
Mansion Cartwright.
Sudah hampir sejam Laura mondar mandir di ruang keluarga.
Tangannya saling meremas. Dia mengigit bibirnya berkali-kali.
Disampingnya Wati menundukan kepala, seolah mengerti dengan
kecemasan sang majikan. Dia hanya menunggu dalam diam.
Nyonya besar itu bergumam, “dimana perkamen itu disimpan?
Seharusnya ada di ruang museum. Tapi aku tak menemukannya. Apa yang harus kulakukan
untuk menyelamatkan Jodi?”
“Heem apa yang kulewatkan dalam ruangan itu? Bobby hanya menunjuk
lukisan leluhurnya. Ataukah ada sesuatu dibaliknya?” pikir dia kembali.
Sebentar kemudian. “Watii ikut aku ke museum”.
“Baik nyonya besar”.
Bergegas keduanya menuju ruangan yang terletak di ujung koridor.
Membuka pintu dengan sandi, Laura dan Wati pun memasukinya.
Mengedarkan pandangan sejenak sebelum memerintah sang asisten
rumah tangga untuk meneliti setiap sudut yang ada di ruangan.
Sedangkan Laura diam. Memandang secara intens lukisan yang ada di
depannya.
“Tak ada yang aneh dari lukisan ini. Perempuan ini mengenakan
mahkota yang biasa digunakan keluarga raja. Dan laki-laki ini pun memakai
cincin permata merah. Hanya itu tak ada yang lain” gumamnya kembali.
Menghembuskan napas dan mengalihkan pandangan ke arah Wati yang
tengah sibuk disudut lain. Tampak cahaya kecil berkilau dari balik buku
disebelahnya.
Merasa penasaran dia pun menghampiri serta membuka benda tersebut.
Buku itu sangat tebal. Covernya berkilauan terkena sinar lampu. Tak
ada gambar di atasnya. Hanya sebuah tulisan timbul yang menyatakan ‘The
Cartwright’s Tree’.
Secara acak, Laura membuka halaman buku tersebut. Sampai halaman
seribu Sembilan ratus dua puluh delapan. Dia melihat lukisan yang sama dengan
yang tertempel di dinding ruangan.
Sekali lagi dia amati lukisan itu secara seksama. Dan cahaya kecil
kembali memasuki matanya. Laura menutup netranya sejenak, kemudian membukanya
kembali. Kilatan itu berasal dari mata kanan perempuan bermahkota tersebut.
“Hei…jadi itu rahasianya”
Diletakan buku tersebut ke tempat semula. Dia berbalik menuju
lukisan yang ada di dinding.
Mengulurkan jari telunjuk ke mata kanan perempuan itu. Tiba-tiba.
“Dreeeeek” suara dinding bergeser.
Lukisan itu pun ikut terbelah. Memisahkan sang lelaki dan
perempuan ke arah yang berbeda.
“Wooouh, jadi selama ini kalian ada disini?” teriaknya penuh
syukur.
Diambilnya beberapa perkamen dari rak-rak yang tertempel petunjuk
isi gulungan itu. Dan membawanya ke ruang kerja dilantai dua.
Dengan barscanner, dia memindahi huruf demi huruf yang tertera di
atas kulit binatang tersebut. Sementara itu layar komputer langsung memberikan
hasil terjemahan.
“Heem jadi aku harus menemukan Suti. Hanya dia yang bisa membuat
Jodi sadar kembali. Tapi kemana aku harus mencarinya? Mungkin si Jeff bisa”
pikirnya.
Dengan segera dia menelepon anak buahnya tersebut untuk mencari
sang nyonya muda.
Kemampuan Jeff dalam melacak seseorang yang menjadi target
buruannya sangat bisa diandalkan. Hanya dalam beberapa jam dia sudah memberikan
__ADS_1
hasil akurat kepada sang nyonya besar.
Laura pun berangkat menuju lokasinya, ditemani para bodyguard.
***
Lambahu Prigen.
Iring-iringan mobil melaju lambat, saat mereka memasuki kawasan
patung kuda. Sengaja hal itu dilakukan karena sisi kanan serta kiri jalan
tersebut terdapat jurang yang menganga.
Tak ingin mati konyol, para pengawal pribadi tersebut mengalihkan
laju mobilnya ke gigi satu. Dengan tertib menunggu giliran untuk melaju di
tanjakan tinggi.
Di jalan Luhbanyu, mereka memarkirkan mobil di pinggir jalan raya.
Kemudian berjalan kaki sejauh dua kilometer, menuju rumah Lek Parjo, sang
kepala desa.
Laura mengusap peluh yang membanjiri wajahnya dengan sapu tangan. Setelah
itu duduk dengan diam di ruang tamu yang luas itu.
Beberapa pelayan tampak masuk dengan masing-masing nampan
ditangan. Menyajikan cemilan khas desa serta air putih dalam kendi. Mempersilahkan
para tamu, kemudian mereka pun pergi ke ruang belakang.
Lek Parjo baru saja memarkirkan sepedanya di halaman ketika
netranya melihat banyak orang di ruang tamunya. Dengan tergesa, ia menghampiri
mereka.
“Assalamualaikum tamu yang terhormat”.
Serentak mereka menjawab, “Wallaikumsalam”.
“Eh, besan datang. Apa yang membuatmu kemari?”
“Apa Suti bersamamu Parjo?”
“Em tidak. Bukankah dia sudah pulang ke kota”.
“Jika dia sudah pulang, untuk apa aku mencarinya”.
