MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB LXXIV


__ADS_3

“Sweety…pelan-pelan turun tangganya!” teriak mama Laura dari


lantai satu, tepat diujung tangga.


“Ya mom. Ini juga pelan-pelan, “jawab Suti kalem.


Gegas Laura menjemput sang menantu ke atas. Menggandeng tangannya


dan mengajaknya turun ke ruang makan.


“Chef, siapkan sarapan nyonya muda. Menu khusus ibu hamil yang


dari dokter Atika”.


“Siap nyonya besar”.


“Santi dan kamu Sinta, bantu saya, “lanjutnya lagi.


“Baik chef kepala, “jawabnya serentak.


Duduk dengan hati-hati, Suti memulai sarapan paginya dengan menu


pembuka. Roti dengan sup kentalnya dalam porsi dobel. Selanjutnya main course nasi


padang lauk ikan masak kuning, sambal hijau dan sayur daun singkong serta


rendang daging, satu setengah porsi.


Dan sebagai menu dessert, koki kepala menyajikan susu ibu hamil


dan buah segar yang telah dipotong dadu. Suti menandaskan semua menu yang


tersajikan tanpa sisa.


Setelahnya dia beranjak dari ruang makan menuju taman bunga di


halaman mansion ditemani ibu mertua. Dia duduk di bangku taman menyaksikan sang


mama yang tengah menyiangi anggrek. Memotong dedaunan yang mulai menguning juga


mencabuti rumput liarnya.


Sejenak Laura menghentikan kegiatannya saat bunyi, “Krucuuuk,


“terdengar dari perut si menantu.


Terhenyak, “Honey kamu masih lapar?”


Malu-malu, “Eh iya mom. Anak-anak masih ingin makan lagi”.


“Ouh lucunya cucu oma. Sabar ya sayang oma panggilkan koki kepala


untuk mengambilkan kudapan, “jawabnya sembari mengelus perut besar Suti.


“Bondan suruh koki kepala bawakan snack kemari,“lanjutnya kembali.


“Baik nyonya besar, “dia pun berlalu.


Tak beberapa lama sang chef dan dua orang pelayan datang membawa


nampan berisi puding dan makanan ringan yang low fat, menu khusus bagi bumil.


Suti pun segera melahapnya dengan tanpa jeda. Hingga bunyi sendawa


terdengar. Mengelus perutnya sebentar, dia pun mulai menguap. Menyandarkan


kepala pada bantalan kursi dan terlelap tanpa disadari.


Laura membiarkan sang calon mama yang sedang tertidur. Dia


berjalan menuju mansion. Perintahnya kepada para pegawai terdengar hingga ruang


dapur.


Para housekeeper segera menjalankan instruksi sang nyonya besar,


dengan memindahkan barang-barang pribadi Suti ke kamar tamu dilantai satu.


Ruangan seluas dua ratus meter dengan kamar mandi didalam diubah


menjadi kamar pribadi sang calon mama. Pelayan mansion bergerak secepat mungkin


agar saat sang nyonya muda bangun, ruangan itu telah siap untuk dihuni.

__ADS_1


“Truuut…truuut, “bunyi handphone Suti terdengar.


Laura yang berdekatan posisinya mengambil benda itu dengan


hati-hati. Membawanya sedikit menjauh sebelum menjawab panggilan dari seberang.


Tepat di area bunga tulip, dia menekan tombol hijau. Dan suara Jay


terdengar.


“Ada apa son?”


“Eh~mama. Istriku mana? Mengapa mama yang menjawab teleponku?”


“Ssssst…dia lagi tertidur di kursi taman. Jangan berisik nanti


istirahatnya terganggu”.


“Tertidur, jam segini?”


“Apa itu masalah, Jay? Wajarkan bagi ibu hamil”.


“Oh begitukah?”


“Ya tentu saja bahkan mama waktu hamil kamu bawaannya pingin


bermalasan terus seharian. Dan itu terjadi sampai usia kandunganku delapan


bulan, tahu?”


“Baiklah-baiklah. Nanti suruh dia meneleponku jika sudah bangun.


Ada dokumen dari The Robinson yang perlu persetujuannya”.


“Tak bisakah kamu yang menghandlenya?”


“Tidak bisa mommy. Aku hanya CEO pelaksana disini. Kekuasaan


mutlak masih ditangan istriku”.


“Oke fine. Aku sampaikan nanti”.


“Thanks mom, love you”.


“Love you more my baby”.


