
Grand Casino Last Vegas, jaman sekarang.
Berbagai macam permainan yang ditawarkan kepada
pengunjung dalam club Casino terbesar di Nevada.
Mulai dari mesin permainan, permainan meja, dan permainan angka acak.
Saat ini mesin slot dan pachinko, masih menjadi idola para
pengunjung untuk mempertaruhkan chipsnya.
Sedangkan di ruangan lain tak kalah meriahnya dengan ruang mesin.
Yaitu ruang permainan meja. Bahkan tak sedikit dari para tamu malam ini yang
tertarik bermain blackjack atau dadu, dengan sang Bandar.
Sementara itu di meja satu dari permainan poker, seseorang
berkali-kali mengumpat atas kekalahannya. Dengan terpaksa dia harus merelakan
chips yang ada dalam genggaman diambil alih oleh sang Bandar.
Menenggak anggur dalam gelas wine di tangan kiri. Kembali dia
melempar sisa chips tersebut ke atas meja, seraya berkata,
“Baiklah demi setan yang ada di neraka. Kupertaruhkan
keberuntunganku hari ini!”
“Plak” dibantingnya chips itu.
Memejamkan mata dan menggosokan tangan. Dia mulai berdoa.
Saat melakukan ritual, seseorang menyenggol bahunya.
“Ingin menang, nona?” tanyanya kemudian.
Dia menoleh kesamping. Netranya menangkap pria bule tinggi nan
tampan. Terpesona oleh penampilannya. Ia mengangguk.
“Tentu saja. Apa anda bisa membantuku, sir?”
“Absolutely. Tapi tidak gratis”.
“Boleh. Saya akan memenuhi syarat anda asal aku bisa memenangkan
permainan ini”.
“Syarat apa pun itu, heum?”
“Of course, sir”.
“Baguslah. Watch and see. Sang master akan membawakan chips yang
banyak untuk mu”.
“Fine”.
Dengan serius Selly memperhatikan bule yang sedang bermain poker.
Pria itu sedikit memutar cincin permata yang ada dijari kelingking, sebelum
menyuruh sang Bandar untuk membagikan kartu.
Ketika sang Bandar membuka kartu dengan stik yang ada ditangan.
Kembali kemenangan ada dipihak pria tersebut.
Dengan sopan dia berkata, “You win, sir” berkali-kali.
Chips yang ada dihadapan pria bule dan Selly pun menggunung.
“Hei waiter. Ambilkan kami kantung chips!” perintahnya kepada
pelayan club, saat mereka menyudahi permainan tersebut.
Selly sangat gembira. Senyumnya berkali-kali terulas dengan lebar
dari bibir merah menyala nan menggoda.
“Yes, akhirnya aku menang. Sebentar lagi aku bisa membelanjakan
uang ini” katanya dalam hati.
“Apakah kau akan langsung belanja setelah menukarkan uang ini,
nona?” seolah tahu dengan yang dipikirkan perempuan itu.
__ADS_1
“Eh”. Matanya penuh selidik.
Dengan acuh pria bule itu menambahkan, “Jangan curiga padaku. Aku
hanya menebak apa yang ada dikepalamu itu. Bukankah semua wanita sama? Mereka
akan menghamburkan uangnya untuk belanja”.
Menghembuskan napas, “Anda benar,sir”.
“Oke saya akan temani kemana pun anda pergi. Bagaimana? Anggap
saja aku bodyguard pribadimu”.
“Good. Jadi aku tidak kuatir terhadap orang yang akan merampok ku
nantinya”.
“Heeem” smirk di bibir pria itu terulas.
Merekapun menuju ke ruang penukaran chips disebelah pintu keluar
casino.
Selly meminta separuh uangnya di transferkan kedalam rekening.
Sedangkan sisanya dalam bentuk tunai US Dollar.
Menggunakan taksi, kedua orang tersebut meninggalkan halaman
casino. Mobil itu mengantarkan Selly ke sebuah apartemen mewah milik
keluarga Robinson.
“Apa anda mau menginap ditempat saya, tuan?” tawarnya sebelum
meninggalkan kendaraan itu.
“Em tidak. Aku masih ada pekerjaan menunggu. Besok aku akan
menjemputmu. Bukankah kamu belum membayar pekerjaanku hari ini?”
“Baiklah sampai ketemu besok. Have a sweet dream. Sleep tight”.
“Sure Selly, thank you”.
