
Macan putih raksasa itu diam diatas ceruk besar yang ada ditengah-tengah gua nan
lembab. Berkali-kali dia menguap saat rasa kantuk menyerangnya. Tak beranjak
sedikitpun tuk berpindah tempat keatas batu besar favoritnya dimana dia biasa
mengistirahatkan diri.
Karena di perutnya tengah bergelung Darsi yang sedang hamil besar.
Dia menggigau memanggil nama seseorang.
“Jansen mijn lieverd, kemarilah aku disini. Tidak kah kau merindukan ku dan anakmu?”
Kalimat itu diucapkannya berkali-kali dalam
keadaan badannya yang panas tinggi. Tubuhnya tampak bergerak menggigil.
Wajahnya pucat pasi serta keringat bercucuran dikeningnya.
Dengan ujung ekornya, harimau putih itu
menghapus air mata yang bercucuran. Ingin sekali dia memberikan kata-kata
penghiburan yang selama ini dilakukannya. Tapi tak bisa karena malam ini,
giliran dia berubah wujud menjadi seekor macan putih raksasa.
Hanya geraman yang acapkali keluar dari
mulutnya ketika kekuatiran semakin besar timbul dari sisi manusianya.
Semenjak ia tinggal bersama Darsi di gua itu,
wujud manusianya sering muncul. Fenomena yang tak pernah terjadi saat dia
tinggal sendirian disana.
“Apakah itu karena dia mulai mengasihi anak
manusia ini?”
Pertanyaan itu sering muncul di pikirannya.
Sudah enam bulan ini dia bertapa serta
mencari jawaban atas semua pertanyaan yang muncul, tapi tak sedikitpun ada
pencerahan.
“Mungkin besok, karena besok adalah malam
bulan purnama saat bersatunya elemen langit dan bumi. Aura kejahatan dan
kebaikan akan melebur. Dan aku bisa menjadi manusia seutuhnya lagi”, batinnya.
“Bangunlah nduk. Pulihkan kesadaranmu!”
kalimat ini disalurkan macan itu melalui alam bawah sadar Darsi. Sedangkan
ekornya berkali-kali mengusap wajahnya dengan penuh kasih sayang selayaknya
seorang ayah yang sedang melindungi putrinya.
Sementara itu di Loji Belanda wilayah Tretes.
“Ik ben thuis mijn lieve vrouw.
Ha....ha...ha. Mis je me?”
Dia tampak sempoyongan menuju kamar utama.
“Braak”.
Dibukanya pintu itu dengan kasar, berharap
orang yang dicintainya berdiri menyambut dengan pelukan hangat. Tapi tak ada.
Kembali dia tertawa sedetik kemudian dia
menangis. Dengan geram diraihnya semua barang-barang dalam kamar itu dan dilemparkannya
ke sembarang arah.
Kelelahan dia bersimpuh ditengah kamar dan
menangis.
“Darsi....Darsi mijn lieverd. Dimana kau
sayang, apakah kau tak merindukan kakang Belandamu ini? Hiks.....hiks”.
Tangisan itu begitu menyayat hati. Malam yang
tenang pun menjadi kacau oleh lolongan kesedihan dari mulut Jansen.
Sementara itu diluar kamar, Sukirno sang
penjaga loji yang setia hanya bisa menghembuskan nafas keras-keras sekedar
mengusir rasa sesak di dada. Dia sangat menyayangi majikannya. Saat melihatnya
dalam keadaan terpuruk karena kehilangan anak dan istrinya, batin dan jiwanya
__ADS_1
pun ikut larut dalam kesedihan.
Andai waktu itu dia bisa mencegah sang noni
membawa Darsi, mungkin saat ini tak ada kesedihan dalam loji ini. Terlalu larut
dalam suasana dia tak menyadarai bahwa suara Jansen sudah tak terdengar lagi, menghembuskan napas sebentar
sebelum pergi menuju kamar belakang untuk mengistirahatkan diri.
Loji di pagi hari.
“Jansen goedemorgen, apakah kamu siap menyambut hari yang cerah
ini?”
Ucap Anne sambil membuka tirai kamar lebar-lebar. Sedangkan yang
disapa hanya mengerjapkan matanya sebentar kemudian melanjutkan tidurnya.
“Oh kom op Jansen, tak inginkah kamu sekedar jalan-jalan menghirup
udara pagi dibawah sana atau melihat-lihat aktifitas penduduk pribumi?”
“Nee, aku malas. Jalan-jalan lah sendiri sana!”
Duduk disebelah tempat tidur, Anne menepuk-nepuk tangan Jansen
sayang.
Walaupun perlakuannya yang manis, Jansen tetap tak bergeming
dengan segala tingkah lakunya. Dia hanya melanjutkan mimpi indah yang sempat
terjeda oleh kegiatan Anne.
Tak beberapa lama kemudian dengkuran Jansen terdengar semakin
keras. Sedangkan Anne hanya menghembuskan napas sebentar sebelum meninggalkan
kamar Jansen.
Dalam mimpinya Jansen kembali ke dua tahun yang lalu saat pertama
kali bertemu dengan Darsi di pabrik gula Kediri.
