MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XXVI


__ADS_3

Di kawasan gunung Gede Jawa Barat.


Empat orang pemuda berusia sembilan belas


tahun, baru saja turun dari pendakian. Tak tampak kelelahan dari wajahnya.


Keceriaan mereka bertambah dengan gurauan yang terlontar dengan saling dorong


ke arah semak-semak sepanjang jalan setapak yang dilalui. Begitu salah satu


diantaranya ada yang terjatuh ke semak, maka meledaklah tawanya.


Sedangkan yang menjadi korban hanya


cengengesan sembari mengusap tengkuk. Saat hampir seratus meter menuju pos


penjagaan, Bandi yang paling depan dari rombongan itu berbisik.


“Eh..eh. Lihat didepan sana tuh!”


“Ada apa Ben?”, tanya temannya.


“Lihat ada cewek berbaju merah. Lagi duduk


memandang matahari”, tunjuknya lagi.


“Mana?”, serentak mereka menjawab dan melihat


ke arah yang ditunjuk oleh Bandi.


Begitu tertangkap oleh netranya, ketiga


pemuda tanggung itu pun membeliak sempurna.


“Waduh, mau apa tuh perempuan sore-sore


begini menggoda iman”, kata Yanto.


“Lagi refreshing kali”, Bambang menimpali.


“Tapi ya tidak berpakaian seksi kayak begitu,


membuatku ngiler saja”, jawab Handi yang paling mesum.


Serentak ketiganya tertawa.


“Deketin yuk, ajak kenalan siapa tahu nanti


kita dapat teman ngobrol selama di angkot”, usul Ben.


“Ayook”, ketiganya kompak menjawab.


Dari balik pohon tempat perempuan itu


bersandar, Handi yang paling berani diantaranya mencoba berbicara.

__ADS_1


“Mbak boleh kenalan?”


Hening tak ada jawaban. Pun ketiga kalinya


dia mencoba berbicara.


“Eh, cantik-cantik sombong. Pulang yuk mbak


bareng kita-kita. Apa tidak takut sendirian disini. Kalau malam gelap loh”,


rayunya.


Tetap tak ada jawaban. Akhirnya dia menyerah


dan minta pendapat teman-temannya dengan memberi kode. Mereka yang tak tanggap


hanya ikut mengangguk saja. Bloon.


Gemas dengan reaksi ketiga temannya, Handi


menghampiri sambil bertanya,


“Gimana teman-teman?”


“Gimana apanya?”, tanya mereka kompak.


“Itu perempuan itu tidak mau menjawab. Bahkan


dia hanya sibuk menatap ke arah matahari tenggelam. Seolah melamunkan sesuatu”.


usul Yanto.


“Wei tumben kamu punya ide bagus”.


“Siapa dulu Yantoo”, Jawabnya sembari menepuk


dada.


“Whooo, sombong”, kedua temannya menimpali.


“Bagaimana kalau kita berempat saja yang


membujuknya”, usul Handi.


Ketiga temannya memegang dahu sebentar seolah


sedang berpikir.


“Heem baiklah”, jawab mereka kemudian.


Dengan mengendap-endap seolah tak ingin


menganggu wanita itu. Mereka menghampiri dan hendak membuka mulut. Saat akan


mengeluarkan suaranya tiba-tiba Bens berteriak,

__ADS_1


“Mayat ada mayat”.


“Mayat, ma....mana?”, tanya Handi


kebingungan.


“I....ini. Perempuan ini”.


Terlonjak kaget serentak mereka lari tunggang


langgang menuju pos jaga. Melaporkan temuan itu.


Gemetaran ke empatnya mencoba berbicara ke


petugas jaga. Bunyi ah....uh berkali-kali keluar dari mulutnya. Tak sabar


petugas itu pun memberikan air putih dalam botol.


Dirasa mulai fokus Yanto angkat bicara.


“Pak a....ada mayat”.


“Mayat, dimana mas?”


“Di...disana dekat dengan pohon jati yang


besar itu”


“Pohon jati kan banyak mas. Yang mana?”


Yanto garuk-garuk kepala merasa kesulitan


untuk menggambarkan. Matanya berkedip memberikan kode kepada teman-temannya


untuk menjelaskan.


Ketiganya pucat pasi sambil mencengkeram erat


botol minuman yang diberikan oleh petugas jaga. Merasa tak mendapatkan bantuan,


Yanto pun meraih lengan orang tersebut dan menariknya ke luar pos menuju


lokasi.


Jarak seratus meter dari pos jaga, ada mayat


seorang perempuan cantik bergaun merah tergeletak bersandar di pohon.


Dari kejauhan posisi wanita itu seolah sedang


melamun melihat matahari tenggelam. Meneliti dengan seksama, setelah merasa


yakin petugas itu pun menekan tombol Handy Talkie tuk menghubungi


rekan-rekannya.

__ADS_1


__ADS_2