MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XLII


__ADS_3

Harbourside Resort and Marina.


Satu minggu sudah kegiatan liburan Selly dan Smith berjalan.


Semua tempat telah mereka jelajahi. Termasuk ski resort di sekitar


daerah tersebut.


Malam ini adalah puncak rekreasi mereka sebelum menjalankan


kesibukan kerja seperti biasanya.


Smith akan kembali ke Indonesia. Sedangkan Selly melanjutkan


kegiatan menghamburkan uang seperti biasanya.


Itu adalah kegiatan barunya setelah lepas dari tugas yang


diberikan oleh Clark.


Tepatnya dia melarikan diri dari kejaran polisi karena kasus


kematian Dina, beberapa bulan yang lalu.


Gerak cepat dari tim buser. Membuat gerak kebebasan Selly tak lama


lagi.


Tim penanganan tindak kriminal sudah mendeteksi keberadaannya di


Amerika. Tinggal menghitung hari sebelum penangkapan.


Saat ini Selly hendak menutup pintu kamarnya, ketika melihat Smith


berjalan hendak menuju kamar sebelah.


Selama ini kedua orang tersebut tak pernah tidur dalam satu kamar.


Terkadang terbersit keinginan perempuan itu untuk mengajaknya bercinta.


Tapi ditahan mengingat sikap acuh tak acuh dari Smith. Seolah tak


berselera dengan Selly.


Tekad wanita ini semakin membulat. Ketika melihat postur tubuh


lelaki bule itu dikolam renang.


Bentuk badannya yang proporsional dengan bulu-bulu di dadanya


membuat sang Casanova berkeinginan mendapatkan pria itu malam ini.


Berpura-pura tak butuh, dia mengenakan lingerie yang sedikit


kebesaran. Sehingga bagian dada hampir sepenuhnya kelihatan.


Sambil menguap dia menyapa. “Good night, sir”.


Direntangkan kedua tangan ke atas kepala, sehingga terpampang


dengan jelas kaki mulusnya.

__ADS_1


Smith melirik sebentar. “Good night, Selly” jawabnya tak acuh.


“Sialan aku sudah berdandan seperti ini, dia hanya melirik saja.


Jangan-jangan dia gay lagi?” pikirnya.


“Aku pria normal nona”.


“Eh…eum…itu”.


“Betulkan itu yang kamu pikirkan, heum?” sambil mendekatkan wajah


tampannya.


Selly merasakan jantungnya berdetak dengan kencang. Saat hidungnya


mencium bau maskulin dari Smith.


“Tidak kah anda ingin memberiku kenangan terakhir, tuan?”


“Kenangan terakhir, heh?”


“Ya bagaimana menurut anda?”


“Kamu ingin bercinta denganku, Selly?”


“Aaah itu juga jika tuan ingin” jawabnya sambil menjilati bibirnya


sendiri.


“Heem, tawaran menarik”.


Lelaki bule itu pun masuk dan menutup pintu kamar.


hendak merebahkan diri di kasur. Netranya melihat Smith yang tak beranjak


sedikit pun dari posisi semula.


Smith tengah melihatnya dengan tatapan lapar. Bukan pandangan


penuh nafsu seorang pria terhadap wanita.


“Kamu yakin menginginkan hal ini, Selly?” smirk nya pun terulas


lebar.


Menepis semua keraguan yang sejenak mengganggu. Dia  pun mengangguk.


Laki-laki itu pun perlahan mendekati. Posisinya mulai mengukung


Selly. Tatapan matanya intens, tanpa berkedip.


Sejenak dirinya terpesona. Tak menyadari perubahan dari pria tersebut.


Kedua lengan Smith mulai tumbuh sisik berwarna hijau. Kuku jarinya


mulai memanjang membentuk cakar.


Tak lama kemudian di ikuti dengan matanya yang berubah menjadi


merah. Dan mulai menjulurkan lidah bercabangnya ke segala arah.

__ADS_1


Selly pun menjerit. “Tidaaak. Siapa kamu?”


“Sssssh. Bukankah kamu ingin bercinta denganku?”


“Tidak. Pergi kamu! Dimana Smith?” teriaknya sambil melempar semua


barang disisinya.


“Pergi…pergi!”


“Sssst…diam kamu perempuan!”


“Apa yang kamu inginkan. Uang, harta aku punya semuanya? Kamu bisa


mengambilnya dari dompet itu!” tunjuknya gemetar pada nakas.


“Ssssh. He…he…he. Bagaimana kalau aku menginginkan darahmu?”


sambil mengendus leher Selly penuh minat.


“Ja-jangan. Aku mohon ampuni nyawaku. Apa salahku?”


“Ha…ha…ha. Kamu tidak salah Selly. Yang salah ada kebodohanmu”


“A-apa maksudmu?” matanya membola. Dan tubuhnya mulai meronta-ronta.


Siluman ular itu merubah wajahnya menjadi Clark. Kemudian tersenyum


culas ke arah perempuan yang akan menjadi korbannya.


“Cla-Clark, is that you?”


“Yes, dear. Aku Clark majikanmu”


“Bagaimana mungkin?” tak percaya.


“Kemarilah Selly. Rabalah tubuhku. Rasakan jika aku adalah orang


yang kamu inginkan” perintahnya sambil menghipnotis perempuan itu.


Gerakan meronta dari sang calon korban pun diam. Dia menuruti


semua perintah yang diberikan.


Dan, “Jleb. Crass” suara gigitan serta muncratan darah terdengar


nyaring ke seluruh ruang.


Kembali kamar itu sunyi. Hanya menyisakan suara makhluk yang


sedang menyesap darah.


Selebihnya ketenangan yang menyelimuti malam. Serta jejak darah yang


berceceran di dinding dan lantai resort.


Makhluk itu pun berubah menjadi asap. Menghilang bersama angin. Saat


tugasnya sudah terlaksana.


Sementara di kamar, tinggal jasad Selly yang terbujur kaku. Dengan

__ADS_1


mata melotot memancarkan kengerian yang amat sangat.


__ADS_2