
Clark’s buildings.
Seorang pria duduk didepan meja kerjanya sambil memutar-mutar
kursi tiga ratus enam puluh derajat. Setiap gerakan yang dia lakukan mengikuti
jawabannya dari telepon genggam.
Saat terdengar kata, “Ya bos. Siap bos. Oke, sir”. Kembali dia
memutar kursi sebagai tanda senang dengan sahutan dari sana.
“Aku menunggumu, Dave dengan semua berkas-berkas itu,“ akhirnya
selesai sudah perbincangan mereka.
Kembali dia mengambil pena dari atas meja. Dan memulai membubuhkan
tanda tangannya pada semua dokumen yang sedikit berantakan karena gerakan tidak
teraturnya.
Clark bertingkah laku aneh hari ini. Menanda tangani file-file
dengan memilih seenak hatinya. Kadang mengambil dari posisi teratas. Lain waktu
menariknya dari tumpukan paling tengah. Atau menjepitnya keluar dari posisi
paling bawah.
Gerakan yang dia lakukan membuat berkas-berkas itu ambyar memenuhi
meja kerja. Kesibukan sang CEO terhenti kala seseorang memasuki ruangan dengan
membawa tumpukan dokumen yang baru di tangan.
“What the hell?” ungkapan yang keluar dari Clark.
“Manners, bos” sahut David sambil mendekati meja sang CEO lalu
meletakan dokumen yang dibawanya.
“Ha…ha…ha. Heems~kapan aku selesai dengan semua ini, Dave?”
“Tahun depan mungkin?”
“Jangan bercanda kamu”.
“Saya akan antar sisanya ke mansion”.
“Baiklah itu lebih baik”.
Meraih handle telepon, David menekan nomer dua. Menyuruh sang
sekretaris untuk mengambil berkas yang telah selesai diperiksa oleh Clark.
Tinggalah beberapa tumpukan di atas meja, setelah Nora
meninggalkan ruangan.
“Jadi bagaimana. Apa kamu sudah menyiapkan semuanya?”
“Sudah bos. Ini silahkan anda lihat?” sambil mengangsurkan tablet.
“Heems…emmmms…heemms”.
“Ha…ha…ha. Yang jelas bos kalau berbicara, jangan memakai bahasa
alien. Saya tidak paham”.
Memutar bola mata sebelum menjawab sang asisten. “Aku sedang
membaca, Dave. Jangan ganggu”.
“Perasaan yang saya ketikan bukan itu, sir”.
“Aku tahu-aku tahu”.
__ADS_1
“Lalu?”
“Haish, sudahlah. Tunggu sampai aku selesai. Nanti pembahasannya”.
“Ouh rupanya keberadaan gadis itu di mansion berpengaruh, yaah?”
Clark hanya melotot. Tak lama kemudian semburat merah memenuhi
wajahnya. “Dia blushing,” pikir Dave.
Menggelengkan kepala dan sedikit tersenyum dengan kelakuan absurd
sang bos.
“Well, aku suka dengan isi dokumen ini. Kamu bisa mengirimkan
kopiannya ke lawyer kita”.
“Oke”.
“Em Dave,” panggilnya lagi ketika sang asisten hampir mencapai
pintu.
“Ya bos”.
“Belikan semua baju dan perhiasan buat perempuan”.
“Ukuran wanita itu, bos”.
“That’s right,” ujarnya sambil menunduk malu.
“He’s blushing again,” gumam David lirih.
Menggelengkan kepalanya sebentar sebelum membuka pintu dan
menutupnya kembali. Meninggalkan sang CEO sendirian dalam ruangan. Yang kembali
sibuk dengan dokumen dan gerakan absurdnya.
Sementara sang asisten tengah berdiskusi sesuatu bersama Nora.
memilih semua outfit wanita secara online. Dan transaksi pun selesai, ketika
notifikasi aplikasi terbaca ‘barang tengah dikemas oleh penjual’.
“Oke Dave. It’s done”.
“Terima kasih, Nora”.
“Sama-sama, sir”.
Tepat jam lima belas kosong-kosong.
Clark tengah menempelkan telapak tangan kanannya ke sensor yang
ada didepan pintu rahasia. Setelahnya giliran retina mata hazelnya.
Bunyi gesekan pintu pun terdengar. Dia pun mengayunkan kakinya ke
dalam. Mengambil baju ritual berwarna hitam dari almari. Mengenakannya beserta
udeng merah.
Kemudian dia duduk di atas altar yang berbentuk klaper pipih.
Bersila serta memejamkan mata. Asap tipis muncul dari kepalanya dan melesat
keluar melalui celah rahasia.
Melayang sebentar di atas gedung. Dan melesat ke angkasa menuju
Australia. Kepulan itu berhenti tatkala mencapai mansion yang ada di pinggiran
kota.
Menuju lantai dua kekamar seorang wanita blonde yang tengah
__ADS_1
terlelap.
“Sarah…wake up!”
“Heemm,” hanya itu yang terdengar.
“Damn. Wake up, will you!”
Tak kunjung bangun, asap pun memudar dan memasuki telinga wanita
tersebut. Dan batuk-batuk mulai terdengar bersamaan dengan duduknya si empunya
kamar.
“What the hell, Clark. Kau menganggu tidurku!”
“Ha…ha…ha”.
“Tak bisakah aku istirahat dengan tenang. Keluar dari kepalaku,
brengsek”.
“Fine asal jangan tidur lagi”.
“Oke”.
Dengan masih terbatuk, Sarah menyibak selimut dan melemparkannya
ke samping. Bertelanjang kaki, dia menuju ke dapur di lantai bawah.
Mengambil air dingin dari kulkas, menenggaknya langsung dari
botol. Menetralkan napasnya sebentar. Setelahnya dia duduk dikursi makan
didekatnya.
Melotot ke arah asap yang mulai membentuk siluet Clark di hadapan.
“Oke, what do you want?”
“Bantu aku mengalahkan Ki Nogo”.
“What the hell? Kamu gila mau mengalahkan gurumu itu?”
“Dia bukan guruku”.
“Tapi dia induk dari ilmu yang kamu punya. Jadi secara tak
langsung dia adalah gurumu. Bodoh!”
“Jangan teriak, Sarah. Berisik tahu!”
“Halah kayak punya kuping saja kau. Mana ada asap punya telinga”.
“Aih, sudahlah. Bantu aku Sarah. Terbang ke Indonesia besok”.
“Tak bisakah aku membantumu dari sini?”
“Jangan ceroboh. Dia terlalu kuat walau ada seribu perwujudan sukma.
Jadi kita harus menghadapinya dengan raga kasar juga”.
“Hemms, fine”.
Meraih handphone yang ada dimeja, Sarah mengetikan sesuatu dan
memperlihatkannya pada Clark.
“See, aku sudah booking tiket online. Penerbangan awal. Jadi bisakah
kamu pergi sekarang?”
“Oke Sarah, thanks. Sampai ketemu besok. Mimpi indah”.
“Plop,” Clark pun lenyap.
“Mimpi indah gundulmu itu. Dia pikir aku bisa tidur lagi setelah
__ADS_1
gangguannya. Haiii…sudahlah lebih baik aku siapkan semua keperluan buat besok. Mungkin
aku bisa tidur lagi di pesawat nantinya”.