MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB LVI


__ADS_3

Hampir pukul sembilan malam. Penduduk desa Prigen mulai


berdatangan. Mereka mencari tempat yang nyaman untuk menonton pertunjukan.


Tikar yang tergelar disepanjang ruang pendopo pun mulai penuh.


Bahkan pembantu lurah Radjiman mulai hilir mudik mengambil persediaan tikar


cadangan dari gudang belakang.


Memberikannya kepada para warga yang duduk di luar pendopo. Mereka


menggelar tikar di atas halaman serta memposisikan dirinya dengan bersila.


Dari sudut kiri, cemilan hasil kebun mulai diedarkan para ibu-ibu.


Mengangsurkan ke para tamu juga meminta mereka untuk mendistribusikannya.


Sehingga semua kebagian tanpa perlu bersusah payah berjalan ke sudut yang lain.


Mereka mulai menikmati semua hidangan. Bahkan minuman jahe hangat


mulai dituang ke dalam gelas yang terbuat dari batang bambu.


Sementara itu di panggung; Nayogo, Cantrik, Sinden dan Dalang mulai


menampilkan acara yang ditunggu-tunggu.


Pukulan berirama dari gamelan, memenuhi ruangan. Saat sang sinden


mulai melantunkan langgam yang membuat para tamu terdiam.


Di kursi kehormatan duduklah sang tetua, pini sepuh desa dan


Radjiman sedang menatap lurus ke arah panggung. Menonton dalang yang memutar


tokoh wayangnya dalam adegan pertarungan.


Ketika cerita sang dalang memasuki klimak, tiba-tiba kesunyian


mendera. Bahkan tak ada suara gamelan juga keriuhan dari penonton.


Semuanya terdiam mematung. Menyisakan Radjiman dan ki Jarwo. Kedua


orang itu melihat semua yang terjadi. Saat munculnya asap yang membentuk siluet


sosok manusia di hadapan. Tepat di balik punggung sang dalang yang tengah


memutar wayangnya berjumpalitan.


Semakin lama kepulan tersebut membentuk seorang petapa tua dengan


janggut panjang yang berkibar. Dan kabut itu pun menghilang.


“Selamat malam ki Nogo” sapa Jarwo.


“Malam Jarwo”.


“Nyuwun sewu. Ada apa ki Nogo menemui kami?”


“Aku hanya ingin menyampaikan kabar, jika siluman itu belum mati Jarwo”.


“Hah! Lalu apa yang harus kami lakukan ki?”


“Berilah pagar di desa mu, Jarwo. Sembelilah empat ayam cemani.


Darahnya kubur diempat sudut desa ini. Masak dagingnya lalu berikan kepada anak


Radjiman. Dia yang akan menjadi pagarnya”.

__ADS_1


“Apa nyi Darsi tidak bisa mati, Ki?”


“Jasadnya akan mati Jarwo tapi tidak dengan ilmunya. Dia akan


selamanya hidup sampai keturunan ke dua belas darinya lahir. Kelak dia yang


akan menahan ilmu kanoragannya”.


“Apa selama itu?”


“Ya…selama itu. Makhluk perwujudan Darsi akan tetap mencari


korban”.


“Tidak adakah cara lain?”


“Kekuatannya akan melemah jika dia memangsa anak manusia non


pribumi. Jadi jauhkan dia dari anak-anak kita”.


“Mohon bantuannya, ki”.


“Aku akan mengarahkan dia menjauh dari sini. Dan memintanya untuk


menikah dengan orang non pribumi, pemuja kekayaan”.


“Dari daerah sini?”


“Ha…ha…ha. Tentu saja tidak. Aku menyuruhnya untuk pergi ke area


lautan. Perairan cocok untuknya. Dan dia bisa menemukan jodohnya. Bila saat itu


tiba, dengan ketulusan cinta suaminya. Dia akan lebih sering berwujud manusia.


Hingga bisa menekan sifat iblis dalam raganya”.


“Terima kasih, ki” sambil menangkupkan tangan di dada.


Ki Nogo pun mengangkat tangannya ke atas. Bersamaan dengan


menghilangnya petapa itu, pendopo pun kembali normal. Dengan keriuhan penduduk


desa dan pertunjukan wayang.


***


Tepat malam jumat kliwon, di gua Nogo.


Dua hari setelah pertempuran sengit. Abu Darsi tergeletak


berserakan di atas batu pertapaan.


Tepat saat malam bulan purnama bersinar penuh. Dari celah di


langit-langit gua. Kilauan warna putih dari sinar sang rembulan menyelimuti abu


siluman itu.


Sisa-sisa dari jasad makhluk iblis yang semula menumpuk, menjadi


tersebar ke sisi dan jatuh ke tanah. Tak lama kemudian, ekor dari siluman


tersebut mulai bergerak.


Gerakannya semakin cepat. Mengibas ke kiri dan kanan. Kemudian


asap berkumpul di atasnya. Semakin lama semakin banyak dan membentuk tubuh


wanita berambut panjang.

__ADS_1


Seringainya muncul seiring dengan taring yang bertambah panjang.


“Hi…hi…hi” tawa puas menggema di seluruh gua.


“Tunggulah pembalasanku manusia laknat!” menggerakan ekor dan


menghantamkannya ke tembok.


“Darsi…”


Makhluk itu memutar tubuhnya menghadap belakang.


“Ya guru”.


“Apa yang kamu lakukan?”


“Membalas orang-orang yang sudah memusnahkan ku, ki”.


“Kekuatanmu masih lemah”.


“Aku tahu, ki. Apa yang harus kulakukan agar dendamku terbalas”.


“Pergilah ke pulau Hawai. Di sana tempat yang tepat untuk mu


bertapa, memulihkan kekuatanmu”.


“Tapi ki…?”


“Kamu kuatir dengan mangsamu?”


“Ya ki. Tak ada bayi-bayi lezat dari orang Jawa”.


“Ha…ha…ha. Justru itu nanti yang mengembalikan wujudmu, Darsi.


Bukankah kamu ingin jadi manusia kembali, untuk menemui anakmu?”


“Aaah, ya ki. Aku lupa. Dendam iblis ini terlalu menguasaiku”.


“Pergilah Darsi”.


“Aku pamit, Ki”.


“Blaap”.


Sepeninggal Darsi, kembali ki Nogo sendirian dalam gua. Mendudukan


dirinya ke atas batu pertapaan dan memejamkan mata.


Mulutnya melantunkan kidungan doa dalam Bahasa Jawa kuno. Semakin


lama kidungan itu semakin keras hingga menggema ke luar ruangan.


Para binatang malam yang menghuni hutan gunung Ringgit pun


terdiam. Seolah mengikuti lantunan ki Nogo.


Pepohonan pun tampak mulai bergoyang. Sesuai arah angin yang


semakin keras berhembus. Dan tak lama kemudian kilat dan Guntur menggema di


langit. Hujan pun turun dengan derasnya. Menjawab doa-doa dari sang petapa.


*”Hai para reader ku tercinta. Terima kasih atas dukungannya


selama ini. Ikuti terus karya othor ya. Jangan lupa tulis komentar di kolomnya.


Sama pencet tanda like, biar othor tambah semangat up bab selanjutnya. Maaf ya


baru bisa kasih komentar sekarang. Yang penting kita tetap saling terhubung

__ADS_1


dengan karya ini. Sampai bertemu di bab selanjutnya…love you all deh”.


__ADS_2