
Satu tahun berselang.
Mobil sport berwarna putih menghentikan lajunya di depan gedung
perkantoran yang menjulang tinggi. Seorang pengawal berseragam hitam,
membukakan pintu.
Kaki jenjang berbalut celana chamomile abu pun melangkah keluar.
Berdiri tegak disamping pintu. Merapikan jasnya sebentar, sebelum melangkah
menuju pintu utama dengan di ikuti sang bodyguard.
Resepsionis kantor pun menangkup kedua tangan di dada saat sang
CEO melewatinya. Anggukan samar diterima sebagai tanda balasan.
Menuju lift khusus manajer, sang pengawal memencet tombol buka.
“Wuuuuung”.
“Ting,” tepat di lantai dua puluh benda itu berhenti.
Begitu pintu lift terbuka, sambutan dari asisten pribadi dan
sekretaris perusahaan diterima. Mempersilahkan sang bos didepan, ketiganya lantas
mengekori. Menuju kantornya di ujung koridor.
Tepat depan pintu yang bertuliskan CEO, pengawal pribadi
membukakan pintu. Mempersilahkan ketiga orang tersebut masuk dan menutupnya
kembali. Sedangkan sang bodyguard berdiri tegap di depan, menjaga sang majikan
didepan pintu ruang.
“Duduklah,” perintah terdengar kala sang CEO mencapai meja
kerjanya.
Sang asisten dan sekretaris pun menduduki kursi bersisian dekat
meja sang bos.
“Baiklah kamu bisa memulai laporanmu, Dave”.
“All set bos. Tinggal melanjutkan semua dokumen perjanjian
perusahaan yang ada”.
“Heem. Bagaimana denganmu, Nora?”
“Ada permintaan kerja sama dari perusahaan The Cartwright, bos.
Surelnya sudah anda terima tadi malam”.
“Oh itu ya. Aku masih belum sempat membacanya. Aku akan melihatnya
sebentar lagi. Ada lagi?”
“Perwakilan perusahaan ingin bertemu dengan anda siang ini”.
“Tidak bisa, Nora. Aku harus ke makam kedua orang tuaku dan
mengurus wasiatnya dengan Dave sepanjang sore nanti. Atur pertemuannya besok
saat makan siang”.
“Baik bos”.
“Fine, kalian bisa meninggalkan ruangan. Aku akan cek semua
__ADS_1
dokumennya”.
“Baik bos~kami permisi,” keduanya pun meninggalkan ruangan.
Menghembuskan napasnya sejenak, sebelum menggulirkan matanya ke
arah dokumen yang berada di meja. Menggerakan pena di atasnya sebagai tanda
approved.
Dalam sekejap semua berkas yang menumpuk di atas meja, telah
selesai ditangani. Lantas sang CEO mulai membuka laptop di hadapan. Netranya
pun memindai satu persatu file yang terketik rapi dari layar monitor.
Memberikan tanda tangan dengan pena khusus layar gadget android. Hingga
selesailah sudah semua tugasnya. Dia pun menyandarkan tubuh dan menggunakan
tangan kanannya sebagai tumpuan.
Mendongakan kepala, lamunan pun kembali dinikmati. Melompat ke
kilasan peristiwa saat semua ini belum menjadi miliknya.
Ketika dia bermandikan peluh dan berwajah gosong tertimpa terik
matahari. Berebut dengan pencari nafkah yang lainnya, hanya sekedar mencari
sesuap nasi. Demi berlangsungnya kehidupan sang ibu dan pendidikan adik tercinta.
Yang ternyata hanyalah sosok bulik dan keponakan. Yatim piatu
itulah status yang dia sandang. Kedua orang tuanya terbunuh karena ketidak
sengajaan. Dibawah alam sadarnya, wujud iblis penghuni raganya muncul dan
mengigit keduanya hingga tewas.
banyak warga yang curiga, jika kedua orang tuanya adalah pemuja pesugihan.
