
Loji Prigen, pada jaman Belanda.
“Braaak…praaang”.
“Haiks…nyai…haiks…nyai. Ha…ha…ha”.
“Dimana kamu nyai, apa anak kita sudah lahir? Dia pasti cantik
sepertimu dan kalau laki-laki pasti ganteng sepertiku. Haiks…haiks”.
“Slaap mijn zoon, hari sudah malam. Cepat
besar anaku sayang tuk bantu vader dan moeder-mu. Haiks...haiks...he..he...he”
Jansen mengayunkan kedua tangannya seolah sedang menidurkan bayi.
Sebentar kemudian kamar itu menjadi sunyi.
Kepala Peter terkulai kesamping dan mulutnya menggumamkan nyanyian yang sama
dan berulang kali.
Tak lama kemudian kembali terdengar cegukan,
tawa dan tangisnya secara bersamaan.
“Nyai dimana kamu nyai, tidak kah kamu
merindukan kakang Belandamu ini? Pulanglah nyai demi kebahagiaan kita!”
“Hiks...hiks...hiks,” tangisnya kembali
terdengar.
Anne mengurungkan niatnya untuk memasuki
kamar Jansen. Dia hanya berdiri termangu didepan pintu kamar sambil mengintip
ke dalam. Saat netranya melihat posisinya yang sedang duduk berselonjor di atas
lantai, menangis dan tertawa secara bersamaan, dia menjadi trenyuh.
Ia ikut melelehkan air matanya. Kedua tangannya
meremas gaun yang dikenakan kuat-kuat.
Terbersit penyesalan dalam benak Anne.
“Andai saja waktu itu aku tidak membohongi
Darsi. Menyiksa dan menyekapnya. Semua ini pasti tak akan terjadi. Jansen pasti
masih merespon semua hal yang kukatakan”.
“Fiuh. Tapi salah sendiri mengapa dalam
sekejap dia merebut segalanya dariku. Jika saja dia tidak datang dalam kehidupan
kami, pasti saat ini aku dan Jansen sudah berbahagia”. Pikirnya kembali.
“Tapi aku yang tak peka. Seharusnya aku tahu
jika sejak awal cinta Jansen bukan untukku”, ia bergumam pelan sembari mengusap
air matanya yang menganak sungai.
Anne pelan-pelan beranjak dari tempat itu
menuju kamarnya sendiri.
Sedangkan Sukirno sang penjaga loji, hanya
melihat kelakuan noninya dalam diam.
Setelah Anne tidak terlihat dalam
pandangannya, Sukirno berjalan menuju kamar Jansen dan mengangkat tubuh majikan
kesayangannya itu ke atas kasur. Saat dia sudah tidak menunjukan reaksi apa
pun.
__ADS_1
“Sampai kapan tuan akan terus begini?”
pikirnya sambil menghembuskan napasnya.
Gua dalam hutan, di kaki gunung ringgit.
“Apakah kamu sudah siap, nduk?”.
“Siap ki”.
“Tapi kamu harus menyingkirkan bayimu itu
jauh dari sini. Jangan sampai dia jadi korban saat kamu berubah menjadi
siluman. Karena makhluk itu suka dengan darah manusia, terutama bayi”.
“Aku akan menitipkannya ke penduduk desa di
sekitar sini, ki”.
“Lakukanlah. Sudah saatnya dia berpisah
denganmu”.
“Baik, ki. Aku pamit”.
“Pergilah”.
Darsi menggendong bayinya yang berusia enam
bulan keluar gua. Dia berjalan menyusuri jalanan yang penuh dengan semak
belukar setinggi orang dewasa.
Bayi dalam gendongannya, tak menunjukan
reaksi sedikit pun. Dia merasa nyaman dalam dekapan sang ibu.
Mencapai pinggiran hutan. Darsi melihat
seorang wanita paruh baya sedang memunguti dahan pohon cemara. Dia sangat tekun
melakukan kegiatannya. Sehingga tak menyadari saat Darsi mendekat.
Kolo. Amit...amit”, sambil menepuk dadanya berulangkali.
