MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XLIX


__ADS_3

Semenjak peristiwa itu, kehidupan Jansen menjadi normal. Dia mulai


menjalankan bisnis yang sempat ia tinggalkan selama bertahun-tahun.


Tak ada yang ditanyakan, ketika dia tersadar dengan keberadaannya


di Amerika dan bukan lagi berada di Indonesia.


Dia sangat mempercayai Sukirno juga mbok Ginah. Apa yang mereka


lakukan saat ini adalah yang terbaik untuknya.


Untuk melupakan masa lalu yang kelam. Jansen mengganti nama


marganya menjadi Robinson. Nama ini diambil dari sahabat yang membantunya


selama ini. Bahkan dia menganggap The Robinson seperti keluarga sendiri.


Ia pun berganti nama menjadi Clark Robinson. Serta memberikan


sepuluh persen dari sahamnya ke keluarga barunya. Juga memanggil mereka sebagai


sepupu.


Sukirno wafat sepuluh tahun kemudian, disusul mbok Ginah di tahun


kesebelas. Sepasang pembantu setia tersebut tak meninggalkan keturunan.


Hanya saja, saat sang pembantu laki-laki Jansen meninggal, dia


mewariskan harta bendanya kepada seorang anak yang bernama Bondan di daerah


Lumajang.


Tak mengerti dengan hubungan darah antara mereka. Jansen tetap


menjalankan amanah Sukirno tersebut. Dengan mengirimkan semua peninggalannya ke


Indonesia.


Kehidupan pun terus bergulir. Kesuksesan yang ia capai mulai


menimbulkan permasalahan baru, berpuluh-puluh tahun kemudian.


The Robinson Company, mulai mengalami masalah internal perusahaan.


Rasa persaudaraan keluarga tersebut dinodai oleh pengkhianatan juga


keserakahaan dari anak cucu Robinson.


Mereka berusaha menguasai anak cabang perusahaan yang ada di tiga Negara.


Inggris, belanda dan di Indonesia.


Jansen yang ingin tengah menjauhkan diri dari segala urusan


perusahaan, akhirnya muncul kembali. Mengusir The Robinson family dari semua aset-asetnya.


Anak cucu keluarga tersebut yang semula jumawa dengan


pencapaiannya, pada akhirnya hanya gigit jari. Dan diberi bagian sekitar nol


koma nol satu persen saham di perusahaan induk Amerika.


Angka sekecil itu masih mampu menopang setiap individu dari Robinson.

__ADS_1


Serta mereka masih bisa menopang hidupnya dengan bergelimang harta walau pun


tidak bekerja.


Karena mereka datang dari berbagai gen yang berbeda, tentu saja


cara pengelolaan keuangannya pun tidak sama. Ada yang mendirikan perusahaan


sendiri. Atau menginvestasikannya ke berbagai bidang.


Tak mempermasalahkan hal tersebut, Jansen mengubah nama perusahaan


menjadi Clark Company. Serta saat ini tengah mengadakan kerja sama dengan The Cartwright’s.


Juga memindahkan induk perusahaan ke Indonesia.


***


Lumajang Indonesia.


Mbok Rah yang merasa usianya semakin tua, menyerahkan segala


urusan mencari nafkah ke Bondan. Anak itu tumbuh menjadi pribadi yang santun


serta berbakti kepada orang tuanya.


Bekerja di sawah yang tak bergitu luas. Juga menanam berbagai


tumbuhan bernilai ekonomis, disekitar rumah. Dari sana lah kedua anak beranak


itu memperoleh nafkah.


Karena pendidikan merupakan hal yang dilarang keras oleh


pemerintah Belanda bagi pribumi, maka Bondan hanya bisa mengaji serta belajar


Dengan berjalan kaki menempuh jarak sekitar tiga kilometer


perharinya, dia tetap semangat menjalankan aktifitas tersebut. Sampailah saat


ini usianya hampir tujuh belas tahun.


Malam hampir mendekati jam dua belas. Bondan baru saja mengucapkan


salam kepada Mbok Rah, serta menutup pintu.


Orang tua itu sedang menjahit beberapa baju anaknya yang sobek


dengan tangan. Dia menoleh sebentar saat Bondan mengucapkan salam.


Lalu berkata, “Jangan lupa cuci kakimu di sumur belakang, le”.


“Ya mbok”.


Dia menuju ke belakang. Meniup obor yang dipegangnya, serta


meletakan di sudut dapur. Mengambil gayung lalu menciduk air dari gentong dan


membasuh kakinya yang penuh lumpur basah sampai bersih.


Setelah itu kembali ke ruang tamu, dimana netranya melihat simbok


yang lagi berusaha dengan serius memasukan benang ke dalam lubang jarum.


“Simbok belum tidur? Ini sudah hampir tengah malam”.

__ADS_1


“Bentar lagi…nanggung. Pekerjaan simbok tinggal sedikit lagi”.


Bondan melihat tumpukan baju berserakan di tengah kasur. Dia mulai


melipatnya, setelah memeriksa perbaikan yang dilakukan mbok Rah.


“Ini kan sudah banyak yang selesai, mbok. Tidur gih, dilanjut


besok saja, nanti capek loh”.


“Tanggung le…tinggal satu baju lagi”.


“Sudah sini biar aku yang melanjutkan. Simbok tidur saja disebelah


situ”.


“Hemmms, ya sudah. Masukan benangnya ke jarum ini. Dari tadi aku


kesusahan, lubangnya terlalu kecil” gerutunya.


“He…he…he. Ini bukannya lubang jarum yang terlalu kecil tapi


simbok sudah capek, jadi gak bisa melihat dengan jelas. Bukannya ukuran lubang


jarum tetap sama ya, mbok?” dikecupnya pipi sang ibu dengan sayang. Menepuk-nepuk


bantal yang ada di atas kasur. Lantas mempersilahkannya untuk tidur.


Masih dengan gerutuan yang sama, perempuan tua itu pun merebahkan


diri. Dan akhirnya tertidur dengan pulas. Menyisakan dengkuran halus di telinga


Bondan.


Tersenyum sejenak kepada sang ibu. Dia pun mengambilkan kain


panjang yang warnanya mulai memudar dari tumpukan baju di rak. Menyelimutinya, kemudian


dia berjalan menuju kursi kayu dekat dinding. Duduk disana dan melanjutkan


pekerjaan simboknya yang tertunda.


Tak beberapa lama, robekan baju itu pun mulai terlihat rapi


kembali. Dia mengulas senyum sebagai tanda puas. Melipat serta menyusun


semuanya ke atas rak disisi kanan kasur.


Meregangkan badan yang sedikit kaku sampai bunyi ‘Kreteek’


terdengar. Tak lama kemudian ikut merebahkan diri disamping ibunya. Berdoa sejenak


dan memandang langit-langit kamar.


Entah apa yang dipikirkan, yang jelas tekadnya sudah bulat untuk


meraih kesuksesan ekonomi. Ia ingin memperoleh pendidikan yang layak disekolah


Belanda. Seperti anak-anak Bupati atau lurah dari desa sebelah. Di sana ada


bangunan sekolah yang didirikan khusus bagi anak petinggi pribumi.


Bondan berkeinginan kuat untuk memperoleh pendidikan yang layak. Asal


dia punya banyak harta. “Mungkin besok aku akan minta ijin simbok, bekerja di

__ADS_1


perkebunan Belanda. Agar aku punya uang banyak untuk sekolah” batinnya sebelum


memejamkan mata.


__ADS_2