
Kamar 102 Horizon Hotel.
Suti melepas gaunnya saat sudah memasuki kamar mandi. Memutar shower
merah dan biru pada posisi tidak terlalu panas atau dingin.
Meraih shower dari tembok. Dia pun mulai mandi, dengan membasahi
rambut dan badannya. Sejenak dia tergelitik dengan bathtub yang ada di ruangan
itu.
Tangannya mengambil penutup lubang dan memenuhinya dengan air. Lalu
dia membenamkan diri dalam busa sabun yang ada didalamnya.
Suhu air yang pas membuat Suti berendam lama di sana, hingga tak
menyadari seseorang tengah memasuki kamar.
Orang itu melepas seluruh pakaian dan hanya menyisakan boxer
ditubuhnya. Membasahi rambut dengan hair tonik serta mengacak-acaknya.
Tak beberapa lama kemudian, bel kamar berbunyi.
“Ya, siapa?”
“Room service” jawaban dari balik pintu terdengar.
“Sebentar”
Dia pun berjalan membuka pintu, setelah membuat cukup banyak
keringat ditubuh setengah telanjangnya.
Tanpa mengenakan wardrobe dia menemui petugas room service
tersebut.
“Ka-kamu?” pura-pura terkejut.
“Ya ini aku. Mana Suti?”
“Dia sedang mandi” jawabnya santai.
Jodi melirik ke arah kasur yang berantakan. Dia tidak menyadari
senyum licik yang diulas oleh Hendri, ketika melihat ekspresi penuh amarah
diwajahnya.
Tangannya pun bergerak memukuli wajah Hendri. Emosinya memuncak
saat tahu dia dikhianati oleh sang kekasih dengan pria lain. Ya pria brengsek
yang dihajarnya saat ini.
Kemarahan Jodi terjeda, ketika jeritan seorang wanita terdengar. “Jodi
cukup, apa yang kamu lakukan?”
“Su-Suti…ka-kamu?”
Kekecewaan langsung memenuhi rongga dada saat melihat wanita itu
keluar dari kamar mandi. Tengah mengenakan wardrobe lengkap dengan rambut
basah yang tergerai.
Dan yang membuat Jodi semakin lunglai tak bertenaga, saat dia
justru menolong Hendri bukan dirinya.
“Pergi kamu, tinggalkan kami!”
“Tapi Suti?”
“Tidak ada alasan apapun Jay, kamu sudah melukainya. Dan lihat dia
tidak membalas sama sekali. Dimana perasaanmu?”
“A-aku…”
“Pergilah sebelum kupanggil security hotel!”
__ADS_1
Mendengar bentakan itu, Jodi sadar akan sesuatu. Dia pun melangkah
keluar dan meninggalkan debaman keras di pintu.
“Kamu tidak apa-apa, Hend?”
“Ouuch. Hanya lecet, tidak usah kuatir”
“Apa yang terjadi? Kenapa dia memukulimu?”
“Hanya salah paham mungkin?”
“Aku tahu dia. Jika hanya salah paham, dia tidak akan semarah itu”.
“Ah entahlah, bisa bantu aku meminta obat ke layanan kamar?”
Tak menyadari dengan pakaian yang dikenakan Hendri. Dia pun
menelepon bellboy untuk membawakan antiseptik dan obat luka.
Dua menit kemudian, Suti menerima obat-obatan tersebut dan merawat
Hendri dengan telaten.
“Haiiish, bagaimana bisa dia melakukannya?” gerutunya sambil tak
menghentikan aktifitas.
Hendri hanya terkesima dengan perlakuan manis sang gadis. Serta berjanji
dalam hati untuk menjadikan dia kekasih. Bukankah dia menang taruhan kali ini?
Pikirannya pun penuh dengan kemenangan atas usaha yang baru saja
ia lakukan.
***
Jodi kembali ditarik ruang dan waktu saat perkenalannya dengan
Hendri.
