
Tretes, jaman Belanda.
Terpuruknya Jansen karena kehilangan istri dan calon anaknya.
Membuat dia semakin gila.
Hanya menangis serta tertawa yang menemani keseharian. Untuk makan
dan mandi, ia mengandalkan Sukirno sang pembantu setia yang saat ini masih
mengurusnya.
Jansen adalah anak yatim piatu meskipun dia sukses sebagai
pengusaha. Tak satu pun yang peduli padanya apabila dia meninggal.
Saat ini hanya Sukirno serta mbok Ginah yang mengurusi semua
keperluannya. Walaupun secara materi tidak kekurangan.
Yah sebagai seorang presiden direktur sekaligus pemilik saham
terbesar dua perusahaan yang ada di Belanda maupun Indonesia. Aliran
keuangannya tak pernah macet, mengalir kedalam pundi-pundi pribadinya.
Sekarang yang menjadi kekurangan Jansen. Hanyalah ketidak warasan
otaknya.
Melihat semua yang ada di Loji itu sudah tak ada harganya lagi
bagi sang majikan. Maka Sukirno dan mbok Ginah memutuskan untuk membawa sang
majikan pulang ke kampung halamannya di Lumajang.
Kedua orang tua itu pun seperti mempunyai bayi besar lagi. Seperti
saat ini.
“Jansen…ayo mandi”.
“Ha…ha…ha. Tidak mau. Aku masih sibuk”, jawabnya masih dengan
berlarian mengejar kupu-kupu di belakang rumah.
“Sudah sore. Apa kamu tidak takut pada burung hantu yang akan
datang hari ini?” bujuknya kembali.
“Whiii…Dia akan datang lagi ya vader?”
“Tentu saja. Dia akan menggigitmu jika kamu tak mandi dan masuk
rumah”.
Kegiatannya pun berhenti seketika. Dia hanya mematung sebentar
kemudian mendongakan kepalanya ke pepohonan yang ada di sekitar halaman.
“Ha…ha…ha. Burung hantu mau menggigitku. Aku akan gigit balik dia.
Haem…haem” jawabnya dengan menggerakan kedua tangan seolah sedang memasukan
makanan ke dalam mulut.
“Sudah habis burung hantunya, nak?”
“Sudah…sudah” jawabnya kembali sambil melompat-lompat kegirangan.
“Anak pintar. Sekarang ke simbok ya. Bersihkan badanmu. Lalu makan
malam”.
“Baiklah. Tapi setelah itu aku didongengi ya. Biar bisa cepat
tidur seperti kemarin”.
“Tentu saja. Kalau Jansen jadi anak penurut nanti bapak kasih
hadiah dongeng yang banyak”.
“Yang banyaaak ya” gerakan tangganya membentuk bola yang sangat
besar.
__ADS_1
“Tentu le…tentu saja”.
Jansen pun mengikuti Sukirno menuju ke rumah sambil
melompat-lompat kegirangan.
***
Lima tahun kemudian.
Tiga orang bocah berusia tujuh tahunan sedang bermain di area
sawah yang baru saja panen. Mereka membawa ember dan seser bambu.
Bandi bocah yang paling ganteng, memberikan instruksi kepada
teman-temannya cara menangkap ikan. Umpan cacing yang ditunjukan membuat mereka
panen banyak ikan hari ini.
“Krucuuuuk” bunyi salah satu perut dari ketiga bocah itu.
“Kamu lapar, Joko?” tanya Andi kepada temannya yang paling gemuk.
“I-iya nih. Aku lapar sekali”.
“Bandi, bagaimana kalau kita bakar ikannya disini? Joko lapar
tuh!” seru Andi kepada temannya yang saat ini sibuk menyeser ikan ditengah
sawah.
“Oke”.
Matahari mulai lengser ke arah barat. Ketiga sahabat yang selesai
dengan acara makan siangnya sedang berbaring di rerumputan pinggir sawah.
Kenyamanan mereka terusik saat mendengar keributan sekelompok anak
laki-laki dan pria dewasa yang ada dibelokan jalan penghubung antara persawahan
dan desa.
“Londo gendeng. Londo gila”, teriak mereka beramai-ramai.
kesenangan.
“Jansen sinting…gila…gila,” kata mereka lagi bersahutan.
