MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XII


__ADS_3

Terdengar suara mobil meninggalkan halaman, aku yakin kalau Jay sudah berangkat ke kantor


hari. Dari balik kelambu lantai dua kelihatan sudah tidak ada orang sama


sekali. Bahkan Jeff dan rekannya tak tampak batang hidungnya. Ku mendengus


sebal,


‘Pada kemana tuh orang. Tumben-tumbenan bodyguardnya dibawa semua’.


‘Sutiiii honey’, teriak mama Laura mengagetkan ku.


‘Ya ma, ada apa?’ sahutku sembari membuka pintu kamar.


‘Sweety, lihat mama sudah masak banyak. Semua menu kesukaan Jay, nanti siang antarkan ke


kantor’.


‘Tapi ma’, jawabku ogah-ogahan.


‘Tak ada bantahan, mulai sekarang kamu harus lebih perhatian sama dia, biar mama segera


bisa punya cucu….ingat Suti cucu yang lucu dan menggemaskan’, kata mama sambil


mengerucutkan kedua telapak tangannya seolah mencubit pipi yang gembil nan


menggemaskan.


‘Yaaah, baiklah’, sahutku mengalah.


‘Perfect, Wati siapkan box makanan buat tuan Jay, ya’.


‘Baik nyonya besar’.


‘Dan kamu Suti, ayo segera dandan yang cantik, pakai out fit terbaru yang cetar kayak


Syahrini. Biar si Jay tergila-gila padamu. Jangan lupa ber-make up juga tapi


jangan terlalu menor. Pakai gaya natural, dia suka itu’, kata mama heboh.


Kuhanya tersenyum canggung.


‘Ayo cepat…cepat nanti keburu siang’, dia mendorongku pelan menuju kamar tuk


bersiap-siap.


Di dalam mobil tampak Tarno melirik majikannya dari spion. Ia hanya menggelengkan


kepalanya pelan melihat kelakuan sang majikan yang tampak antusias dengan semua


pemandangan yang terpampang dibalik jendela mobil. Matanya yang berbinar-binar


dan sesekali mengangguk seolah berkomunikasi dengan kilasan kejadian yang


dilewatinya. Terkadang dia mengerucutkan mulutnya membentuk huruf ‘O’ kecil.


‘Ah tak habis pikir aku. Mengapa nyonya muda seperti orang yang baru dikeluarkan dari


ruang isolasi’, monolognya.


‘Pak Tarno, mengapa melihatku terus? Konsen pak pada mobilnya, nanti nabrak baru


tahu tuh’, protesku.


‘Eh iya maaf nyonya’.


‘Jangan panggil saya nyonya jika tidak ada Jay atau mama, panggil saja nona. Mengerti


pak!’


‘Baiklah nona Suti. Apakah anda mau langsung ke kantor atau mampir kemana dulu?’.


‘Ke toko kue pak ambil pesananku yang kemarin’.


‘Yang dekat C & C mall itu nona?’


‘Heem’.


‘Baiklah Tarno in service’, jawabnya lagi menirukan gaya film laga yang tadi malam


ditontonnya.


Aku tergelak, dasar penggemar Netflix.


Cartwright building.


‘Selamat siang mbak Santi’.


‘Selamat siang nona, ada yang bisa saya bantu?’, tanyanya sembari menangkupkan kedua


tangannya di dada.

__ADS_1


‘Saya mau bertemu Mr. Jay, apakah dia ada?’


‘Ada, beliau ada di kantornya. Silahkan tunggu sebentar saya akan konfirmasi ke


sekretarisnya’.


‘Ya silahkan’.


‘Tuuut…….tuuut…..tuuut’.


Terdengar nada panggil dari alat itu, tapi hampir lima belas menit tidak ada yang


mengangkat. Dengan sedikit gugup Santi memanggilku yang sedang menunggu di


lounge kantor.


‘Ma…maaf nona sekretaris tuan Jay tidak mengangkat teleponnya, mungkin dia ikut meeting


dengan big bos’.


‘Tidak apa Santi, aku langsung naik ke atas saja. Minta tolong seseorang untuk


mengantarkan’.


‘Baiklah nona saya akan meminta pak Kirman kepala keamanan untuk mengantarkan anda’.


Sedetik kemudian Santi memencet tombol intercom di depannya dan tak beberapa lama kemudian


datanglah lelaki berseragam sekuriti serta mempersilahkanku untuk mengikutinya


ke lift.


‘Wuuung’.


‘Ting’


‘Silahkan nona kita sudah sampai dikantor Mr. Jay. Anda tinggal melewati lorong ini


sampai menemukan meja sekretarisnya di depan pintu yang bertuliskan direktur’.


‘Trimakasih pak Kirman, maaf merepotkan anda’, sahutku sopan.


‘Ah itu sudah tugas saya nona, maaf tidak bisa mengantarkan anda sampai ke ruangannya.


Karena saya masih harus melanjutkan tugas’.


