
Perempuan bercadar itu berkali-kali menampar wajah seseorang yang
terikat dikursi sambil mengucapkan kata-kata kotor.
“Hoer, weet niet in winst. Murahan”.
Lelaki yang ada di sisinya hanya menatap
kasihan kepada wanita yang dipukulinya berkali-kali itu. Tatkala perempuan itu
meminta cambuk yang terselip diantara dinding gubug, dia melangkah dengan penuh
keraguan,
“Cepat bargo, ambilkan cambuk itu. Aku ingin
menghajar perempuan ini sebelum melemparkannya ke dasar jurang dibawah sana”,
bentaknya kasar.
Perempuan yang di kursi itu semakin melotot
ketakutan.
“Ta....tapi non”.
“Bargooo, aku yang membayarmu ingat itu dan
kamu tidak boleh membantah”.
“I....iya non”.
Gegas ia menuju dinding gubug tuk mengambil
dan menyerahkan cambuk itu kepada nonanya.
“Cetar.....cetar”, dengan sekuat tenaga ia
mengayunkan benda itu.
Sedangkan perempuan yang terikat itu semakin
tak berdaya. Tubuhnya telah penuh luka dengan pukulan hingga cambukan yang
diterimanya saat ini. Kekejaman yang semakin menyakiti tubuhnya, membuat ia
__ADS_1
pingsan.
“Huh....dasar. Kamu tak akan kubiarkan mati
dengan mudah, nyai. Ingat hidupmu itu milik ku. Hanya milik ku, ha......ha....ha”,
melepas cadarnya dan meninggalkan perempuan itu sendiri di gubug.
“Bargo, kasih perempuan itu makan begitu dia
sadar”.
“Baik non”.
Berjalan menuju kudanya, dia melesat
meninggalkan area. Sejenak hutan itu kembali sunyi tak ada lagi jerit kesakitan
dan teriakan kemarahan hanya suara binatang malam terdengar dimana-mana.
Satu minggu kemudian.
Seorang perempuan berambut panjang dan dalam keadaan hamil besar
menoleh kebelakang untuk memastikan tidak ada seorang pun yang mengikutinya.
Keadaannya sangat mengenaskan. Pakaiannya compang camping penuh luka disekujur
tubuhnya. Lebam kebiruan, bibir nya bengkak dan berdarah. Sesekali dia mengelus
perutnya sebelum melanjutkan pelariannya semakin masuk kedalam hutan lebat di
lereng gunung ringgit.
Enam centeng berangasan serta berbadan besar tampak menyebar
disekitar hutan. Mereka berteriak penuh kemarahan dan menyalahkan satu sama
lain.
“Hei Bargo seharusnya tak kau buka pintu gubug itu saat memberi
dia makan!”, teriak salah satu centeng yang merupakan pimpinan mereka.
“Maaf mas, dia tadi ingin buang air. Masa kubiarkan, kasihan
__ADS_1
apalagi dalam keadaan hamil besar. Ia juga mengeluh perutnya mules. Mungkin mau
melahirkan”.
“Bodoh apa tolol kamu itu Bargo, buktinya dia sekarang kabur kan.
Apa yang akan kita laporkan ke noni Anne”.
“Ma…maaf mas. Sekarang bagaimana. Kita tidak mungkin masuk kedalam
sana. Disana angker dan banyak binatang buas. Meskipun perempuan itu selamat
dari kita aku yakin dia akan tetap menemui ajalnya dengan makhluk yang ada
dalam hutan itu”.
“Heeem, benar juga kamu. Kita balik saja ke gubug. Aku akan
menemui noni Anne dan bilang kalau dia sudah mati beserta anaknya. Mayatnya
kita buang dijurang dekat markas. Baju perempuan itu yang penuh dengan darah
kita jadikan bukti”.
“Baiklah. Ayo teman-teman kita balik ke markas”, teriaknya
kemudian kepada yang lain.
Mereka pun meninggalkan hutan gunung ringgit yang terkenal angker.
Bargo masih menatap lurus ke arah kegelapan hutan. Hatinya masih
penuh dengan kekuatiran akan nasib cinta pertamanya.
“Semoga kamu selamat Darsi”, gumamnya.
“Andai aku tak meninggalkanmu dulu, mungkin sekarang yang kau
kandung adalah anak ku. Buah cinta kita dan noni Anne tidak akan sebenci itu
kepadamu”.
Menghembuskan napas dengan keras, seolah melepaskan segala rasa
sesak di dadanya, Bargo pun mengikuti jejak teman-temannya tuk kembali ke markas.
__ADS_1