
Mansion Cartwright, beberapa tahun yang lalu.
“Laura......Laura”.
“Bob....Bobby honey”.
Laura mengikuti panggilan dari suaminya.
Tampak dia sedang mengenakan tuxedo hitam sambil menunggu dalam diam,
memunggungi. Berjalan mendekat dan hendak menyentuh punggung suaminya, Bob
malah menjauh. Langkahnya ringan seringan kapas. Laura berusaha menggapai
suaminya selalu gagal. Dia ikuti dari belakang sampai menuju lorong gelap tanpa
cahaya dan berkabut. Begitu sampai diujung lorong hutan belantara terlihat. Dia
menoleh kekiri dan kekanan berharap bisa menangkap bayangan Bobby, tapi tak
bisa.
“Booob, Bobby honey. Dimana kamu, jangan
tinggalkan aku sendiri”, teriaknya.
Hanya kesunyian yang menyapa. Merasa putus
asa dan ketakutan air matanya mulai mengalir deras. Bersimpuh dalam keputus
asaan.
“Bob jangan tinggalkan aku sendiri. Aku
takut”, rintihnya.
Punggungnya bergetar menahan senggukan yang
semakin keras terdengar.
Perlahan bayangan Bob mulai mendekat
menyentuh pundaknya dalam diam seolah menenangkan. Laura pun berdiri menghadap
suaminya memeluknya erat dan menumpahkan segala penat dihati. Dibiarkan istrinya
menangis dalam pelukan, tangannya terjulur mengelus rambut panjang Laura
berkali-kali. Menerima perlakuan itu tangisnya pun semakin menjadi-jadi.
“Cup....cup, sudahlah Laura. Kamu bukan anak
kecil lagi. Berhentilah menangis”.
“Aku capek Bob...aku lelah. Biarkanlah aku
bersandar didadamu menumpahkan segala yang menyesak kan ini”.
“Bersabarlah Laura semua akan berakhir. Dan kamu
harus melindungi Jodi putra kita. Keturunan kita satu-satunya. Pewaris
Cartwright”.
“Aku....aku tidak sanggup lagi Bob. Aku ingin
ikut kamu. Mereguk manisnya sebuah hubungan keluarga nan manis seperti dulu”.
“Jangan Laura dunia kita sudah berbeda. Kamu harus
tetap kuat demi anak kita”.
“Hiks...hiks”, tangisnya semakin keras.
“Sabar ya sayang semua akan indah ketika
waktunya tiba”.
__ADS_1
Melepas pelukan dari suami Laura perlahan
mengusap air matanya dengan sapu tangan yang dia bawa, dengan mata yang
terpejam. Saat ia membuka mata, Bobby telah hilang dari hadapannya.
“Booob, Boobby. Where are you?”
“Laura...Laura. Aku disini”, suara itu
sayup-sayup terdengar.
Melangkahkan kaki semakin masuk kedalam ruang
gelap yang tak berujung, Laura menajamkan telinga mengikuti suara itu. Tak ia
pedulikan goresan rumput ilalang yang setinggi manusia disekelilingnya. Rasa
pedih dan perih saat benda itu menggores kulit lembutnya pun tak dia hiraukan.
Hingga netranya menangkap bangunan mansion bergaya Belanda dihadapannya.
Ingin masuk melalui pintu utama yang kokoh
dan terkunci, tak mampu. Akhirnya dia hanya diam sambil kembali menajamkan
telinga mencari suara suaminya. Hening. Dalam keputus asaan.
“Laura....Laura. Masuklah!”
Dia terkejut.
“Ma.....masuk”, tanyanya bingung.
Perlahan pintu kayu nan kokoh dan tinggi itu
pun terbuka perlahan. Gegas dia berjalan menuju suara yang terus memanggil
seolah memberi petunjuk atas keberadaannya.
Suara debaman itu tak menyurutkan langkahnya
tuk mencari sumber suara. Menoleh kekanan dia melihat sebuah ruang dengan pintu
kayu berukiran Jepara. Laura merasa akrab dengan ruangan itu. Akal sehatnya
seolah menuntun pada realita tapi perasaannya terhipnotis, tanpa sadar ia
memasuki ruangan sampai menemukan lukisan seorang wanita Indonesia yang
mengenakan mahkota dikepalanya sedang duduk berdua dengan pria dari belanda.
Mereka tampak anggun dan bersahaja yang merupakan ciri khas dari kaum bangsawan
jaman dulu.
Sedetik kemudian asap mengepul keluar dari
lukisan lelaki itu membentuk siluet seorang pria bangsawan tampan dari Netherlands.
Tinggi badannya seratus sembilan puluh sentimeter, rambutnya pirang dan
wajahnya halus sehalus boneka porselen.
“Bobby!”, bisiknya tanpa sadar.
“Nee”, jawab sosok itu.
“Kamu siapa?”
“Ik ben de overgrootvader van je man”.
“Tidak mungkin. Wajah kalian sangat mirip”.
“Tentu saja, kita masih sedarah meskipun beda
generasi”, tegasnya lagi.
__ADS_1
“Lantas dimana Bobby suamiku?”
“Dia ada disini”, sosok itu menepuk dadanya.
“Suruh dia keluar!”
“Kan niet. Dia akan muncul setelah aku
selesai dengan urusanku. Itu pun dengan seijinku”.
“Apa mau mu?”
“Nikah kan cucu buyutku dengan perempuan yang
bernama Suti”.
“Tidak bisa. Jodi telah bertunangan dengan
Marcella”, tolaknya tegas.
“Ha....ha....ha. Jangan bodoh kamu. Kalau
kamu mau keturunan kita tidak musnah. Maka nikahkanlah mereka. Kutukan keluarga
ini akan hilang apabila Suti dan Jodi punya anak”.
“Emm tidak. Apa maksudmu dengan kutukan? Apakah
Cartwright?
“Heeem, nee, itu bukan dari Cartwright tapi
dari mu Laura”.
“Aku bagaimana mungkin. Apa salahku?”,
tanyanya bingung.
“Apa Van Den Berg, berarti sesuatu bagimu?”
“Hei mana mungkin. Aku adalah Laura London, nama
familyku adalah the London’s. Kami berasal dari Washington Amerika. Bagaimana bisa
Van Den Berg adalah garis keturunan kami”.
“He.....he”, tawanya lagi.
“Cari diruangan ini Laura kamu akan menemukan
jawabannya. Semua yang ingin kamu ketahui termasuk meninggalnya Bobby suami mu”.
“Suamiku, bukankah dia meninggal karena
serangan jantung?”
“Dom, manusia modern memang tak mengenal itu,
cari sendiri jawabannya Laura. Waktu ku sudah habis. Jika kamu masih
menginginkan Jodi hidup maka turuti nasehatku”.
Tak lama kemudian kepulan asap melingkupi
sosok itu dan menghilang dalam sekejap membawa bayangannya. Laura terbangun
dari tidurnya. Dia kaget ketika melihat sekeliling ruangan. Badannya bersimpuh
didepan lukisan kakek dan nenek buyut Cartwright.
“Bagaimana bisa aku tertidur dalam ruang
musium keluarga?”
Menggeleng pelan sebelum beranjak
meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1