Mobil rollroyce hitam yang dikendarai Jeff berhenti di pintu utama


mansion. Pelayan yang sedang bertugas membukakan pintu penumpang.


Mempersilahkan sang majikan turun dengan sedikit menunduk.


Jay mengangguk samar sebagai ucapan terimakasihnya. Memberikan tas


kerja kepada pria yang bertugas di pintu utama mansion. Dia melangkahkan kaki


menuju lantai dua.


Tak menghiraukan sapaan Wati yang hendak menyampaikan sesuatu. Jay


hanya melambaikan tangan bertanda tak ingin di interupsi.


Menaiki dua-dua setiap tangga yang dilalui. Seolah tak sabar ingin


bertemu dengan sang istri tercinta. Membuka pintu kamar dengan tanpa suara. Jay


terhenyak saat tak menemukan sosok yang seharian ini mengisi batin serta


pikirannya.


Mengepalkan tangan Jodi membalikan badan. Berdiri dipembatas


tangga dan menatap Wati yang masih melihatnya dari lantai bawah.


“Waatiii, dimana istriku? Mana barang-barangnya? Apa dia pulang ke


mansion mertuaku?” dengan mata yang mulai memerah.


“Ma~maaf tuan itu tadi yang mau saya sampaikan. Tapi anda tidak


mau diganggu”.


“Haaaiiish, panggilkan Jeff. Suruh menyiapkan mobil!”

__ADS_1


“Tuan mau kemana?”


“Dasar tidak becus. Tentu saja menjemput istriku”.


“Ta~tapi tuan”.


“Sudah jangan banyak omong cepat panggil si Jeff”.


Tiba-tiba, “Tidak perlu pakai mobil Jay. Kamu hanya perlu turun


dari situ bila ingin bertemu dengan istrimu, “sahut mama Laura sambil berkacak


pinggang.


“Maksud mama apa. Dia tidak ada dikamar. Dia juga membawa


barang-barangnya pergi”.


“Itu mama yang suruh”.


“Maksudnya, mam?”


“Dasar bocah sableng. Apa kamu tidak tahu jika kamar kalian itu


membuat menantuku kesulitan beraktifitas. Dan apa kamu sadar kalau usia


kandungan istrimu sudah sembilan bulan. Sebentar lagi cucuku akan lahir. Mama tidak


mau dia dilahirkan diantara tangga-tangga ini”.


“Mama jangan bercanda. Masa lahiran ditangga, bisa gegar otak


anaku nanti”.


“Itulah yang mama maksud, sweety. Istrimu ada dikamar tamu. Dan jangan


ganggu dia. Mengerti!” perintahnya sambil merebahkan diri di sofa. Menikmati pijatan


diwajahnya.


“Baiklah”.


“Dan satu lagi bersihkan dirimu dulu sebelum menemui istrimu. Hawa


malam yang kamu bawa dari luar tidak baik buat calon cucu mama”.


“Oke mom. Cool…aku akan mandi dulu”.


Jodi membalikan badan, memasuki kamar dan mulai ritual mandinya. Keluar


dari kamar mandi hanya mengenakan wardrobe. Dia memilih baju tidur dari almari


dan mengenakannya. Setelah merapikan diri di cermin sebentar, si tuan muda ini


pun menuju lantai satu.


Berjingkat pelan saat memasuki kamar. Menemukan orang yang


seharian dirindukannya tengah terlelap dengan posisi miring menghadap tembok.


Dia pun menyingkap selimut ditubuh Suti. Memasukinya dan


merebahkan dirinya dengan pelan disamping sang istri. Melingkarkan tangan


dipinggang juga mengelus-elus perutnya lembut.


Jodi merapalkan doa pengharapan kepada calon sang pewaris yang


masih berada didalam Rahim istrinya. Seolah mendengar bisikan sang ayah, bayi


itu pun menendang tangan Jay hingga terangkat sepuluh senti.


Dia pun tertawa sambil bergumam, “Wah bakat beladiri mamamu


menurun rupanya”. Kembali dia mengelusnya dengan sayang.


Sedangkan sang calon mama tak merasa terganggu dengan keusilan


papa dan anak yang masih berbeda alam. Dengkuran halusnya nyaring terdengar


ditelinga Jodi.


Saat perut istrinya sudah tidak ada gerakan. Jay pun melingkarkan

__ADS_1


tangannya ke arah pinggang. Mengecup pipi Suti perlahan. Dan dia pun


menyusulnya ke alam mimpi dengan senyuman tersungging dibibirnya.


__ADS_2