
Cartwright building.
“Ting”.
Dua orang keluar dari lift dengan beriringan. Sebelum memasuki
ruang kerja, salah satu dari mereka berkata,
“Andrew siapkan proposal kita yang buat rapat dengan Clark company
nanti siang!”
“Siap bos, akan ku ambil di meja Selly”.
Gegas Andrew menuju meja Selly yang berada di sudut ruang, tak
tampak seorang pun.
“Kemana dia di jam kerja seperti ini. Tak biasanya ia menghilang?”
“Trut…..trut”.
“Halo, Selly speaking. Ada yang bisa saya bantu?”, terdengar suara
mesin penjawab dari arah sana.
“Damn. Selly jawab aku, bos butuh kamu segera disini”.
Semenit kemudian.
“Ya halo, ada apa Ndrew?”
“Kamu dimana sekarang. Tidak kerja hari ini. Ingin bonusmu hilang?”
“He….he. Maaf Ndrew aku resign”.
“Whaaat. Jangan bercanda kamu Selly”.
“Tidak, aku sudah meletakan surat pengunduran diriku di meja bos
kemarin”.
“Mengapa?”
“Aku ada job dengan bos dari luar negeri. Dan orang itu yang dulu
menolongku dalam segala hal, termasuk membiayai pendidikan ku. Dia akan
mendirikan perusahaan baru aku diminta untuk mengelolanya”.
“Jadi kamu dijadikan manajernya?”
“Ehmm tidak tapi hampir semacam itulah”.
“Tapi Sely, mengapa terkesan begitu tiba-tiba. Mr. jay lagi butuh
file kontrak kerjasama dengan Clark’s company. Apakah sudah siap?”
“Sudah, semua kutaruh dimeja bos. Dia tinggal memeriksanya. Juga
file-file lain yang dibutuhkan beliau sesuai schedule-nya selama satu minggu.
Jadi kamu harus bersiap-siap untuk merekrut sekretaris selama jangka waktu itu,
Ndrew”.
“Aaah, terserahlah nanti kubicarakan dengan bos”.
“Oke Ndrew, semangat ya!”
“Tut”.
“Hei, what the hell? Gila tuh perempuan main tutup saja
teleponnya”.
Dengan gerutuan yang masih terlontar Andrew berjalan menuju
ruangan Jay. Banyak yang dia pikirkan termasuk merangkai kata-kata agar bosnya
itu tidak marah besar. Sejenak ia berdiri di depan pintu menenangkan diri sebelum
meraih handle dan membukanya.
“Cekleek”.
__ADS_1
“Bos”.
“Heem, masuklah!”
Mendekat dan duduk di kursi depan bosnya. Menyilangkan kaki sesaat
sebelum angkat bicara.
“Emm, begini bos. Selly mengundurkan diri dari perusahaan”.
“Apaaa, bagaimana bisa, ditaruh dimana otak perempuan itu. Setelah
mengacaukan hidupku sekarang dia kacaukan pula jadwal-jadwal pekerjaanku”.
Hanya diam mendengarkan amarah Jay. Dia terima semua luapan emosi
bos nya tanpa bantahan. Ketika emosinya mereda Andrew mulai angkat bicara.
“Semua pekerjaan Selly selama seminggu ada di meja bos. Termasuk
dokumen yang untuk nanti siang”.
“Oh”.
“Apa saya harus merekrut orang baru bos untuk menggantikannya?”
“Heeemssh, tidak perlu. Handle semuanya Ndrew. Lagi pula aku tidak
ingin membuat istriku cemburu lagi”.
“Hei, sejak kapan dia berubah?”, kata itu hanya diucapkannya dalam
hati.
“Oke bos”, jawabnya tegas.
Laura Asian and continental resto.
Tampak empat orang pria dewasa sedang berbincang serius disalah
satu ruang privat dari restoran itu. Dua diantaranya sedang membaca file dengan
teliti. Kalimat per kalimat dipelajarinya sebelum membubuhkan tanda tangan
masing-masing.
berjabat tangan. Kemudian kedua dokumen itu pun berpindah tangan ke asisten
disebelahnya. Disimpan dalam tas kerja dengan hati-hati.
“Well, Mr. Jay, apakah anda senang dengan pembagian profit yang
akan kita lakukan nanti?”
