MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XXIII


__ADS_3

Cartwright building.


“Tas nya tuan”.


“Hem”.


Memencet lift khusus petinggi perusahaan


menuju lantai delapan.


“Wuuuung”.


“Ting”.


Jay keluar dari lift dengan Andrew


mengekorinya. Berjalan lurus di koridor sampai di pintu ruang yang bertuliskan


Presiden Direktur.


“Silahkan tuan”, kata Andrew sambil


membukakan pintu.


“Terima kasih Ndrew. Duduklah ada yang ingin


kubicarakan”.


Melangkah menuju sofa tunggal dan


memposisikan diri didepan sang bos.


Sebelum membuka pembicaraan Jay memijit


pelipisnya seolah melepas beban berat dalam hati.


“Heem, begini. Aku ingin kamu mencari seseorang”.


“Seseorang bos?”


“Ya cari perempuan yang bernama Dona. Ciri


fisiknya sama dengan istriku hanya saja dia lima centi lebih pendek. Dia


bekerja sebagai waitres di Butterfly Night Club”.


“Oke bos”.


“Dan satu lagi cek CCTV di ruang privat club


itu. Fokuskan pada aktivitasku tadi malam disana. Aku ingin tahu apa Clark dan


David terlibat didalamnya”.


“Beres bos, aku akan menghubungi Jeff”.


“Bagus urusi segera!”


“Saya pamit bos”.


“Hem”.


Cartwright mansion.


Memandangi tulip dan mawar yang bergoyang


ditiup angin, membuat Suti tersenyum apalagi ketika netranya termanjakan dengan


warna warni bunga, sungguh ciptaan Tuhan yang tiada tandingannya. Sayang sekali


ketenangan jiwa yang dia rasakan saat ini harus terjeda oleh dering telepon


berkali-kali.


“Truuut.....truuut”.


Diambilnya benda itu di atas meja taman


disisinya.


“Halo, siapa ini?”


“Halo nyai. Apa kabarmu?”


Suti terhenyak hampir saja hand phone nya


terjatuh ke atas rerumputan mendengar suara itu.

__ADS_1


“Siapa kamu?”


“Apa nyai tidak ingat siapa aku? Suami yang


paling kau cintai ini”.


“What the hell? Suami......aku tidak mengenal


kamu. Suamiku adalah Jay, jangan bercanda”.


“Aku tidak bercanda nyai, coba tanyakan


hatimu. Raba perasaanmu dan gali ingatanmu”.


“Kamu gila ya”.


Menahan amarah karena merasa dipermainkan, Suti


mematikan telepon dan memblokir nomor asing tersebut.


“Ha......ha....ha. Segera nyai....segera kau


akan mengenaliku”, tawa berkepanjangan dari seberang sana terdengar.


“Heeemrmm”, Suti menggeram hati dan


pikirannya berkecamuk. Cemas berkepanjangan serta takut yang dia rasakan, mampu


membangkitkan sisi lain dari dirinya. Pupilnya mulai meruncing dengan sinar


mata berubah hijau. Smirk mengerikan muncul dari bibir mungilnya. Lidahnya pun


mulai terjulur bercabang.


“Sssssh, mau apa dia menganggu anak cucuku”,


desisnya.


“Jangan terpancing Dinda, yang dia inginkan


adalah kemunculanmu. Ingat keberadaan kita disini”.


“Ssssh, hal ini tidak akan terjadi jika waktu


itu Yunda tidak jatuh cinta pada lelaki itu”.


Yang penting kita harus melindungi Suti dari perbudakan manusia itu”.


“Sssssh...baiklah yunda, asal kamu tidak


mengulangi hal yang sama”.


Wati yang membawa minuman dingin dan cemilan


di nampan berjalan menuju taman. Dari kejauhan dia melihat nyonya mudanya yang


berbicara sendiri dengan kepala berlenggok kekiri dan kekanan seperti ular.


Merasa heran dia mendekat seraya berkata,


“Nyonya muda ini minuman dan cemilannya”,


sambil meletakannya di meja taman.


Suti tak menjawab, dia hanya menunduk.


Badannya tersentak sebentar sebelum merespon, “terima kasih Wati”.


Ia mengerenyitkan dahinya dan mendongak ke


arah majikannya. Ketika netranya melihat bahwa dia tampak normal seperti biasa


ia mengangguk penuh hormat. Sebelum pamit kembali kedalam mansion.


Hotel horizon, balkon kamar 302.


“Ha....ha.....ha”, tawa puas menggema


berkepanjangan.


“Dave kirim video itu ke hand phone ku!”,


titahnya.


“Baik bos. Kapan kita akan mengirimkannya?”


“Tunggu waktu yang tepat Dave, dia masih

__ADS_1


lemah. Sisi manusianya terlalu mendominasi saat ini. Kita harus bersabar”.


“Tentu, sir dan saya ada informasi dari orang


kita yang ada di club tentang penyelidikan yang dilakukan Andrew”.


“Kalian sudah membereskannya kan, termasuk CCTV


itu?”


“Tak masalah dengan itu, sir”.


“Ha....ha....ha. Aku suka dengan cara kerjamu


Dave”.


“Dan kamu Cartwright, lihatlah kemenanganku


sebentar lagi termasuk musnahnya keturunanmu. Yaah, Anne Van Den Berg, kamu


bisa menyaksikannya dari atas sana. Ha....ha”.


David hanya menggelengkan kepala melihat hal


itu.


Cartwright building.


“Tok....tok”.


“Masuk”.


“Duduklah Ndrew. Ada kabar apa?”, tanyanya


sambil meletakan dokumen yang ia pelajari.


“CCTV yang diretas orang kita, hanya


memperlihatkan wanita itu masuk keruangan bos, begitu Clark dan David keluar


ruangan”.


“Jadi?”


“Hanya bos dan wanita itu yang ada diruang


privat”.


“Damn, itu tidak mungkin. Meskipun aku


setengah sadar, aku masih ingat jika Clark ada didepanku duduk di sofa yang


sama dan melihat wanita itu mencumbuku. Aku yakin David pun ada disana”.


“Apa bos merasa ada editan dari hasil rekaman


itu?”


“Itu jelas Ndrew, suruh IT kita


menyelidikinya!”


“Baik bos”.


“Bagaimana dengan yang di hotel?”


“Hanya petugas hotel yang membantumu bos.


Wanita itu tak ada disana”.


“Huh, aku yakin dia kabur sesudah mendapatkan


apa yang di inginkan”.


“Maksud bos?”


“Yaah, pasti wanita itu punya maksud tertentu.


Dan ada konspirasi dengan Clark. Tapi aku masih belum pasti dengan tujuan


laki-laki itu. Dan mengapa dia mau menawarkan kerja sama yang sangat


menguntungkan perusahaan kita. Aku yakin ada maksud terselubung. Selidiki lagi


Ndrew, kerahkan anak buah kita!”


“Oke bos”.

__ADS_1


“Heem”.


__ADS_2