MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XLVI


__ADS_3

Mansion Cartwright.


Sudah hampir sejam Laura mondar mandir di ruang keluarga.


Tangannya saling meremas. Dia mengigit bibirnya berkali-kali.


Disampingnya Wati menundukan kepala, seolah mengerti dengan


kecemasan sang majikan. Dia hanya menunggu dalam diam.


Nyonya besar itu bergumam, “dimana perkamen itu disimpan?


Seharusnya ada di ruang museum. Tapi aku tak menemukannya. Apa yang harus kulakukan


untuk menyelamatkan Jodi?”


“Heem apa yang kulewatkan dalam ruangan itu? Bobby hanya menunjuk


lukisan leluhurnya. Ataukah ada sesuatu dibaliknya?” pikir dia kembali.


Sebentar kemudian. “Watii ikut aku ke museum”.


“Baik nyonya besar”.


Bergegas keduanya menuju ruangan yang terletak di ujung koridor.


Membuka pintu dengan sandi, Laura dan Wati pun memasukinya.


Mengedarkan pandangan sejenak sebelum memerintah sang asisten


rumah tangga untuk meneliti setiap sudut yang ada di ruangan.


Sedangkan Laura diam. Memandang secara intens lukisan yang ada di


depannya.


“Tak ada yang aneh dari lukisan ini. Perempuan ini mengenakan


mahkota yang biasa digunakan keluarga raja. Dan laki-laki ini pun memakai


cincin permata merah. Hanya itu tak ada yang lain” gumamnya kembali.


Menghembuskan napas dan mengalihkan pandangan ke arah Wati yang


tengah sibuk disudut lain. Tampak cahaya kecil berkilau dari balik buku


disebelahnya.


Merasa penasaran dia pun menghampiri serta membuka benda tersebut.


Buku itu sangat tebal. Covernya berkilauan terkena sinar lampu. Tak


ada gambar di atasnya. Hanya sebuah tulisan timbul yang menyatakan ‘The


Cartwright’s Tree’.


Secara acak, Laura membuka halaman buku tersebut. Sampai halaman


seribu Sembilan ratus dua puluh delapan. Dia melihat lukisan yang sama dengan


yang tertempel di dinding ruangan.


Sekali lagi dia amati lukisan itu secara seksama. Dan cahaya kecil


kembali memasuki matanya. Laura menutup netranya sejenak, kemudian membukanya


kembali. Kilatan itu berasal dari mata kanan perempuan bermahkota tersebut.


“Hei…jadi itu rahasianya”


Diletakan buku tersebut ke tempat semula. Dia berbalik menuju


lukisan yang ada di dinding.


Mengulurkan jari telunjuk ke mata kanan perempuan itu. Tiba-tiba.


“Dreeeeek” suara dinding bergeser.


Lukisan itu pun ikut terbelah. Memisahkan sang lelaki dan


perempuan ke arah yang berbeda.


“Wooouh, jadi selama ini kalian ada disini?” teriaknya penuh


syukur.


Diambilnya beberapa perkamen dari rak-rak yang tertempel petunjuk


isi gulungan itu. Dan membawanya ke ruang kerja dilantai dua.


Dengan barscanner, dia memindahi huruf demi huruf yang tertera di


atas kulit binatang tersebut. Sementara itu layar komputer langsung memberikan


hasil terjemahan.


“Heem jadi aku harus menemukan Suti. Hanya dia yang bisa membuat


Jodi sadar kembali. Tapi kemana aku harus mencarinya? Mungkin si Jeff bisa”


pikirnya.


Dengan segera dia menelepon anak buahnya tersebut untuk mencari


sang nyonya muda.


Kemampuan Jeff dalam melacak seseorang yang menjadi target


buruannya sangat bisa diandalkan. Hanya dalam beberapa jam dia sudah memberikan

__ADS_1


hasil akurat kepada sang nyonya besar.


Laura pun berangkat menuju lokasinya, ditemani para bodyguard.


***


Lambahu Prigen.


Iring-iringan mobil melaju lambat, saat mereka memasuki kawasan


patung kuda. Sengaja hal itu dilakukan karena sisi kanan serta kiri jalan


tersebut terdapat jurang yang menganga.


Tak ingin mati konyol, para pengawal pribadi tersebut mengalihkan


laju mobilnya ke gigi satu. Dengan tertib menunggu giliran untuk melaju di


tanjakan tinggi.


Di jalan Luhbanyu, mereka memarkirkan mobil di pinggir jalan raya.


Kemudian berjalan kaki sejauh dua kilometer, menuju rumah Lek Parjo, sang


kepala desa.


Laura mengusap peluh yang membanjiri wajahnya dengan sapu tangan. Setelah


itu duduk dengan diam di ruang tamu yang luas itu.


Beberapa pelayan tampak masuk dengan masing-masing nampan


ditangan. Menyajikan cemilan khas desa serta air putih dalam kendi. Mempersilahkan


para tamu, kemudian mereka pun pergi ke ruang belakang.


Lek Parjo baru saja memarkirkan sepedanya di halaman ketika


netranya melihat banyak orang di ruang tamunya. Dengan tergesa, ia menghampiri


mereka.


“Assalamualaikum tamu yang terhormat”.


Serentak mereka menjawab, “Wallaikumsalam”.


“Eh, besan datang. Apa yang membuatmu kemari?”


“Apa Suti bersamamu Parjo?”


“Em tidak. Bukankah dia sudah pulang ke kota”.


“Jika dia sudah pulang, untuk apa aku mencarinya”.


