MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB LXXVII


__ADS_3

POV Suti Subiantoro.


Tinggal dan lahir di desa Prigen tak membuatku jadi orang yang


ketinggalan jaman. Aku tetap orang modern yang mengerti tentang android dan


aplikasi-aplikasinya.


Bahkan aku punya akun facebook, instagram juga youtube. Meskipun


aku tidak punya twitter. Entah mengapa aku tidak menginstallnya. Mungkin


lingkaran pertemananku yang lebih suka menggunakan whatsapp dari pada aplikasi


bertanda burung tersebut.


Aku menjadi yatim piatu setelah usiaku enam bulan. Kata lek Parjo,


kakak ayahku, kedua orang tuaku meninggal digigit ular berbisa saat sedang


bekerja di sawah.


Aku percaya padanya meskipun belakangan kuketahui jika kedua orang


tuaku meninggal karena ulah Naga Gini. Makhluk itu merasa raga tempatnya


bersemayam terancam. Hingga dia muncul dan menewaskan kedua orang tuaku.


Bayi yang tak mengerti akhirnya diambil oleh kakak mendiang


ayahku. Setelah dilakukan ritual khusus untuk memberi pagar jiwa, agar makhluk


itu tidak muncul disaat yang tidak tepat.


Merasa aman, kembali aku dititipkan Lek Parjo kepada adik


sepupunya yang perempuan. Beliau sangat menyayangiku begitu juga dengan


suaminya. Yang tak pernah sekalipun menyebutku sebagai anak pungut.


Hingga lahirlah adik laki-lakiku, yang sangat kusayangi seolah


adik kandungku. Sampai suatu ketika ayah kami meninggal karena kecelakaan.


Ceritanya hampir sama dengan ayah asuh Jay. Cuma bedanya ayahku


tertabrak saat menjalankan mobilnya. Dan sang supir truk yang mengantuk tidak


bisa mengendalikan lajunya. Hingga terjadilah peristiwa itu.


“Haaish, mengapa ada kejadian yang hampir serupa? Dan aku pun


memerankan dua peranan seperti Jay. Hanya saja aku tidak se-ekstrim itu. Karena


aku orang desa, jadi kebun tempat kami tinggal pun bisa menghasilkan makanan”.


Tapi aku anak yang tahu diri. Kuikuti casual atau kerja paruh


waktu lainnya asal dapat penghasilan untuk uang sakuku dan adiku.


Kadang aku juga membantu ibu berjualan nasi bungkus di rumah. Atau


menerima cateringan untuk even-even tertentu. Dalam bentuk nasi kotak atau


bungkusan. “Jangan dikira catering yang memerlukan wadah beraneka macam dan


mahal, ya. Ibu tak punya modal untuk itu”.


Saat SMA banyak yang ingin menjadikanku menantunya. Karena aku


bukan gadis manja dan tipe pekerja keras. Pemuda-pemuda sebaya atau yang lebih


tua dariku, semua berebut ingin menjadikanku kekasihnya. Bahkan ada yang


terang-terangan hendak melamarku.


Tapi semua kutolak dengan halus, beralasan bahwa aku masih ingin


kuliah. Mereka pun bersedia menantiku hingga menjadi sarjana.


Aku sendiri heran. Dengan wajah biasa saja, bagaimana bisa


memberikan pesona yang tidak mampu ditolak para lelaki. Tak mau tahu dan tak


ingin mencari jawaban. “Life must go on, kan?”


Dengan beasiswa lokal aku melanjutkan kuliah dan diterima di


kampus ‘Bens’. Disinilah semuanya berawal. Kisah cintaku dan titik balik


kehidupanku.

__ADS_1


Jodi yang emosional dan pecemburu, hanya takluk oleh kelembutanku.


Aku tahu sifat dia yang arogan juga tak memperbolehkan siapa pun mendekatiku. Dia


terlalu posesif.


Dan aku senang-senang saja dengan perlakuannya. “Mungkin karena


aku merindukan sosok ayah?”


Hingga semuanya berantakan dengan kehadiran ‘Hendri’. Aku yang tak


tahan dengan segala tuduhan ‘Jay’, akhirnya menerimanya. Menggantikan cinta


pertamaku. Meskipun sudut hatiku tidak bisa menerima sepenuhnya.


Rupanya dia merasakannya dan terjadilah pertengkaran-pertengkaran


dengan pemicu yang sepeleh. Saat aku hampir wisuda.


Aku yang kecewa dengan ‘Hendri’ tapi masih berharap padanya. Hingga


kuputuskan untuk menjauh dari para pria. Bahkan saat aku bekerja di ‘Dico Hotel


and Travelling’, yang CEO nya sangat-sangat mata keranjang.


Dia berusaha mendekatiku, meski aku tahu banyak wanita disekelilingnya.


Termasuk si ‘Marcella’ yang belakangan kuketahui sebagai tunangan ‘Jay’.


Sebenarnya aku tak ada informasi apa pun. Sampai perusahaan


mengutus ‘Pak Yono’ manager divisi dimana aku bekerja, untuk presentasi


proposal kerjasama dengan The Cartwright Company.


Perusahaan terbesar di Indonesia, yang kukira CEO-nya adalah orang


Amerika. Melihat nama perusahaan yang tidak berbau lokal sama sekali.


Sampai di meeting hall hotel baru kuketahui dia adalah orang dari


masa laluku. “Bagaimana bisa?” pikirku.


Tak ambil pusing, aku pun berjuang dengan keras mendapatkan


kepercayaannya. Tapi apa daya, dia menolak proposal kami dengan tegas. Bahkan langsung


membuangnya ke tempat sampah sesaat sesudah selesai ku presentasikan.


persyaratan yang membuatku muak. “Cih, enak saja. Dia kira aku siapa?”


