
Jay kembali terseret ke ruang dan waktu ketika berada di perusahaan
Dico Hotel and Travelling.
“Hei Jay lama tak jumpa. Bagaimana kabarmu?”
Dua sahabat saling berpelukan.
“Aah aku baik-baik saja. Kamu sendiri?”
“Sama Jay. I have been better than before” sambil tertawa.
“Apa yang membuatmu bahagia, heum?”
“Wanita Jay, apalagi?”
“Jangan…jangan kamu punya incaran baru ya?”
“Bingo, itu dia”.
“Kali ini siapa lagi? Dari club, anak magang ataukah partner one
night stand mu?”
“Tebakan yang salah sobat. Ha…ha…ha”.
“Lalu” tatapnya intens.
“Pegawai baruku”.
“Oh. Mana profesionalisme mu teman? Tumben membuat skandal di
kantor?”
“Bullshit semua itu. Pesona dia mengalahkan peraturan yang kubuat
di kantor ini. Bukankah peraturan dibuat untuk dilanggar?”
“Heh, gila lu ya”.
Serentak mereka tertawa bersama.
“Okay…okay. Ceritakan tentang dia yang membuat Mister perfeksionis
ini tertarik?”
“Dia cantik, anggun dan natural. Orangnya pandai. Dan satu lagi
pesonanya itu tak ada yang menandingi”.
“Maksudmu?”
“Inner beauty-nya Jay, yang membuat semua laki-laki tertarik padanya.
Aku yakin kamu pun begitu”.
“Heem, sepertinya aku familiar dengan pesona ini” batin Jay.
“Bisa kasih info biodatanya atau kenalkan aku padanya” lanjut Jay.
“Kau tidak berniat untuk berebut denganku, kan?”
“Hah, tidak lah. Aku hanya penasaran saja”.
“Tapi kalau kamu mau sama dia tak masalah Jay. Setelah aku selesai
dengannya. Bukankah itu yang sering kita lakukan?”
“Apa kamu berniat untuk menjadikan dia salah satu koleksimu?”
“Tentu saja”.
“Fine. Kenalkan aku dulu padanya. Setelah itu keputusan terakhir
kubuat. Mau memakai dia sesudahmu atau tidak”.
“Nanti sobat, tidak sekarang. Kita masih ada hal penting yang
harus dibicarakan, ingat?”
“Oke”.
Dico menelepon sekretarisnya melalui intercom, untuk membawa
berkas kerja sama dengan The Cartwright Company.
“Tok…tok”.
“Masuk” perintah Dico.
“Bos ini berkasnya”.
“Terima kasih Selly”.
“Sama-sama bos. Saya permisi”.
“Heum”.
Menyerahkan berkas ke Jodi, dia pun mempelajarinya. Meneliti
kalimat per kalimat yang tertera dalam folder tersebut. Kemudian membubuhkan
tanda tangan sebagai persetujuan.
Sedangkan Dico menambahkan tanda tangan setelahnya. Lalu
menyerahkan copy berkas asli satu bendel ke Jay. Sedangkan yang satunya dia
simpan sendiri.
Jay yang mulai muncul sifat jahilnya saat berdekatan dengan sang
sahabat mulai buka suara.
“Oke bagaimana dengan janjimu yang tadi?”
“Apaan?”
“Ayolah jangan ngeles kamu”.
“Tentang?” masih pura-pura bodoh.
“Haissh…wanita itu yang mengacak-acak si tuan sempurna”.
“Oh itu. Ha…ha…ha. Kamu itu, tidak bisa melihat barang bagus
nganggur ya”.
“Hei dia kan manusia bukan barang” sembari mengusap dagunya.
“Baiklah…baiklah. Tunggu sebentar”.
Dia pun beranjak dari duduknya menuju pintu sambil mengenggam
berkas di tangan kiri.
“Selly, bawakan aku biodata Suti! Dan ini simpan berkasnya
sekalian!” teriaknya dari pintu yang sedikit terbuka.
“Baik bos” sahutan dari balik pintu terdengar ke telinga Jodi.
“Su-Suti. Apa dia gadisku” pikir Jay. Menggelengkan kepala
sebentar, “Mungkin namanya saja yang sama, perusahaan ini kan bukan bidangnya?”
batinnya kembali.
Jay tersadar kala Selly telah berdiri disampingnya dengan
membawakan biodata yang dia inginkan. Menerimanya segera dan mengucapkan terima
__ADS_1
kasih.
Dengan perasaan yang tak terungkapkan, dia mulai membaca dokumen
yang tak terlalu tebal itu dengan teliti.
