MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XL


__ADS_3

Grand Casino Last Vegas, jaman sekarang.


Berbagai macam permainan yang ditawarkan kepada


pengunjung dalam club Casino terbesar di Nevada.


Mulai dari  mesin permainan, permainan meja, dan permainan angka acak.


Saat ini mesin slot dan pachinko, masih menjadi idola para


pengunjung untuk mempertaruhkan chipsnya.


Sedangkan di ruangan lain tak kalah meriahnya dengan ruang mesin.


Yaitu ruang permainan meja. Bahkan tak sedikit dari para tamu malam ini yang


tertarik bermain blackjack atau dadu, dengan sang Bandar.


Sementara itu di meja satu dari permainan poker, seseorang


berkali-kali mengumpat atas kekalahannya. Dengan terpaksa dia harus merelakan


chips yang ada dalam genggaman diambil alih oleh sang Bandar.


Menenggak anggur dalam gelas wine di tangan kiri. Kembali dia


melempar sisa chips tersebut ke atas meja, seraya berkata,


“Baiklah demi setan yang ada di neraka. Kupertaruhkan


keberuntunganku hari ini!”


“Plak” dibantingnya chips itu.


Memejamkan mata dan menggosokan tangan. Dia mulai berdoa.


Saat melakukan ritual, seseorang menyenggol bahunya.


“Ingin menang, nona?” tanyanya kemudian.


Dia menoleh kesamping. Netranya menangkap pria bule tinggi nan


tampan. Terpesona oleh penampilannya. Ia mengangguk.


“Tentu saja. Apa anda bisa membantuku, sir?”


“Absolutely. Tapi tidak gratis”.


“Boleh. Saya akan memenuhi syarat anda asal aku bisa memenangkan


permainan ini”.


“Syarat apa pun itu, heum?”


“Of course, sir”.


“Baguslah. Watch and see. Sang master akan membawakan chips yang


banyak untuk mu”.


“Fine”.


Dengan serius Selly memperhatikan bule yang sedang bermain poker.


Pria itu sedikit memutar cincin permata yang ada dijari kelingking, sebelum


menyuruh sang Bandar untuk membagikan kartu.


Ketika sang Bandar membuka kartu dengan stik yang ada ditangan.


Kembali kemenangan ada dipihak pria tersebut.


Dengan sopan dia berkata, “You win, sir” berkali-kali.


Chips yang ada dihadapan pria bule dan Selly pun menggunung.


“Hei waiter. Ambilkan kami kantung chips!” perintahnya kepada


pelayan club, saat mereka menyudahi permainan tersebut.


Selly sangat gembira. Senyumnya berkali-kali terulas dengan lebar


dari bibir merah menyala nan menggoda.


“Yes, akhirnya aku menang. Sebentar lagi aku bisa membelanjakan


uang ini” katanya dalam hati.


“Apakah kau akan langsung belanja setelah menukarkan uang ini,


nona?” seolah tahu dengan yang dipikirkan perempuan itu.

__ADS_1


“Eh”. Matanya penuh selidik.


Dengan acuh pria bule itu menambahkan, “Jangan curiga padaku. Aku


hanya menebak apa yang ada dikepalamu itu. Bukankah semua wanita sama? Mereka


akan menghamburkan uangnya untuk belanja”.


Menghembuskan napas, “Anda benar,sir”.


“Oke saya akan temani kemana pun anda pergi. Bagaimana? Anggap


saja aku bodyguard pribadimu”.


“Good. Jadi aku tidak kuatir terhadap orang yang akan merampok ku


nantinya”.


“Heeem” smirk di bibir pria itu terulas.


Merekapun menuju ke ruang penukaran chips disebelah pintu keluar


casino.


Selly meminta separuh uangnya di transferkan kedalam rekening.


Sedangkan sisanya dalam bentuk tunai US Dollar.


Menggunakan taksi, kedua orang tersebut meninggalkan halaman


casino. Mobil itu mengantarkan Selly ke sebuah apartemen mewah milik


keluarga Robinson.


“Apa anda mau menginap ditempat saya, tuan?” tawarnya sebelum


meninggalkan kendaraan itu.


“Em tidak. Aku masih ada pekerjaan menunggu. Besok aku akan


menjemputmu. Bukankah kamu belum membayar pekerjaanku hari ini?”


“Baiklah sampai ketemu besok. Have a sweet dream. Sleep tight”.


“Sure Selly, thank you”.