Langkahnya mantab saat memasuki café didekat kampus ‘Bens’. Hari
ini adalah temu janji dia dengan seseorang seusai jam kuliah.
cukup, dia pun melangkahkan kakinya menuju resepsionis.
“Pagi mbak”.
“Pagi mas, ada yang bisa saya bantu?”
“Saya ada janji dengan bapak Hendri. Apa beliaunya sudah datang?”
“Sudah, silahkan menuju meja nomer lima belas. Anda akan diantar
oleh salah satu waiter kami”.
“Terima kasih”.
“Sama-sama, silahkan mas”.
Seorang pria tampan dan berpakaian rapi, terlihat duduk sendirian.
Berkali-kali dia melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Gerakan
tersebut berhenti tatkala netranya menangkap sosok yang ditunggunya.
“Boleh saya duduk?”
“Silahkan. Anda Jodi?” sambil mengulurkan tangan untuk berjabatan.
“Ya, anda…Hendri?”
Pria itu mengangguk sopan dan, “Silahkan”.
“Terimakasih”.
“Mau pesan apa?” lanjutnya.
“Eeem…”
Smirknya menyembul tatkala melihat Jodi yang kebingungan dengan
menu makanan yang harganya selangit.
__ADS_1
“Pesan saja, aku yang traktir. Tak usah risau dengan harganya”.
Menghembuskan napas lega, “Aaaah…baiklah”.
Mereka mengembalikan menu ke waiter setelah dicatat dan membawa
orderannya ke dapur.
“Ada apa mas Hendri mengajak saya kesini?”
“Bukan hal penting. Aku hanya ingin mengenalmu lebih jauh”.
“Ingin mengenaliku lebih jauh?” mengerenyitkan dahi.
“Kamu penyanyi kampus kan? Mereka sering membicarakanmu, terutama
para gadis”.
“Apa itu menganggu?”
“Tidak, hanya saja aku penasaran”.
“Apa yang membuat mas Hendri penasaran?”
“Semuanya”.
“So?”
Hendri mengungkapkan semua rasa penasarannya pada Jodi. Mereka saling
bercerita tanpa ada yang ditutupi. Sampai pada gadis yang menjadi idola lelaki
dikampus.
Dia yang tak suka kepalsuan dan juga tampil apa adanya. Membuat para
pria dengan berbagai karakter menyukainya.
Walau pun keberadaannya di anggap saingan oleh para gadis. Dengan bangga
Jodi menyatakan bahwa dia hanya miliknya seorang.
Hendri merasa tertantang atas kesetiaan gadis itu. Dia pun membuat
taruhan dengan Jodi.
Siapa yang benar dengan keyakinannya, akan menjadi sang kekasih. Jodi
pun menyetujui tanpa syarat. Karena dia yakin Suti tidak akan pernah berpaling
darinya.
Sampai pada akhirnya dia harus menyerah dengan kata ‘penyesalan’
yang amat sangat.
Kebodohannya adalah menyerahkan sang kekasih hati pada pria yang
tak benar-benar mencintai gadis itu. Semua hal yang dilakukan hanyalah bentuk
dari sebuah obsesi belaka.
Dia yakin Suti tahu semua itu. Tapi bukannya melarikan diri,
justru malah menikmatinya.
Bahkan tuduhan Jodi yang selalu dilontarkan sebagai ‘Cewek matre’,
hanya disambut dengan acungan jempol.
Membuatnya semakin geram saat sang gadis tak menunjukan amarah
sedikit pun.
Sampai dia menemui Suti di kosan, ketika dia mendengar hubungan
mereka mulai mendingin.
Hendri menjaga jarak dari Suti, ketika tahu dalam hati gadis itu tak
ada celah untuknya. Ya…cinta sejatinya hanya untuk Jodi.
Dengan bantuan Selly dia menjebaknya dengan sandiwara yang tak
terlupakan.
__ADS_1
Tragedi kamar 102…