“Jadi dia belum pulang?”


“Belum. Sudah hampir dua tahun ini Parjo. Tak pernah sekali pun


“Heem, jadi begitu” dia pun manggut-manggut.


“Aku membutuhkan bantuanmu Parjo”.


“Apa yang bisa kubantu besan?”


Laura menceritakan semua hal yang menimpa keluarganya. Sampai pada


saat Suti yang akan membunuh Jodi di rumah sakit.


“Jadi itu yang membuat dia pergi”.


“Apa maksudmu Parjo?”


“Keponakanku pergi karena dia tidak ingin mencelakai anakmu”.


“Bagaimana mungkin? Bukankah Suti sangat mencintai suaminya?”


“Ya…itu benar. Tapi iblis didalam tubuhnya mulai menguasai. Dan dia


ingin Jodi mati”.


“A-apa! Tidak mungkin”.


“Itulah kenyataannya Laura. Kamu tidak bisa menyangkal. Karena dendam


itu berasal darimu”.


“Oooh tidak. Hiks…hiks…hiks. Apa yang harus kulakukan Parjo? Bantu


aku” pintanya memelas.


“Tanpa kau minta pun aku akan membantumu. Apa kau sudah menemukan


perkamen itu?”


“Ya, semuanya sudah kuterjemahkan dan kusalin dalam tabletku”.


“Bawa kesini, aku ingin mencari informasi yang lebih detil lagi”.


“Jeff!” teriak Laura.


“Ya nyonya”.


“Berikan tabletnya pada mertua Jodi”.


“Baik”.


Menyerap semua informasi yang ada dilayar. Parjo pun pamit undur


diri ke ruang belakang untuk bersemedi. Memohon petunjuk kepada leluhurnya,

__ADS_1


Darsi, tentang keberadaan sang keponakan.


Di alam kegelapan, dia melihat gua ular yang terletak di hutan


gunung Ringgit. Menghembuskan napasnya sebentar, kemudian keluar dari ruangan


itu.


Dia memberitahukan kepada Laura apa yang harus mereka lakukan. Segera


perempuan itu memerintahkan Jeff dan anak buahnya untuk menuju lokasi.


Parjo memerintahkan mereka agar segera menjemput Suti, sebelum dia


berubah wujud. Karena malam ini adalah bulan purnama penuh. Dia akan mencari


mangsa dimalam hari dengan wujud iblisnya.


Sang kepala desa pun memerintahkan kepada paranormal untuk segera


membuat tabir perlindungan di desa Lambahu. Mencegah siluman ular tersebut


memangsa bayi-bayi yang baru lahir di Jumat Kliwon.


Darah mereka sangat manis. Sehingga menarik aura jahat mahkluk itu


untuk memangsanya.


Jeff sang pengawal pribadi dibuat tunggang langgang dalam


menyelesaikan misi. Waktu yang tersisa untuk mereka tinggal delapan jam lagi.


Dia pun menghubungi pilot pribadi perusahaan Cartwright agar


segera meluncur menuju tepi hutan gunung Ringgit.


Mereka pun terbang menuju gua ular tersebut dengan membawa jala


yang telah diberi mantra penakluk oleh Parjo.


Hampir dua jam, helikopter tersebut berputar-putar di udara.


“Hei tunggu. Itu guanya!” tunjuk salah satu anak buah Jeff.


“Turunkan tangganya!” perintahnya.


Beberapa pria tampak berayun turun dari tangga helikopter. Menjejakan


kakinya dengan sedikit melompat.


Pelan-pelan mereka memasuki gua yang gelap. Memicingkan mata saat


sinar menyilaukan menerpa. Dan tampak lah sebuah ruangan bersih dalam pandangan


pengawal pribadi tersebut.


Jeff sang pemimpin mengedarkan pandangannya ke setiap sudut. Sampai


kemudian dia melihat sosok sang majikan, yang tengah duduk bersila di atas batu


besar yang mirip dengan altar.


Menunduk dengan hormat sebelum berkata.


“Nyonya…”


“Ada apa Jeff? Mengapa kalian kemari?”


“Kami disuruh nyonya besar menjemput anda”.


“Mama Laura?”


“Betul nyonya”.


“Tidak…tidak bisa Jeff. Aku tidak ingin mereka celaka. Terutama Jodi”.


“Kami mengerti nyonya”.


“Kalian tidak mengerti!” nada suaranya pun mulai berubah.


“Bagaimana pun nyonya harus ikut kami. Karena anda lah harapan


satu-satunya agar tuan Jodi sadar kembali”.


“Jo-Jodi belum sadar?”


“Ya nyonya, oleh karena itu kami membutuhkan bantuan anda”.


“Tidak bisa Jeff. Ssssssh, malam ini aku akan berubah dan aku


masih belum bisa mengendalikan mahkluk ini dengan sempurna” dia mulai


menjulurkan lidahnya.


Biji matanya meruncing serta berubah menjadi merah. Tangannya perlahan


berubah menjadi cakar. Melihat hal itu Jeff memberi kode anak buahnya yang


sedang memegang jala.


Mengerti dengan maksud sang ketua, merekapun menebarkan jala


tersebut ke tubuh Suti. Dia meronta-ronta sejenak sebelum akhirnya diam tak


sadarkan diri.


Dengan mudahnya para pengawal itu membawa tubuh sang nyonya muda


kedalam helikopter. Serta terbang meninggalkan kesunyian di hutan gunung

__ADS_1


ringgit.


__ADS_2