MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XVI


__ADS_3

Cartwright building.


‘Ting’


Dua orang keluar dari lift dengan beriringan. Sebelum memasuki ruang kerja,


salah satu dari mereka berkata,


‘Andrew siapkan proposal kita yang buat rapat dengan Clark company nanti siang!’


‘Siap bos, akan ku ambil di meja Selly’.


Gegas Andrew menuju meja Selly yang berada di sudut ruang, tak tampak seorang pun.


‘Kemana dia di jam kerja seperti ini. Tak biasanya ia menghilang’.


‘Trut…..trut’.


‘Halo, Selly speaking. Ada yang bisa saya bantu’, terdengar suara mesin penjawab


dari arah sana.


‘Damn. Selly jawab aku, bos butuh kamu segera disini’.


Semenit kemudian.


‘Ya halo, ada apa Ndrew’.


‘Kamu dimana sekarang. Tidak kerja hari ini. Ingin bonusmu hilang’.


‘He….he. Maaf Ndrew aku resign’.


‘Whaaat. Jangan bercanda kamu Sely’.


‘Tidak, aku sudah meletakan surat pengunduran diriku di meja bos kemarin’.


‘Mengapa?’


‘Aku ada job dengan bos dari luar negeri. Dan orang itu yang dulu menolongku dalam


segala hal, termasuk membiayai pendidikan ku. Dia akan mendirikan perusahaan


baru aku diminta untuk mengelolanya’.


‘Jadi kamu dijadikan manajernya’.


‘Ehmm tidak tapi hampir semacam itulah’.


‘Tapi Sely, mengapa terkesan begitu tiba-tiba. Mr. jay lagi butuh


file kontrak kerjasama dengan Clark’s company. Apakah sudah siap?’


‘Sudah, semua kutaruh dimeja bos. Dia tinggal memeriksanya. Juga file-file lain yang


dibutuhkan beliau sesuai schedule-nya selama satu minggu. Jadi kamu harus


bersiap-siap untuk merekrut sekretaris selama jangka waktu itu, Ndrew’.


‘Aaah, terserahlah nanti kubicarakan dengan bos’.


‘Oke Ndrew, semangat ya’.


‘Tut’


‘Hei, what the hell?, gila tuh perempuan main tutup saja teleponnya’.


Dengan gerutuan yang masih terlontar Andrew berjalan menuju kantor Jay.


Banyak yang dia pikirkan termasuk merangkai kata-kata agar bosnya itu tidak marah besar.


Sejenak ia berdiri di depan pintu menenangkan diri sebelum meraih handle dan


membukanya.


‘Cekleek’


‘Bos’.


‘Heem, masuklah’.

__ADS_1


Mendekat dan duduk di kursi depan bosnya. Menyilangkan kaki sesaat sebelum angkat


bicara.


‘Emm, begini bos. Selly mengundurkan diri dari perusahaan’.


‘Apaaa, bagaimana bisa, ditaruh dimana otak perempuan itu.


Setelah mengacaukan hidupku sekarang dia kacaukan pula jadwal-jadwal pekerjaanku’.


Hanya diam mendengarkan amarah Jay. Dia mendengarkan semua luapan emosi


bos nya tanpa bantahan. Ketika emosinya mereda Andrew mulai angkat bicara.


‘Semua pekerjaan Selly selama seminggu ada di meja bos. Termasuk dokumen yang untuk


nanti siang’.


‘Oh’.


‘Apa saya harus merekrut orang baru bos untuk menggantikannya?’


‘Heeemssh, tidak perlu. Handle semuanya Ndrew.


Lagi pula aku tidak ingin membuat istriku cemburu lagi’.


‘Hei, sejak kapan dia berubah’, kata itu hanya diucapkannya dalam hati.


‘Oke bos’,


jawabnya tegas.


Laura Asian and continental resto.


Tampak empat orang pria dewasa sedang berbincang serius disalah satu


ruang privat dari restoran itu. Dua diantaranya sedang membaca file dengan teliti.


Kalimat per kalimat dipelajarinya sebelum membubuhkan tanda tangan masing-masing.


Tersenyum puas dengan kerjasama yang akan mereka lakukan, akhirnya berjabat tangan.


Disimpan dalam tas kerja dengan hati-hati.


‘Well, Mr. Jay, apakah anda senang dengan pembagian profit yang akan kita lakukan nanti?’