Dia asli pribumi dengan kecantikan alami dan kulit eksotisnya,
mampu membuatnya terpesona disaat pandangan pertama.
Saat itu Jansen sedang melihat-lihat perkebunan tebu bersama
asistennya ketika secara tidak sengaja, telinganya mendengar tawa dan senda
di sisi utara perkebunan.
Seolah tak tertarik, Jansen tetap melanjutkan aktifitasnya sampai
menemukan bale tempat beristirahat para pekerja di sisi perkebunan.
Dia mengipasi tubuhnya yang berkeringat dengan topi yang ia
kenakan. Semua pegawai yang mengikuti serentak ikut diam sambil menunggu sang
presiden direktur untuk berjalan kembali.
Lama tak beranjak, para pegawai tersebut mulai bertanya-tanya.
Sehingga salah satu diantaranya memberanikan diri untuk membuka suara.
“Meneer, mari melanjutkan perjalanan. Hari semakin terik saatnya
untuk makan siang di kantor!”
“Aaah iya. Disini nyaman sekali pergilah kalian dulu saya akan
menyusul nanti!”
“Apakah anda yakin tuan?”
“Tentu saja”.
“Perlukah salah satu dari centeng mengikuti anda?”
“Nee, tinggalkan aku sendiri. Kalian tidak usah kuatir disini
banyak para pekerja. Jika terjadi sesuatu padaku, aku bisa meminta bantuan
mereka”.
“Baiklah kami pamit dulu meneer”.
“Pergilah!”
Saat sudah sendiri rasa penasarannya dengan suara merdu dari
perempuan di balik pepohonan tebu itu pun semakin besar lantas dia pun
mengendap-endap ke rerimbunan dan mengintip.
Disana netranya melihat Bargo sang centeng tengah duduk berduaan
dengan seorang gadis cantik berambut panjang. Sang centeng tampak tersenyum
__ADS_1
malu-malu dan sesekali tertawa terbahak mendengar lontaran candaan dari gadis
itu.
“Hem aneh, bagaimana bisa si Bargo itu tersenyum dan tertawa
seperti itu? Bukankah dia centengku yang paling tidak ada ekspresinya sama
sekali?” batinnya.
Semakin terpesona dengan gadis itu, Jansen jongkok dan menyembunyikan badannya ke dalam pohon tebu
yang siap panen.
Sementara dari kejauhan beberapa pekerja kebun yang sedang bekerja
tersenyum dan menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan absurd dari sang
majikan.
Netra Jansen melirik ke arah mereka dan mengangguk sebentar
sebelum melanjutkan kegiatannya.
Tiba-tiba dia dikagetkan dengan kemunculan Bargo dan gadis itu
dari balik pepohonan.
“Pagi meneer” sapa Bargo.
Mengurut dadanya sebentar sebelum menjawab, “Pagi”.
“Tuan sedang apa?”
Salah tingkah Jansen berpura-pura mengecek tanaman sambil memegang
daunnya.
“Ehem tentu saja mengecek tebu-tebu yang siap panen, Bargo. Kamu kira
apa yang saya lakukan disini”.
“Oh iya tuan, silahkan lanjutkan”.
“Kamu mau kemana? Apakah kamu tidak bekerja hari ini?”
“Jadwal saya libur hari ini tuan” jawabnya sambil menundukan
kepala sebentar.
“Ah iya”, menutupi kegugupannya dia mengalihkan pembicaraan
seputar pekerjaan. Sampai kedua orang itu hendak berpamitan padanya.
“Em Bargo, tidak kah kamu mau memperkenalkan adikmu itu padaku?”
“Ya meneer, saya sampai lupa. Dia bukan adik saya”.
“Lantas?”
“Dia….dia. Bargo menjadi gelagapan sendiri saat hendak memperkenalkan
Darsi kepada sang tuan. Apalagi saat ini pun sang gadis pujaan tengah menatap
intens padanya.
Sedangkan sang tuan sudah tidak sabar dengan kelakuan si centeng
dia pun menimpali.
“Apakah dia istrimu Bargo?”
“Bu….bukan tuan, dia adalah tetangga dan sahabat baik saya”
sahutnya dengan menghembuskan napas besar.
“Hem begitukah? Siapa namamu nyai?”
“Saya Darsi tuan” jawabnya malu-malu.
“Hem nama yang cantik secantik orangnya”.
“Ah tuan bisa saja. Terima kasih pujiannya.
“Sama-sama nyai. Em Bargo tidak kah kamu ingin menunjukkan lokasi
pabrik ke teman mu ini?”
“Saya ingin tuan, tapi kuatir tidak di ijinkan sama mandor pabrik”.
“Tidak apa aku akan menemani kalian untuk melihat-lihat, bagaimana
nyai?”
Gadis itu mengangguk senang mendengar ajakan dari sang presiden
direktur. Tak beberapa lama kemudian ketiganya meninggalkan perkebunan menuju
pabrik. Sepanjang perjalanan sang tuan banyak bertanya tentang gadis yang baru
dikenalnya kepada Bargo. Si centeng yang sangat setia kepada sang majikan pun
memberikan semua informasi apa adanya. Sedangkan Darsi yang menjadi pokok
__ADS_1
pembicaraan hanya bisa tersenyum malu-malu.