‘Tidak apa-apa pak, selamat melanjutkan tugasnya’, kataku.


kanan membawa kue ulang tahun yang baru saja ku ambil dari toko kue Sabrina. Dengan


langkah mantap serta hati gembira, mengikuti arahan pak Kirman sampailah aku di


depan pintu ruangan Jay.


Saat netraku menangkap meja sekretaris yang kosong, ku mengerenyitkan dahi.


‘Kemana dia, ah mungkin sedang di ruang meeting seperti dugaan Santi tadi’, pikirku


positif.


‘Apa yang harus kulakukan, dimana aku menunggu? Oh lebih baik kutunggu di kantornya saja,


daripada repot dengan bawaan ini’, batinku.


Ku alihkan box kue ulang tahun ke tangan kiriku serta dagu sedikit menunduk agar tak


terjatuh atau bergeser saat aku membuka pintu. Tangan kananku yang terbebas


mulai meraih handle dan membukanya, seketika mataku terbeliak sempurna dan


barang bawaanku jatuh berserakan didepan pintu.


‘Jay….selly apa yang kalian lakukan’, teriak ku membahana.


Kedua orang itu terkejut serentak menghentikan kegiatannya.


‘Blaammm’,


pintu terbanting keras.


Terkejut dan bingung aku lari meninggalkan ruangan itu. Tak kupedulikan semuanya asal


dapat menjauh dari pemandangan yang menyakitkan hati. Dengan gugup melangkah


tak tentu arah, hingga mencapai pintu lift yang menuju ke lantai bawah.


‘Ting’


Gegas kumasuki lift yang ternyata tak seorang pun disana. Menata napas yang tersengal,


kupejamkan mata. Mencerna apa yang terjadi.

__ADS_1


‘Brengsek….bajingan


dasar pelacur murahan lelaki don yuan’, umpatku kasar di iringi air mata yang


mulai mengalir deras.


 ‘Tega kamu Jay…..tega’.


Saat indikator lift menunjukan angka satu, gegas keluar dari sana. Serta dengan


terburu-buru aku lari menuju parkiran. Tak kuhiraukan sapaan sopan Santi yang


kebingungan melihat ulahku.


Pak tarno yang sedang bersender dibangku kemudi pun kaget saat dengan kasar kubuka pintu


penumpang dan menghempaskan bokongku ke atasnya.


‘Jalan pak’, perintahku.


‘Baik non’.


Suara mobil distarter serta tuas gigi beralih kesatu tanda kendaraan itu siap


berjalan.


‘Brrrrrrmmmm’.


Pelan-pelan meninggalkan gedung perkantoran


Tarno melirik majikannya dari kaca spion sambil mengerutkan dahi. Kerutannya semakin


banyak ketika netranya menangkap bahwa nona mudanya sedang menangis.


Diulurkannya kotak tisu yang ada di dashboard mobil. Dia menerima dengan tangan


kanan tanpa memperlihatkan wajah sembabnya. Menghela napas.


‘Kita langsung pulang non?’


‘Em tidak, saya tidak mau melihat mama bersedih dengan keadaanku sekarang’.


‘Jadi nona minta diantar kemana?’


‘Kita ke desa Prigen saja pak, kerumah lek Parjo’.


‘Hah itu kan jauh non, bagaimana kalau nyonya besar dan tuan Jay mencari nanti?’


‘Tidak akan pak, kita akan pulang sebelum makan malam. Aku hanya ingin menenangkan


pikiran barang sebentar’.


‘Baiklah’.


Di kantor Jay, Cartwright building.


‘Oh damn, turun dari meja Selly!’, perintah Jay kasar.


‘Tapi Jay kita kan belum selesai’, desahnya manja sembari menggigit bibir bawahnya.


Jay mengetatkan kedua tangannya ke meja dan,


‘Braaak’


Selly terjengit kaget dan buru-buru turun serta merapikan roknya yang tersingkap


keatas. Berdiri dan mengancingkan blousenya.


‘Pergi tinggalkan aku sendiri!’, bentak Jay dengan penuh kemarahan.


Buru-buru meninggalkan ruangan Selly pun menutup pintu menuju meja kerjanya. Merapikan


dirinya yang berantakan, dia mengambil cermin dari tas kerja serta memoleskan


bedak dan gincu dibibirnya. Bayangan dicermin memantulkan senyum sinis nan


jahat darinya,


‘Akhirnya dendamku terbalas’, batinnya.


Tak beberapa lama kemudian dia menuju toilet wanita diujung koridor sambil mengenggam handphone.


Setelah meyakinkan diri bahwa dia satu-satunya di ruangan itu nada panggilan terdengar.


‘Good morning Mr.clark. Aku sudah mencapai tujuanku……ya misiku terlaksana. Jangan


kuatirkan itu…..sebentar lagi dia sepenuhnya milik anda. Betul…segera kutunggu


bayaranku. Tidak…tidak aku mau tunai dalam US dollar. Ya ke rekening yang


kukirimkan ke asisten mu. Okay kutunggu kabar selanjutnya’.

__ADS_1


‘Deal’, hanya itu jawaban dari sana.


__ADS_2