
Mansion Cartwright, pagi hari.
“Pagi mam”, sapa Jay sambil mencium pipi kanan dan kiri Laura.
“Pagi honey”, jawabnya sambil mengelus rahang Jay sayang.
Menggeser kursi makan berhadapan dengan mamanya.
“Dimana istrimu?”, lanjutnya lagi begitu anak kesayangannya itu
duduk.
“Menyisir rambutnya, sebentar lagi dia turun”.
“Apakah dia baik-baik saja, Jay?”
“Eum, baik. Mengapa mama tanya hal itu?”
“Kamu tahu cuaca tadi malam. Itu tidak biasa. Apakah istrimu
ketakutan atau mengalami hal lainnya?”
Tersentak dia mendengar pertanyaan mamanya yang tiba-tiba, seolah
tahu apa yang terjadi tadi malam.
“Bagaimana mama bisa berasumsi seperti itu?”
Berpikir sejenak sebelum menjawab, “kamu tahu son, istrimu adalah
wanita istimewa. Mama yakin pasti terjadi sesuatu dengan fenomena yang luar
biasa tadi malam”.
“Jangan…..jangan mama tahu sesuatu?”, tatap Jay intens.
Tak ingin membuat anak semata wayangnya kuatir Laura membelokan
arah pembicaraan.
“Ah, sudah lah. Bagaimana dengan pekerjaan mu hari ini?”
“Overall, baik-baik saja mam. Bahkan aku telah menanda tangani
kontrak baru dengan perusahaan Australia dan hasilnya sangat…..sangat
menguntungkan”.
“Heem, apa nama perusahaan itu Jay?”
“Clark’s company. Kenapa?”
Laura seperti berpikir sejenak sebelum menggelengkan kepalanya
pelan sebagai tanda jawaban.
Kesunyian di ruang makan terjeda sejenak saat Suti memasuki
ruangan dan berdiri disebelah Jay. Melihat kedatangannya ia berdiri dan menarik
kursi untuk diduduki istrinya. Wati sang asisten setia membuka piring yang
tengkurap menghadap ke atas. Diambilnya serbet di atas meja, membukanya dan
diletakan di pangkuan nyonya mudanya.
“Terima kasih, Wati”.
“Sama-sama nyonya, silahkan!”
“Ya”.
Semua pelayan yang ada diruang makan itu pun meladeni keperluan
majikannya untuk sarapan pagi. Mama Laura dan Jay menunggu dengan sabar saat
gelasnya di isi jus jeruk oleh masing-masing pelayan. Sembari menunggu makanan
pembuka dihidangkan, Laura menyesap jus nya dan bertanya’
“Bagaimana dengan tidurmu, sweety. Nyenyak?”
“Heem, baik mam. Bagaimana denganmu?”
“Ouh, sedikit terganggu dengan cuaca ekstrem tadi malam. Kamu
sendiri?”
“Wuuf, sedikit terganggu tapi semuanya baik-baik saja”.
“Heem”, seperti menyembunyikan sesuatu.
“Bagaimana kalau hari ini kita memanjakan diri?”, ide itu tercetus
dari mulut Laura.
“Em, mama tidak ke restoran?”
“Tidak sweety, ada asisten mama disana. Jadi kamu tidak usah
kuatir, kita bisa ke mall lalu ke salon melakukan full treatmen. Dan mari kita
habiskan saldo di kartu Jay. Bagaimana hem?”, dengan mengedip-ngedipkan
matanya.
Suti yang merasa lucu dengan tingkah laku mertuanya, terkekeh
kecil sebelum akhirnya mengangguk menyetujui. Melihat hal itu Jay hanya
tersenyum. Dan detik berikutnya ruang makan itu kembali sunyi, hanya suara
dentingan sendok garpu ke atas piring yang mendominasi.
Selesai dengan sarapan paginya, Jay mengelap mulut dan meletakan
serbet di atas meja, menggeser kursi berdiri serta mencium pucuk kepala
istrinya, setelah itu berucap,
“Aku berangkat dulu ya sayang, bersenang-senanglah dengan mama”.
Suti hanya mengangguk merasakan kehangatan dalam hati, sesaat
kemudian netranya melihat Jay yang berpamitan dengan Laura serta mencium pipi
kiri dan kanannya. Melangkah keluar menuju pintu utama, Jeff sudah menunggu
dengan membuka kan pintu penumpang mobil.
__ADS_1
“Pagi bos”.