“Maaf, mengagetkan yunda”.
“Eh...iya, nyai ada perlu apa?”.
“Boleh kah saya menitipkan anak ini kepadamu?”.
Perempuan itu mendekat dan membuka kain yang
menutupi kepala bayi itu. Dia memandang takjub saat menatap wajah sang bayi.
“Bayi yang tampan. Siapa namanya, nyai?”.
“Namanya Prakoso Jansen. Maukah Yunda
menjaganya untuk ku?”
“Apa yang terjadi, nyai?”.
Darsi pun menceritakan semua yang dialaminya
tanpa ditutup-tutupi. Dia berharap dengan melakukan hal itu, perempuan yang
ditemuinya ini akan berbelas kasih terhadap anaknya.
Melihat kejujuran dari matanya, perempuan itu
pun mengangguk menyanggupi. Termasuk memberikan nama Jawa kepada bayi laki-laki
tersebut. Pun saat diminta Darsi untuk pergi jauh membawa bayinya ke desa lain.
Ketika menyerahkan bayi itu sedikit merengek,
sebelum akhirnya terdiam kembali, merasa nyaman dalam pelukan wanita paruh baya
itu.
__ADS_1
Lumajang adalah daerah yang pertama kali
terbersit dalam pikirannya. Yah, daerah itu adalah tempat asal dari perempuan
paruh baya yang bernama ‘Sarinah’. Dan terkenal dengan panggilan budhe ‘Nah’.
Dengan tangisan Darsi melepas kepergian bayi
dan Sarinah keluar hutan. Tetesan air matanya tak bisa dibendung lagi, kala
keduanya berbelok menuju jalan utama desa.
Dia terdiam sangat lama ditempat itu. Melepaskan
semua yang menyesakan dadanya ke udara sebelum beranjak kembali memasuki hutan.
Ki Nogo menolehkan kepalanya kebelakang, saat
mendengar langkah Darsi dari luar. Dia hanya manggut-manggut sambil sesekali
mengusap janggutnya yang panjang.
Tiba-tiba saudara kembarnya muncul
dihadapannya. Bentuk fisiknya yang berupa asap itu berputar-putar disekitar
tubuh ki Nogo.
“Ada apa adik ku? Tak biasanya kau menampakan
diri”.
“Apa kamu yakin dengan yang kamu lakukan
kakang?”
“Tentu saja”.
“Tapi kakang dia itu perempuan. Ilmu yang
akan kita wariskan padanya tidak akan bisa sempurna”.
“Aku tahu adik ku. Kita hanya bisa mewariskan
ilmu Naga kepadanya. Sedangkan sang macan akan tetap melekat pada diriku”.
“Kalau kakang tetap dengan sang macan,
bukankah itu berarti kita tidak akan bisa mati?”
“Kamu benar. Aku harus menunggu cicit buyut
Darsi untuk melepaskannya”.
“Apa kakang sudah tahu jawabannya?”
“Sudah adik ku. Nanti keturunan Darsi akan
menikah dengan cicit buyut musuhnya serta akan melahirkan anak dari rasa dendam
dan cinta yang mendalam. Membangun kekuatan peleburan batin yang bertolak
belakang. Dan membuka kekuatan langit dan bumi. Saat itulah aku bisa melepas
semua ilmuku dengan sempurna. Kita berdua bisa mati dengan tenang’.
“Jadi kakang betul-betul sudah mengetahuinya”.
“Betul adik ku. Aku mendapat jawabannya saat
bulan purnama bersinar penuh dua hari yang lalu dalam pertapaanku”.
“Heem”, asap itu pun menghilang memasuki raga
ki Nogo kembali.
Dari kejauhan, Darsi melihatnya dalam diam. Dia
tahu jika sang guru sedang berkomunikasi dengan kembarannya.
Sunyi kembali merajai gua. Dengan langkah pelan,
__ADS_1
Darsi duduk bersimpuh dibelakang ki Nogo. Duduk bersila, memejamkan mata dan
konsentrasi melanjutkan semedinya.