
Cartwright building.
“Tas nya tuan”.
“Hem”.
Memencet lift khusus petinggi perusahaan
menuju lantai delapan.
“Wuuuung”.
“Ting”.
Jay keluar dari lift dengan Andrew
mengekorinya. Berjalan lurus di koridor sampai di pintu ruang yang bertuliskan
Presiden Direktur.
“Silahkan tuan”, kata Andrew sambil
membukakan pintu.
“Terima kasih Ndrew. Duduklah ada yang ingin
kubicarakan”.
Melangkah menuju sofa tunggal dan
memposisikan diri didepan sang bos.
Sebelum membuka pembicaraan Jay memijit
pelipisnya seolah melepas beban berat dalam hati.
“Heem, begini. Aku ingin kamu mencari seseorang”.
“Seseorang bos?”
“Ya cari perempuan yang bernama Dona. Ciri
fisiknya sama dengan istriku hanya saja dia lima centi lebih pendek. Dia
bekerja sebagai waitres di Butterfly Night Club”.
“Oke bos”.
“Dan satu lagi cek CCTV di ruang privat club
itu. Fokuskan pada aktivitasku tadi malam disana. Aku ingin tahu apa Clark dan
David terlibat didalamnya”.
“Beres bos, aku akan menghubungi Jeff”.
“Bagus urusi segera!”
“Saya pamit bos”.
“Hem”.
Cartwright mansion.
Memandangi tulip dan mawar yang bergoyang
ditiup angin, membuat Suti tersenyum apalagi ketika netranya termanjakan dengan
warna warni bunga, sungguh ciptaan Tuhan yang tiada tandingannya. Sayang sekali
ketenangan jiwa yang dia rasakan saat ini harus terjeda oleh dering telepon
berkali-kali.
“Truuut.....truuut”.
Diambilnya benda itu di atas meja taman
disisinya.
“Halo, siapa ini?”
“Halo nyai. Apa kabarmu?”
Suti terhenyak hampir saja hand phone nya
terjatuh ke atas rerumputan mendengar suara itu.
__ADS_1
“Siapa kamu?”
“Apa nyai tidak ingat siapa aku? Suami yang
paling kau cintai ini”.
“What the hell? Suami......aku tidak mengenal
kamu. Suamiku adalah Jay, jangan bercanda”.
“Aku tidak bercanda nyai, coba tanyakan
hatimu. Raba perasaanmu dan gali ingatanmu”.
“Kamu gila ya”.
Menahan amarah karena merasa dipermainkan, Suti
mematikan telepon dan memblokir nomor asing tersebut.
“Ha......ha....ha. Segera nyai....segera kau
akan mengenaliku”, tawa berkepanjangan dari seberang sana terdengar.
“Heeemrmm”, Suti menggeram hati dan
pikirannya berkecamuk. Cemas berkepanjangan serta takut yang dia rasakan, mampu
membangkitkan sisi lain dari dirinya. Pupilnya mulai meruncing dengan sinar
mata berubah hijau. Smirk mengerikan muncul dari bibir mungilnya. Lidahnya pun
mulai terjulur bercabang.
“Sssssh, mau apa dia menganggu anak cucuku”,
desisnya.
“Jangan terpancing Dinda, yang dia inginkan
adalah kemunculanmu. Ingat keberadaan kita disini”.
“Ssssh, hal ini tidak akan terjadi jika waktu
itu Yunda tidak jatuh cinta pada lelaki itu”.
Yang penting kita harus melindungi Suti dari perbudakan manusia itu”.
“Sssssh...baiklah yunda, asal kamu tidak
mengulangi hal yang sama”.
Wati yang membawa minuman dingin dan cemilan
di nampan berjalan menuju taman. Dari kejauhan dia melihat nyonya mudanya yang
berbicara sendiri dengan kepala berlenggok kekiri dan kekanan seperti ular.
Merasa heran dia mendekat seraya berkata,
“Nyonya muda ini minuman dan cemilannya”,
sambil meletakannya di meja taman.
Suti tak menjawab, dia hanya menunduk.
Badannya tersentak sebentar sebelum merespon, “terima kasih Wati”.
Ia mengerenyitkan dahinya dan mendongak ke
arah majikannya. Ketika netranya melihat bahwa dia tampak normal seperti biasa
ia mengangguk penuh hormat. Sebelum pamit kembali kedalam mansion.
Hotel horizon, balkon kamar 302.
“Ha....ha.....ha”, tawa puas menggema
berkepanjangan.
“Dave kirim video itu ke hand phone ku!”,
titahnya.
“Baik bos. Kapan kita akan mengirimkannya?”
“Tunggu waktu yang tepat Dave, dia masih
__ADS_1
lemah. Sisi manusianya terlalu mendominasi saat ini. Kita harus bersabar”.
“Tentu, sir dan saya ada informasi dari orang
kita yang ada di club tentang penyelidikan yang dilakukan Andrew”.
“Kalian sudah membereskannya kan, termasuk CCTV
itu?”
“Tak masalah dengan itu, sir”.
“Ha....ha....ha. Aku suka dengan cara kerjamu
Dave”.
“Dan kamu Cartwright, lihatlah kemenanganku
sebentar lagi termasuk musnahnya keturunanmu. Yaah, Anne Van Den Berg, kamu
bisa menyaksikannya dari atas sana. Ha....ha”.
David hanya menggelengkan kepala melihat hal
itu.
Cartwright building.
“Tok....tok”.
“Masuk”.
“Duduklah Ndrew. Ada kabar apa?”, tanyanya
sambil meletakan dokumen yang ia pelajari.
“CCTV yang diretas orang kita, hanya
memperlihatkan wanita itu masuk keruangan bos, begitu Clark dan David keluar
ruangan”.
“Jadi?”
“Hanya bos dan wanita itu yang ada diruang
privat”.
“Damn, itu tidak mungkin. Meskipun aku
setengah sadar, aku masih ingat jika Clark ada didepanku duduk di sofa yang
sama dan melihat wanita itu mencumbuku. Aku yakin David pun ada disana”.
“Apa bos merasa ada editan dari hasil rekaman
itu?”
“Itu jelas Ndrew, suruh IT kita
menyelidikinya!”
“Baik bos”.
“Bagaimana dengan yang di hotel?”
“Hanya petugas hotel yang membantumu bos.
Wanita itu tak ada disana”.
“Huh, aku yakin dia kabur sesudah mendapatkan
apa yang di inginkan”.
“Maksud bos?”
“Yaah, pasti wanita itu punya maksud tertentu.
Dan ada konspirasi dengan Clark. Tapi aku masih belum pasti dengan tujuan
laki-laki itu. Dan mengapa dia mau menawarkan kerja sama yang sangat
menguntungkan perusahaan kita. Aku yakin ada maksud terselubung. Selidiki lagi
Ndrew, kerahkan anak buah kita!”
“Oke bos”.
__ADS_1
“Heem”.