
“Sweety…pelan-pelan turun tangganya!” teriak mama Laura dari
lantai satu, tepat diujung tangga.
“Ya mom. Ini juga pelan-pelan, “jawab Suti kalem.
Gegas Laura menjemput sang menantu ke atas. Menggandeng tangannya
dan mengajaknya turun ke ruang makan.
“Chef, siapkan sarapan nyonya muda. Menu khusus ibu hamil yang
dari dokter Atika”.
“Siap nyonya besar”.
“Santi dan kamu Sinta, bantu saya, “lanjutnya lagi.
“Baik chef kepala, “jawabnya serentak.
Duduk dengan hati-hati, Suti memulai sarapan paginya dengan menu
pembuka. Roti dengan sup kentalnya dalam porsi dobel. Selanjutnya main course nasi
padang lauk ikan masak kuning, sambal hijau dan sayur daun singkong serta
rendang daging, satu setengah porsi.
Dan sebagai menu dessert, koki kepala menyajikan susu ibu hamil
dan buah segar yang telah dipotong dadu. Suti menandaskan semua menu yang
tersajikan tanpa sisa.
Setelahnya dia beranjak dari ruang makan menuju taman bunga di
halaman mansion ditemani ibu mertua. Dia duduk di bangku taman menyaksikan sang
mama yang tengah menyiangi anggrek. Memotong dedaunan yang mulai menguning juga
mencabuti rumput liarnya.
Sejenak Laura menghentikan kegiatannya saat bunyi, “Krucuuuk,
“terdengar dari perut si menantu.
Terhenyak, “Honey kamu masih lapar?”
Malu-malu, “Eh iya mom. Anak-anak masih ingin makan lagi”.
“Ouh lucunya cucu oma. Sabar ya sayang oma panggilkan koki kepala
untuk mengambilkan kudapan, “jawabnya sembari mengelus perut besar Suti.
“Bondan suruh koki kepala bawakan snack kemari,“lanjutnya kembali.
“Baik nyonya besar, “dia pun berlalu.
Tak beberapa lama sang chef dan dua orang pelayan datang membawa
nampan berisi puding dan makanan ringan yang low fat, menu khusus bagi bumil.
Suti pun segera melahapnya dengan tanpa jeda. Hingga bunyi sendawa
terdengar. Mengelus perutnya sebentar, dia pun mulai menguap. Menyandarkan
kepala pada bantalan kursi dan terlelap tanpa disadari.
Laura membiarkan sang calon mama yang sedang tertidur. Dia
berjalan menuju mansion. Perintahnya kepada para pegawai terdengar hingga ruang
dapur.
Para housekeeper segera menjalankan instruksi sang nyonya besar,
dengan memindahkan barang-barang pribadi Suti ke kamar tamu dilantai satu.
Ruangan seluas dua ratus meter dengan kamar mandi didalam diubah
menjadi kamar pribadi sang calon mama. Pelayan mansion bergerak secepat mungkin
agar saat sang nyonya muda bangun, ruangan itu telah siap untuk dihuni.
__ADS_1
“Truuut…truuut, “bunyi handphone Suti terdengar.
Laura yang berdekatan posisinya mengambil benda itu dengan
hati-hati. Membawanya sedikit menjauh sebelum menjawab panggilan dari seberang.
Tepat di area bunga tulip, dia menekan tombol hijau. Dan suara Jay
terdengar.
“Ada apa son?”
“Eh~mama. Istriku mana? Mengapa mama yang menjawab teleponku?”
“Ssssst…dia lagi tertidur di kursi taman. Jangan berisik nanti
istirahatnya terganggu”.
“Tertidur, jam segini?”
“Apa itu masalah, Jay? Wajarkan bagi ibu hamil”.
“Oh begitukah?”
“Ya tentu saja bahkan mama waktu hamil kamu bawaannya pingin
bermalasan terus seharian. Dan itu terjadi sampai usia kandunganku delapan
bulan, tahu?”
“Baiklah-baiklah. Nanti suruh dia meneleponku jika sudah bangun.
Ada dokumen dari The Robinson yang perlu persetujuannya”.
“Tak bisakah kamu yang menghandlenya?”
“Tidak bisa mommy. Aku hanya CEO pelaksana disini. Kekuasaan
mutlak masih ditangan istriku”.
“Oke fine. Aku sampaikan nanti”.
“Thanks mom, love you”.
“Love you more my baby”.
