MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XXXV


__ADS_3

Loji Prigen, pada jaman Belanda.


“Braaak…praaang”.


“Haiks…nyai…haiks…nyai. Ha…ha…ha”.


“Dimana kamu nyai, apa anak kita sudah lahir? Dia pasti cantik


sepertimu dan kalau laki-laki pasti ganteng sepertiku. Haiks…haiks”.


“Slaap mijn zoon, hari sudah malam. Cepat


besar anaku sayang tuk bantu vader dan moeder-mu. Haiks...haiks...he..he...he”


Jansen mengayunkan kedua tangannya seolah sedang menidurkan bayi.


Sebentar kemudian kamar itu menjadi sunyi.


Kepala Peter terkulai kesamping dan mulutnya menggumamkan nyanyian yang sama


dan berulang kali.


Tak lama kemudian kembali terdengar cegukan,


tawa dan tangisnya secara bersamaan.


“Nyai dimana kamu nyai, tidak kah kamu


merindukan kakang Belandamu ini? Pulanglah nyai demi kebahagiaan kita!”


“Hiks...hiks...hiks,” tangisnya kembali


terdengar.


Anne mengurungkan niatnya untuk memasuki


kamar Jansen. Dia hanya berdiri termangu didepan pintu kamar sambil mengintip


ke dalam. Saat netranya melihat posisinya yang sedang duduk berselonjor di atas


lantai, menangis dan tertawa secara bersamaan, dia menjadi trenyuh.


Ia ikut melelehkan air matanya. Kedua tangannya


meremas gaun yang dikenakan kuat-kuat.


Terbersit penyesalan dalam benak Anne.


“Andai saja waktu itu aku tidak membohongi


Darsi. Menyiksa dan menyekapnya. Semua ini pasti tak akan terjadi. Jansen pasti


masih merespon semua hal yang kukatakan”.


“Fiuh. Tapi salah sendiri mengapa dalam


sekejap dia merebut segalanya dariku. Jika saja dia tidak datang dalam kehidupan


kami, pasti saat ini aku dan Jansen sudah berbahagia”. Pikirnya kembali.


“Tapi aku yang tak peka. Seharusnya aku tahu


jika sejak awal cinta Jansen bukan untukku”, ia bergumam pelan sembari mengusap


air matanya yang menganak sungai.


Anne pelan-pelan beranjak dari tempat itu


menuju kamarnya sendiri.


Sedangkan Sukirno sang penjaga loji, hanya


melihat kelakuan noninya dalam diam.


Setelah Anne tidak terlihat dalam


pandangannya, Sukirno berjalan menuju kamar Jansen dan mengangkat tubuh majikan


kesayangannya itu ke atas kasur. Saat dia sudah tidak menunjukan reaksi apa


pun.

__ADS_1


“Sampai kapan tuan akan terus begini?”


pikirnya sambil menghembuskan napasnya.


Gua dalam hutan, di kaki gunung ringgit.


“Apakah kamu sudah siap, nduk?”.


“Siap ki”.


“Tapi kamu harus menyingkirkan bayimu itu


jauh dari sini. Jangan sampai dia jadi korban saat kamu berubah menjadi


siluman. Karena makhluk itu suka dengan darah manusia, terutama bayi”.


“Aku akan menitipkannya ke penduduk desa di


sekitar sini, ki”.


“Lakukanlah. Sudah saatnya dia berpisah


denganmu”.


“Baik, ki. Aku pamit”.


“Pergilah”.


Darsi menggendong bayinya yang berusia enam


bulan keluar gua. Dia berjalan menyusuri jalanan yang penuh dengan semak


belukar setinggi orang dewasa.


Bayi dalam gendongannya, tak menunjukan


reaksi sedikit pun. Dia merasa nyaman dalam dekapan sang ibu.


Mencapai pinggiran hutan. Darsi melihat


seorang wanita paruh baya sedang memunguti dahan pohon cemara. Dia sangat tekun


melakukan kegiatannya. Sehingga tak menyadari saat Darsi mendekat.


Kolo. Amit...amit”, sambil menepuk dadanya berulangkali.