“Tentu, Mr.Clark dalam kerjasama bisnis tawaran anda sangat
menggiurkan. Saya yakin apabila anda melepasnya dengan pengusaha lain pun mereka
akan sangat-sangat tertarik”, jawabnya dengan tersenyum lebar.
“Heeem”, smirknya penuh arti sebelum menimpali dengan pertanyaan,
“apakah kita sudah bisa makan siang sekarang. Saya lapar sekali, dalam
penerbangan tadi saya hanya sempat memakan roti saja sebagai pengganjal perut”.
“Tentu saja. Andrew kamu bisa memanggilkan pramusaji”.
“Oke bos”.
“Anda suka menu masakan apa Mr.Clark?”, tanya jay berbasa basi.
“Saya lebih suka makanan Indonesia”.
“Woow, kejutan sekali. Wajah anda tampak Eropa tak ada sentuhan
Indonesia sama sekali disitu. Emm, apa yang membuat anda suka menu masakan
Negara kami?”
“Ha….ha…ha. Apakah perlu alasan bagi seseorang untuk menyukai hal
tertentu, Mr. Jay?”
“Ah, tidak hanya saja saya sedikit penasaran”, tukasnya segera
__ADS_1
sembari menatap tajam ke lawan bicara.
“Ehm well, bisa dikatakan saya hanya mengenang masa lalu”.
“Apakah berhubungan dengan seseorang yang sangat istimewa?”
“Yaa, bisa dikatakan seperti itu Mr. Jay. Bisa seperti itu”,
senyumnya misterius.
Percakapan mereka terhenti kala pramusaji mulai menyediakan
makanan yang dipesan. Ketika semua siap, ke empat orang itu pun melanjutkan
dengan melahap semua menu yang ada dimeja dengan elegan. Hingga semuanya
berakhir Jay dan Andrew menuju ke kantornya sedangkan Clark serta asistennya
menuju hotel horizon, dimana mereka tinggal untuk sementara ini.
Di lobi hotel.
“Ruangan atas nama Mr. Clark, please!”, Dave berkata.
“Room number 302, sir. Lantai dua. Biar saya panggilkan bellboy
untuk mengantar anda”, jawab resepsionis dengan sopan.
“Em baiklah, tolong bagasi kami di mobil depan pintu masuk lobi!”
“Oke, sir”.
Resepsionis itu memanggil bellboy yang ada dibalik ruang dan
segera memberitahukan apa yang harus dikerjakan. Dia mengangguk serta mengambil
card key. Menunggu sebentar sampai petugas valet menyeret dua buah travel bag
berukuran sedang. Dia menerimanya kemudian berkata,
“Mari tuan-tuan ikuti saya!”
Gegas mereka menuju lift disebelah kanan ruang resepsionis.
“Wuuuung”.
“Ting”.
“Silahkan tuan-tuan!”
Hanya bunyi seretan roda travel bag menggema di koridor begitu
sampai di ujung, mereka belok kiri hingga didepan pintu 302. Bellboy
menempelkan card key, tak lama kemudian pintu ruang terbuka. David dan Clark
memasuki ruangan mengikuti bellboy yang mendahuluinya meletakan tas tersebut
dekat sofa di tengah ruangan.
“Wooofh, capek sekali hari ini”, keluh Clark.
“Yeeaah”, timpal Dave.
“Ini kuncinya Mr. Dave. Adakah hal lainnya yang anda butuhkan?”
“How about dinner Mr.Clark?”
“Sound good, pesankan layanan kamar saja. Aku mau mandi dulu”.
“Menunya, sir?”
“Seperti biasanya Dave”.
“Oke, sir”.
Bellboy itu mengangguk hormat tanda mengerti apa yang
diperintahkan Dave. Sedetik kemudian dia berpamitan meninggalkan kamar setelah
diselipkan uang tip ditangan. Ia menerimanya dengan sukacita.
Dave menyeret koper menuju kamar bosnya, meletakkanya disudut dan dia
pun meninggalkan ruangan itu yang masih santer terdengar gemericik air dari
__ADS_1
kamar mandi. Menuju ruangannya sendiri dan istirahat, tanpa mandi hanya berganti
piyama ia merebahkan diri dengan posisi tengkurap.