
Kota Batu adalah destinasi wisata yang sangat menyegarkan. Hampir disetiap
rumah menyajikan pemandangan kebun dan tanaman.
Ditambah dengan hawa sejuk pegunungan, membuat semua wisatawan
lokal maupun mancanegara betah berlama-lama didalamnya.
Belum lagi jika para pencari hiburan mau sedikit bersusah payah
untuk mengunjungi daerah pegunungan. Di lereng Arjuno banyak terdapat
perkebunan sayur juga buah-buahan yang siap untuk dibawa pulang.
Diantara semua tempat refreshing dari kota dingin ini, terdapat
pula lahan perkebunan milik The Robinson. Dengan luas lahan seratus hektar yang
terdapat bangunan hotel di seperempatnya. Konsep perkebunan yang mempunyai
hotel, begitulah kira-kira tujuannya.
Dengan karyawan hampir seribu orang, destinasi wisata tersebut
beroperasi. Pekerja paling banyak didominasi oleh petani. Sedangkan sepuluh
orang diantaranya adalah tenaga ahli yang bertugas menciptakan varietas pohon
apel terbaru. “Benar-benar sebuah lahan bisnis yang sangat menguntungkan,
bukan?”
Di tengah perkebunan apel saat ini tengah duduk sang nona,
menikmati teh sore harinya dengan ditemani sang asisten. Menyesap cangkirnya
dengan perlahan. Meneguk isinya dengan hati-hati. Tatkala rasa minuman
menyentuh tenggorokannya, dia pun mengucapkan kata, “Heeem,” sebagai ungkapan
rasa nikmat.
David yang mengikuti tingkah laku sang nona pun merasa healing.
Dia tampak santai dengan celana pendek selutut dan kaos oblong berwarna
putihnya. Tatkala terdengar kata, “Heeem,” sekali lagi secara bersamaan.
Keduanya pun tertawa.
Suti menoleh ke arah pria blasteran di sampingnya, ketika minuman
di cangkirnya habis. Dan, “Dave bisahkah kau menolongku?”
“Ya bos. Apa yang bisa kulakukan untukmu?”
“Panggil pengawas perkebunan kemari”.
“Oke bos”.
Mengeluarkan handphone dari saku celana, Dave mencari nomor
manajer hotel.
“Tuuut….tuuut”.
“Halo, Herman speaking. May I help you?”
“Tolong panggilkan pengawas perkebunan kemari. Big bos yang
suruh”.
“Okay Mr. Dave. He will be there in a few minutes”.
“Good”.
“Klik”.
Sebuah golf cart yang dikendarai oleh dua orang pria menuju tengah
perkebunan. Derumannya terhenti kala sang sopir menginjak rem. Menarik tuas
handbrake saat keduanya turun mendekati sang majikan. Menganggukan kepala
sebagai tanda hormat. Keduanya pun dipersilahkan duduk berhadapan dengan si
pemilik perkebunan.
Suti menyalami keduanya sebelum netranya fokus pada pengawas
__ADS_1
perkebunan. Dia tersenyum saat mengawali percakapan.
“Bagaimana kabarmu, Hendri?”
“Aku~baik nona Suti. Bagaimana dengan anda?”
“Seperti yang kau lihat”.
“Ada perlu apa kiranya anda memanggil saya nona?”
“Tak perlu terlalu formal. Kamu bisa memanggilku dengan nama
saja”.
“Maaf ini masih jam kerja dan anda adalah bosnya”.
“Begitukah? Ha…ha…ha. Ah sudahlah, aku tidak akan membahas masalah
perkebunan”.
“Jadi nona?”
“Dave ajak pak Kartono mengelilingi areal apel Ana,” sambil
mengedipkan mata.
“As you wish bos. Ayo pak supiri aku ke sana”.
“Baik tuan Dave”.
Merekapun beranjak dari tempat itu dengan mengendari gocartnya.
Tinggalah Hendri dan Suti yang tengah menetralkan kecanggungan
suasana. Sang pria merasa sungkan dengan keberadaan wanita yang menjadi bosnya
saat ini. Dia merasa kecil bila disandingkan dengan posisinya.
“Well bagaimana kabar istrimu?”
“Dia baik-baik saja nona”.
“Jangan sungkan”.
“Ma~maaf Suti. Aku sudah terbiasa dengan panggilan itu”.
“Baiklah”.
