Dia pun menyandarkan tubuh dan menggunakan


tangan kanannya sebagai tumpuan.


Mendongakan kepala, lamunan pun kembali dinikmati. Melompat ke


kilasan peristiwa saat semua ini belum menjadi miliknya.


Ketika dia bermandikan peluh dan berwajah gosong tertimpa terik


matahari. Berebut dengan pencari nafkah yang lainnya, hanya sekedar mencari


sesuap nasi. Demi berlangsungnya kehidupan sang ibu dan pendidikan adik tercinta.


Yang ternyata hanyalah sosok bulik dan keponakan. Yatim piatu


itulah status yang dia sandang. Kedua orang tuanya terbunuh karena ketidak


sengajaan. Dibawah alam sadarnya, wujud iblis penghuni raganya muncul dan


mengigit keduanya hingga tewas.


banyak warga yang curiga, jika kedua orang tuanya adalah pemuja pesugihan.


Para tetangga hendak membawanya ke dukun sakti untuk mengusir


iblis jahat dalam tubuhnya. Rencana itu gagal dengan kehadiran sang paman.


Kakak kandung ayahnya yang muncul dengan sebuah keyakinan tak terbantahkan.


Warga pun merelakan ketika bayi imut dibawa pulang ke Prigen beserta jasad


kedua orang tuanya.


Sang bayi pun diberi ritual dengan memberikan pagar penutup sukma,


agar iblis itu tak muncul di saat yang tidak tepat. Dan itu berhasil, hingga


dia muncul kembali saat raganya bertemu dengan keturunan musuh si empunya ilmu.


Rasa tersakiti serta ketidak percayaan akan cinta tulus sang


kekasih, membangkitkan makhluk keji itu. Nurani manusianya kalah dengan dendam


yang telah terlanjur bercokol dalam jiwanya.


Meskipun dia ingin merengkuh sang cinta pertama. Hal yang mustahil


ia lakukan, saat sang makhluk penuh dendam selalu haus darah dengan keturunan


Anne Van Den Berg.


Dengan ketidak yakinan pada dirinya, akhirnya Suti memutuskan


pergi ke luar negeri. Dimana The Clark’s company yang telah diwariskan oleh

__ADS_1


sang kakek buyut menanti untuk dikelola.


Kejutan hebat yang masih dirasakannya sampai saat ini. Ketika dia


keluar dari lubang portal buatan ki Nogo. Dan disambut oleh David sang asisten


pribadi yang langsung mengarahkannya ke ruang kerja di lantai dua.


Dave si asisten setia pun menjelaskan semua, termasuk surat wasiat


pelimpahan harta kekayaannya terhadap Suti, cucu buyut yang baru dikenalinya. Bahkan


perusahaan cabang di Belanda dan Amerika pun telah diganti nama.


Hatinya trenyuh, saat sang asisten menjelaskan jika dokumen wasiat


itu dibuat sebelum pertempuran Jansen dengan gurunya. Pertarungan mati-matian


demi mengusir makhluk naga dalam raganya.


Yang berarti pertarungan itu disengaja oleh sang kakek buyut. Saat


mengetahui keturunannya dengan sang istri tercinta masih hidup. Dia rela mati


agar bersatu dengan Darsi, sang cinta pertama.


Lamunan sang CEO pun buyar kala mendengar ketukan pintu. “Masuk!”


jawabnya sembari memperbaiki posisi duduk.


Wajah ramah sang asisten pun terpampang jelas dihadapan.


“Ya Dave”.


“Sudah saatnya nona”.


“Baiklah. Mari berangkat”.


“Silahkan nona”.


“Em Dave. Suruh Nora membereskan mejaku”.


“Baik bos”.


“Okay,” beranjak meninggalkan ruangannya.


Pintu pun ditutup oleh sang asisten. Yang segera memberikan kode


kepada si sekretaris saat keduanya melewati meja Nora. Wanita itu pun


mengangguk mengerti lalu menuju ruangan sang bos.


Sepuluh menit kemudian, tampak mobil sport kembali melaju


meninggalkan The Clark’s building menuju area pemakaman keluarga.


Suti bersimpuh di makam kedua orang tua dan leluhurnya. Doa-doa ia


panjatkan demi ketenangan arwah semua orang tercinta.


Meskipun dia menyadari bahwa tak ada raga yang terkubur di dalam


makam yang nisannya tertulis Nyi Darsi dan Peter Jansen. Dia tetap meletakan


bunga tulip dan mawar putih kegemaran si nenek buyut.


Perlambang cinta dan ketulusan dari sang kakek buyut terhadap


istri tercintanya. Cinta abadi yang tak lekang oleh waktu. Kesetiaan sepanjang


hidup tanpa ingin menghianati.


Angin berhembus perlahan seolah membalas doa Suti. Yang dalam hati

__ADS_1


turut berharap hal yang sama terjadi dalam hidupnya.


__ADS_2