MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XLV


__ADS_3

Pedesaan Prigen, jaman dulu.


Setelah pertemuan yang tidak disengaja, Sukirno mulai


mencari informasi tentang Bandi. Bocah yang membuatnya penasaran


setengah mati.


Dia melihat banyak persamaan fisik antara anak itu dengan


majikannya. Sehingga pagi ini, ia berpamitan pada sang istri untuk pergi ke


kampung sebelah. Serta mewanti-wantinya untuk tidak mengalihkan pandangan sedetik


pun dari Jansen. Mbok Ginah pun menyanggupi.


Bertanya kesana kemari pada setiap orang yang ditemuinya di


kampung Jarak. Akhirnya Sukirno duduk di bale depan rumah sederhana. Dengan


halaman yang luas serta tanaman obat-obatan disekeliling.


Dia duduk menunggu sambil mengipaskan topi kewajahnya, yang sudah


merah padam terkena sengatan matahari. Sedangkan sang tuan rumah nampak


terburu-buru berjalan menghampiri.


Mbok Rah sedikit terkejut saat netranya melihat ada orang Belanda


di beranda rumahnya. Dengan sedikit menunduk dia menghampiri serta menyapa.


“Pa-pagi ndoro”.


Merasa aneh dengan panggilan tersebut, Sukirno pun menoleh.


“Pagi mbok…mengapa kamu memanggilku seperti itu?”


Tetap dengan menunduk, “Bukankah memang seperti itu ndoro


seharusnya?”


Melihat cara berpakaiannya sebentar, Sukrino menyadarai sesuatu


dan,


“Ha…ha…ha. Ya… aku lupa kalau gaya berpakaianku seperti orang


Belanda. Maklumlah mbok, aku memang bekerja dengan mereka”.


Mendongakan kepala dan sedikit tersenyum, “Ah ya anda mirip dengan


mereka”.


“Mirip dari mana, Mbok? Ah sudahlah jangan panggil aku dengan


Ndoro lagi. Aku sama denganmu, orang pribumi”.


“Em baiklah. Ada perlu apa anda kemari?”


“Panggil namaku ‘Kirno’ saja, supaya lebih akrab. Dan kamu?”


“Saya Sugirah, biasa dipanggil mbok Rah”.


“Baiklah Girah, aku kira kita seumuran, kan?”


“Betul”.

__ADS_1


“Begini Rah…”


Lelaki itu pun menceritakan semua kejadiannya dan Girah pun


manggut-manggut mengerti. Lantas dia pun menceritakan asal muasal sampai Bandi


tinggal bersamanya.


Merasa ada kecocokan dengan peristiwa yang menimpa sang majikan.


Sukirno pun meminta ijin pada perempuan itu untuk sering-sering mempertemukan


Ayah dan anak tersebut. Dia pun menyetujui.


Jadilah saat ini Bandi menemani ayah kandungnya bermain di halaman


belakang rumah Sukirno. Hubungan keduanyan tidak akrab seperti orang tua dan


anak kandungnya.


Kebersamaan mereka, tampak seperti dua bocah yang sedang bermain


bersama. Malahan Bandi lebih mirip berperan sebagai kakak yang sedang mengasuh


seorang adik.


Yah, Jansen tidak bisa menjadi orang dewasa yang normal kembali.


Luka hatinya terlalu dalam menggores jiwa serta pikirannya. Walaupun dengan


kedatangan Bandi, dia sudah tidak lagi berkeliaran mengikuti anak-anak kampung.


Sukirno pun bingung. Dia memikirkan sebuah cara yang menurutnya bisa diandalkan.


Tepat malam Jumat Kliwon, dia duduk bersila dalam kamar gelap yang


ada dibagian belakang rumahnya. Menaburkan bubuk dupa keatas anglo, ia pun


“Ingsun memanggil empat elemen paku alam. Demi kekuatan langit dan


tanah, aku memanggilmu kakek moyangku!” setelahnya dia berdiri dan menghentak


kan kaki kanannya ke bumi sebanyak tiga kali.


 Setelah itu kembali duduk


bersila dan memejamkan mata. Dan kidungan pemanggil arwah pun sayup-sayup


terdengar dari mulut pria tua itu.


Tiba-tiba asap mengepul memasuki kamar. Berputar didepan Sukirno


dan membentuk sosok petapa tua, yang berpakaian serba putih.


Janggut panjangnya berkibar mengikuti arus angin yang


melingkupinya. Setelah wujudnya sempurna, segala keributan itu pun hilang.


Menyisakan Sukirno dan petapa tua itu di kamar. Beserta asap dupa dari anglo


yang semakin merebak ke seluruh penjuru ruang.


“Bocah gendeng, mengapa kau memanggilku?”


“Nyuwun sewu eyang Nogo. Saya ada permasalahan yang pelik”.


“Ada apa ngger. Apa yang membuatmu prihatin?”

__ADS_1


“Ini tentang putraku Jansen eyang”.


“Heem, kamu ingin dia sembuh?”


“Nggih eyang. Saya kasihan padanya. Dia merindukan anak istrinya. Sudah


beberapa tahun semenjak kejadian itu. Saya juga sudah menemukan anaknya. Bahkan


mereka sudah dekat secara raga. Tapi tak ada yang berubah darinya. Apa yang


harus saya lakukan, ki?”


“Heeem” tampak ki Nogo menyibakan tangan ke depan. Dan memperlihatkan


refleksi kejadian di masa mendatang.


Sukirno pun bisa melihatnya dengan jelas. Lantas dia


mengkonfirmasikan dengan eyang buyutnya.


“Jadi saya harus membawanya pergi jauh, Ki?”


“Ya ngger, bawa dia pergi keluar dari negeri ini. Dia tidak boleh


dekat dengan keluarganya. Termasuk anaknya. Aku akan memberikan ilmu siluman


ular padanya. Jika anaknya ada disekitarnya, aku kuatir dia akan dijadikan


tumbal oleh ilmuku ini”.


“Apa itu dampaknya, Ki? Mengerikan sekali”.


“Betul ngger, oleh karena itu jauhkan dia dari bocah bagus itu. Kelak


keturunan dia yang akan bisa memusnahkan Nogo kembar milik ku”.


“Maksudnya, Ki?”


“Ilmuku kembar, Kirno. Satu sudah kuturunkan ke Darsi. Satu lagi


akan kuberikan pada Jansen. Mereka berpasangan. Dan saat ini yang di perempuan


itu masih lemah. Dia tidak akan bisa sekuat, apabila diwariskan ke sepasang


kembar laki-laki”.


“Jadi, Ki?” dia mulai memahaminya.


“Iya…ngger. Bawa dia pergi dari sini. Setelah ritualku selesai. Ajak


pula istrimu untuk menemanimu. Anak ini akan pingsan selama tiga hari. Saat itulah


kamu bisa membawanya”.


“Baik ki”.


“Heeem”.


Ki Nogo pun memulai ritualnya dengan menurunkan ilmu siluman


kembarannya pada Jansen. Setelah upacara itu selesai, pria bule itu tampak


tertidur pulas.


Petapa tua itu pun lenyap. Sukirno yang mengintip dari celah


dinding bambu kamar, menghela napas. Kemudian menyuruh anak buahnya, mengangkat

__ADS_1


sang majikan kedalam kendaraan dan mengantarkan ke pelabuhan.


Mereka pun berlayar menuju Amerika.


__ADS_2