“Kamu tak berniat punya anak lagi?”
“Itu~itu sepertinya tidak mungkin dengan kondisi rahim istriku,”
menghela napas sejenak.
“Ouh aku mengerti, ”jawabnya prihatin.
“Tapi kami berencana untuk mengadopsi satu atau dua anak. Mungkin
tiga lebih baik, “Jawabnya antusias.
“Haish…bagus aku selalu mendukungmu”.
“Terima kasih, “sembari menunduk malu.
“Katakan jika kau butuh sesuatu. Jangan sungkan. Kamu bisa
berbicara dengan Herman”.
“Te~terima kasih Suti, “matanya mulai berkaca-kaca. “Maafkan atas
semua perbuatan jahatku padamu dulu. Hiks…” lanjutnya kembali.
“Ah sudalah lupakan. Yang penting tata kembali hidupmu. Saat ini
kamu bisa menghidupi keluargamu dengan layak, oke”.
Bersimpuh didepan Suti dan meraih tangannya, “Terima kasih~terima
kasih untuk semuanya ini”.
“Bangkitlah Hendri. Duduklah kembali”.
Dia pun menuruti perintahnya.
“Ehem, maaf kalau aku sedikit lancang”.
“Maksudmu?”
“Kau~kau, “lanjutnya sedikit ragu.
__ADS_1
Menelisik ke netra Suti sebelum melanjutkan pembicaraan. Saat tak
menangkap jejak kebencian disana, dia pun membuka mulutnya.
“Mengapa kau tidak kembali dengan Jodi? Kalian masih saling
mencintai, kan?”
“Oh itu, ha…ha…ha. Kenapa Hendri?”
“Semua orang berhak bahagia, termasuk kamu. Aku yakin kalian masih
saling mencintai”.
Menghembuskan napasnya ke udara. “Mungkin, “dengan keyakinan yang tipis.
“Kenapa kamu tidak mencobanya, Suti? Apakah terlalu menyakitkan?”
Saat hendak menjawab wanita itu menggelengkan kepalanya sejenak. Menyilangkan
kaki dan menyangga dagu dengan jemari lentiknya. Menatap intens ke manik mata
pria dihadapan. Dan mulai angkat bicara, “Masih sangat menyakitkan. Hanya waktu
yang bisa menghapusnya nanti”.
“Tapi kalian masih ada kesempatan, kan? Aku terlalu mengenalmu
dengan baik, Suti. Hanya saja terlalu sombong di dalam sana, “sambil menyelami
bola mata coklatnya.
“Apa yang kamu cari disitu Hend?”
Mengalihkan pandangannya, “Tidak ada, “elaknya.
“Fine. Kamu bisa melanjutkan tugasmu. Dan sampaikan salamku untuk
istrimu, okay”.
“Tentu~aku akan menyampaikannya. Terima kasih atas semuanya nona
Suti”.
“Heem”.
Lelaki itu berjalan menjauh. Duduk dibangku perkebunan yang
berjarak seratus meter dari sang majikan yang tengah menikmati waktu santainya.
“Semoga kebahagiaan menghampirimu nona, “batinnya. Dia mengibaskan
topi yang dia kenakan untuk mengusir peluh yang mulai bercucuran. Netranya pun
mulai menoleh ke suara gocart yang tampak bergerak lambat dari kejauhan.
Tak beberapa lama kendaraan itu berhenti di dekat sang nona. Dan pria
indo pun turun. Membungkukan badan sebentar kepada sang majikan.
Hendri mendekat serta mengucapkan kata perpisahan kepada sang bos
dan asistennya. Setelah anggukan diberikan, dia pun meninggalkan tempat itu
bersama pak Kartono. Kendaraan pun melaju dengan di iringi oleh lambaian tangan
big bos hingga mereka hilang dari pandangan.
“Well nona?”
“Hem…hari hampir petang Dave. Kurasa tea time kita sudah saatnya
di akhiri”.
“Oke bos. Aku akan panggil mereka untuk membawa kita kembali ke
hotel”.
“Heem”.
Sang asisten pun memulai panggilan melalui gawai yang dipegangnya.
Dalam sekejap seluruh peralatan piknik mereka telah berpindah tempat ke wagon
perkebunan.
Sedangkan Suti dan Dave menaiki jep terbuka yang dibawa oleh Jeff.
Mereka pun beranjak menuju hotel disisi kanan perkebunan.
__ADS_1