MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB X


__ADS_3

Disebuah hotel ditengah kota.


‘Hei perempuan cepat bersihkan dirimu’, perintahnya kasar.


‘Apa mau mu, aku tidak mau disentuh oleh mahkluk menjijikan sepertimu. Awas saja kalau


kamu berani’, ku pasang kuda-kuda hendak menendangnya.


‘Jangan mimpi kamu siapa pula yang mau menyentuh barang bekas sepertimu. Ingat ya


meskipun kita sudah suami istri aku tak akan sudi memakai barang yang sudah


pernah dijamah orang’.


‘Baguslah kalau begitu, jadi aku tidak perlu repot-repot meladeni makhluk tidak jelas


sepertimu’, tukasku singkat.


‘Darimana dia punya pemikiran seperti itu’, batinku. ‘Aah biarlah memang gue pikirin’.


‘Blaaaam!’


pintu kamar dibanting.


Jay keluar dari ruangan itu dengan mata memerah dan mengepalkan tangan menuju sofa


ditengah ruang serta menjatuhkan tubuhnya. Tinjunya berkali-kali diarahkan ke


bantalan kursi yang ada didepannnya.


‘Buk….buk’,


bunyi pukulan beradu dengan bantalan yang empuk.


Tak kupedulikan. Hanya membersihkan riasan di wajah serta melepas hiasan rambut, ku


langsung merebahkan diri di ranjang kingsize serta tertidur pulas sembari


mengulas senyum kecil dibibir ini. Puas.


Ke esokan hari.


‘Truuuut…..truuuut’, bunyi telepon berkali-kali.


‘Halo, ya ma. Ada apa pagi-pagi menelepon?’


‘Kalian pulang kan hari ini Jay?’


‘Iya ma, nanti sesudah makan siang’.


‘Baguslah, mama tunggu ya’.


‘Oke’, sahutnya pendek sebagai tanda menyetujui permintaan.


Mendengar hal itu bergegas ku kamar mandi untuk membersihkan diri, sengaja kudahului Jay


yang masih sibuk menjawab pertanyaan mamanya. Guyuran air hangat dari shower


kunikmati dengan sepuas hati sembari bersenandung lagu Adele yang berjudul ‘Someone


like you’ sehingga mampu mengikis rasa kesalku padanya. Tak berlangsung lama


ketika terdengar gedoran dari pintu,


’Suti cepat keluar aku juga mau ke kamar mandi’.


‘Bentar nanggung nih’.


‘Kamu itu mandi apa tidur sih. Sudah siang aku lapar. Kamu mau aku mati kelaparan disini.


Pakai nyanyi-nyanyi segala, suara cempreng juga’.


‘Masih mending suaraku lah daripada Marcella mu itu’.


‘Jangan bawa-bawa dia dalam hal ini Suti atau……’.


‘Atau apa Jay, aku tidak takut’, tantangku.


Di kediaman Cartwright.


Setelah drama di hotel pagi tadi. Disinilah kita sekarang mansion keluarga Cartwright.


Tak terkejut dengan semua dekorasi indoor dan outdoor yang ada, aku seolah


memasuki dimensi lain dari ruang dejavu. Keakraban dengan semua hal yang


terpampang di depan mata. Membuatku berdehem pelan.


Sedangkan Jay hanya mengamati semua gerak-gerik ku dengan sorot mata tajamnya, sebengis


tatapan mata ular raksasa dalam mimpiku. Tak menghiraukan aku bertanya ke salah


satu asisten rumah tangga yang turut menyambut kedatangan kami di dekat tangga


lantai dua,


’Dimana ruang tidurku, apa yang disudut lorong itu?’, mengangkat dagu menunjuk.


‘Wati, bawa koper nyonya muda ke atas!’, sahut Jay tiba-tiba.


‘Iya tuan’.


‘Eh’, sentak ku kaget. Pelan-pelan mensejajarkan langkah ke Jay dan berbisik

__ADS_1


ditelinganya.  ‘Kita tidak tidur sekamar kan?’.


‘Ingat selama dirumah ini ada mama, jangan coba-coba kamu kabur ke kamar lain. Kita


harus menunjukan kemesraan sebagai suami istri sebenarnya, mengerti’, tegas


Jay.


‘Oke, baiklah’, sahutku lemas. Sembari mengekori Wati yang mulai menapaki tangga satu


persatu menuju ke lantai dua.


Saat makan malam di ruang makan.


‘Selamat malam sayang. Kamu segar sekali. Cukup istirahatnya?’, memeluk ku posesif.


‘Ehm iya tante. Selamat malam’, sahutku sopan.


‘Oh no, jangan panggil aku tante. Panggil mommy seperti yang dilakukan Jay.


Karena kamu sekarang bagian dari keluarga ini. Iya kan Jay?’,


ujarnya sembari mencium pipi Jay sayang.


‘Tentu mom, harus itu, betul kan honey?’,


jawab Jay sambil memeluk pinggangku erat.


‘Heem’.


‘Ayo kita makan’, jawab Jay sambil menarik


kursi untuk ku. ‘Mau makan apa sayang’, tawarnya lagi sambil mencium pipi


kananku mesra sebelum duduk di kursi setelahnya.


‘Apa saja sayang’, sahutku.


‘Kamu mau menu apa Indonesia, Chinnese apa Continental.


Semua sudah tersedia disini. Dan rasanya seperti masakan koki hotel horizon


tempat aku dulu pentas’, netranya melirik ku penuh maksud.


Aku hanya mampu melongo.


‘Jay jangan usil sama istrimu!’, menengahi.


‘Apa sih mam, aku hanya mengingatkan dia kenangan manis kita, ya kan sweety?’.


Kutendang kaki Jay dibawah meja sembari berbisik, ’jangan sok mesra deh lu’.


