MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XXI


__ADS_3

Perempuan bercadar itu berkali-kali menampar wajah seseorang yang


terikat dikursi sambil mengucapkan kata-kata kotor.


“Hoer, weet niet in winst. Murahan”.


Lelaki yang ada di sisinya hanya menatap


kasihan kepada wanita yang dipukulinya berkali-kali itu. Tatkala perempuan itu


meminta cambuk yang terselip diantara dinding gubug, dia melangkah dengan penuh


keraguan,


“Cepat bargo, ambilkan cambuk itu. Aku ingin


menghajar perempuan ini sebelum melemparkannya ke dasar jurang dibawah sana”,


bentaknya kasar.


Perempuan yang di kursi itu semakin melotot


ketakutan.


“Ta....tapi non”.


“Bargooo, aku yang membayarmu ingat itu dan


kamu tidak boleh membantah”.


“I....iya non”.


Gegas ia menuju dinding gubug tuk mengambil


dan menyerahkan cambuk itu kepada nonanya.


“Cetar.....cetar”, dengan sekuat tenaga ia


mengayunkan benda itu.


Sedangkan perempuan yang terikat itu semakin


tak berdaya. Tubuhnya telah penuh luka dengan pukulan hingga cambukan yang


diterimanya saat ini. Kekejaman yang semakin menyakiti tubuhnya, membuat ia

__ADS_1


pingsan.


“Huh....dasar. Kamu tak akan kubiarkan mati


dengan mudah, nyai. Ingat hidupmu itu milik ku. Hanya milik ku, ha......ha....ha”,


melepas cadarnya dan meninggalkan perempuan itu sendiri di gubug.


“Bargo, kasih perempuan itu makan begitu dia


sadar”.


“Baik non”.


Berjalan menuju kudanya, dia melesat


meninggalkan area. Sejenak hutan itu kembali sunyi tak ada lagi jerit kesakitan


dan teriakan kemarahan hanya suara binatang malam terdengar dimana-mana.


Satu minggu kemudian.


Seorang perempuan berambut panjang dan dalam keadaan hamil besar


menoleh kebelakang untuk memastikan tidak ada seorang pun yang mengikutinya.


Keadaannya sangat mengenaskan. Pakaiannya compang camping penuh luka disekujur


tubuhnya. Lebam kebiruan, bibir nya bengkak dan berdarah. Sesekali dia mengelus


perutnya sebelum melanjutkan pelariannya semakin masuk kedalam hutan lebat di


lereng gunung ringgit.


Enam centeng berangasan serta berbadan besar tampak menyebar


disekitar hutan. Mereka berteriak penuh kemarahan dan menyalahkan satu sama


lain.


“Hei Bargo seharusnya tak kau buka pintu gubug itu saat memberi


dia makan!”, teriak salah satu centeng yang merupakan pimpinan mereka.


“Maaf mas, dia tadi ingin buang air. Masa kubiarkan, kasihan

__ADS_1


apalagi dalam keadaan hamil besar. Ia juga mengeluh perutnya mules. Mungkin mau


melahirkan”.


“Bodoh apa tolol kamu itu Bargo, buktinya dia sekarang kabur kan.


Apa yang akan kita laporkan ke noni Anne”.


“Ma…maaf mas. Sekarang bagaimana. Kita tidak mungkin masuk kedalam


sana. Disana angker dan banyak binatang buas. Meskipun perempuan itu selamat


dari kita aku yakin dia akan tetap menemui ajalnya dengan makhluk yang ada


dalam hutan itu”.


“Heeem, benar juga kamu. Kita balik saja ke gubug. Aku akan


menemui noni Anne dan bilang kalau dia sudah mati beserta anaknya. Mayatnya


kita buang dijurang dekat markas. Baju perempuan itu yang penuh dengan darah


kita jadikan bukti”.


“Baiklah. Ayo teman-teman kita balik ke markas”, teriaknya


kemudian kepada yang lain.


Mereka pun meninggalkan hutan gunung ringgit yang terkenal angker.


Bargo masih menatap lurus ke arah kegelapan hutan. Hatinya masih


penuh dengan kekuatiran akan nasib cinta pertamanya.


“Semoga kamu selamat Darsi”, gumamnya.


“Andai aku tak meninggalkanmu dulu, mungkin sekarang yang kau


kandung adalah anak ku. Buah cinta kita dan noni Anne tidak akan sebenci itu


kepadamu”.


Menghembuskan napas dengan keras, seolah melepaskan segala rasa


sesak di dadanya, Bargo pun mengikuti jejak teman-temannya tuk kembali ke markas.

__ADS_1


__ADS_2