MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XXVII


__ADS_3

Dalam sebuah saluran televisi swasta.


“Baiklah pemirsa kita akan menghubungi saudara Michelle di tempat


kejadian perkara. Silahkan Michelle!”


“Selamat pagi pemirsa, saat ini saya sedang bersama bapak Hamdan


selaku kepala investigasi dari tindakan kejahatan yang sedang terjadi kemarin


sore di kaki gunung Gede Jawa Barat”.


“Selamat pagi bapak”.


“Selamat pagi kak Michelle”.


“Bisakah bapak menjelaskan sedikit tentang penemuan orang


meninggal tersebut”.


“Em begini, mayat yang kami temukan kemarin adalah seorang


perempuan, usia kurang lebih tiga puluh lima tahun, tingginya sekitar seratus


enam puluh lima centimeter, berambut panjang dan memakai gaun berwarna merah


menyala”.


“Apa penyebab kematian orang itu pak?”


“Kalau dilihat secara kasat mata saya dapat menyimpulkannya untuk


sementara ini dia mati dibunuh”.


“Dibunuh dengan apa pak?”


“Menilik lebam dan birunya disekujur tubuh, saya dapat melihat


bahwa perempuan itu diracuni”.


“Apakah ada tanda-tanda kekerasan ditubuh korban pak?”


“Tidak ada, hanya saja saya lihat dileher sebelah kiri korban ada


bekas seperti gigitan taring”.


“Apakah bisa didefinisikan sebagai gigitan binatang buas pak?”


“Kurang lebih begitu kak Michelle tapi dari pihak penyelidik masih


perlu menunggu hasil otopsi supaya lebih jelas lagi”.


“Baiklah pak terima kasih atas penjelasannya, kami masih menunggu


info selanjutnya dari anda. Selamat pagi”.


“Selamat pagi”.


“Baiklah pemirsa kita akan kembali dengan rekan Deni di studio”.


Cartwright building.


“Tok…tok”.


“Masuk”.


Tampak Andrew berjalan mendekati meja bosnya dengan membawa


tablet.


“Ada apa Ndrew?”, tanyanya begitu dia mendekat.


“Ehm ini bos, kabar buruk”.


“Apa maksudmu dengan itu?”


“Ini rekaman video dari orang suruhan kita yang membuntuti Dina”.


Mengangsurkan tablet tersebut ke arah Jay.


Meletakan dokumen yang ditelitinya, dia memutar rekaman tersebut.

__ADS_1


Matanya nanar melihat gambar yang ada di dalamnya.


Tampak mayat Dina yang bersender di pohon yang ada di kawasan


gunung Gede. Dan empat pemuda yang tengah gemetaran disekitar lokasi kejadian.


“Siapa mereka?”


“Mahasiswa dari Solo bos. Mereka baru turun gunung dan hendak


pulang ketika salah satu diantaranya menemukan mayat Dina”.


“Anak buah kita tidak menaruh curiga padanya?”


“Tidak bos, mereka betul-betul tidak ada hubungannya dengan wanita


itu selain kesialan saat menemukan mayatnya”.


“Heemm”.


“Ada lagi bos, di tas wanita itu ada bill club ‘Lady’s night’


Jakarta”.


“Suruh mereka meretas CCTV club itu, Ndrew. Aku mau kabarnya besok


pagi-pagi sekali di Hand phone ku”.


“Baik bos, saya pamit kembali ke ruangan dulu”.


“Hemm, pergilah”.


Gegas Andrew membuka pintu ruangan presdir dan menutupnya. Ketika


sudah sampai di meja kerjanya, dia mengambil telepon genggam yang ada di saku


celana serta memencet nomor orang suruhannya agar segera menjalankan plan ‘B’.


Jay yang sendirian di dalam ruang hanya mendengkus kasar saat hal


yang dia inginkan tak sesuai rencana. Ia memijit keningnya perlahan tepat


ditonjolan pembuluh darah yang mulai bermunculan disana. Sekedar meringankan


Dia membayangkan Suti istrinya.


“Apa yang terjadi nanti jika video itu dikirimkan kepadamu?”


monolognya.


“Apakah kamu semakin membenciku? Tidak jika itu terjadi aku tak


akan melepasmu Suti, kau milik ku selamanya”.


Horizon hotel kamar 302.


Sudah hampir jam sebelas siang, tapi Clark masih tertidur


bergelung dibawah selimut tebal.


David melangkah perlahan mendekati sang bos serta hendak


membangunkannya untuk brunch menjadi urung. Ditelitinya wajah Clark seksama. Menjulurkan


tangan hendak menyentuh badannya. Niatan itu tak terjadi saat dia melihat wajah


sang bos yang pucat pasi.


“Tuan Clark, apa anda baik-baik saja?”


Tak ada jawaban.


“Mr. Clark, are you allright?”, tanyanya kembali.


Sedangkan yang ditanya hanya bergerak miring ke kiri,


memunggunginya.


“Fiuuuh, dasar putri tidur”, umpat Dave dalam hati.


Duduk di sisi tempat tidur David kembali menatap bosnya intens.

__ADS_1


“Seperti orang mati saja. Apakah dia tidak lapar melewatkan


sarapan paginya dan sekarang hampir makan siang”.


Mengecek sebentar ke jam tangan pengingat kegiatan sang bos.


Kembali ia bergumam,


“Untung dia free hari ini”.


Merasa bahwa sang putri tidur masih terlelap, dia pun beranjak


keluar ruangan menuju lift.


“Ting”.


Ia pun turun ke lantai satu dimana restoran berada dan memesan


sarapan untuk dirinya sendiri. Double sandwich serta kopi pahit menjadi menunya


hari ini. Ketika sesapan terakhir dari cangkir yang ada di hadapannya selesai,


teleponnya mulai berdering.


“Truut…..truuut”.


“Ya halo, David speaking”.


“Halo Dave, apakah big bos ada?”, terdengar suara seorang


perempuan dari seberang.


“Ada”, sahutnya pendek.


“Bisakah kamu memberikan panggilan ini padanya, penting!”


“Tidak bisa orangnya masih tidur dan aku sedang sarapan di resto


hotel”.


“Whaat? Jam segini masih tidur. Tidak kah kamu bisa membangunkannya?


Ini penting Dave, please!”


“Ada apa Selly, kamu bisa menyampaikannya padaku”.


“I…..ini tentang perempuan suruhanku itu Dave. Dia mati terbunuh”.


“Heeem”.


“Kau tidak kaget?”


“Aku sudah tahu berita itu dari acara News Morning. Lantas apa hubunganmu


dengan kematiannya”.


“Ya jelas ada lah Dave. Bagaimana kalau nanti polisi menghubungkan


kematiannya denganku. Aku yang selama ini mengurusi keperluan dia selama


tinggal di Jakarta. Aku yakin semua orang di sekitar dia tahu itu”.


“Daan”.


“Damn you Dave, aku tidak mau membusuk di penjara”.


“Ha…..ha ternyata kamu takut juga akan hal itu. Kupikir……”


“Oh ayolah, biarkan aku berbicara dengan bos”.


“Tak bisa Selly beliau sedang tidur nyenyak, tak ingin diganggu”.


“Lalu bagaimana denganku?”


“Menyingkirlah dari tempatmu sekarang. Pergi sejauh mungkin sebelum


mereka mengendus keberadaanmu”.


“Baiklah”.


“Tut”.

__ADS_1


David hanya menggelengkan kepalanya pelan dan beranjak dari


restoran itu.


__ADS_2