
Pedesaan Prigen, jaman dulu.
Setelah pertemuan yang tidak disengaja, Sukirno mulai
mencari informasi tentang Bandi. Bocah yang membuatnya penasaran
setengah mati.
Dia melihat banyak persamaan fisik antara anak itu dengan
majikannya. Sehingga pagi ini, ia berpamitan pada sang istri untuk pergi ke
kampung sebelah. Serta mewanti-wantinya untuk tidak mengalihkan pandangan sedetik
pun dari Jansen. Mbok Ginah pun menyanggupi.
Bertanya kesana kemari pada setiap orang yang ditemuinya di
kampung Jarak. Akhirnya Sukirno duduk di bale depan rumah sederhana. Dengan
halaman yang luas serta tanaman obat-obatan disekeliling.
Dia duduk menunggu sambil mengipaskan topi kewajahnya, yang sudah
merah padam terkena sengatan matahari. Sedangkan sang tuan rumah nampak
terburu-buru berjalan menghampiri.
Mbok Rah sedikit terkejut saat netranya melihat ada orang Belanda
di beranda rumahnya. Dengan sedikit menunduk dia menghampiri serta menyapa.
“Pa-pagi ndoro”.
Merasa aneh dengan panggilan tersebut, Sukirno pun menoleh.
“Pagi mbok…mengapa kamu memanggilku seperti itu?”
Tetap dengan menunduk, “Bukankah memang seperti itu ndoro
seharusnya?”
Melihat cara berpakaiannya sebentar, Sukrino menyadarai sesuatu
dan,
“Ha…ha…ha. Ya… aku lupa kalau gaya berpakaianku seperti orang
Belanda. Maklumlah mbok, aku memang bekerja dengan mereka”.
Mendongakan kepala dan sedikit tersenyum, “Ah ya anda mirip dengan
mereka”.
“Mirip dari mana, Mbok? Ah sudahlah jangan panggil aku dengan
Ndoro lagi. Aku sama denganmu, orang pribumi”.
“Em baiklah. Ada perlu apa anda kemari?”
“Panggil namaku ‘Kirno’ saja, supaya lebih akrab. Dan kamu?”
“Saya Sugirah, biasa dipanggil mbok Rah”.
“Baiklah Girah, aku kira kita seumuran, kan?”
“Betul”.
__ADS_1
“Begini Rah…”
Lelaki itu pun menceritakan semua kejadiannya dan Girah pun
manggut-manggut mengerti. Lantas dia pun menceritakan asal muasal sampai Bandi
tinggal bersamanya.
Merasa ada kecocokan dengan peristiwa yang menimpa sang majikan.
Sukirno pun meminta ijin pada perempuan itu untuk sering-sering mempertemukan
Ayah dan anak tersebut. Dia pun menyetujui.
Jadilah saat ini Bandi menemani ayah kandungnya bermain di halaman
belakang rumah Sukirno. Hubungan keduanyan tidak akrab seperti orang tua dan
anak kandungnya.
Kebersamaan mereka, tampak seperti dua bocah yang sedang bermain
bersama. Malahan Bandi lebih mirip berperan sebagai kakak yang sedang mengasuh
seorang adik.
Yah, Jansen tidak bisa menjadi orang dewasa yang normal kembali.
Luka hatinya terlalu dalam menggores jiwa serta pikirannya. Walaupun dengan
kedatangan Bandi, dia sudah tidak lagi berkeliaran mengikuti anak-anak kampung.
Sukirno pun bingung. Dia memikirkan sebuah cara yang menurutnya bisa diandalkan.
Tepat malam Jumat Kliwon, dia duduk bersila dalam kamar gelap yang
ada dibagian belakang rumahnya. Menaburkan bubuk dupa keatas anglo, ia pun
“Ingsun memanggil empat elemen paku alam. Demi kekuatan langit dan
tanah, aku memanggilmu kakek moyangku!” setelahnya dia berdiri dan menghentak
kan kaki kanannya ke bumi sebanyak tiga kali.
Setelah itu kembali duduk
bersila dan memejamkan mata. Dan kidungan pemanggil arwah pun sayup-sayup
terdengar dari mulut pria tua itu.
Tiba-tiba asap mengepul memasuki kamar. Berputar didepan Sukirno
dan membentuk sosok petapa tua, yang berpakaian serba putih.
Janggut panjangnya berkibar mengikuti arus angin yang
melingkupinya. Setelah wujudnya sempurna, segala keributan itu pun hilang.
Menyisakan Sukirno dan petapa tua itu di kamar. Beserta asap dupa dari anglo
yang semakin merebak ke seluruh penjuru ruang.
“Bocah gendeng, mengapa kau memanggilku?”
“Nyuwun sewu eyang Nogo. Saya ada permasalahan yang pelik”.
“Ada apa ngger. Apa yang membuatmu prihatin?”
__ADS_1
“Ini tentang putraku Jansen eyang”.
“Heem, kamu ingin dia sembuh?”
“Nggih eyang. Saya kasihan padanya. Dia merindukan anak istrinya. Sudah
beberapa tahun semenjak kejadian itu. Saya juga sudah menemukan anaknya. Bahkan
mereka sudah dekat secara raga. Tapi tak ada yang berubah darinya. Apa yang
harus saya lakukan, ki?”
“Heeem” tampak ki Nogo menyibakan tangan ke depan. Dan memperlihatkan
refleksi kejadian di masa mendatang.
Sukirno pun bisa melihatnya dengan jelas. Lantas dia
mengkonfirmasikan dengan eyang buyutnya.
“Jadi saya harus membawanya pergi jauh, Ki?”
“Ya ngger, bawa dia pergi keluar dari negeri ini. Dia tidak boleh
dekat dengan keluarganya. Termasuk anaknya. Aku akan memberikan ilmu siluman
ular padanya. Jika anaknya ada disekitarnya, aku kuatir dia akan dijadikan
tumbal oleh ilmuku ini”.
“Apa itu dampaknya, Ki? Mengerikan sekali”.
“Betul ngger, oleh karena itu jauhkan dia dari bocah bagus itu. Kelak
keturunan dia yang akan bisa memusnahkan Nogo kembar milik ku”.
“Maksudnya, Ki?”
“Ilmuku kembar, Kirno. Satu sudah kuturunkan ke Darsi. Satu lagi
akan kuberikan pada Jansen. Mereka berpasangan. Dan saat ini yang di perempuan
itu masih lemah. Dia tidak akan bisa sekuat, apabila diwariskan ke sepasang
kembar laki-laki”.
“Jadi, Ki?” dia mulai memahaminya.
“Iya…ngger. Bawa dia pergi dari sini. Setelah ritualku selesai. Ajak
pula istrimu untuk menemanimu. Anak ini akan pingsan selama tiga hari. Saat itulah
kamu bisa membawanya”.
“Baik ki”.
“Heeem”.
Ki Nogo pun memulai ritualnya dengan menurunkan ilmu siluman
kembarannya pada Jansen. Setelah upacara itu selesai, pria bule itu tampak
tertidur pulas.
Petapa tua itu pun lenyap. Sukirno yang mengintip dari celah
dinding bambu kamar, menghela napas. Kemudian menyuruh anak buahnya, mengangkat
__ADS_1
sang majikan kedalam kendaraan dan mengantarkan ke pelabuhan.
Mereka pun berlayar menuju Amerika.