“Pagi Jeff, sudah sarapan?”
“Em, sudah bos”, menutup pintu dan segera ke kursi kemudi. Memutar
kunci serta memasukan gigi satu. Mobil pun melaju meninggalkan halaman mansion
menuju gerbang. Melihat mobil majikannya, sekuriti segera menekan remot dan
gerbang pun terbuka tuk membiarkannya lewat.
“Selamat jalan bos”, sapanya sopan.
Jef dan Jay hanya mengangguk sebentar, kemudian mobil itu pun tak
terlihat lagi saat mulai melaju kencang menambah kecepatan.
Hotel horizon kamar 302.
“Morning, Mr. Clark”.
“Morning Dave. Apa agendaku hari ini?”, tanyanya sembari
menyimpulkan dasi ke leher.
“Tidak ada, sir. Anda berencana untuk jalan-jalan hari ini dan
sedikit membereskan urusan dengan si Selly”.
“Oh, yaah. Kemana perempuan tolol itu. Sudah dua hari ini aku
belum mendengar kabarnya?”
“Kabar terakhir dari orang suruhan kita, dia menuju ke Prigen sir”.
“Untuk apa dia kesana?”, tanyanya tegas.
“Itu kan kampungnya si nyai”, batinnya.
“Katanya dia akan mencari seseorang yang mirip dengan istri tuan
Jay. Apa mungkin dia punya kembaran Mr.Clark?”
“No way, tidak ada Dave. Dia anak tunggal dan tidak punya saudari
kembar. Mungkin Selly mencari seseorang yang mirip dengannya. Bukankah dengan
mencari saudara jauh biasanya memiliki kesamaan”.
“Kalau kerabat jauh, apa bisa membantu misi anda, sir?”
“Ha..ha..ha, mungkin siapa tahu?”
“Tapi, sir. Nyonya Jay tidak materialistis”.
“Ya itu jelas bagiku. Tapi orang lain…..tak ada yang bisa menjamin
akan hal itu Dave. Bukankah aku benar?”, jawabnya sambil memandang intens ke
arahnya.
“Heem, anda benar sir”, sembari mengangguk-anggukan kepala.
“Damn, ayo kita window shopping Dave. Aku merasa hari ini adalah
keberuntunganku!”
Dave mendahului Clark tuk membuka pintu kamar, mempersilahkannya
dan gegas keduanya menuju lift di ujung koridor. Menunggu sampai benda itu
berhenti di lantai dua dimana mereka menunggu.
“Ting”.
Pintu lift terbuka merekapun masuk dan memencet ground floor.
“Wuuung”.
“Ting”.
Menuju resepsionis Dave menitipkan card key kepada salah satu
petugas kemudian minta dipanggilkan petugas valet tuk mengambilkan mobil di
tempat parkir.
Sembari menunggu Clark menyempatkan diri melihat sekeliling ruang
lounge. Dia sedikit terkagum dengan interior ruang yang dihiasi dengan berbagai
macam ukiran dan patung yang ada di Indonesia. Bahkan di dekat bunga yang
terletak di pojokan, ia melihat patung kayu raksasa berbentuk ‘Jatayu’ dari
Bali. Sudut bibirnya tertarik ke atas saat senyumnya terulas.
“Mr. Clark, mobil sudah siap”, kata Dave membuat Clark menoleh.
“Oke”, jawabnya.
Gegas menuju mobil di depan pintu lobi, mereka melihat petugas
valet yang sedang membukakan pintu mobil sambil membungkuk kan badannya
sedikit.
“Selamat pagi. Silahkan tuan-tuan!”
“Pagi, terima kasih”, sahut keduanya bersamaan.
Jay duduk di kursi penumpang sedangkan David di kursi pengemudi.
Dia pun menjalankan mobil itu setelah memasang sabuk pengaman. Dalam perjalanan
ia mulai membuka percakapan,
“Kemana, sir?”
“C & C mall, please”.
“Oke”.
Menginjakan kaki di pintu utama mall, Laura dan Suti segera menuju
lantai tiga tempat barang-barang perlengkapan wanita dijual. Lantai itu
merupakan surga belanja bagi kaum hawa dari kalangan atas. Karena disana
__ADS_1
deretan asesories, perhiasan, sepatu dan butik wanita berada.
Laura tampak kegirangan memandang itu semua kakinya seolah bingung
ingin pergi kemana,
“Wow sweety, lihat mama bingung!”
“Mam, kayak tidak pernah nge-mall saja”, sahut Suti kalem.
