MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XXXI


__ADS_3

Macan putih raksasa itu diam diatas ceruk  besar yang ada ditengah-tengah gua nan


lembab. Berkali-kali dia menguap saat rasa kantuk menyerangnya. Tak beranjak


sedikitpun tuk berpindah tempat keatas batu besar favoritnya dimana dia biasa


mengistirahatkan diri.


Karena di perutnya tengah bergelung Darsi yang sedang hamil besar.


Dia menggigau memanggil nama seseorang.


“Jansen mijn lieverd, kemarilah aku disini. Tidak kah kau merindukan ku dan anakmu?”


Kalimat itu diucapkannya berkali-kali dalam


keadaan badannya yang panas tinggi. Tubuhnya tampak bergerak menggigil.


Wajahnya pucat pasi serta keringat bercucuran dikeningnya.


Dengan ujung ekornya, harimau putih itu


menghapus air mata yang bercucuran. Ingin sekali dia memberikan kata-kata


penghiburan yang selama ini dilakukannya. Tapi tak bisa karena malam ini,


giliran dia berubah wujud menjadi seekor macan putih raksasa.


Hanya geraman yang acapkali keluar dari


mulutnya ketika kekuatiran semakin besar timbul dari sisi manusianya.


Semenjak ia tinggal bersama Darsi di gua itu,


wujud manusianya sering muncul. Fenomena yang tak pernah terjadi saat dia


tinggal sendirian disana.


“Apakah itu karena dia mulai mengasihi anak


manusia ini?”


Pertanyaan itu sering muncul di pikirannya.


Sudah enam bulan ini dia bertapa serta


mencari jawaban atas semua pertanyaan yang muncul, tapi tak sedikitpun ada


pencerahan.


“Mungkin besok, karena besok adalah malam


bulan purnama saat bersatunya elemen langit dan bumi. Aura kejahatan dan


kebaikan akan melebur. Dan aku bisa menjadi manusia seutuhnya lagi”, batinnya.


“Bangunlah nduk. Pulihkan kesadaranmu!”


kalimat ini disalurkan macan itu melalui alam bawah sadar Darsi. Sedangkan


ekornya berkali-kali mengusap wajahnya dengan penuh kasih sayang selayaknya


seorang ayah yang sedang melindungi putrinya.


Sementara itu di Loji Belanda wilayah Tretes.


“Ik ben thuis mijn lieve vrouw.


Ha....ha...ha. Mis je me?”


Dia tampak sempoyongan menuju kamar utama.


“Braak”.


Dibukanya pintu itu dengan kasar, berharap


orang yang dicintainya berdiri menyambut dengan pelukan hangat. Tapi tak ada.


Kembali dia tertawa sedetik kemudian dia


menangis. Dengan geram diraihnya semua barang-barang dalam kamar itu dan dilemparkannya


ke sembarang arah.


Kelelahan dia bersimpuh ditengah kamar dan


menangis.


“Darsi....Darsi mijn lieverd. Dimana kau


sayang, apakah kau tak merindukan kakang Belandamu ini? Hiks.....hiks”.


Tangisan itu begitu menyayat hati. Malam yang


tenang pun menjadi kacau oleh lolongan kesedihan dari mulut Jansen.


Sementara itu diluar kamar, Sukirno sang


penjaga loji yang setia hanya bisa menghembuskan nafas keras-keras sekedar


mengusir rasa sesak di dada. Dia sangat menyayangi majikannya. Saat melihatnya


dalam keadaan terpuruk karena kehilangan anak dan istrinya, batin dan jiwanya

__ADS_1


pun ikut larut dalam kesedihan.


Andai waktu itu dia bisa mencegah sang noni


membawa Darsi, mungkin saat ini tak ada kesedihan dalam loji ini. Terlalu larut


dalam suasana dia tak menyadarai bahwa  suara Jansen sudah tak terdengar lagi, menghembuskan napas sebentar


sebelum pergi menuju kamar belakang untuk mengistirahatkan diri.


Loji di pagi hari.


“Jansen goedemorgen, apakah kamu siap menyambut hari yang cerah


ini?”


Ucap Anne sambil membuka tirai kamar lebar-lebar. Sedangkan yang


disapa hanya mengerjapkan matanya sebentar kemudian melanjutkan tidurnya.


“Oh kom op Jansen, tak inginkah kamu sekedar jalan-jalan menghirup


udara pagi dibawah sana atau melihat-lihat aktifitas penduduk pribumi?”


“Nee, aku malas. Jalan-jalan lah sendiri sana!”


Duduk disebelah tempat tidur, Anne menepuk-nepuk tangan Jansen


sayang.


Walaupun perlakuannya yang manis, Jansen tetap tak bergeming


dengan segala tingkah lakunya. Dia hanya melanjutkan mimpi indah yang sempat


terjeda oleh kegiatan Anne.


Tak beberapa lama kemudian dengkuran Jansen terdengar semakin


keras. Sedangkan Anne hanya menghembuskan napas sebentar sebelum meninggalkan


kamar Jansen.


Dalam mimpinya Jansen kembali ke dua tahun yang lalu saat pertama


kali bertemu dengan Darsi di pabrik gula Kediri.