Kumaki dia pelan. Bahkan dari jauh kuacungkan jari tengahku. Dia tetap


tak acuh akan hal itu. Hanya Andrew sang asisten yang tersenyum dan


mengacungkan jempol ke arahku.


Jadilah aku pengangguran dengan sedikit penghasilan. Karena kutekuni


kembali pekerjaan lamaku. Sampai aku dijemput dengan paksa oleh Jay. Diajak menghadiri


pernikahan tunangannya.


“Berharap lebih? Tentu saja. Aku yakin akan kilatan cinta yang


masih ada di matanya. Meskipun hanya sekejap. Tapi aku tidak tahan dengan


hinaannya. “Perempuan kotor. Tidak bisa menjaga diri. Wanita murahan, “itu


adalah kata-kata pedas yang selalu dia lontarkan.


Kutelan semua kalimat pahit itu. Tatkala dia mengajukan kerjasama


dengan bayaran yang sangat tinggi. “Seratus juta. Itu jumlah yang sangat


fantastis. Meski hinaan selalu keluar dari mulutnya. Yang penting money dan


money”.


Sebagian besar uangnya kuberikan pada ibu angkatku. Untuk biaya


kuliah adik dan melunasi hutang-hutangnya. Dan aku pun memutuskan melarikan


diri dari Jay, ketika uangnya sudah kuterima utuh.


Dia kalang kabut mencariku. Karena aku tak pernah menyebut sedikit


pun keberadaan ‘Lek Parjo’ padanya. Tapi semua sia-sia. Aku melupakan siapa ‘Jay’


saat itu. CEO dengan banyak kekuatan. “Haiish~dimana pun aku bersembunyi tetap

__ADS_1


saja ketahuan, kan?”


“Ha…ha…ha. Terjadilah pernikahan dengan syarat banyak dariku. Dan bodohnya


dia mau saja menerima”.


Sampai suatu saat munculah makhluk yang bersemayam dalam ragaku. Dia


pelindungku, meskipun aku tidak suka dengan makanan yang di inginkannya. Bayi-bayi


dari manusia pribumi. Terutama yang lahir di malam jumat kliwon.


Saat dia memangsa mereka, aku bisa melihatnya dengan jelas. Seolah


melihat tayangan dari televisi. Hanya bisa menikmati tanpa dapat berbuat apa pun.


“Aku sangat muak”.


Hingga aku bisa menyudutkannya dengan bantuan ‘Lek Parjo’. Makhluk


itu sedikit demi sedikit mulai bisa kukendalikan meski tidak sepenuhnya.


Dan bertemulah aku dengan grandpa ‘Jansen’. Yang kukira bernama ‘Clark’,


ternyata itu adalah kamuflase dari identitas aslinya.


Yang membuatku heran, leluhurku ternyata sudah berusia hampir


ratusan tahun. Dengan sosok gagah nan tampan bak pria dewasa berusia tiga puluh


lima tahun. Ternyata apa yang ada ditubuhnya adalah efek dari ilmu ular-nya.


Kupikir beliau manusia kejam nan sadis seperti siluman yang


dimiliki. Ternyata aku salah. Semua perbuatan yang dia lakukan adalah bentuk


balas dendam terhadap orang yang telah menyakiti istri dan calon anaknya.


Beratus-ratus tahun grandpa ‘Jansen’ mengira keduanya telah


meninggal. Nyatanya beliau salah. Kedua kekasih hati ternyata masih hidup. Bahkan


telah menurunkan aku, generasi kedua belas dari Darsi Subiantoro dan Jansen.


Entah bagaimana beliau mengetahui semuanya. Yang jelas sebelum


pertempuran pungkasan dengan sang maha guru. Semua hartanya diwariskan


kepadaku. Garis keturunan langsung darinya. Meskipun masih ada Lek Parjo, tapi


beliau lebih memilihku sebagai pemilik The Robinson.


Mungkin karena pamanku yang tak suka dengan urusan bisnis. Beliau lebih


suka mengurus desa dan padepokannya. Bahkan ketika kutawarkan kedudukan di


perusahaan, Lek Parjo tertawa terpingkal-pingkal dengan berkata, “Mau kau


jadikan apa lek mu ini, Suti?”


“Terserah lek”.


“Nggak lah. Urusi saja perusahaan buyut kita. Jadikan semakin


besar. Biar beliau tidak kecewa. Bagianku donasikan ke rumah yatim dan panti


jompo. Untuk keuntungan tahunan boleh disumbangkan ke yayasan pendidikan di


desa Prigen. Dan padepokan ku juga boleh kamu sumbang, “jelasnya panjang lebar.


“Baiklah, “jawabku pasrah.


Jadilah aku pemilik tunggal dari The Robinson Company. Meskipun saat


ini aku lebih banyak bekerja dari rumah dengan kehadiran dua buah hatiku dengan


‘Jay’ suamiku.


Dia pula yang berperan ganda di dua perusahaan sekaligus. Meskipun


segala keputusan The Robinson masih ada di tanganku.


Yang aku tak mengerti setelah peristiwa di hotel Horizon kamar


302, saat pesta perusahaan The Cartwright. Jay tak pernah menyebutku, “Wanita


kotor dan perempuan murahan lagi. Apa yang sebenarnya terjadi?”


“Aaah~sudahlah. Yang jelas aku sangat-sangat bahagia dengan


kehidupanku sekarang. Bahkan aku tak perlu kuatir dengan penculikan yang

__ADS_1


terjadi pada anak-anak orang kaya, demi uang tebusan. Karena kedua buah hatiku


terlahir dengan kekuatan supra naturalnya”.


__ADS_2