‘Ingat Suti perjanjian awal kita selama ada mama’, balas Jay berbisik pula.


Sementara itu mama hanya tersenyum melihat kelakuan kami berdua.


Tak lama kemudian semua pelayan yang ada di ruang makan mulai menghidangkan makanan


diatas piring sesuai dengan selera masing-masing. Aku yang tak terlalu suka


dengan menu kontinental hanya minta diambilkan menu chinnese dan Indonesia


yaitu capcay dan gado-gado favoritku. Untuk dessert, pudding buah menjadi


penutup makan malam yang canggung ini.


Netraku melirik ke piring Jay, dia memilih menu eropa lengkap dengan appetizer, main


course dan dessertnya. Terbersit dalam pikiran, ’dia seleranya telah berubah’.


Masih teringat dalam ingatan jika dulu kami suka sekali makan gado-gado neng


Hindun di pinggir jalan Arjuno, dekat kampus ‘Bens’.


Walaupun begitu banyak pilihan menu yang ramah di kantong, tak pernah sedikit pun dia


merubah makanan yang menjadi pilihanku. Dengan kata lain apa yang menjadi


seleraku Jay pun mengikutinya. Ia sangat memuja dan menyayangi seolah aku adalah


pusat dunianya.


‘Sudah selesai sayang’, tanyanya tiba-tiba.


‘Ehmm su-sudah,’ jawabku gagap.


‘Baguslah, mau langsung tidur apa nonton film dulu diruang home teater’.


‘Kamu punya ruang itu Jay?’,  tanyaku antusias.


‘Tentu saja’.


‘Jay bawa Suti mengenal ruangan dirumah ini satu persatu, biar tidak tersesat!’,  perintah mama.


‘Oke mam, aku akan ajak dia berkeliling’.


‘Baiklah, kalian anak muda bersenang-senanglah. Mama istirahat dulu dikamar’.


‘Selamat malam mam, mimpi indah’, ucapku sambil memeluknya.


‘Selamat malam sayang, kau juga. Selamat berpetualang’.


‘Terima kasih mam’, jawabku.

__ADS_1


Sepeninggal nyonya Laura Cartwright hanya kami berdua di ruangan ini. Kesunyian merajai


sampai beberapa menit, saat aku mulai bertanya,


‘Kita jadi kan touring keliling rumah’.


‘Hem’, jawabnya.


Dia adalah tour leader yang hebat, tak satu pun ruangan dalam mansion tertinggal untuk


dijelaskan secara gamblang. Ketika sampai disebuah ruangan yang tertutup pintu kayu jati berukiran jepara,


Jay berkata bahwa itu adalah museum keluarga tempat penyimpanan barang-barang


bersejarah keluarga, koleksi benda antik yang berusia seribu tahun.


‘Em…kita akan memasukinya Jay?’, tanyaku


penasaran ketika bahasa tubuhnya tak menampakan hendak membuka pintu ruang itu.


‘Tidak, aku tidak membawa kunci ruang ini. Dan kamu tidak boleh lancang memasukinya.


Bahkan semua orang di rumah ini tak boleh. Kecuali mama dan dua orang pegawai


kepercayaan keluarga kami yang biasanya membersihkan ruangan’.


‘Mengapa?’, tanyaku masih penasaran.


‘Aaah,sudahlah kamu tidak akan mengerti’.


‘Yaah terserah lah’, sahutku acuh.


Saat dikamar tidur.


Setelah menggosok gigi dan ambil air wudhu, ku


tunaikan sholat isya’ yang sedikit terlambat karena touring tadi. Kugelar


sajadah di sudut ruang, memanjatkan doa-doa yang tak pernah bosan ke hadapan


Illahi. Memohon ampun atas segala dosa serta meminta keselamatan.


Di atas tempat tidur Jay hanya memandangiku


dalam diam seolah ikut larut dalam doa serta berkata, ’amin’, dalam hati. Sorot


matanya melembut terkikis sudah kekejaman yang selalu ia tunjukan selama ini.


Aku sedikit tersenyum akan hal itu.


‘Kau tidak tidur’, tanya Jay tiba-tiba.


‘Mau, aku sudah mengantuk’.


‘Lalu mengapa hanya berdiri disitu saja.


Kemarilah’, perintah ia sambil menepuk-nepuk bantal disebelahnya.


‘Oh…..oh’, batinku. ‘Tidak aku tidak mau


terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan’, jawabku seketika.


‘Hal yang tidak kita inginkan’, sahut Jay


mulai kasar.


‘Emmm, itu hubungan suami istri’.


‘Apa salahnya dengan itu. Bukankah kita


pasangan yang syah’.


‘Tapi Jay bukankah kamu sudah berjanji tidak


akan menyentuhku sampai hatimu mau menerimaku kembali seperti dulu’.


‘Ah terserah lah. Lagi pula mana mau aku


menerima barang bekas pakai orang lain’, jawabnya ketus.


‘Apa maksudnya’, nadaku mulai meninggi.


‘Tidak usah teriak, bukankah yang aku katakan


itu benar’.


‘Sesukamu lah’, ujarku jengkel.


Hilang sudah keakraban natural yang terjadi


diantara kami beberapa saat yang lalu. Malam pun semakin beranjak dan aku


akhirnya memilih tidur di sofa sementar Jay merebahkan badannya dengan kasar di


atas ranjang kingsize itu.


Tidur dalam keadaan mendongkol, ku kerjapkan


mata berkali-kali berusaha menghapus rasa tak nyaman yang merajai perasaan,


betapa sulitnya. Sampai akhirnya terbayang wajah ibu kandungku dibenak, senyum


ku ulas di bibir sembari tertidur pulas.

__ADS_1


__ADS_2