Kebahagiaannya tak dapat diukur saat mengetahui bahwa dia adalah
gadis yang selama ini di carinya. Jantungnya berdegup kencang dan binar-binar
cinta lama yang terpendam mulai bersemi kembali di dadanya.
Demi menjaga imej dari sang sahabat, Jay berdehem sebentar.
Menetralkan bahasa tubuh yang tak terkendali. Sebelum mengalihkan pandangan
dari berkas di depannya.
“Ja-di apa yang istimewa dari wanita ini, sehingga membuat tuan
sempurna begitu bahagia?”
“Damn you Jay. Apa kau tak bisa melihat kesempurnaan dia dari
fotonya?”
“Ya sempurna sih, tapi menurutku tidak sesempurna sekretarismu
itu”.
“Maksudmu si Selly?”
“Yap, siapa lagi”.
“Fuuuh. Sudahlah ngomong sama kamu payah”.
“Ha…ha…ha. Ayolah sobat jangan bilang kalau seleramu berubah”.
“Tidak tapi bila kamu berdekatan dengan wanita ini Jay. Aku yakin
pesonanya akan membuatmu tak tahan”.
“Jangan sok yakin kamu?” provokasinya.
“Haiiish…bagaimana kalau aku mengatur kencan dia denganmu?”
“Kena kamu!” batin Jay.
“Heem baiklah atur pertemuanku dengannya. Dan ingat harga diriku
sebagai CEO sangat tinggi. Jangan sampai seolah aku yang berminat untuk bertemu
dengannya. Oke friend” lanjutnya lagi sambil menepuk-nepuk punggung Dico yang
tampak sedikit emosi.
“He…he…he. Okelah itu bisa diatur” jawabnya dengan nada kalem.
“Kira-kira kapan kamu aturkan waktunya?”
“Secepatnya Jay…secepatnya”.
“Deal”.
***
“Truuuut…..truut”.
“Selamat pagi manajer pemasaran disini. Ada yang bisa saya bantu?”
“Lisa sambungkan dengan pak Yono”.
“Baiklah tunggu sebentar”.
Terdengar nada dering dari seberang. Dan percakapan pun mulai
terdengar.
“Bos…Selly di sambungan tujuh”.
“Hubungkan aku dengannya”.
“Baik bos”.
“Klik”.
“Halo, ada apa Selly?”
“Suti ada?”
“Ada, dia di depanku sekarang lagi buat presentasi untuk besok
lusa”.
“Suruh dia ke kantorku”.
“Tumben”.
“Bos besar minta dia mengantarkan file ke hotel horizon”.
“Kurir yang bertugas ditempatmu kemana?”
“Ada lagi ngantar dokumen ke restoran Daun. Wakil manajer
memerlukan tenaganya”
“Urgen ya dokumennya?”
“Sangat”.
“Baiklah aku suruh dia ke kantormu sekarang”.
“Oke”
Hotel horizon.
Suti berjalan tergesa-gesa menuju ruang pertemuan yang ada di
hotel. Diketuknya pintu dengan pelahan saat telinganya menangkap percakapan
presentasi disana.
Sejenak suara itu tak terdengar lagi, ketika dia membuka ruangan
dan netranya menangkap tiga orang pria yang sedang memperhatikan layar LCD di
depannya.
Serentak mereka menoleh padanya. Dengan sedikit gugup, Suti
menghampiri Dico serta menyerahkan dokumen yang dibawa.
Setengah berbisik Dico berkata, “Bawa file itu nanti saat makan
siang”.
“Baik bos. Dimana saya harus menunggu?” jawab Suti kalem.
“Tunggu di resto hotel, lantai satu. Dekat lobi tadi. Paham”.
“Paham bos. Saya permisi”.
Dico hanya melambaikan tangan sebagai jawaban.
Suti pun beranjak setelah membungkukan badannya sedikit. Menutup pintu
ruang meeting, menuju restoran. Kemudian telinganya kembali menangkap
pembicaraan serius dari dalam sana.
Menuju lift, dia melihat pergelangan tangannya sebentar. “Jam setengah
__ADS_1
satu. Berarti aku harus menunggu mereka setengah jam lagi” pikirnya.
“Ting”.
Tepat di hadapan pintu lift yang terbuka. Tanpa harus berbelok dia
memasuki ruang makan. Berbicara dengan waiter dan kemudian pelayan itu
mengantarnya ke meja yang telah direservasi oleh perusahaan.
