MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XXXVII


__ADS_3

Tretes Prigen, jaman Belanda.


Membanting barang, pulang dalam keadaan mabuk kemudian tertawa dan


menangis sendirian adalah menu keseharian yang dilakukan Jansen.


Setelahnya dia akan tidur tertelungkup dikasur dengan memeluk


guling seolah sedang bersama istrinya.


Tak jarang pula Jansen langsung tertidur dilantai yang dingin,


sesudah melakukan aktifitasnya.


Jika sudah begini maka, Sukirno sang pembantu setia akan


mengangkat tubuh sang majikan meskipun dengan sedikit kesulitan.


Hampir dua tahun semua yang dia lakukan tak pernah bergeser


sedikitpun. Membuat Anne yang berharap banyak pada Jansen agar cintanya


terbalaskan dengan kepergian Darsi, pupus sudah.


Sedikit demi sedikit dia menyadari bahwa dunia Jansen adalah


perempuan pribumi yang cantik itu.


Walau tak sedikit yang ia lakukan demi membuat normal kehidupan


sang pria. Nyatanya tak bisa.


Dia semakin terpuruk ke alam hayalan. Istri dan anaknya seolah


masih disekitarnya.


Bahkan saat dia sudah tidak terpengaruh dengan minuman, tetap saja


kedua tangannya seolah memeluk wanita kesayangan.


Atau gerakannya kadang berganti menjadi menimang bayi serta


mulutnya komat-kamit menyenandungkan lagu pengantar tidur.


Batin seorang Anne Van Den Berg, yang arogan dan sombong menjadi


luluh. Menyisakan sesal berkepanjangan. Benak dan pikirannya penuh dengan,


“Andai saja. Andai tidak kulakukan” dan kalimat-kalimat pengandaian yang


semakin menghilangkan pesona kecantikan di wajahnya.


Seperti pagi ini. Setelah melihat keadaan Jansen yang semakin


terpuruk. Bergegas dia mengemas semua pakaian yang ditinggalkan dalam Loji. Ya

__ADS_1


tekadnya sudah bulat, bahwa dia akan pergi jauh. Pulang ke negeri Belanda untuk


menerima perjodohan keluarganya.


Dengan dibantu oleh Sukirno dan Ginah, dia memasukan semua


barang-barang kedalam bagasi mobil. Setelah berpamitan juga menitipkan Jansen


kepada pembantu lelakinya, dia pun berangkat diiringi dengan lambaian dan air


mata.


Tepat di kelokan tajam penghubung Prigen dan Tretes, dia


memerintahkan sopirnya untuk berhenti sebentar.


Netranya menatap lurus ke arah rerimbunan pohon di hutan gunung


Ringgit.


Hampir satu setengah tahun yang lalu semenjak hilangnya Darsi dari


gubug penyiksaan. Dia telah memerintahkan para centeng untuk mencarinya.


Tapi hasilnya nihil. Bahkan dia sudah menyewa tenaga pribumi yang


mengenal baik daerah itu. Tetap saja tak berhasil.


Dia menghembuskan napasnya sembari membatin, “Nyai Darsi jika kamu


masih hidup. Tolong kembalilah ke Jansen. Aku sudah rela jika kalian bersatu


Setelahnya ia memerintahkan sang sopir untuk melanjutkan


perjalanan ke pelabuhan.


Di gua hutan gunung Ringgit.


Suara angin berhembus dengan keras disekeliling tubuh Darsi.


Percikan api mulai muncul disekitar kepalanya. Tetap dengan posisi bersila dan


memejamkan mata, segala keributan disekitarnya tak mampu membuat dia bergeming.


Dibalik punggungnya tampak ki Nogo yang sedang mengarahkan kedua


telapak tangan ke tubuh Darsi. Janggutnya yang panjang berkibar ke kiri dan


kanan mengikuti arah angin disekeliling tubuh mereka.


Ini adalah malam ketiga bagi ki Nogo menyalurkan ilmunya kepada


Darsi. Tak sedikit pun kelelahan menghampiri keduanya.


Dan saat ini bulan purnama bersinar penuh. Lolongan serigala

__ADS_1


bersahutan menyambut si empunya malam.


Tiba-tiba dari telapak tangan ki Nogo muncul sinar merah terang


melesat kedalam tubuh Darsi.


Tersentak dengan dorongan sinar itu, tubuhnya condong kedepan


sebentar sebelum akhirnya kembali ke posisi semula.


Mulutnya masih komat kamit menggumamkan kidungan, yang menjadi


mantra. Semakin lama semakin keras hingga tubuh ki Nogo mengeluarkan asap putih


dari ubun-ubun kepalanya.


Asap itu membentuk siluet laki-laki tua yang perawakannya mirip


dengan raga petapa itu. Dan dalam sekejap berubah menjadi manusia berkepala


ular. Lalu melesat masuk ke dalam tubuh Darsi.


Sedetik kemudian kekehan yang menimbulkan bulu kuduk nyaring


terdengar sampai keluar gua. Memecah kesunyian malam. Para binatang malam yang


semula riuh rendah terdiam seolah menyambut kedatangan sang makhluk dengan


perwujudan baru.


Dan gua itu kembali sunyi. Meninggalkan suara tetesan air yang


jatuh kedalam setiap ceruk yang berjejer disetiap sudut.


Gua hutan gunung Ringgit di pagi hari.


Darsi berguling-guling diatas tanah becek dalam gua itu. Sesekali mulutnya


mendesis dan menjulurkan lidah bercabang kesembarang arah. Matanya nyalang


menatap kedepan dengan pupilnya yang meruncing. Smirknya sesekali muncul


menampakan gigi taringnya yang mulai memanjang.


Ki Nogo mengamati perubahan itu dalam diam. Ketika Darsi tak mampu


menguasai iblis dalam tubuhnya. Dia mengarahkan telapak tangan kanannya ke


perempuan itu. Memusatkan pikirannya dan mengajaknya berkomunikasi.


“Nduk kendalikan keinginan iblis yang ada ditubuhmu. Jangan sampai


kamu dikuasai. Malam ini kekuatan dia akan penuh. Jika kamu mampu


menyudutkannya dalam bagian jiwamu. Maka kamu bisa mengendalikannya. Teruslah berusaha…kalahkan

__ADS_1


dia”.


Dan raga Darsi pun diam.


__ADS_2