
Hampir pukul sembilan malam. Penduduk desa Prigen mulai
berdatangan. Mereka mencari tempat yang nyaman untuk menonton pertunjukan.
Tikar yang tergelar disepanjang ruang pendopo pun mulai penuh.
Bahkan pembantu lurah Radjiman mulai hilir mudik mengambil persediaan tikar
cadangan dari gudang belakang.
Memberikannya kepada para warga yang duduk di luar pendopo. Mereka
menggelar tikar di atas halaman serta memposisikan dirinya dengan bersila.
Dari sudut kiri, cemilan hasil kebun mulai diedarkan para ibu-ibu.
Mengangsurkan ke para tamu juga meminta mereka untuk mendistribusikannya.
Sehingga semua kebagian tanpa perlu bersusah payah berjalan ke sudut yang lain.
Mereka mulai menikmati semua hidangan. Bahkan minuman jahe hangat
mulai dituang ke dalam gelas yang terbuat dari batang bambu.
Sementara itu di panggung; Nayogo, Cantrik, Sinden dan Dalang mulai
menampilkan acara yang ditunggu-tunggu.
Pukulan berirama dari gamelan, memenuhi ruangan. Saat sang sinden
mulai melantunkan langgam yang membuat para tamu terdiam.
Di kursi kehormatan duduklah sang tetua, pini sepuh desa dan
Radjiman sedang menatap lurus ke arah panggung. Menonton dalang yang memutar
tokoh wayangnya dalam adegan pertarungan.
Ketika cerita sang dalang memasuki klimak, tiba-tiba kesunyian
mendera. Bahkan tak ada suara gamelan juga keriuhan dari penonton.
Semuanya terdiam mematung. Menyisakan Radjiman dan ki Jarwo. Kedua
orang itu melihat semua yang terjadi. Saat munculnya asap yang membentuk siluet
sosok manusia di hadapan. Tepat di balik punggung sang dalang yang tengah
memutar wayangnya berjumpalitan.
Semakin lama kepulan tersebut membentuk seorang petapa tua dengan
janggut panjang yang berkibar. Dan kabut itu pun menghilang.
“Selamat malam ki Nogo” sapa Jarwo.
“Malam Jarwo”.
“Nyuwun sewu. Ada apa ki Nogo menemui kami?”
“Aku hanya ingin menyampaikan kabar, jika siluman itu belum mati Jarwo”.
“Hah! Lalu apa yang harus kami lakukan ki?”
“Berilah pagar di desa mu, Jarwo. Sembelilah empat ayam cemani.
Darahnya kubur diempat sudut desa ini. Masak dagingnya lalu berikan kepada anak
Radjiman. Dia yang akan menjadi pagarnya”.
__ADS_1
“Apa nyi Darsi tidak bisa mati, Ki?”
“Jasadnya akan mati Jarwo tapi tidak dengan ilmunya. Dia akan
selamanya hidup sampai keturunan ke dua belas darinya lahir. Kelak dia yang
akan menahan ilmu kanoragannya”.
“Apa selama itu?”
“Ya…selama itu. Makhluk perwujudan Darsi akan tetap mencari
korban”.
“Tidak adakah cara lain?”
“Kekuatannya akan melemah jika dia memangsa anak manusia non
pribumi. Jadi jauhkan dia dari anak-anak kita”.
“Mohon bantuannya, ki”.
“Aku akan mengarahkan dia menjauh dari sini. Dan memintanya untuk
menikah dengan orang non pribumi, pemuja kekayaan”.
“Dari daerah sini?”
“Ha…ha…ha. Tentu saja tidak. Aku menyuruhnya untuk pergi ke area
lautan. Perairan cocok untuknya. Dan dia bisa menemukan jodohnya. Bila saat itu
tiba, dengan ketulusan cinta suaminya. Dia akan lebih sering berwujud manusia.
Hingga bisa menekan sifat iblis dalam raganya”.
“Terima kasih, ki” sambil menangkupkan tangan di dada.
Ki Nogo pun mengangkat tangannya ke atas. Bersamaan dengan
menghilangnya petapa itu, pendopo pun kembali normal. Dengan keriuhan penduduk
desa dan pertunjukan wayang.
***
Tepat malam jumat kliwon, di gua Nogo.
Dua hari setelah pertempuran sengit. Abu Darsi tergeletak
berserakan di atas batu pertapaan.
Tepat saat malam bulan purnama bersinar penuh. Dari celah di
langit-langit gua. Kilauan warna putih dari sinar sang rembulan menyelimuti abu
siluman itu.
Sisa-sisa dari jasad makhluk iblis yang semula menumpuk, menjadi
tersebar ke sisi dan jatuh ke tanah. Tak lama kemudian, ekor dari siluman
tersebut mulai bergerak.
Gerakannya semakin cepat. Mengibas ke kiri dan kanan. Kemudian
asap berkumpul di atasnya. Semakin lama semakin banyak dan membentuk tubuh
wanita berambut panjang.
__ADS_1
Seringainya muncul seiring dengan taring yang bertambah panjang.
“Hi…hi…hi” tawa puas menggema di seluruh gua.
“Tunggulah pembalasanku manusia laknat!” menggerakan ekor dan
menghantamkannya ke tembok.
“Darsi…”
Makhluk itu memutar tubuhnya menghadap belakang.
“Ya guru”.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Membalas orang-orang yang sudah memusnahkan ku, ki”.
“Kekuatanmu masih lemah”.
“Aku tahu, ki. Apa yang harus kulakukan agar dendamku terbalas”.
“Pergilah ke pulau Hawai. Di sana tempat yang tepat untuk mu
bertapa, memulihkan kekuatanmu”.
“Tapi ki…?”
“Kamu kuatir dengan mangsamu?”
“Ya ki. Tak ada bayi-bayi lezat dari orang Jawa”.
“Ha…ha…ha. Justru itu nanti yang mengembalikan wujudmu, Darsi.
Bukankah kamu ingin jadi manusia kembali, untuk menemui anakmu?”
“Aaah, ya ki. Aku lupa. Dendam iblis ini terlalu menguasaiku”.
“Pergilah Darsi”.
“Aku pamit, Ki”.
“Blaap”.
Sepeninggal Darsi, kembali ki Nogo sendirian dalam gua. Mendudukan
dirinya ke atas batu pertapaan dan memejamkan mata.
Mulutnya melantunkan kidungan doa dalam Bahasa Jawa kuno. Semakin
lama kidungan itu semakin keras hingga menggema ke luar ruangan.
Para binatang malam yang menghuni hutan gunung Ringgit pun
terdiam. Seolah mengikuti lantunan ki Nogo.
Pepohonan pun tampak mulai bergoyang. Sesuai arah angin yang
semakin keras berhembus. Dan tak lama kemudian kilat dan Guntur menggema di
langit. Hujan pun turun dengan derasnya. Menjawab doa-doa dari sang petapa.
*”Hai para reader ku tercinta. Terima kasih atas dukungannya
selama ini. Ikuti terus karya othor ya. Jangan lupa tulis komentar di kolomnya.
Sama pencet tanda like, biar othor tambah semangat up bab selanjutnya. Maaf ya
baru bisa kasih komentar sekarang. Yang penting kita tetap saling terhubung
__ADS_1
dengan karya ini. Sampai bertemu di bab selanjutnya…love you all deh”.