
Tretes Prigen, jaman Belanda.
Membanting barang, pulang dalam keadaan mabuk kemudian tertawa dan
menangis sendirian adalah menu keseharian yang dilakukan Jansen.
Setelahnya dia akan tidur tertelungkup dikasur dengan memeluk
guling seolah sedang bersama istrinya.
Tak jarang pula Jansen langsung tertidur dilantai yang dingin,
sesudah melakukan aktifitasnya.
Jika sudah begini maka, Sukirno sang pembantu setia akan
mengangkat tubuh sang majikan meskipun dengan sedikit kesulitan.
Hampir dua tahun semua yang dia lakukan tak pernah bergeser
sedikitpun. Membuat Anne yang berharap banyak pada Jansen agar cintanya
terbalaskan dengan kepergian Darsi, pupus sudah.
Sedikit demi sedikit dia menyadari bahwa dunia Jansen adalah
perempuan pribumi yang cantik itu.
Walau tak sedikit yang ia lakukan demi membuat normal kehidupan
sang pria. Nyatanya tak bisa.
Dia semakin terpuruk ke alam hayalan. Istri dan anaknya seolah
masih disekitarnya.
Bahkan saat dia sudah tidak terpengaruh dengan minuman, tetap saja
kedua tangannya seolah memeluk wanita kesayangan.
Atau gerakannya kadang berganti menjadi menimang bayi serta
mulutnya komat-kamit menyenandungkan lagu pengantar tidur.
Batin seorang Anne Van Den Berg, yang arogan dan sombong menjadi
luluh. Menyisakan sesal berkepanjangan. Benak dan pikirannya penuh dengan,
“Andai saja. Andai tidak kulakukan” dan kalimat-kalimat pengandaian yang
semakin menghilangkan pesona kecantikan di wajahnya.
Seperti pagi ini. Setelah melihat keadaan Jansen yang semakin
terpuruk. Bergegas dia mengemas semua pakaian yang ditinggalkan dalam Loji. Ya
__ADS_1
tekadnya sudah bulat, bahwa dia akan pergi jauh. Pulang ke negeri Belanda untuk
menerima perjodohan keluarganya.
Dengan dibantu oleh Sukirno dan Ginah, dia memasukan semua
barang-barang kedalam bagasi mobil. Setelah berpamitan juga menitipkan Jansen
kepada pembantu lelakinya, dia pun berangkat diiringi dengan lambaian dan air
mata.
Tepat di kelokan tajam penghubung Prigen dan Tretes, dia
memerintahkan sopirnya untuk berhenti sebentar.
Netranya menatap lurus ke arah rerimbunan pohon di hutan gunung
Ringgit.
Hampir satu setengah tahun yang lalu semenjak hilangnya Darsi dari
gubug penyiksaan. Dia telah memerintahkan para centeng untuk mencarinya.
Tapi hasilnya nihil. Bahkan dia sudah menyewa tenaga pribumi yang
mengenal baik daerah itu. Tetap saja tak berhasil.
Dia menghembuskan napasnya sembari membatin, “Nyai Darsi jika kamu
masih hidup. Tolong kembalilah ke Jansen. Aku sudah rela jika kalian bersatu
Setelahnya ia memerintahkan sang sopir untuk melanjutkan
perjalanan ke pelabuhan.
Di gua hutan gunung Ringgit.
Suara angin berhembus dengan keras disekeliling tubuh Darsi.
Percikan api mulai muncul disekitar kepalanya. Tetap dengan posisi bersila dan
memejamkan mata, segala keributan disekitarnya tak mampu membuat dia bergeming.
Dibalik punggungnya tampak ki Nogo yang sedang mengarahkan kedua
telapak tangan ke tubuh Darsi. Janggutnya yang panjang berkibar ke kiri dan
kanan mengikuti arah angin disekeliling tubuh mereka.
Ini adalah malam ketiga bagi ki Nogo menyalurkan ilmunya kepada
Darsi. Tak sedikit pun kelelahan menghampiri keduanya.
Dan saat ini bulan purnama bersinar penuh. Lolongan serigala
__ADS_1
bersahutan menyambut si empunya malam.
Tiba-tiba dari telapak tangan ki Nogo muncul sinar merah terang
melesat kedalam tubuh Darsi.
Tersentak dengan dorongan sinar itu, tubuhnya condong kedepan
sebentar sebelum akhirnya kembali ke posisi semula.
Mulutnya masih komat kamit menggumamkan kidungan, yang menjadi
mantra. Semakin lama semakin keras hingga tubuh ki Nogo mengeluarkan asap putih
dari ubun-ubun kepalanya.
Asap itu membentuk siluet laki-laki tua yang perawakannya mirip
dengan raga petapa itu. Dan dalam sekejap berubah menjadi manusia berkepala
ular. Lalu melesat masuk ke dalam tubuh Darsi.
Sedetik kemudian kekehan yang menimbulkan bulu kuduk nyaring
terdengar sampai keluar gua. Memecah kesunyian malam. Para binatang malam yang
semula riuh rendah terdiam seolah menyambut kedatangan sang makhluk dengan
perwujudan baru.
Dan gua itu kembali sunyi. Meninggalkan suara tetesan air yang
jatuh kedalam setiap ceruk yang berjejer disetiap sudut.
Gua hutan gunung Ringgit di pagi hari.
Darsi berguling-guling diatas tanah becek dalam gua itu. Sesekali mulutnya
mendesis dan menjulurkan lidah bercabang kesembarang arah. Matanya nyalang
menatap kedepan dengan pupilnya yang meruncing. Smirknya sesekali muncul
menampakan gigi taringnya yang mulai memanjang.
Ki Nogo mengamati perubahan itu dalam diam. Ketika Darsi tak mampu
menguasai iblis dalam tubuhnya. Dia mengarahkan telapak tangan kanannya ke
perempuan itu. Memusatkan pikirannya dan mengajaknya berkomunikasi.
“Nduk kendalikan keinginan iblis yang ada ditubuhmu. Jangan sampai
kamu dikuasai. Malam ini kekuatan dia akan penuh. Jika kamu mampu
menyudutkannya dalam bagian jiwamu. Maka kamu bisa mengendalikannya. Teruslah berusaha…kalahkan
__ADS_1
dia”.
Dan raga Darsi pun diam.