Mobil rollroyce hitam yang dikendarai Jeff berhenti di pintu utama
mansion. Pelayan yang sedang bertugas membukakan pintu penumpang.
Mempersilahkan sang majikan turun dengan sedikit menunduk.
Jay mengangguk samar sebagai ucapan terimakasihnya. Memberikan tas
kerja kepada pria yang bertugas di pintu utama mansion. Dia melangkahkan kaki
menuju lantai dua.
Tak menghiraukan sapaan Wati yang hendak menyampaikan sesuatu. Jay
hanya melambaikan tangan bertanda tak ingin di interupsi.
Menaiki dua-dua setiap tangga yang dilalui. Seolah tak sabar ingin
bertemu dengan sang istri tercinta. Membuka pintu kamar dengan tanpa suara. Jay
terhenyak saat tak menemukan sosok yang seharian ini mengisi batin serta
pikirannya.
Mengepalkan tangan Jodi membalikan badan. Berdiri dipembatas
tangga dan menatap Wati yang masih melihatnya dari lantai bawah.
“Waatiii, dimana istriku? Mana barang-barangnya? Apa dia pulang ke
mansion mertuaku?” dengan mata yang mulai memerah.
“Ma~maaf tuan itu tadi yang mau saya sampaikan. Tapi anda tidak
mau diganggu”.
“Haaaiiish, panggilkan Jeff. Suruh menyiapkan mobil!”
__ADS_1
“Tuan mau kemana?”
“Dasar tidak becus. Tentu saja menjemput istriku”.
“Ta~tapi tuan”.
“Sudah jangan banyak omong cepat panggil si Jeff”.
Tiba-tiba, “Tidak perlu pakai mobil Jay. Kamu hanya perlu turun
dari situ bila ingin bertemu dengan istrimu, “sahut mama Laura sambil berkacak
pinggang.
“Maksud mama apa. Dia tidak ada dikamar. Dia juga membawa
barang-barangnya pergi”.
“Itu mama yang suruh”.
“Maksudnya, mam?”
“Dasar bocah sableng. Apa kamu tidak tahu jika kamar kalian itu
membuat menantuku kesulitan beraktifitas. Dan apa kamu sadar kalau usia
kandungan istrimu sudah sembilan bulan. Sebentar lagi cucuku akan lahir. Mama tidak
mau dia dilahirkan diantara tangga-tangga ini”.
“Mama jangan bercanda. Masa lahiran ditangga, bisa gegar otak
anaku nanti”.
“Itulah yang mama maksud, sweety. Istrimu ada dikamar tamu. Dan jangan
ganggu dia. Mengerti!” perintahnya sambil merebahkan diri di sofa. Menikmati pijatan
diwajahnya.
“Baiklah”.
“Dan satu lagi bersihkan dirimu dulu sebelum menemui istrimu. Hawa
malam yang kamu bawa dari luar tidak baik buat calon cucu mama”.
“Oke mom. Cool…aku akan mandi dulu”.
Jodi membalikan badan, memasuki kamar dan mulai ritual mandinya. Keluar
dari kamar mandi hanya mengenakan wardrobe. Dia memilih baju tidur dari almari
dan mengenakannya. Setelah merapikan diri di cermin sebentar, si tuan muda ini
pun menuju lantai satu.
Berjingkat pelan saat memasuki kamar. Menemukan orang yang
seharian dirindukannya tengah terlelap dengan posisi miring menghadap tembok.
Dia pun menyingkap selimut ditubuh Suti. Memasukinya dan
merebahkan dirinya dengan pelan disamping sang istri. Melingkarkan tangan
dipinggang juga mengelus-elus perutnya lembut.
Jodi merapalkan doa pengharapan kepada calon sang pewaris yang
masih berada didalam Rahim istrinya. Seolah mendengar bisikan sang ayah, bayi
itu pun menendang tangan Jay hingga terangkat sepuluh senti.
Dia pun tertawa sambil bergumam, “Wah bakat beladiri mamamu
menurun rupanya”. Kembali dia mengelusnya dengan sayang.
Sedangkan sang calon mama tak merasa terganggu dengan keusilan
papa dan anak yang masih berbeda alam. Dengkuran halusnya nyaring terdengar
ditelinga Jodi.
Saat perut istrinya sudah tidak ada gerakan. Jay pun melingkarkan
__ADS_1
tangannya ke arah pinggang. Mengecup pipi Suti perlahan. Dan dia pun
menyusulnya ke alam mimpi dengan senyuman tersungging dibibirnya.