“Eh. Perasaan aku belum menyebutkan namaku tadi” batinnya.
yang ditumpanginya berlalu meninggalkan gerbang apartemen.
“Ah mungkin dia tadi mendengar namaku saat memberikan nomer
rekening di casino” gumamnya pelan sambil berjalan menuju lift.
Ia pun bernyanyi gembira selama menuju hunian tempatnya tinggal.
***
Tepat pukul Sembilan pagi. Pria bule yang belum dikenal namanya
oleh Selly menjemput di depan apartemen.
Dia mengendarai mobil sport berwarna biru metalik. Setelah
berbasa-basi sebentar. Kendaraan itu pun melaju ke arah luar kota.
Mount Charleston menjadi tujuannya. Selama perjalanan Selly begitu
menikmati suasana alam yang telah lama dirindukan.
Benaknya penuh dengan kenangan saat perkenalan mahasiswa baru di
daerah Batu.
“Apa yang sedang kau lamunkan nona?” tanya pria bule itu
tiba-tiba.
Tersentak dari imajinasinya, “Em…ti-tidak ada tuan”.
“Jangan berbohong padaku nona. Apakah kamu mengingat masa lalumu?”
“Ba-bagaimana tuan bisa tahu?”
“Ha…ha…ha. Katakanlah saya seorang cenayang atau paranormal”
sambil mengulum senyum genit.
Sambil mengangguk, “Oh maaf. Bolehkah saya tahu nama anda tuan?”
“Kamu bisa memanggilku dengan Smith”.
__ADS_1
“Hanya Smith tanpa nama family?”
“He…he…he. Aku sudah lama meninggalkan nama familyku nona. Kalau itu
yang kamu maksud”.
“Apa yang terjadi tuan? Bukankah setiap orang bangga akan nama
keluarganya?”
“Em aku tidak”.
“Mengapa?”
“Kamu akan segera mengerti nona. Yah…soon” jawabnya penuh misteri.
Bunyi decitan ban beradu dengan aspal terdengar nyaring di siang
itu. Si empunya mobil membukakan pintu penumpang yang ada disisi depan.
Memberikan kunci kepada petugas valet restoran. Mereka pun
melenggang menuju meja reservasi.
Tepat pada meja nomer tiga puluh yang bertuliskan ‘booked’. Kedua orang
itu pun dipersilahkan duduk oleh seorang waitress yang ramah dan cantik.
Memesan menu kegemaran masing-masing. Keduanya saat ini menunggu
sembari menyesap wine.
Tak banyak yang diobrolkan. Hanya seputar chit-chat yang tak
bermutu. Hingga hidangan tersaji di atas meja.
Menikmati makan siang dengan lahap. Karena sebentar lagi energinya
akan terkuras dengan kegiatan yang memompa adrenalin.
Dengan kendaraan mini yang disiapkan oleh pemilik resort. Selly dan
Smith menuju lokasi perbukitan.
Dimana sepasang paralayang telah siap menunggu kedatangan kedua
orang tersebut.
Teriakan ngeri dari Selly, menggema ke seantero perbukitan. Saat dia
dipandu oleh guidenya menerbangkan peralatan tersebut.
Berkali-kali sang guide mengingatkan. “Open your eyes, madam. Agar
anda bisa menikmati pemandangan di bawah sana”.
Perlahan perempuan itu membuka matanya. Rasa berkunang pun
menyerang. Saat sang guide memintanya mendongak sebentar. Netranya melihat
birunya langit di atas sana.
Setelah dirasa cukup beradaptasi. Pemandu wisata itu pun,
memintanya melihat kebawah.
Terbeliak kagum dengan pemandangan alam nan hijau dan asri. Selly pun
berteriak kencang.
“Wuuuhuuu! I am coming my lovely mountain!”
Sang guide pun hanya tersenyum.
Kelelahan dengan segala aktifitasnya hari ini. Smith mengajak
Selly menginap di Harborside Resort and Marina.
Sebuah resort dengan segala kemewahan yang memanjakan sang tamu.
Saat tiba di resort Smith berkata, “Mau memesan layanan kamar,
Selly?”
“Tidak. Aku sudah kenyang. Hanya ingin tidur tuan”.
“Baiklah” dia pun meninggalkan wanita itu sendirian dikamar. Tanpa
penjelasan.
Tak ambil pusing perempuan itu pun merebahkan dirinya di kasur. Melanjutkan
__ADS_1
kegiatannya mengarungi mimpi indah.