
Mansion Cartwright, di pagi hari.
“Tok….tok”.
“Cekleeek”.
“Pagi tuan”.
“Pagi, ya ada apa Wati?”
“Maaf tuan ada Mr. Andrew di ruang tamu”.
“Suruh dia menunggu di ruang kerjaku. Aku akan ganti baju dulu”.
“Baik tuan”.
Jay menutup pintu kamar kembali dan segera menuju almari yang ada
di sudut kiri ruangan untuk berganti baju.
Suti yang baru saja selesai mandi, memandang suaminya heran.
“Mau berangkat kantor Jay, ini masih terlalu pagi?”, tanyanya.
“Em tidak. Aku ditunggu Andrew di ruang kerja”.
“Apakah ada masalah di perusahaan?”, sedikit kuatir.
Sambil mengenakan kaos putih dan celana jean hitam dia berkata
lagi.
“Tidak ada. Bisakah kamu menyiapkan setelan resmiku untuk nanti?
Aku akan menemuinya dulu”.
“Baiklah”.
Gegas dia keluar menuju ruang kerja di lantai satu. Memasukinya
dan duduk di balik meja kayu jati berwarna coklat tua tempat ia bekerja.
Tatapannya intens ke arah Andrew.
“Ada apa, bukankah aku sudah mengatakan untuk mengirimkan
informasinya ke hand phone?”
“Maaf bos ini tidak bisa ditunda. Karena ada kejanggalan saat Dina
keluar dari club”.
“Coba jelaskan!”, titahnya.
“Silahkan lihat rekaman ini!”, sambil mengangsurkan tablet ke atas
meja.
Jay menerimanya dan memutar tombol play.
“Heeem dia sepertinya sendirian dan dalam keadaan mabuk. Tak ada
yang aneh dari rekaman ini”, gumamnya.
“Betul bos. Tapi coba lihat posisi dia saat masuk kedalam mobil!”
“Heei kau benar Ndrew, bagaimana mobil ini bisa berjalan jika Dina
duduk di kursi penumpang sebelah sopir. Sedangkan tak seorang pun tampak
sebagai sopirnya. Ini aneh betul-betul aneh”, serunya kembali.
Kedua orang itu pun saling bertatapan penuh arti sebelum saling
menganggukan kepalanya.
“Selidiki plat nomer mobil itu!”
“Baik bos”.
Sebentar kemudian Andrew mengetikan sesuatu di laptopnya. Dengan
lincah kedua jemari tangannya bergerak kesana kemari menjelajah seluruh
keyboard di depannya. Netranya hampir tak berkedip sama sekali memandangi semua
informasi yang muncul di layar.
__ADS_1
Begitu dia menemukan yang dicari, ditekannya tombol enter dengan
sedikit keras.
“Got you!” serunya senang.
Jay yang semula memunggungi sambil melihat mama dan istrinya di
taman bunga segera menoleh.
“Kau mendapatkannya Ndrew?”
“Ya bos, mobil itu atas nama keluarga Robinson dari Clark
Brother’s”.
“Damn bagaimana bisa, bukankah mereka sudah meninggalkan Indonesia
satu abad yang lalu?”
“Em itu benar, sir. Tapi apakah anda lupa ada keturunanya disini?”
“Oh ****, kau benar. Mr. Clark ya…dia adalah keturunan langsung
dari Robinson”.
“Betul bos”.
“Kabar terakhir yang kudengar keluarga itu mengalami perpecahan
Ndrew. Jika Clark saat ini sebagai CEO dari perusahaan itu, bukankah berarti
dia pemenangnya?”
“Asumsi yang tepat bos”.
“Itu tidak mungkin kan jika dia masih menyimpan segala sesuatu
tentang Robinson, termasuk mobil itu”.
“Itu juga benar bos”.
“Aku juga merasakan ke anehannya Ndrew. Selidiki lagi kerahkan
anak-anak dari base camp”.
“Oke, sampai bertemu di kantor Ndrew”.
“Baik bos saya permisi”.
“Heem”.
Hotel horizon kamar 302.
Clark terbangun tepat pukul lima belas sore hari. Bunyi perutnya
yang lapar, membuatnya tak bisa melanjutkan mimpi indahnya.
Pada saat netranya terbuka dia tak melihat keberadaan seorang pun
di kamar itu, disibakan selimut yang menutupi tubuh sebelum berdiri meraih
telepon yang ada di meja kamar.
“Truuut….truut”.
“Morning Dave”.
Terdengar tawa tertahan dari seberang sana.
“Hei apa yang membuatmu tertawa?”
“Sapaan anda bos”.
“Apa yang salah dengan itu?”
“Maaf apa anda sudah melihat jam, sir?”
Clark hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tersenyum sebentar
dan memencet hidungnya pelan sebelum menjawab.
“Eem, ternyata hari sudah sore ya”, jawabnya sembari melirik jam
dinding di sudut kiri atas tempat dia berdiri.
“Pantas aku lapar sekali”, lanjutnya.
__ADS_1
“Anda mau makan apa, sir?”
“Pesankan semua menu yang terbuat dari nasi Dave!”
“Semua sir?”
“Iya semua”.
“Anda yakin? Ada lima belas macam menu yang terbuat dari nasi di
restoran ini”.
“Pesankan lima macam saja Dave, melalui layanan kamar!”
“As yo wish, sir”.
“Good”.
Lima belas menit kemudian terdengar suara pintu yang terbuka dan
David yang memerintahkan room boy untuk meletakan makanan yang dia pesan ke
meja.
Saat hendak mempersilahkan sang bos untuk menyantap hidangan yang
ada, diurungkannya niat itu. Karena netranya tak menangkap satu bayangan pun.
Gemericik air dari shower kamar mandi terdengar jelas dari
tempatnya berdiri saat ini. Senandung lagu Adele yang berjudul ‘Someone like
you’, terdengar samar ke telinganya. Dia pun tersenyum simpul dan duduk di
kursi dengan tenang sambil mulai membuka laptop dihadapannya.
Mencari channel televisi news Indonesia. Sedetik kemudian ia mulai
fokus menonton perkembangan berita Dina.
“Ada kabar terbaru Dave?”
Tersentak dengan sapaan bosnya yang tiba-tiba.
“Hei bos, masih belum”.
“Tak sedikit pun?” sambil menatapnya intens.
“Mereka hanya menambahkan informasi jika Dina fix korban pembunuhan”.
“Itu pasti”, jawabnya sangat yakin.
“Anda tahu yang saya tidak tahu, sir?”
“Ha….ha….ha. Ah sudahlah, aku lapar mana makanannya Dave?”
“Ada di meja sir, silahkan makan!”
“Hem”.
Melangkah menuju meja makan yang ada ditengah kamar, Clark melahap
habis semua menu tanpa tersisa. Sedangkan Dave menatap heran tingkah laku sang
bos, yang seolah habis bekerja sangat keras sehingga memerlukan asupan energi yang
sangat banyak itu.
Sesaat setelah dia meletakan serbet ke atas meja, David pun menjelaskan
tentang jadwalnya besok untuk mengunjungi pembangunan pabrik yang ada di daerah
Pakis.
Mendengar bahwa semua rencana kerjanya sempurna, Clark mengangguk
dan meraih rokok yang ada atas meja kecil dekat tempat tidur. Menyalakan,
kemudian berjalan pelan menuju balkon.
Netranya melihat ke jalanan sebentar dan detik berikutnya
mendongak ke arah birunya langit yang mulai tertutup mendung. Menghembuskan asap
rokok dari mulut perlahan, dia pun menikmati lamunan yang mulai merajai alam
pikirannya.
__ADS_1