
Tubuh Jay kembali berputar memasuki dimensi lain. Saat dia
menyusun sebuah rencana untuk menjebak Marcella, sang tunangan.
“Dia pikir perempuan yang akan dijadikan istrinya ini adalah
wanita yang tahan dari segala godaan. Tapi nyatanya ia salah”.
Semua materi yang dipunyainya tak sebanding dengan ketebalan
imannya. Godaan kehangatan permainan ranjang, masih menjadi celah yang sangat
bisa diandalkan.
Terutama oleh Dico. Tak perlu bersusah payah bagi Jay, menentukan skenario
penjebakan. Meskipun pada saat kejadian penangkapan, dia betul-betul marah
sebagai akumulasi pelampiasannya pada Suti.
Pukulan yang dia layangkan ke Dico sangat keras, seolah Jay
memukuli Hendri disana. Itulah sebab yang membuat sandiwaranya seolah nyata.
Dalam pikirannya yang terlintas kejadian di Hotel Horizon dalam kamar 302.
Dia tak peduli, yang penting semua sesuai keinginannya. Lagi pula
Dico perlu diberi pelajaran karena terlalu sering menggoda sang kekasih hati.
Dengan menjadikannya koleksi one night standnya.
Setelah itu, dia akan membuang wanita baik-baik itu buat Jay. “Sangat
kurang ajar, kan? Dia pikir siapa?”
Gayung bersambut, Marcella yang tak pernah tahan berjauhan dari
pelukan lelaki pun menjadikan dico pelampiasan atas ketidak acuhan Jodi dalam
hubungan mereka.
__ADS_1
Jay yang selalu cuek. Hanya memberikan perhatian sebagai bentuk
formalitas atas koneksi sosial, bertunangan.
Tiga bulan hubungan backstreet pun membuahkan hasil. Dia hamil
dengan lelaki selingkuhannya. “Wow! Sebuah collateral damage yang sangat cantik”.
“Siapa yang bisa menolak pesona bayi? Jelas tak ada”. Apa lagi
kedua orang itu adalah pewaris tunggal. Keluarga Hariyanto, pemilik perusahaan
raksasa kedua di kawasan Asia tenggara dan Arab.
Mungkin setelah pernikahan, mereka akan membuat lagi banyak anak
sebagai penerus keluarga. “Jodi menjadi perantara yang baik, kan?” Meskipun
awalnya hanyalah sebuah rencana jahat darinya.
Perusahaan Dico, jelas amblas. Tak tersisa apapun untuk diwariskan
ke bayi yang akan lahir. Bagaimana bisa mereka mewariskan jika sang ayah tiri
Hobinya yang berjudi dan bermain wanita, merupakan pemicu
hancurnya perusahaan The Dico’s. Padahal baru saja meraksasa dengan menjalin
kerjasama di berbagai bidang usaha. Termasuk The Cartwright.
“Menyesal? Tentu tidak”. Karena persahabatan yang terjalin antara
Dico dan Jodi baru beberapa tahun. Pun saat pria keturunan The Cartwright sudah
menjadi kaya.
Bertemu dengan ketidak sengajaan dalam pesta perusahaan keluarga
Hariyanto. Dan Jay menyumbangkan lagu ciptaannya pada sang tunangan. Saat
itulah dia tahu jika Dico adalah play boy sejati.
__ADS_1
Meskipun begitu Jodi tetap menjalin hubungan dengannya. Dia tahu
bahwa suatu saat, pria di hadapannya ini akan sangat-sangat berguna. “Terbukti,
kan?”
Kembali Jay memejamkan mata, saat lingkaran sinar putih membawa
dirinya ke ruang waktu yang berbeda.
Alun-alun Kota. Ketika dia memaksa menjemput wanita yang
mengenakan kaos oblong dan celana jeans lusuh. Wajahnya penuh peluh dan sedikit
gosong.
Tak perlu ke ahli kecantikan untuk menilainya. Dari tampilan yang
ada jelas menunjukan betapa kerasnya dia mencari nafkah di bawah matahari
langsung.
Menawarkan kerja sama yang menguntungkan si wanita, dia lakukan
dengan para bodyguard dengan baik. Pun saat menjebaknya dengan nominal tinggi yang
tak akan sanggup dia lunasi, andai Jodi menuntut kontrak kerjasama yang mereka
lakukan.
“He…he…he”. Kekehan puas atas kecurangannya membuahkan hasil.
Walaupun dia sempat kabur dari lapangan permainan yang Jay buat.
“Apalah artinya tindakan yang dia lakukan bagi Jodi? Tak ada”. Dengan kekayaan, taktik dan ambisi yang
dia punya semuanya teratasi. Hanya saja ego Suti yang tak bisa dikalahkannya.
Kekejaman Jay kalah telak dibandingkan wanita itu. Seribu
kekejaman yang dia lakukan masih meninggalkan penyesalan di lubuk hati
__ADS_1
terdalamnya. Apalagi ketika melihat sang kekasih hati menangis dalam diam.