Para tetangga hendak membawanya ke dukun sakti untuk mengusir
iblis jahat dalam tubuhnya. Rencana itu gagal dengan kehadiran sang paman.
Kakak kandung ayahnya yang muncul dengan sebuah keyakinan tak terbantahkan.
Warga pun merelakan ketika bayi imut dibawa pulang ke Prigen beserta jasad
kedua orang tuanya.
Sang bayi pun diberi ritual dengan memberikan pagar penutup sukma,
agar iblis itu tak muncul di saat yang tidak tepat. Dan itu berhasil, hingga
dia muncul kembali saat raganya bertemu dengan keturunan musuh si empunya ilmu.
Rasa tersakiti serta ketidak percayaan akan cinta tulus sang
kekasih, membangkitkan makhluk keji itu. Nurani manusianya kalah dengan dendam
yang telah terlanjur bercokol dalam jiwanya.
Meskipun dia ingin merengkuh sang cinta pertama. Hal yang mustahil
ia lakukan, saat sang makhluk penuh dendam selalu haus darah dengan keturunan
Anne Van Den Berg.
Dengan ketidak yakinan pada dirinya, akhirnya Suti memutuskan
pergi ke luar negeri. Dimana The Clark’s company yang telah diwariskan oleh
__ADS_1
sang kakek buyut menanti untuk dikelola.
Kejutan hebat yang masih dirasakannya sampai saat ini. Ketika dia
keluar dari lubang portal buatan ki Nogo. Dan disambut oleh David sang asisten
pribadi yang langsung mengarahkannya ke ruang kerja di lantai dua.
Dave si asisten setia pun menjelaskan semua, termasuk surat wasiat
pelimpahan harta kekayaannya terhadap Suti, cucu buyut yang baru dikenalinya. Bahkan
perusahaan cabang di Belanda dan Amerika pun telah diganti nama.
Hatinya trenyuh, saat sang asisten menjelaskan jika dokumen wasiat
itu dibuat sebelum pertempuran Jansen dengan gurunya. Pertarungan mati-matian
demi mengusir makhluk naga dalam raganya.
Yang berarti pertarungan itu disengaja oleh sang kakek buyut. Saat
mengetahui keturunannya dengan sang istri tercinta masih hidup. Dia rela mati
agar bersatu dengan Darsi, sang cinta pertama.
Lamunan sang CEO pun buyar kala mendengar ketukan pintu. “Masuk!”
jawabnya sembari memperbaiki posisi duduk.
Wajah ramah sang asisten pun terpampang jelas dihadapan.
“Ya Dave”.
“Sudah saatnya nona”.
“Baiklah. Mari berangkat”.
“Silahkan nona”.
“Em Dave. Suruh Nora membereskan mejaku”.
“Baik bos”.
“Okay,” beranjak meninggalkan ruangannya.
Pintu pun ditutup oleh sang asisten. Yang segera memberikan kode
kepada si sekretaris saat keduanya melewati meja Nora. Wanita itu pun
mengangguk mengerti lalu menuju ruangan sang bos.
Sepuluh menit kemudian, tampak mobil sport kembali melaju
meninggalkan The Clark’s building menuju area pemakaman keluarga.
Suti bersimpuh di makam kedua orang tua dan leluhurnya. Doa-doa ia
panjatkan demi ketenangan arwah semua orang tercinta.
Meskipun dia menyadari bahwa tak ada raga yang terkubur di dalam
makam yang nisannya tertulis Nyi Darsi dan Peter Jansen. Dia tetap meletakan
bunga tulip dan mawar putih kegemaran si nenek buyut.
Perlambang cinta dan ketulusan dari sang kakek buyut terhadap
istri tercintanya. Cinta abadi yang tak lekang oleh waktu. Kesetiaan sepanjang
hidup tanpa ingin menghianati.
Angin berhembus perlahan seolah membalas doa Suti. Yang dalam hati
__ADS_1
turut berharap hal yang sama terjadi dalam hidupnya.