Anak-anak itu pun berjalan menuju pematang sawah dengan pria tak
waras yang selalu mengekori.
Tiba-tiba, “Hus. Pergi sana jangan ikuti kami!” salah satu anak
itu berkata sambil mengibaskan tangannya. Mengusir.
Yang diusir hanya menjulurkan lidah kemudian tertawa kembali.
Merasa tak senang salah satu anak itu mengambil lumpur dari
kakinya. Kemudian melemparkan ke muka Jansen keras. Dan tepat mengenai dahinya.
Kesakitan pria itu duduk menangis meraung-raung. Melihat hal itu
Bandi berlari menghampiri serta menghardik anak-anak nakal tersebut.
“Hei jangan ganggu dia. Tidak sopan!”
“Siapa kamu berani menganggu kesenangan kami?”
“Tidak penting siapa aku. Yang jelas kalian harus menghargai orang
yang lebih tua”.
“Cuih, dia itu tua tapi kelakuannya seperti anak kecil. Selalu mengikuti
kita kemana-mana. Aku hanya menyuruhnya pulang”.
“Tapi tidak dengan melemparinya dengan lumpur. Apa kalian punya
hati, hah!”
“Apa pedulimu dengan yang kami lakukan. Berani kamu menantang
__ADS_1
kami!”
“Siapa takut,” jawab Bandi sembari memasang kuda-kuda.
“Weleh, nantangin dia bos. Ladeni saja!” seru anak yang lainnya.
“Baik siapa takut. Ayo ikuti aku. Kita duel dilapangan sebelah
sana!” tunjuk anak itu keseberang sawah yang kering.
“Hayok siapa takut” jawab Bandi.
Rombongan kedua kubu itu pun berjalan beriringan menuju lokasi. Sedangkan
Jansen yang semula menangis, berteriak kegirangan serta melompat-lompat
mengikuti mereka.
Joko, Andi dan Bandi bersiap melawan tujuh orang anak bandel
dengan memasang kuda-kuda. Mereka mengepung ketiganya ditengah-tengah.
Tak tampak sedikit pun ekspresi ketakutan dari wajahnya.
Saat anak yang disebut si bos itu melayangkan tinju kemukanya,
Bandi menangkis dengan tangan kanan serta kakinya mengait ke arah lutut lawan. Sang
bos pun terjatuh.
Joko pun demikian dia berkelit kesamping dan kakinya menendang
perut serta dada dari dua orang penyerangnya. Mereka pun terpental dalam jarak
satu meter kebelakang.
Meskipun tambun, Joko sangat gesit dalam melakukan gerakannya.
Andi juga tak mau kalah. Dia melayangkan bogem dan jurus silatnya
ke sisa anak-anak tersebut dengan bunyi ‘Plak’ yang sangat keras. Muka mereka
pun bengkak dan membiru.
Merasa tak sanggup menghadapi, sang bos menyuruh anak buahnya
untuk mundur.
Rombongan anak bandel itu pun kocar-kacir meninggalkan arena duel.
Menyisakan Jansen yang tengah bertepuk tangan kesenangan.
Bandi menyeka keringat dari wajahnya sebelum menghampiri pria gila
itu. Kedua temannya pun mengikuti.
Saat sudah dekat dia sedikit terkejut dengan laki-laki gila
dihadapannya.
“Siapa namamu?” tanya Bandi.
“Hore…hore. Menang…” jawabnya tak menghiraukan.
Ketiganya pun bingung.
“Bagaimana ini?” tanya Joko.
“Yah mau bagaimana lagi. kita harus mengantarkan pria gila ini
pulang. Sebentar lagi malam. Aku kuatir dengan keselamatannya” jelas Bandi
panjang lebar.
“Hem baiklah” kedua temannya menyetujui.
“Aku pikir dia berasal dari desa di seberang jalan itu” kata Andi.
“Ayo kita coba saja. Nanti kalau tidak ketemu keluarganya. Aku akan
membawanya pulang kerumah simbok” tekad Bandi.
“Ayok”.
Serentak ketiga anak tersebut merapikan barang bawaan mereka
__ADS_1
kedalam ember. Setelah itu mengajak Jansen untuk mengikuti.
Sang pria gila dengan senang mengekori ketiganya menuju desa.