
Desa daerah Lumajang.
Memasuki pedesaan yang jarang penduduknya, ketiga bocah yang masih
berusia tujuh tahun merasa kesulitan menemukan rumah Jansen.
Diujung senja yang mulai merangkak malam. Tak banyak warga
berkeliaran diluar rumah.
Mereka cenderung beristirahat melakukan aktifitas didalam setelah
seharian berada disawah atau pun berkebun.
Berjalan menyusuri desa serta bertanya ke setiap rumah yang
pintunya terbuka. Tak satu pun yang melegakan. Apalagi berkali-kali Jansen
berusaha kabur dari pengawasan mereka.
Sampai tepat disebuah rumah yang berukuran luas. Ketiga anak itu
menemukan seorang wanita paruh baya sedang menghidupkan lampu templok di sudut
gapura.
Saling menyenggol bahu memberikan kode untuk bertanya. Andi dan
Joko nyalinya menciut.
Keberanian berbanding terbalik. Saat mereka berhadapan dengan
musuh, kedua anak itu tak menampakan ketakutan sedikit pun.
Sedangkan berhadapan dengan seorang ibu seperti saat ini, keberanian
mereka luntur. Teringat dengan ibu kandung yang dirumah.
Apalagi guru ngajinya selalu mengatakan bahwa wanita itu harus
dimuliakan dan dihormati. Terlebih lagi seorang ibu.
Bandi yang sedang mengawasi kedua temannya dengan jarak sedikit
jauh, mulai mendekat.
“Sudah aku saja yang bertanya. Kalian awasi pak Jansen biar tidak
kabur seperti tadi” bisiknya.
Andi dan Joko pun mengedikan bahu. Mengacungkan jempol kanannya
sambil berjalan menuju Jansen.
“Assamualaikum, ibu”.
“Eh…wa-waallaikumsalam” sedikit terkejut dengan sapaan yang
tiba-tiba dari balik punggungnya.
Membalikan badan, netranya membulat dengan pemandangan dihadapan.
“Wah kamu ganteng sekali. Siapa namamu?”
“Bandi bu”.
__ADS_1
“Kamu bukan anak dari desa ini, kan?”
“Betul bu, kami dari desa sebelah” jawabnya sambil menunjuk
teman-temannya yang berdiri agak jauh.
Mengikuti gerakan tangan Bandi dengan pandangan, wanita paruh baya
itu pun terkejut.
“Pe-Peter. Apakah itu kamu?”
Yang ditanya hanya acuh. Sibuk dengan boneka kayu digendongan.
“Ya bu kami mengantarkan tuan Peter”.
“Oalah le, terima kasih. Bapaknya sudah mencari seharian ini. Bahkan
saat ini belum pulang, karena menghawatirkannya. Mari…mari masuk. Ajak temanmu
juga”.
“Joko…Andi sini! Bawa tuan Peter masuk rumah”.
“Siap” jawab keduanya sambil menggandeng pria gila itu memasuki
rumah.
Mbok Ginah menyiapkan ketela pohon rebus dan minuman jahe hangat
kepada tiga bocah itu. Setelahnya mengajak Jansen membersihkan diri di halaman
belakang.
sampai tersedak karena mengunyah sambil bersenda gurau dengan temannya.
“Hati-hati, Jok. Tak usah terburu-buru memakannya” kata Bandi
sambil menepuk-nepuk punggung Joko.
“Iya nih Joko. Makan saja sampai segitunya”.
“Uhuk…uhuk. Ma-maaf, habis enak sekali ini. Punel dan lengket di
mulut. Manis alami” sambil mengacungkan jempol tangan kiri.
“Wuuuh, kebiasaan” sahut Andi.
Ketiganya pun tergelak bersamaan.
“Assalamualaiku. Mbok…simbok. Apakah Jansen sudah pulang!”
Sebuah teriakan terdengar. Sontak senda gurau bocah-bocah itu
berhenti.
Menoleh ke pintu utama. Netranya menangkap sosok pria paruh baya
yang berbadan tegap.
Ketiganya pun berdiri memberi hormat, “Wallaikumsalam” jawabnya.
“Eh, siapa kalian, dimana mbok Ginah?”
“Ada dibelakang. Menunggu pak Jansen mandi” jawab ketiganya serempak.
__ADS_1
Merasa lucu dengan kekompakan bocah itu, dia pun tertawa.
“Kalian darimana, bagaimana ceritanya sampai disini?”
Bandi menjelaskan panjang lebar runtutan kejadian sampai mereka
mengantarkan Jansen kerumah ini. Sukirno pun manggut-manggut mengerti.
Dia sedikit memicingkan matanya saat sebuah pertanyaan terlintas
dikepalanya.
“Apakah kedua orang tuamu dari Belanda?” pertanyaan itu pun
meluncur dari mulut Sukirno.
Bandi agak kebingungan mendengar hal itu.
“Bu-bukan pak. Saya anak orang pribumi” jawabnya segera.
“Hem tapi fisikmu tidak demikian. Matamu biru, hidungmu mancung,
rambutmu agak kemerahan. Begitu juga dengan kulitmu. Tak tampak hitam legam
seperti kedua temanmu itu” tunjuknya dengan dagu.
“Apakah saya seperti itu?”
“Tentu saja bocah bagus. Aku sudah bertahun-tahun bekerja dengan
orang Belanda. Jadi aku sangat hapal dengan fisik mereka”.
“Sungguh?” dengan sedikit terkejut.
“Ya…Bahkan kamu tahu, putraku Jansen adalah majikanku. Dia asli
orang Belanda”.
Kekaguman tiga sahabat itu pun sempurna.
“Wah jadi benar kalau kamu bukan asli pribumi?” tanya Joko.
“Mana kutahu. Tanya simbok sana” sambil mengedikan bahu.
“Tapi jangan kuatir meskipun kamu bukan asli orang pribumi. Aku akan
tetap menjadi teman setiamu” kata Andi.
Ketiganya pun terkekeh pelan.
Sukirno hanya menggelengkan kepala melihat bocah-bocah yang sedang
berangkulan dihadapannya.
“Hari sudah larut. Apakah kalian mau menginap? Desa kalian jauh
dari sini. Kalau memaksa pulang, mungkin pagi baru sampai disana”.
“Bagaimana teman-teman?” tanya Bandi.
Merekapun berunding sebentar dan sepakat untuk menginap disana.
Sukirno pun mempersilahkan ketiga bocah itu untuk istirahat di
kamar tengah.
__ADS_1