
Darsi yang terbebas dari kejaran para centeng terus berlari menjauh semakin memasuki hutan
belantara di kaki gunung ringgit. Ketika dirasa orang-orang suruhan Anne Van
Den Berg tak terdengar lagi suaranya dia mulai berhenti.
Menghempaskan bokongnya ke atas batu besar yang ada di situ dengan hati-hati. Dielusnya bayi
dalam perutnya sayang sekedar mengurangi kram yang dirasakannya saat berlari
dengan kencang tadi.
‘Maafkan emak sayang. Kamu harus kuat, kita harus tetap hidup agar bisa bertemu dengan
Vader mu’, bisiknya.
Dia menatap langit yang mulai menggelap. Suara binatang malam pun santer terdengar.
Kuatir akan keselamatan diri dan bayinya, Darsi pun mencari tempat untuk
berlindung.
Tak jauh dari tempatnya duduk, ia melihat gua yang mulutnya tertutup oleh semak belukar.
Pelan-pelan ia pun melangkah memasukinya.
Bau amis begitu menyengat saat ia melangkah semakin jauh ke dalam. Kegelapan yang
menyelimuti seluruh ruang, tak menyurutkan langkah tuk terus mencari sudut
ternyaman dari tempat itu.
Sepi, hanya suara langkah kaki dan deru nafasnya sendiri menggema ke seantero
ruangan. Telapak kakinya semakin perih saat menyentuh tanah lembab dalam gua
tersebut.
__ADS_1
Ketika keputus asaan mulai merajai hati, netranya menangkap sebuah tempat lapang dan bersih.
‘Hei aneh. Mengapa tempat ini lebih bersih dan nyaman’, gumamnya.
Tak berpikir panjang dia pun mulai merebahkan diri di atas ceruk gua yang lapang. Luasnya cukup
untuk ditempati orang dewasa dan ia pun memejamkan matanya.
Mansion Cartwright, di pagi hari.
‘Tok….tok’.
‘Cekleeek’.
‘Pagi tuan’.
‘Pagi, ya ada apa Wati?’
‘Maaf tuan ada Mr. Andrew di ruang tamu’.
‘Baik tuan’.
Jay menutup pintu kamar kembali dan segera menuju almari yang ada di sudut kiri
ruangan untuk berganti baju.
Suti yang baru saja selesai mandi, memandang suaminya heran.
‘Mau berangkat kantor Jay, ini masih terlalu pagi?’, tanyanya.
‘Em tidak. Aku ditunggu Andrew di ruang kerja’.
‘Apakah ada masalah di perusahaan?’, sedikit kuatir.
Sambil mengenakan kaos putih dan celana jean hitam dia berkata lagi.
‘Tidak ada. Bisakah kamu menyiapkan setelan resmiku untuk nanti. Aku akan menemuinya
__ADS_1
dulu’.
‘Baiklah’.
Gegas dia keluar menuju ruang kerja di lantai satu. Memasukinya dan duduk di balik meja
kayu jati berwarna coklat tua tempat ia bekerja.
Tatapannya intens ke arah Andrew.
‘Ada apa, bukankah aku sudah mengatakan untuk mengirimkan informasinya ke hand phone?’
‘Maaf bos ini tidak bisa ditunda. Karena ada kejanggalan saat Dina keluar dari club’.
‘Coba jelaskan!’, titahnya.
‘Silahkan lihat rekaman ini’, sambil mengangsurkan tablet ke atas meja.
Jay menerimanya dan memutar tombol play.
‘Heeem dia sepertinya sendirian dan dalam keadaan mabuk. Tak ada yang aneh dari rekaman
ini’, gumamnya.
‘Betul bos. Tapi coba lihat posisi dia saat masuk kedalam mobil’.
‘Heei kau benar Ndrew, bagaimana mobil ini bisa berjalan jika Dina duduk di kursi
penumpang sebelah sopir. Sedangkan tak seorang pun tampak sebagai sopirnya. Ini
aneh betul-betul aneh’, serunya kembali.
Kedua orang itu pun saling bertatapan penuh arti sebelum saling menganggukan kepalanya.
‘Selidiki plat nomer mobil itu!’
‘Baik bos’.
__ADS_1