“Eh. Perasaan aku belum menyebutkan namaku tadi” batinnya.


yang ditumpanginya berlalu meninggalkan gerbang apartemen.


“Ah mungkin dia tadi mendengar namaku saat memberikan nomer


rekening di casino” gumamnya pelan sambil berjalan menuju lift.


Ia pun bernyanyi gembira selama menuju hunian tempatnya tinggal.


***


Tepat pukul Sembilan pagi. Pria bule yang belum dikenal namanya


oleh Selly menjemput di depan apartemen.


Dia mengendarai mobil sport berwarna biru metalik. Setelah


berbasa-basi sebentar. Kendaraan itu pun melaju ke arah luar kota.


Mount Charleston menjadi tujuannya. Selama perjalanan Selly begitu


menikmati suasana alam yang telah lama dirindukan.


Benaknya penuh dengan kenangan saat perkenalan mahasiswa baru di


daerah Batu.


“Apa yang sedang kau lamunkan nona?” tanya pria bule itu


tiba-tiba.


Tersentak dari imajinasinya, “Em…ti-tidak ada tuan”.


“Jangan berbohong padaku nona. Apakah kamu mengingat masa lalumu?”


“Ba-bagaimana tuan bisa tahu?”


“Ha…ha…ha. Katakanlah saya seorang cenayang atau paranormal”


sambil mengulum senyum genit.


Sambil mengangguk, “Oh maaf. Bolehkah saya tahu nama anda tuan?”


“Kamu bisa memanggilku dengan Smith”.

__ADS_1


“Hanya Smith tanpa nama family?”


“He…he…he. Aku sudah lama meninggalkan nama familyku nona. Kalau itu


yang kamu maksud”.


“Apa yang terjadi tuan? Bukankah setiap orang bangga akan nama


keluarganya?”


“Em aku tidak”.


“Mengapa?”


“Kamu akan segera mengerti nona. Yah…soon” jawabnya penuh misteri.


Bunyi decitan ban beradu dengan aspal terdengar nyaring di siang


itu. Si empunya mobil membukakan pintu penumpang yang ada disisi depan.


Memberikan kunci kepada petugas valet restoran. Mereka pun


melenggang menuju meja reservasi.


Tepat pada meja nomer tiga puluh yang bertuliskan ‘booked’. Kedua orang


itu pun dipersilahkan duduk oleh seorang waitress yang ramah dan cantik.


Memesan menu kegemaran masing-masing. Keduanya saat ini menunggu


sembari menyesap wine.


Tak banyak yang diobrolkan. Hanya seputar chit-chat yang tak


bermutu. Hingga hidangan tersaji di atas meja.


Menikmati makan siang dengan lahap. Karena sebentar lagi energinya


akan terkuras dengan kegiatan yang memompa adrenalin.


Dengan kendaraan mini yang disiapkan oleh pemilik resort. Selly dan


Smith menuju lokasi perbukitan.


Dimana sepasang paralayang telah siap menunggu kedatangan kedua


orang tersebut.


Teriakan ngeri dari Selly, menggema ke seantero perbukitan. Saat dia


dipandu oleh guidenya menerbangkan peralatan tersebut.


Berkali-kali sang guide mengingatkan. “Open your eyes, madam. Agar


anda bisa menikmati pemandangan di bawah sana”.


Perlahan perempuan itu membuka matanya. Rasa berkunang pun


menyerang. Saat sang guide memintanya mendongak sebentar. Netranya melihat


birunya langit di atas sana.


Setelah dirasa cukup beradaptasi. Pemandu wisata itu pun,


memintanya melihat kebawah.


Terbeliak kagum dengan pemandangan alam nan hijau dan asri. Selly pun


berteriak kencang.


“Wuuuhuuu! I am coming my lovely mountain!”


Sang guide pun hanya tersenyum.


Kelelahan dengan segala aktifitasnya hari ini. Smith mengajak


Selly menginap di Harborside Resort and Marina.


Sebuah resort dengan segala kemewahan yang memanjakan sang tamu.


Saat tiba di resort Smith berkata, “Mau memesan layanan kamar,


Selly?”


“Tidak. Aku sudah kenyang. Hanya ingin tidur tuan”.


“Baiklah” dia pun meninggalkan wanita itu sendirian dikamar. Tanpa


penjelasan.


Tak ambil pusing perempuan itu pun merebahkan dirinya di kasur. Melanjutkan

__ADS_1


kegiatannya mengarungi mimpi indah.


__ADS_2