‘Tentu, Mr.Clark dalam kerjasama bisnis tawaran anda sangat menggiurkan.


Saya yakin apabila anda melepasnya dengan pengusaha lain pun mereka akan sangat-sangat


tertarik’, jawabnya dengan tersenyum lebar.


‘Heeem’, smirknya penuh arti sebelum menimpali dengan pertanyaan, ‘apakah kita sudah


bisa makan siang sekarang. Saya lapar sekali, dalam penerbangan tadi saya hanya


sempat memakan roti saja sebagai pengganjal perut’.


‘Tentu saja. Andrew kamu bisa memanggilkan pramusaji’.


‘Oke bos’.


‘Anda suka menu masakan apa Mr.Clark’, tanya jay berbasa basi.


‘Saya lebih suka makanan Indonesia’.


‘Woow, kejutan sekali. Wajah anda tampak eropa tak ada sentuhan Indonesia sama sekali


disitu. Emm, apa yang membuat anda suka menu masakan Negara kami?’


‘Ha….ha…ha. apakah perlu alasan bagi seseorang untuk menyukai hal tertentu, Mr.Jay?’


‘Ah, tidak hanya saja saya sedikit penasaran’, tukasnya segera sembari menatap tajam ke


lawan bicara.


‘Ehm well, bisa dikatakan saya hanya mengenang masa lalu’.


‘Apakah berhubungan dengan seseorang yang sangat istimewa’.

__ADS_1


‘Yaa, bisa dikatakan seperti itu Mr, jay. Bisa seperti itu’, senyumnya misterius.


Percakapan mereka terhenti kala pramusaji mulai menyediakan makanan yang dipesan.


Ketika semua siap, ke empat orang itu pun melanjutkan dengan melahap semua menu yang


ada dimeja dengan elegan. Hingga semuanya berakhir Jay dan Andrew menuju ke


kantornya sedangkan Clark serta asistennya menuju hotel horizon, dimana mereka


tinggal untuk sementara ini.


Di lobi hotel.


‘Ruangan atas nama Mr.Clark, please’, Dave berkata.


‘Room number 302, sir. Lantai dua. Biar saya panggilkan bellboy untuk mengantar


anda’, jawab resepsionis dengan sopan.


‘Em baiklah, tolong bagasi kami di mobil depan pintu masuk lobi’.


‘Oke, sir’.


Resepsionis itu memanggil bellboy yang ada dibalik ruang dan segera memberitahukan


apa yang harus dikerjakan. Dia mengangguk serta mengambil card key.


Menunggu sebentar sampai petugas valet menyeret dua buah travel bag berukuran sedang.


Dia menerimanya kemudian berkata,


‘Mari tuan-tuan ikuti saya’.


Gegas mereka menuju lift disebelah kanan ruang resepsionis.


‘Wuuuung’.


‘Ting’


‘Silahkan tuan-tuan’.


Hanya bunyi seretan roda travel bag menggema di koridor begitu sampai di ujung,


mereka belok kiri hingga didepan pintu 302. Bellboy menempelkan card key, tak


lama kemudian pintu ruang terbuka. David dan Clark memasuki ruangan mengikuti


bellboy yang mendahuluinya meletakan tas tersebut dekat sofa di tengah ruangan.


‘Wooofh, capek sekali hari ini’, keluh Clark.


‘Yeeaah’, timpal Dave.


‘Ini kuncinya Mr. Dave. Adakah hal lainnya yang anda butuhkan?’


‘How about dinner Mr.Clark?’


‘Sound good, pesankan layanan kamar saja. Aku mau mandi dulu’.


‘Menunya, sir?’


‘Seperti biasanya Dave’.


‘Oke, sir’.


Bellboy itu mengangguk hormat tanda mengerti apa yang diperintahkan Dave. Sedetik


kemudian dia berpamitan meninggalkan kamar setelah diselipkan uang tip ditangan.


Ia menerimanya dengan sukacita.


Dave menyeret koper menuju kamar bosnya, meletakkanya disudut dan dia pun meninggalkan


ruangan itu yang masih santer terdengar gemericik air dari kamar mandi. Menuju


ruangannya sendiri dan istirahat, tanpa mandi hanya berganti piyama ia


merebahkan diri dengan posisi tengkurap.

__ADS_1


__ADS_2