“Maaf, mengagetkan yunda”.


“Eh...iya, nyai ada perlu apa?”.


“Boleh kah saya menitipkan anak ini kepadamu?”.


Perempuan itu mendekat dan membuka kain yang


menutupi kepala bayi itu. Dia memandang takjub saat menatap wajah sang bayi.


“Bayi yang tampan. Siapa namanya, nyai?”.


“Namanya Prakoso Jansen. Maukah Yunda


menjaganya untuk ku?”


“Apa yang terjadi, nyai?”.


Darsi pun menceritakan semua yang dialaminya


tanpa ditutup-tutupi. Dia berharap dengan melakukan hal itu, perempuan yang


ditemuinya ini akan berbelas kasih terhadap anaknya.


Melihat kejujuran dari matanya, perempuan itu


pun mengangguk menyanggupi. Termasuk memberikan nama Jawa kepada bayi laki-laki


tersebut. Pun saat diminta Darsi untuk pergi jauh membawa bayinya ke desa lain.


Ketika menyerahkan bayi itu sedikit merengek,


sebelum akhirnya terdiam kembali, merasa nyaman dalam pelukan wanita paruh baya


itu.

__ADS_1


Lumajang adalah daerah yang pertama kali


terbersit dalam pikirannya. Yah, daerah itu adalah tempat asal dari perempuan


paruh baya yang bernama ‘Sarinah’. Dan terkenal dengan panggilan budhe ‘Nah’.


Dengan tangisan Darsi melepas kepergian bayi


dan Sarinah keluar hutan. Tetesan air matanya tak bisa dibendung lagi, kala


keduanya berbelok menuju jalan utama desa.


Dia terdiam sangat lama ditempat itu. Melepaskan


semua yang menyesakan dadanya ke udara sebelum beranjak kembali memasuki hutan.


Ki Nogo menolehkan kepalanya kebelakang, saat


mendengar langkah Darsi dari luar. Dia hanya manggut-manggut sambil sesekali


mengusap janggutnya yang panjang.


Tiba-tiba saudara kembarnya muncul


dihadapannya. Bentuk fisiknya yang berupa asap itu berputar-putar disekitar


tubuh ki Nogo.


“Ada apa adik ku? Tak biasanya kau menampakan


diri”.


“Apa kamu yakin dengan yang kamu lakukan


kakang?”


“Tentu saja”.


“Tapi kakang dia itu perempuan. Ilmu yang


akan kita wariskan padanya tidak akan bisa sempurna”.


“Aku tahu adik ku. Kita hanya bisa mewariskan


ilmu Naga kepadanya. Sedangkan sang macan akan tetap melekat pada diriku”.


“Kalau kakang tetap dengan sang macan,


bukankah itu berarti kita tidak akan bisa mati?”


“Kamu benar. Aku harus menunggu cicit buyut


Darsi untuk melepaskannya”.


“Apa kakang sudah tahu jawabannya?”


“Sudah adik ku. Nanti keturunan Darsi akan


menikah dengan cicit buyut musuhnya serta akan melahirkan anak dari rasa dendam


dan cinta yang mendalam. Membangun kekuatan peleburan batin yang bertolak


belakang. Dan membuka kekuatan langit dan bumi. Saat itulah aku bisa melepas


semua ilmuku dengan sempurna. Kita berdua bisa mati dengan tenang’.


“Jadi kakang betul-betul sudah mengetahuinya”.


“Betul adik ku. Aku mendapat jawabannya saat


bulan purnama bersinar penuh dua hari yang lalu dalam pertapaanku”.


“Heem”, asap itu pun menghilang memasuki raga


ki Nogo kembali.


Dari kejauhan, Darsi melihatnya dalam diam. Dia


tahu jika sang guru sedang berkomunikasi dengan kembarannya.


Sunyi kembali merajai gua. Dengan langkah pelan,

__ADS_1


Darsi duduk bersimpuh dibelakang ki Nogo. Duduk bersila, memejamkan mata dan


konsentrasi melanjutkan semedinya.


__ADS_2