
Semenjak peristiwa itu, kehidupan Jansen menjadi normal. Dia mulai
menjalankan bisnis yang sempat ia tinggalkan selama bertahun-tahun.
Tak ada yang ditanyakan, ketika dia tersadar dengan keberadaannya
di Amerika dan bukan lagi berada di Indonesia.
Dia sangat mempercayai Sukirno juga mbok Ginah. Apa yang mereka
lakukan saat ini adalah yang terbaik untuknya.
Untuk melupakan masa lalu yang kelam. Jansen mengganti nama
marganya menjadi Robinson. Nama ini diambil dari sahabat yang membantunya
selama ini. Bahkan dia menganggap The Robinson seperti keluarga sendiri.
Ia pun berganti nama menjadi Clark Robinson. Serta memberikan
sepuluh persen dari sahamnya ke keluarga barunya. Juga memanggil mereka sebagai
sepupu.
Sukirno wafat sepuluh tahun kemudian, disusul mbok Ginah di tahun
kesebelas. Sepasang pembantu setia tersebut tak meninggalkan keturunan.
Hanya saja, saat sang pembantu laki-laki Jansen meninggal, dia
mewariskan harta bendanya kepada seorang anak yang bernama Bondan di daerah
Lumajang.
Tak mengerti dengan hubungan darah antara mereka. Jansen tetap
menjalankan amanah Sukirno tersebut. Dengan mengirimkan semua peninggalannya ke
Indonesia.
Kehidupan pun terus bergulir. Kesuksesan yang ia capai mulai
menimbulkan permasalahan baru, berpuluh-puluh tahun kemudian.
The Robinson Company, mulai mengalami masalah internal perusahaan.
Rasa persaudaraan keluarga tersebut dinodai oleh pengkhianatan juga
keserakahaan dari anak cucu Robinson.
Mereka berusaha menguasai anak cabang perusahaan yang ada di tiga Negara.
Inggris, belanda dan di Indonesia.
Jansen yang ingin tengah menjauhkan diri dari segala urusan
perusahaan, akhirnya muncul kembali. Mengusir The Robinson family dari semua aset-asetnya.
Anak cucu keluarga tersebut yang semula jumawa dengan
pencapaiannya, pada akhirnya hanya gigit jari. Dan diberi bagian sekitar nol
koma nol satu persen saham di perusahaan induk Amerika.
Angka sekecil itu masih mampu menopang setiap individu dari Robinson.
__ADS_1
Serta mereka masih bisa menopang hidupnya dengan bergelimang harta walau pun
tidak bekerja.
Karena mereka datang dari berbagai gen yang berbeda, tentu saja
cara pengelolaan keuangannya pun tidak sama. Ada yang mendirikan perusahaan
sendiri. Atau menginvestasikannya ke berbagai bidang.
Tak mempermasalahkan hal tersebut, Jansen mengubah nama perusahaan
menjadi Clark Company. Serta saat ini tengah mengadakan kerja sama dengan The Cartwright’s.
Juga memindahkan induk perusahaan ke Indonesia.
***
Lumajang Indonesia.
Mbok Rah yang merasa usianya semakin tua, menyerahkan segala
urusan mencari nafkah ke Bondan. Anak itu tumbuh menjadi pribadi yang santun
serta berbakti kepada orang tuanya.
Bekerja di sawah yang tak bergitu luas. Juga menanam berbagai
tumbuhan bernilai ekonomis, disekitar rumah. Dari sana lah kedua anak beranak
itu memperoleh nafkah.
Karena pendidikan merupakan hal yang dilarang keras oleh
pemerintah Belanda bagi pribumi, maka Bondan hanya bisa mengaji serta belajar
Dengan berjalan kaki menempuh jarak sekitar tiga kilometer
perharinya, dia tetap semangat menjalankan aktifitas tersebut. Sampailah saat
ini usianya hampir tujuh belas tahun.
Malam hampir mendekati jam dua belas. Bondan baru saja mengucapkan
salam kepada Mbok Rah, serta menutup pintu.
Orang tua itu sedang menjahit beberapa baju anaknya yang sobek
dengan tangan. Dia menoleh sebentar saat Bondan mengucapkan salam.
Lalu berkata, “Jangan lupa cuci kakimu di sumur belakang, le”.
“Ya mbok”.
Dia menuju ke belakang. Meniup obor yang dipegangnya, serta
meletakan di sudut dapur. Mengambil gayung lalu menciduk air dari gentong dan
membasuh kakinya yang penuh lumpur basah sampai bersih.
Setelah itu kembali ke ruang tamu, dimana netranya melihat simbok
yang lagi berusaha dengan serius memasukan benang ke dalam lubang jarum.
“Simbok belum tidur? Ini sudah hampir tengah malam”.
__ADS_1
“Bentar lagi…nanggung. Pekerjaan simbok tinggal sedikit lagi”.
Bondan melihat tumpukan baju berserakan di tengah kasur. Dia mulai
melipatnya, setelah memeriksa perbaikan yang dilakukan mbok Rah.
“Ini kan sudah banyak yang selesai, mbok. Tidur gih, dilanjut
besok saja, nanti capek loh”.
“Tanggung le…tinggal satu baju lagi”.
“Sudah sini biar aku yang melanjutkan. Simbok tidur saja disebelah
situ”.
“Hemmms, ya sudah. Masukan benangnya ke jarum ini. Dari tadi aku
kesusahan, lubangnya terlalu kecil” gerutunya.
“He…he…he. Ini bukannya lubang jarum yang terlalu kecil tapi
simbok sudah capek, jadi gak bisa melihat dengan jelas. Bukannya ukuran lubang
jarum tetap sama ya, mbok?” dikecupnya pipi sang ibu dengan sayang. Menepuk-nepuk
bantal yang ada di atas kasur. Lantas mempersilahkannya untuk tidur.
Masih dengan gerutuan yang sama, perempuan tua itu pun merebahkan
diri. Dan akhirnya tertidur dengan pulas. Menyisakan dengkuran halus di telinga
Bondan.
Tersenyum sejenak kepada sang ibu. Dia pun mengambilkan kain
panjang yang warnanya mulai memudar dari tumpukan baju di rak. Menyelimutinya, kemudian
dia berjalan menuju kursi kayu dekat dinding. Duduk disana dan melanjutkan
pekerjaan simboknya yang tertunda.
Tak beberapa lama, robekan baju itu pun mulai terlihat rapi
kembali. Dia mengulas senyum sebagai tanda puas. Melipat serta menyusun
semuanya ke atas rak disisi kanan kasur.
Meregangkan badan yang sedikit kaku sampai bunyi ‘Kreteek’
terdengar. Tak lama kemudian ikut merebahkan diri disamping ibunya. Berdoa sejenak
dan memandang langit-langit kamar.
Entah apa yang dipikirkan, yang jelas tekadnya sudah bulat untuk
meraih kesuksesan ekonomi. Ia ingin memperoleh pendidikan yang layak disekolah
Belanda. Seperti anak-anak Bupati atau lurah dari desa sebelah. Di sana ada
bangunan sekolah yang didirikan khusus bagi anak petinggi pribumi.
Bondan berkeinginan kuat untuk memperoleh pendidikan yang layak. Asal
dia punya banyak harta. “Mungkin besok aku akan minta ijin simbok, bekerja di
__ADS_1
perkebunan Belanda. Agar aku punya uang banyak untuk sekolah” batinnya sebelum
memejamkan mata.