MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XXIV


__ADS_3

Mansion Cartwright, beberapa tahun yang lalu.


“Laura......Laura”.


“Bob....Bobby honey”.


Laura mengikuti panggilan dari suaminya.


Tampak dia sedang mengenakan tuxedo hitam sambil menunggu dalam diam,


memunggungi. Berjalan mendekat dan hendak menyentuh punggung suaminya, Bob


malah menjauh. Langkahnya ringan seringan kapas. Laura berusaha menggapai


suaminya selalu gagal. Dia ikuti dari belakang sampai menuju lorong gelap tanpa


cahaya dan berkabut. Begitu sampai diujung lorong hutan belantara terlihat. Dia


menoleh kekiri dan kekanan berharap bisa menangkap bayangan Bobby, tapi tak


bisa.


“Booob, Bobby honey. Dimana kamu, jangan


tinggalkan aku sendiri”, teriaknya.


Hanya kesunyian yang menyapa. Merasa putus


asa dan ketakutan air matanya mulai mengalir deras. Bersimpuh dalam keputus


asaan.


“Bob jangan tinggalkan aku sendiri. Aku


takut”, rintihnya.


Punggungnya bergetar menahan senggukan yang


semakin keras terdengar.


Perlahan bayangan Bob mulai mendekat


menyentuh pundaknya dalam diam seolah menenangkan. Laura pun berdiri menghadap


suaminya memeluknya erat dan menumpahkan segala penat dihati. Dibiarkan istrinya


menangis dalam pelukan, tangannya terjulur mengelus rambut panjang Laura


berkali-kali. Menerima perlakuan itu tangisnya pun semakin menjadi-jadi.


“Cup....cup, sudahlah Laura. Kamu bukan anak


kecil lagi. Berhentilah menangis”.


“Aku capek Bob...aku lelah. Biarkanlah aku


bersandar didadamu menumpahkan segala yang menyesak kan ini”.


“Bersabarlah Laura semua akan berakhir. Dan kamu


harus melindungi Jodi putra kita. Keturunan kita satu-satunya. Pewaris


Cartwright”.


“Aku....aku tidak sanggup lagi Bob. Aku ingin


ikut kamu. Mereguk manisnya sebuah hubungan keluarga nan manis seperti dulu”.


“Jangan Laura dunia kita sudah berbeda. Kamu harus


tetap kuat demi anak kita”.


“Hiks...hiks”, tangisnya semakin keras.


“Sabar ya sayang semua akan indah ketika


waktunya tiba”.

__ADS_1


Melepas pelukan dari suami Laura perlahan


mengusap air matanya dengan sapu tangan yang dia bawa, dengan mata yang


terpejam. Saat ia membuka mata, Bobby telah hilang dari hadapannya.


“Booob, Boobby. Where are you?”


“Laura...Laura. Aku disini”, suara itu


sayup-sayup terdengar.


Melangkahkan kaki semakin masuk kedalam ruang


gelap yang tak berujung, Laura menajamkan telinga mengikuti suara itu. Tak ia


pedulikan goresan rumput ilalang yang setinggi manusia disekelilingnya. Rasa


pedih dan perih saat benda itu menggores kulit lembutnya pun tak dia hiraukan.


Hingga netranya menangkap bangunan mansion bergaya Belanda dihadapannya.


Ingin masuk melalui pintu utama yang kokoh


dan terkunci, tak mampu. Akhirnya dia hanya diam sambil kembali menajamkan


telinga mencari suara suaminya. Hening. Dalam keputus asaan.


“Laura....Laura. Masuklah!”


Dia terkejut.


“Ma.....masuk”, tanyanya bingung.


Perlahan pintu kayu nan kokoh dan tinggi itu


pun terbuka perlahan. Gegas dia berjalan menuju suara yang terus memanggil


seolah memberi petunjuk atas keberadaannya.


Suara debaman itu tak menyurutkan langkahnya


tuk mencari sumber suara. Menoleh kekanan dia melihat sebuah ruang dengan pintu


kayu berukiran Jepara. Laura merasa akrab dengan ruangan itu. Akal sehatnya


seolah menuntun pada realita tapi perasaannya terhipnotis, tanpa sadar ia


memasuki ruangan sampai menemukan lukisan seorang wanita Indonesia yang


mengenakan mahkota dikepalanya sedang duduk berdua dengan pria dari belanda.


Mereka tampak anggun dan bersahaja yang merupakan ciri khas dari kaum bangsawan


jaman dulu.


Sedetik kemudian asap mengepul keluar dari


lukisan lelaki itu membentuk siluet seorang pria bangsawan tampan dari Netherlands.


Tinggi badannya seratus sembilan puluh sentimeter, rambutnya pirang dan


wajahnya halus sehalus boneka porselen.


“Bobby!”, bisiknya tanpa sadar.


“Nee”, jawab sosok itu.


“Kamu siapa?”


“Ik ben de overgrootvader van je man”.


“Tidak mungkin. Wajah kalian sangat mirip”.


“Tentu saja, kita masih sedarah meskipun beda


generasi”, tegasnya lagi.

__ADS_1


“Lantas dimana Bobby suamiku?”


“Dia ada disini”, sosok itu menepuk dadanya.


“Suruh dia keluar!”


“Kan niet. Dia akan muncul setelah aku


selesai dengan urusanku. Itu pun dengan seijinku”.


“Apa mau mu?”


“Nikah kan cucu buyutku dengan perempuan yang


bernama Suti”.


“Tidak bisa. Jodi telah bertunangan dengan


Marcella”, tolaknya tegas.


“Ha....ha....ha. Jangan bodoh kamu. Kalau


kamu mau keturunan kita tidak musnah. Maka nikahkanlah mereka. Kutukan keluarga


ini akan hilang apabila Suti dan Jodi punya anak”.


“Emm tidak. Apa maksudmu dengan kutukan? Apakah


Cartwright?


“Heeem, nee, itu bukan dari Cartwright tapi


dari mu Laura”.


“Aku bagaimana mungkin. Apa salahku?”,


tanyanya bingung.


“Apa Van Den Berg, berarti sesuatu bagimu?”


“Hei mana mungkin. Aku adalah Laura London, nama


familyku adalah the London’s. Kami berasal dari Washington Amerika. Bagaimana bisa


Van Den Berg adalah garis keturunan kami”.


“He.....he”, tawanya lagi.


“Cari diruangan ini Laura kamu akan menemukan


jawabannya. Semua yang ingin kamu ketahui termasuk meninggalnya Bobby suami mu”.


“Suamiku, bukankah dia meninggal karena


serangan jantung?”


“Dom, manusia modern memang tak mengenal itu,


cari sendiri jawabannya Laura. Waktu ku sudah habis. Jika kamu masih


menginginkan Jodi hidup maka turuti nasehatku”.


Tak lama kemudian kepulan asap melingkupi


sosok itu dan menghilang dalam sekejap membawa bayangannya. Laura terbangun


dari tidurnya. Dia kaget ketika melihat sekeliling ruangan. Badannya bersimpuh


didepan lukisan kakek dan nenek buyut Cartwright.


“Bagaimana bisa aku tertidur dalam ruang


musium keluarga?”


Menggeleng pelan sebelum beranjak


meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2