“Jadi dia belum pulang?”
“Belum. Sudah hampir dua tahun ini Parjo. Tak pernah sekali pun
“Heem, jadi begitu” dia pun manggut-manggut.
“Aku membutuhkan bantuanmu Parjo”.
“Apa yang bisa kubantu besan?”
Laura menceritakan semua hal yang menimpa keluarganya. Sampai pada
saat Suti yang akan membunuh Jodi di rumah sakit.
“Jadi itu yang membuat dia pergi”.
“Apa maksudmu Parjo?”
“Keponakanku pergi karena dia tidak ingin mencelakai anakmu”.
“Bagaimana mungkin? Bukankah Suti sangat mencintai suaminya?”
“Ya…itu benar. Tapi iblis didalam tubuhnya mulai menguasai. Dan dia
ingin Jodi mati”.
“A-apa! Tidak mungkin”.
“Itulah kenyataannya Laura. Kamu tidak bisa menyangkal. Karena dendam
itu berasal darimu”.
“Oooh tidak. Hiks…hiks…hiks. Apa yang harus kulakukan Parjo? Bantu
aku” pintanya memelas.
“Tanpa kau minta pun aku akan membantumu. Apa kau sudah menemukan
perkamen itu?”
“Ya, semuanya sudah kuterjemahkan dan kusalin dalam tabletku”.
“Bawa kesini, aku ingin mencari informasi yang lebih detil lagi”.
“Jeff!” teriak Laura.
“Ya nyonya”.
“Berikan tabletnya pada mertua Jodi”.
“Baik”.
Menyerap semua informasi yang ada dilayar. Parjo pun pamit undur
diri ke ruang belakang untuk bersemedi. Memohon petunjuk kepada leluhurnya,
__ADS_1
Darsi, tentang keberadaan sang keponakan.
Di alam kegelapan, dia melihat gua ular yang terletak di hutan
gunung Ringgit. Menghembuskan napasnya sebentar, kemudian keluar dari ruangan
itu.
Dia memberitahukan kepada Laura apa yang harus mereka lakukan. Segera
perempuan itu memerintahkan Jeff dan anak buahnya untuk menuju lokasi.
Parjo memerintahkan mereka agar segera menjemput Suti, sebelum dia
berubah wujud. Karena malam ini adalah bulan purnama penuh. Dia akan mencari
mangsa dimalam hari dengan wujud iblisnya.
Sang kepala desa pun memerintahkan kepada paranormal untuk segera
membuat tabir perlindungan di desa Lambahu. Mencegah siluman ular tersebut
memangsa bayi-bayi yang baru lahir di Jumat Kliwon.
Darah mereka sangat manis. Sehingga menarik aura jahat mahkluk itu
untuk memangsanya.
Jeff sang pengawal pribadi dibuat tunggang langgang dalam
menyelesaikan misi. Waktu yang tersisa untuk mereka tinggal delapan jam lagi.
Dia pun menghubungi pilot pribadi perusahaan Cartwright agar
segera meluncur menuju tepi hutan gunung Ringgit.
Mereka pun terbang menuju gua ular tersebut dengan membawa jala
yang telah diberi mantra penakluk oleh Parjo.
Hampir dua jam, helikopter tersebut berputar-putar di udara.
“Hei tunggu. Itu guanya!” tunjuk salah satu anak buah Jeff.
“Turunkan tangganya!” perintahnya.
Beberapa pria tampak berayun turun dari tangga helikopter. Menjejakan
kakinya dengan sedikit melompat.
Pelan-pelan mereka memasuki gua yang gelap. Memicingkan mata saat
sinar menyilaukan menerpa. Dan tampak lah sebuah ruangan bersih dalam pandangan
pengawal pribadi tersebut.
Jeff sang pemimpin mengedarkan pandangannya ke setiap sudut. Sampai
kemudian dia melihat sosok sang majikan, yang tengah duduk bersila di atas batu
besar yang mirip dengan altar.
Menunduk dengan hormat sebelum berkata.
“Nyonya…”
“Ada apa Jeff? Mengapa kalian kemari?”
“Kami disuruh nyonya besar menjemput anda”.
“Mama Laura?”
“Betul nyonya”.
“Tidak…tidak bisa Jeff. Aku tidak ingin mereka celaka. Terutama Jodi”.
“Kami mengerti nyonya”.
“Kalian tidak mengerti!” nada suaranya pun mulai berubah.
“Bagaimana pun nyonya harus ikut kami. Karena anda lah harapan
satu-satunya agar tuan Jodi sadar kembali”.
“Jo-Jodi belum sadar?”
“Ya nyonya, oleh karena itu kami membutuhkan bantuan anda”.
“Tidak bisa Jeff. Ssssssh, malam ini aku akan berubah dan aku
masih belum bisa mengendalikan mahkluk ini dengan sempurna” dia mulai
menjulurkan lidahnya.
Biji matanya meruncing serta berubah menjadi merah. Tangannya perlahan
berubah menjadi cakar. Melihat hal itu Jeff memberi kode anak buahnya yang
sedang memegang jala.
Mengerti dengan maksud sang ketua, merekapun menebarkan jala
tersebut ke tubuh Suti. Dia meronta-ronta sejenak sebelum akhirnya diam tak
sadarkan diri.
Dengan mudahnya para pengawal itu membawa tubuh sang nyonya muda
kedalam helikopter. Serta terbang meninggalkan kesunyian di hutan gunung
__ADS_1
ringgit.