
Cartwright Mansion.
Laura yang terlelap di atas sofa bermimpi didatangi Bobby. Dia
hanya tersenyum bijak kepada sang istri. Saat mulut Laura terbuka hendak
menanyakan sesuatu. Bobby menutup mulutnya dengan ujung jari telunjuk,
menyuruhnya diam.
Dia membimbing tangan istrinya ke depan lukisan leluhurnya.
Memandanginya lama sebelum mengarahkan tangan kanan ke gambar perempuan yang
mengenakan mahkota di kepalanya.
Tak mengerti akan maksud sang suami, Laura hanya mengerjapkan mata
berulang kali. Dia mulai menangis. Sedangkan Bobby menggelengkan kepala dan
menunjuk lukisan nenek leluhurnya berulangkali.
“Apa maksudmu, Bob?”
Bobby pun berubah menjadi asap sebelum menghilang.
“Bob apa yang ingin kau sampaikan? Jelaskan kepadaku.
Hiks…hiks….hiks”. Tangisnya kembali terdengar. Sebelum akhirnya dia terbangun
dari tidurnya.
Memulihkan kesadarannya sejenak dan,
“Waati…panggilkan mbok Minah sama pak Amin. Suruh kesini segera!”
“Ya nyonya” sahutnya dari arah dapur.
Mbok Minah dan pak Amin berjalan tergesa-gesa menuju sang majikan,
yang kemudian mengajaknya ke ruang museum keluarga. Lantas membuka pintu kayu itu
dan memasukinya.
Kedua orang tersebut kebingungan dengan apa yang harus dikerjakan.
Karena hari ini bukan saatnya untuk membersihkan ruangan. Sedikit menunduk
menunggu perintah sang majikan.
“Kalian cari perkamen sejarah keluarga dari ruangan ini!”
“Per-perkamen nyonya?”
“Ya gulungan yang terbuat dari kulit binatang dan ada tulisan
huruf Jawa diatasnya. Kalian tahu huruf Jawa, kan?” jelasnya kembali.
“Tahu nyonya besar”, jawab kedua orang itu serentak.
“Bagus. Mulailah dari penyimpanan barang-barang berharga disebelah
sana”, tunjuknya ke tengah ruangan.
Seakan mengerti dengan keinginan Laura kedua orang itu pun
memisahkan diri. Mbok Minah menuju ke tengah ruangan sedangkan Pak Amin
menyusuri tempat penyimpanan yang ada disisi ruang.
Hampir delapan jam ketiganya mengacak-acak museum keluarga itu.
Tapi tak satu pun yang menghasilkan. Merasa lelah dan lapar, Laura menyuruh dua
pembantunya untuk beristirahat dan meminta mereka untuk melanjutkan pencarian
esok hari.
Saat makan diruang makan sendirian, tiba-tiba bel pintu Mansion
berbunyi. Wati yang semula menunggu majikannya makan siang bergegas menuju ke
pintu utama.
“Cekleek”.
“Selamat siang Wati. Apakah nyonya besar ada?”
“Ada tuan. Silahkan masuk”.
“Hem. Kamu panggilkan, aku akan menunggunya di ruang kerja”.
__ADS_1
“Baik tuan”.
Wati berbisik ditelinga sang majikan saat beliau sedang mengelap
mulutnya dengan serbet yang ada dipangkuan. Mengambil gelas air putih dimeja
dan meminumnya perlahan. Setelahnya berjalan menuju ruang kerja.
Begitu didalam ruangan.
“Duduklah Ndrew, apa kamu tidak capek berdiri terus seperti itu?”
“Baik nyonya”.
“Ada kabar apa?”
Dia membuka laptop yang ada dimeja dan mengarahkan ke Laura.
“Ini nyonya lokasi terakhir dari nona Suti”.
“Hem, daerah Prigen. Mau apa dia disana? Kamu dapat lokasi
terakhirnya kapan Ndrew?”.
“Dua hari yang lalu nyonya. Bondan serta yang lainnya saat ini
masih berada disana”.
“Apa mereka sudah bertemu dengan Suti?”
“Be-belum nyonya. Yang kita ketemukan hanya liontin, terjatuh di
hutan gunung Ringgit. Tergeletak disebuah batu besar dalam gua ular”.
“Ap-apaah! Apakah menantuku baik-baik saja?”
“Jangan kuatir nyonya. Gua itu kosong sudah lama ditinggalkan hewan
melata itu”.
“Ouh, syukurlah. Ada hal lain yang ingin kau sampaikan Ndrew?”
Andrew menggulir layar laptop dan memperlihatkan grafik saham
perusahaan yang cenderung turun. Bahkan saat dia memperlihatkan hasil catatan
penjualan barang pun, tetap sama.
“Semenjak kabar tuan Jodi tersebar para pemegang saham minor mulai
lari ke perusahaan Clark Brother’s nyonya”.
