
Di kawasan gunung Gede Jawa Barat.
Empat orang pemuda berusia sembilan belas
tahun, baru saja turun dari pendakian. Tak tampak kelelahan dari wajahnya.
Keceriaan mereka bertambah dengan gurauan yang terlontar dengan saling dorong
ke arah semak-semak sepanjang jalan setapak yang dilalui. Begitu salah satu
diantaranya ada yang terjatuh ke semak, maka meledaklah tawanya.
Sedangkan yang menjadi korban hanya
cengengesan sembari mengusap tengkuk. Saat hampir seratus meter menuju pos
penjagaan, Bandi yang paling depan dari rombongan itu berbisik.
“Eh..eh. Lihat didepan sana tuh!”
“Ada apa Ben?”, tanya temannya.
“Lihat ada cewek berbaju merah. Lagi duduk
memandang matahari”, tunjuknya lagi.
“Mana?”, serentak mereka menjawab dan melihat
ke arah yang ditunjuk oleh Bandi.
Begitu tertangkap oleh netranya, ketiga
pemuda tanggung itu pun membeliak sempurna.
“Waduh, mau apa tuh perempuan sore-sore
begini menggoda iman”, kata Yanto.
“Lagi refreshing kali”, Bambang menimpali.
“Tapi ya tidak berpakaian seksi kayak begitu,
membuatku ngiler saja”, jawab Handi yang paling mesum.
Serentak ketiganya tertawa.
“Deketin yuk, ajak kenalan siapa tahu nanti
kita dapat teman ngobrol selama di angkot”, usul Ben.
“Ayook”, ketiganya kompak menjawab.
Dari balik pohon tempat perempuan itu
bersandar, Handi yang paling berani diantaranya mencoba berbicara.
__ADS_1
“Mbak boleh kenalan?”
Hening tak ada jawaban. Pun ketiga kalinya
dia mencoba berbicara.
“Eh, cantik-cantik sombong. Pulang yuk mbak
bareng kita-kita. Apa tidak takut sendirian disini. Kalau malam gelap loh”,
rayunya.
Tetap tak ada jawaban. Akhirnya dia menyerah
dan minta pendapat teman-temannya dengan memberi kode. Mereka yang tak tanggap
hanya ikut mengangguk saja. Bloon.
Gemas dengan reaksi ketiga temannya, Handi
menghampiri sambil bertanya,
“Gimana teman-teman?”
“Gimana apanya?”, tanya mereka kompak.
“Itu perempuan itu tidak mau menjawab. Bahkan
dia hanya sibuk menatap ke arah matahari tenggelam. Seolah melamunkan sesuatu”.
usul Yanto.
“Wei tumben kamu punya ide bagus”.
“Siapa dulu Yantoo”, Jawabnya sembari menepuk
dada.
“Whooo, sombong”, kedua temannya menimpali.
“Bagaimana kalau kita berempat saja yang
membujuknya”, usul Handi.
Ketiga temannya memegang dahu sebentar seolah
sedang berpikir.
“Heem baiklah”, jawab mereka kemudian.
Dengan mengendap-endap seolah tak ingin
menganggu wanita itu. Mereka menghampiri dan hendak membuka mulut. Saat akan
mengeluarkan suaranya tiba-tiba Bens berteriak,
__ADS_1
“Mayat ada mayat”.
“Mayat, ma....mana?”, tanya Handi
kebingungan.
“I....ini. Perempuan ini”.
Terlonjak kaget serentak mereka lari tunggang
langgang menuju pos jaga. Melaporkan temuan itu.
Gemetaran ke empatnya mencoba berbicara ke
petugas jaga. Bunyi ah....uh berkali-kali keluar dari mulutnya. Tak sabar
petugas itu pun memberikan air putih dalam botol.
Dirasa mulai fokus Yanto angkat bicara.
“Pak a....ada mayat”.
“Mayat, dimana mas?”
“Di...disana dekat dengan pohon jati yang
besar itu”
“Pohon jati kan banyak mas. Yang mana?”
Yanto garuk-garuk kepala merasa kesulitan
untuk menggambarkan. Matanya berkedip memberikan kode kepada teman-temannya
untuk menjelaskan.
Ketiganya pucat pasi sambil mencengkeram erat
botol minuman yang diberikan oleh petugas jaga. Merasa tak mendapatkan bantuan,
Yanto pun meraih lengan orang tersebut dan menariknya ke luar pos menuju
lokasi.
Jarak seratus meter dari pos jaga, ada mayat
seorang perempuan cantik bergaun merah tergeletak bersandar di pohon.
Dari kejauhan posisi wanita itu seolah sedang
melamun melihat matahari tenggelam. Meneliti dengan seksama, setelah merasa
yakin petugas itu pun menekan tombol Handy Talkie tuk menghubungi
rekan-rekannya.
__ADS_1