Dia asli pribumi dengan kecantikan alami dan kulit eksotisnya,


mampu membuatnya terpesona disaat pandangan pertama.


Saat itu Jansen sedang melihat-lihat perkebunan tebu bersama


asistennya ketika secara tidak sengaja, telinganya mendengar tawa dan senda


di sisi utara perkebunan.


Seolah tak tertarik, Jansen tetap melanjutkan aktifitasnya sampai


menemukan bale tempat beristirahat para pekerja di sisi perkebunan.


Dia mengipasi tubuhnya yang berkeringat dengan topi yang ia


kenakan. Semua pegawai yang mengikuti serentak ikut diam sambil menunggu sang


presiden direktur untuk berjalan kembali.


Lama tak beranjak, para pegawai tersebut mulai bertanya-tanya.


Sehingga salah satu diantaranya memberanikan diri untuk membuka suara.


“Meneer, mari melanjutkan perjalanan. Hari semakin terik saatnya


untuk makan siang di kantor!”


“Aaah iya. Disini nyaman sekali pergilah kalian dulu saya akan


menyusul nanti!”


“Apakah anda yakin tuan?”


“Tentu saja”.


“Perlukah salah satu dari centeng mengikuti anda?”


“Nee, tinggalkan aku sendiri. Kalian tidak usah kuatir disini


banyak para pekerja. Jika terjadi sesuatu padaku, aku bisa meminta bantuan


mereka”.


“Baiklah kami pamit dulu meneer”.


“Pergilah!”


Saat sudah sendiri rasa penasarannya dengan suara merdu dari


perempuan di balik pepohonan tebu itu pun semakin besar lantas dia pun


mengendap-endap ke rerimbunan dan mengintip.


Disana netranya melihat Bargo sang centeng tengah duduk berduaan


dengan seorang gadis cantik berambut panjang. Sang centeng tampak tersenyum

__ADS_1


malu-malu dan sesekali tertawa terbahak mendengar lontaran candaan dari gadis


itu.


“Hem aneh, bagaimana bisa si Bargo itu tersenyum dan tertawa


seperti itu? Bukankah dia centengku yang paling tidak ada ekspresinya sama


sekali?” batinnya.


Semakin terpesona dengan gadis itu, Jansen jongkok dan  menyembunyikan badannya ke dalam pohon tebu


yang siap panen.


Sementara dari kejauhan beberapa pekerja kebun yang sedang bekerja


tersenyum dan menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan absurd dari sang


majikan.


Netra Jansen melirik ke arah mereka dan mengangguk sebentar


sebelum melanjutkan kegiatannya.


Tiba-tiba dia dikagetkan dengan kemunculan Bargo dan gadis itu


dari balik pepohonan.


“Pagi meneer” sapa Bargo.


Mengurut dadanya sebentar sebelum menjawab, “Pagi”.


“Tuan sedang apa?”


Salah tingkah Jansen berpura-pura mengecek tanaman sambil memegang


daunnya.


“Ehem tentu saja mengecek tebu-tebu yang siap panen, Bargo. Kamu kira


apa yang saya lakukan disini”.


“Oh iya tuan, silahkan lanjutkan”.


“Kamu mau kemana? Apakah kamu tidak bekerja hari ini?”


“Jadwal saya libur hari ini tuan” jawabnya sambil menundukan


kepala sebentar.


“Ah iya”, menutupi kegugupannya dia mengalihkan pembicaraan


seputar pekerjaan. Sampai kedua orang itu hendak berpamitan padanya.


“Em Bargo, tidak kah kamu mau memperkenalkan adikmu itu padaku?”


“Ya meneer, saya sampai lupa. Dia bukan adik saya”.


“Lantas?”


“Dia….dia. Bargo menjadi gelagapan sendiri saat hendak memperkenalkan


Darsi kepada sang tuan. Apalagi saat ini pun sang gadis pujaan tengah menatap


intens padanya.


Sedangkan sang tuan sudah tidak sabar dengan kelakuan si centeng


dia pun menimpali.


“Apakah dia istrimu Bargo?”


“Bu….bukan tuan, dia adalah tetangga dan sahabat baik saya”


sahutnya dengan menghembuskan napas besar.


“Hem begitukah? Siapa namamu nyai?”


“Saya Darsi tuan” jawabnya malu-malu.


“Hem nama yang cantik secantik orangnya”.


“Ah tuan bisa saja. Terima kasih pujiannya.


“Sama-sama nyai. Em Bargo tidak kah kamu ingin menunjukkan lokasi


pabrik ke teman mu ini?”


“Saya ingin tuan, tapi kuatir tidak di ijinkan sama mandor pabrik”.


“Tidak apa aku akan menemani kalian untuk melihat-lihat, bagaimana


nyai?”


Gadis itu mengangguk senang mendengar ajakan dari sang presiden


direktur. Tak beberapa lama kemudian ketiganya meninggalkan perkebunan menuju


pabrik. Sepanjang perjalanan sang tuan banyak bertanya tentang gadis yang baru


dikenalnya kepada Bargo. Si centeng yang sangat setia kepada sang majikan pun


memberikan semua informasi apa adanya. Sedangkan Darsi yang menjadi pokok

__ADS_1


pembicaraan hanya bisa tersenyum malu-malu.


__ADS_2