“Sedangkan barang-barang yang kita ekspor ke luar negeri mengalami
kendala. Bahkan dua kapal yang membawa produk kita, tenggelam ke laut”.
“Cuaca yang sebagus ini Ndrew?” tanyanya tidak percaya.
“Ya nyonya, mereka melaporkan tentang kerusakan mesin yang
tiba-tiba terjadi. Padahal sudah di cek berulangkali sebelum berlayar”.
Laura terduduk lemas di kursi mendengar kabar tersebut.
“Baiklah Ndrew, kau bisa kembali ke perusahaan. Pantau semua segera
laporkan padaku apabila ada yang terjadi. Dan tolong panggilkan Jeff”.
“Baik nyonya saya permisi”.
“Heem”.
Gegas Jeff mendatangi ruang sang majikan. Berdiri diseberang meja,
dia menyerahkan tabletnya.
Laura memutar tombol play dari rekaman CCTV dirumah sakit beberapa
bulan yang lalu. Matanya membeliak sempurna saat benda itu menayangkan
rangkaian kejadian dalam kamar inap Jodi.
Dia melihat menantunya berkunjung sendirian dan itu hampir tiap
malam. Kadang dia menangis. Atau tertawa saat melihat Jodi yang terbaring di
ranjang. Dan yang miris saat rekaman itu memperlihatkan Suti dengan menjulurkan
lidah bercabangnya serta menjilati tubuh anak semata wayangnya, mulai dari
kepala sampai ujung kaki.
__ADS_1
Yang aneh, saat kamera dilorong menuju kamar Jodi tak menangkap
siluet sang menantu.
“Ba-bagaimana mungkin. Apakah itu hantu?”
“Lalu apakah anak ku baik-baik saja Jeff?” tanyanya memastikan.
“Baik nyonya. Para dokter tak mendeteksi kelainan dari tubuh tuan
muda. Bahkan setelah kunjungan istrinya”.
“Heeem. Suti kamu sedang melindungi Jodi ataukah kau ingin
membunuhnya?” gumam Laura pelan.
Clark’s building, Batu.
“Dave handle semua tugasku hari ini dan ingat aku tidak mau
diganggu”, titah Clark pada asistennya sebelum menutup pintu ruangan.
“Baik bos”.
Clark melangkahkan kaki menuju jejeran buku yang tersusun rapi di almari.
Dia mengambil salah satu judul buku, kumpulan tembang Jawa. Saat tembok
dibelakang buku tersebut terlihat, dia mulai merabanya. Dan terdengar dengungan
suara pintu otomatis, membuka ruang rahasia.
Sedikit membungkuk kan badan, Clark memasuki pintu tersebut sampai
menemukan pintu dengan sidik jari tangan kanannya sebagai kunci.
Menempelkan sebentar ke atas sensor, pintu pun terbuka otomatis.
Dia melangkah lurus kesebuah batu pipih yang mirip altar pemujaan.
Memposisikan tubuh dengan duduk bersila, Clark pun mulai merapal
kidungan pembelah jiwa.
Tak beberapa lama kepulan asap mengelilingi, terbang melesat
meninggalkan raga kasar yang sedang bersemedi.
Di rumah sakit kota.
Malam telah larut. Suasana hilir mudik pasien dan dokter yang
biasanya tampak berlalu-lalang dirumah sakit pun mulai terhenti.
Hanya ada beberapa petugas piket yang tampak di setiap lobi ruang
rawat inap. Selain itu hanya kesunyian yang melengkapi suasana rumah sakit yang
mulai lenggang.
Suti bersembunyi dibalik pohon besar dekat ruang inap Jodi.
Keinginannya untuk masuk, menjadi urung karena melihat Jeff dan anak buahnya
sedang berjaga dalam kamar.
Dia hanya bisa melihat sang kekasih hati dari kejauhan. Netranya
melihat bahwa Jodi masih belum sadarkan diri dan hal ini sudah berlangsung
selama setahun.
Saat melihat mama Laura yang diliputi kesedihan, Suti menjadi
trenyuh. Acapkali dia memergoki mertuanya itu menangis sendirian di kamar.
Rupanya segala usaha yang dilakukan gagal dan menemui jalan buntu.
Bisnis keluarganya mendekati kehancuran tanpa Jodi.
Suti ingin menghibur mama mertuanya tapi tak bisa. Dia tidak ingin
peristiwa beberapa bulan lalu terjadi lagi. Dimana ia hampir mencekik leher
Jodi dengan kedua tangannya.
Tanpa sadar hal itu dilakukan, seolah dalam pengaruh. Karena tak
ingin melukai sang kekasih hati, dia hanya mampu melepaskan kerinduannya dari
jauh. Seperti saat ini berlindung dibalik kegelapan malam dan bayangan pohon
__ADS_1
besar dirumah sakit, dalam diam.