“Oh, jelas itu sayang. Mama akhir-akhir ini terlalu sibuk dengan
urusan pekerjaan. Jadi sudah lama kutinggalkan hobiku yang satu ini”, jawabnya
antusias.
“Memang sudah berapa tahun, mam?”, tanya Suti acuh.
“Heem, berapa ya?”, Laura menghitung dengan jemarinya. “Kayaknya
baru dua bulan deh”, terkekeh kecil.
Menggulirkan matanya ke atas dan ke bawah, “whaat, dua bulan dibilang
lama bagaimana setahun mam?”
“Ouuuh, what ever lah Suti, ayo tangan mama sudah gatal pingin
menyentuh barang-barang itu!, sahutnya antusias sembari menggandeng tangan Suti.
Gegas mereka memasuki butik ‘Lady’s beauty’ yang paling besar di
lantai itu. Sambutan dari pramuniaga toko, dijawab dengan senyuman dan
anggukan. Di display Laura memilih berpisah dengan menantunya, memberi
kebebasan untuk memilih sesuai selera.
Basement C & C mall.
Clark lebih memilih ikut mobil menuju tempat parkir. Sesaat
setelah tuas rem di injak dia tidak langsung turun. Matanya nyalang melihat ke
atas dan hidungnya kembang kempis seolah membaui sesuatu.
Melihat gelagat bos nya, Dave hanya terdiam melihat melalui spion.
Dia sudah tidak kaget lagi dengan perubahan perilaku dari Clark. Dan dia sudah
paham akan hal itu. Dalam diam menunggu sampai kejadian aneh itu berakhir.
“Snif…snif, nyai kau ada disini?”, bisik Clark. Smirk tersungging
dari mulutnya.
“Ayo Dave, aku ada misi menunggu”, perintahnya tiba-tiba.
Seolah melompat Clark tidak sabar membuka pintu mobil dan sedikit
berlari menuju pintu samping penghubung tempat parkir dan mall di lantai satu.
“Tuan hati-hati!”
“Heem”.
Tanpa menunggu, Clark langsung memasuki mall. Hawa dingin
menyeruak, tak dihiraukannya. Dia mendongak, netranya nyalang menatap ke lantai
tiga. Tapi dia tak menangkap apa pun. Sedikit kecewa ia menunggu kedatangan Dave,
tepat didepan sekuriti yang berjaga. Tak beranjak, hanya diam mematung. Melihat
hal itu pria berseragam keamanan itu pun bertanya.
“Ada yang bisa saya bantu, tuan?”, tanya sekuriti sopan.
“Em, tidak. Aku sedang menunggu seseorang dari parkiran”, jawabnya
santai sambil memasukan kedua tangannya di saku celana.
Dari balik punggung, tampak Dave yang tergesa-gesa menghampiri.
Mengatur nafas sebelum berkata,
“Sudah ketemu tuan?”
“Tidak, tapi aku merasa dia ada dilantai tiga”.
“Apakah anda mencari seseorang? Saya bisa bantu mengumumkan di
ruang informasi”, tawar sekuriti.
“Eh tidak”, jawab mereka serentak.
“Ada apa dilantai tiga?”, tanya Clark.
“Tempat perlengkapan wanita tuan”, jawab sekuriti sopan.
“Kita kesana sir”, tanya Dave.
“Hem”.
Berjalan lurus setengah meter dan berbelok ke kanan, tepat
disebelah display food court. Elevator menuju lantai atas terlihat. Menaikinya
dan menuju lantai tiga. Begitu sampai Clark dan Dave melihat suasananya yang
agak sepi, maklum hari masih pukul 09.00, terlalu pagi bagi setiap orang untuk
nge-mall.
Netra Clark jelalatan ke segala arah. Kemana pun asal dia bisa
menangkap siluet yang membawa ‘nyai-nya’. Nihil, ia pun mengajak Dave menuju
lantai empat tempat resto makanan cepat saji berada.
Sementara itu di ‘Ayu salon’ Laura sampai merem melek ketika
pijatan di rambutnya mulai dilakukan. Ya dia meminta perawatan menyeluruh hari
ini dari creambath sampai manicure pedicure. Disebelahnya Suti pun demikian,
dia betul-betul menikmati hari memanjakan bagi keluarga Cartwright.
Tepat pukul delapan malam kedua anak dan menantu itu pun pulang ke
__ADS_1
mansion dalam keadaan segar bugar dan bau wangi.