Menghempaskan bokongnya ke kursi. Meminta waiter menyajikan jus
jeruk dan segelas air putih. Serta cemilan asin kegemarannya.
Petugas mencatat semua pesanan dan kembali ke dapur resto beserta
orderan dari sang pelanggan.
Tak beberapa lama pesanan Suti pun telah terhidang dimeja. Dia pun
menikmatinya dengan pelan sembari menunggu waktu.
Untuk mengurangi kebosanan, Suti membuka tablet perusahaan yang
dibawanya. Mencari file di menu explorer, kemudian mulai mengetikan sesuatu
disana.
Tak terasa waktu pun cepat berlalu. Dia mendengar langkah kaki
dibelakangnya. Kemudian, “mana dokumen ku Suti?”
Sedikit terkejut dia berdiri, “Oh…ini bos”.
“Hem, duduklah temani kami makan siang”.
“Apa saya tidak menganggu bos?” netranya sedikit melirik ke arah
lelaki disamping bosnya.
“Tidak. Bukan begitu Jodi?”
“Ehm ya. Tak masalah” sahutnya acuh.
Suti membeliakan matanya sebentar saat mengetahui rekan Dico.
“Kenalkan pegawai perusahaan rekanan sekaligus sahabatku”
sambungnya.
Mengangguk sedikit ragu, Suti pun mengulurkan tangan untuk
berjabatan. Saat keduanya bersentuhan, Jodi merasakan getar kebahagiaan di
relung hatinya. Hanya saja lelaki ini terlalu sombong untuk mengakui. Wajahnya tetap
datar dan sorot matanya memancarkan suasana hati yang dingin bagaikan balok es.
Suti melengos ke samping. Perasaannya mulai uring-uringan. “Dasar
sombong!” teriaknya dalam hati. Mengulas senyum, dia pun duduk kembali ke kursi
serta memesan menu makan siangnya.
Tak lama kemudian semua hidangan siap untuk dinikmati.
Dico melihat jam tangannya sebentar sebelum berpamitan kepada dua
orang tersebut. Dengan dalih masih ada pertemuan di resto lain.
Setelah menghabiskan dessert, dia mulai melangkahkan kaki menuju
pintu keluar dengan di ikuti oleh sang asisten pribadi.
Sedangkan Jodi tampak menyelesaikan makan siangnya dengan
perlahan. Dia begitu menikmati momen ini.
“Jadi bagaimana bisa…?”
“Maksudmu?”
“Kamu bekerja sebagai marketing di perusahaan Dico, bukankah itu
bukan bidangmu?”
“Ah, kebetulan mungkin? Waktu itu aku melamar sebagai tour leader
hotel. Tapi malah diterima di pusat administrasinya. Yaah, aku disini sekarang”.
“Kamu sendiri bagaimana? Seingatku bidang ini juga bukan ranahmu”
telisik Suti sambil menatap penampilan Jodi dari atas ke bawah.
“Ha…ha…ha. Faktor keberuntungan saja”.
“Kamu bos di perusahaan itu”.
“Hem tidak. Bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu?”
Meletakan serbet di meja. “Oh ya. Boleh aku menanyakan sesuatu?”
sambung Jodi.
“Apa itu?”
“Janji tidak marah?”
“Untuk apa harus marah, asal pertanyaanmu tidak terlalu rahasia”.
“Heum…baiklah. Apa kalian masih bersama?”
“Hendri maksudmu?”
“Ya dia”.
“Tidak. Dia menghindariku sejak kejadian di hotel dulu”.
“Mengapa?”
Suti hanya mengedikan bahu dan mengambil minuman di depannya. Dengan
sedotan dia menghabiskannya dengan bunyi ‘Sruuuuut’.
Jodi sedikit tersenyum saat melihat sang pujaan, yang tak pernah
menyembunyikan apa pun pada sikapnya, masih seperti dulu. Tak ada elegannya
sama sekali ketika menikmati makanan.
“Apa yang terjadi?”
“Entah lah, yang jelas dia menghindariku sesudah dari hotel itu. Aku
pun tak mau tahu lagi. Life must go on, kan?”
“Heum”.
Mereka berpisah di parkir restoran. Suti kembali ke kantor dengan
mobil perusahaan. Sedangkan Jodi naik taksi online.
Berjabat tangan sejenak serta saling berjanji untuk bertemu
kembali.
Di dalam mobil yang melaju pelan karena kemacetan kota, Jay
menetralkan degup jantungnya. Euphoria kebahagiaan yang tak terkendali. Serta janji
di dalam hati untuk merebut sang kekasih kembali ke dalam pelukan.
__ADS_1