MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB LXX


__ADS_3

Kota Batu adalah destinasi wisata yang sangat menyegarkan. Hampir disetiap


rumah menyajikan pemandangan kebun dan tanaman.


Ditambah dengan hawa sejuk pegunungan, membuat semua wisatawan


lokal maupun mancanegara betah berlama-lama didalamnya.


Belum lagi jika para pencari hiburan mau sedikit bersusah payah


untuk mengunjungi daerah pegunungan. Di lereng Arjuno banyak terdapat


perkebunan sayur juga buah-buahan yang siap untuk dibawa pulang.


Diantara semua tempat refreshing dari kota dingin ini, terdapat


pula lahan perkebunan milik The Robinson. Dengan luas lahan seratus hektar yang


terdapat bangunan hotel di seperempatnya. Konsep perkebunan yang mempunyai


hotel, begitulah kira-kira tujuannya.


Dengan karyawan hampir seribu orang, destinasi wisata tersebut


beroperasi. Pekerja paling banyak didominasi oleh petani. Sedangkan sepuluh


orang diantaranya adalah tenaga ahli yang bertugas menciptakan varietas pohon


apel terbaru. “Benar-benar sebuah lahan bisnis yang sangat menguntungkan,


bukan?”


Di tengah perkebunan apel saat ini tengah duduk sang nona,


menikmati teh sore harinya dengan ditemani sang asisten. Menyesap cangkirnya


dengan perlahan. Meneguk isinya dengan hati-hati. Tatkala rasa minuman


menyentuh tenggorokannya, dia pun mengucapkan kata, “Heeem,” sebagai ungkapan


rasa nikmat.


David yang mengikuti tingkah laku sang nona pun merasa healing.


Dia tampak santai dengan celana pendek selutut dan kaos oblong berwarna


putihnya. Tatkala terdengar kata, “Heeem,” sekali lagi secara bersamaan.


Keduanya pun tertawa.


Suti menoleh ke arah pria blasteran di sampingnya, ketika minuman


di cangkirnya habis. Dan, “Dave bisahkah kau menolongku?”


“Ya bos. Apa yang bisa kulakukan untukmu?”


“Panggil pengawas perkebunan kemari”.


“Oke bos”.


Mengeluarkan handphone dari saku celana, Dave mencari nomor


manajer hotel.


“Tuuut….tuuut”.


“Halo, Herman speaking. May I help you?”


“Tolong panggilkan pengawas perkebunan kemari. Big bos yang


suruh”.


“Okay Mr. Dave. He will be there in a few minutes”.


“Good”.


“Klik”.


Sebuah golf cart yang dikendarai oleh dua orang pria menuju tengah


perkebunan. Derumannya terhenti kala sang sopir menginjak rem. Menarik tuas


handbrake saat keduanya turun mendekati sang majikan. Menganggukan kepala


sebagai tanda hormat. Keduanya pun dipersilahkan duduk berhadapan dengan si


pemilik perkebunan.


Suti menyalami keduanya sebelum netranya fokus pada pengawas

__ADS_1


perkebunan. Dia tersenyum saat mengawali percakapan.


“Bagaimana kabarmu, Hendri?”


“Aku~baik nona Suti. Bagaimana dengan anda?”


“Seperti yang kau lihat”.


“Ada perlu apa kiranya anda memanggil saya nona?”


“Tak perlu terlalu formal. Kamu bisa memanggilku dengan nama


saja”.


“Maaf ini masih jam kerja dan anda adalah bosnya”.


“Begitukah? Ha…ha…ha. Ah sudahlah, aku tidak akan membahas masalah


perkebunan”.


“Jadi nona?”


“Dave ajak pak Kartono mengelilingi areal apel Ana,” sambil


mengedipkan mata.


“As you wish bos. Ayo pak supiri aku ke sana”.


“Baik tuan Dave”.


Merekapun beranjak dari tempat itu dengan mengendari gocartnya.


Tinggalah Hendri dan Suti yang tengah menetralkan kecanggungan


suasana. Sang pria merasa sungkan dengan keberadaan wanita yang menjadi bosnya


saat ini. Dia merasa kecil bila disandingkan dengan posisinya.


“Well bagaimana kabar istrimu?”


“Dia baik-baik saja nona”.


“Jangan sungkan”.


“Ma~maaf Suti. Aku sudah terbiasa dengan panggilan itu”.


“Baiklah”.


“Kamu tak berniat punya anak lagi?”


“Itu~itu sepertinya tidak mungkin dengan kondisi rahim istriku,”


menghela napas sejenak.


“Ouh aku mengerti, ”jawabnya prihatin.


“Tapi kami berencana untuk mengadopsi satu atau dua anak. Mungkin


tiga lebih baik, “Jawabnya antusias.


“Haish…bagus aku selalu mendukungmu”.


“Terima kasih, “sembari menunduk malu.


“Katakan jika kau butuh sesuatu. Jangan sungkan. Kamu bisa


berbicara dengan Herman”.


“Te~terima kasih Suti, “matanya mulai berkaca-kaca. “Maafkan atas


semua perbuatan jahatku padamu dulu. Hiks…” lanjutnya kembali.


“Ah sudalah lupakan. Yang penting tata kembali hidupmu. Saat ini


kamu bisa menghidupi keluargamu dengan layak, oke”.


Bersimpuh didepan Suti dan meraih tangannya, “Terima kasih~terima


kasih untuk semuanya ini”.


“Bangkitlah Hendri. Duduklah kembali”.


Dia pun menuruti perintahnya.


“Ehem, maaf kalau aku sedikit lancang”.


“Maksudmu?”


“Kau~kau, “lanjutnya sedikit ragu.

__ADS_1


Menelisik ke netra Suti sebelum melanjutkan pembicaraan. Saat tak


menangkap jejak kebencian disana, dia pun membuka mulutnya.


“Mengapa kau tidak kembali dengan Jodi? Kalian masih saling


mencintai, kan?”


“Oh itu, ha…ha…ha. Kenapa Hendri?”


“Semua orang berhak bahagia, termasuk kamu. Aku yakin kalian masih


saling mencintai”.


Menghembuskan napasnya ke udara. “Mungkin, “dengan keyakinan yang tipis.


“Kenapa kamu tidak mencobanya, Suti? Apakah terlalu menyakitkan?”


Saat hendak menjawab wanita itu menggelengkan kepalanya sejenak. Menyilangkan


kaki dan menyangga dagu dengan jemari lentiknya. Menatap intens ke manik mata


pria dihadapan. Dan mulai angkat bicara, “Masih sangat menyakitkan. Hanya waktu


yang bisa menghapusnya nanti”.


“Tapi kalian masih ada kesempatan, kan? Aku terlalu mengenalmu


dengan baik, Suti. Hanya saja terlalu sombong di dalam sana, “sambil menyelami


bola mata coklatnya.


“Apa yang kamu cari disitu Hend?”


Mengalihkan pandangannya, “Tidak ada, “elaknya.


“Fine. Kamu bisa melanjutkan tugasmu. Dan sampaikan salamku untuk


istrimu, okay”.


“Tentu~aku akan menyampaikannya. Terima kasih atas semuanya nona


Suti”.


“Heem”.


Lelaki itu berjalan menjauh. Duduk dibangku perkebunan yang


berjarak seratus meter dari sang majikan yang tengah menikmati waktu santainya.


“Semoga kebahagiaan menghampirimu nona, “batinnya. Dia mengibaskan


topi yang dia kenakan untuk mengusir peluh yang mulai bercucuran. Netranya pun


mulai menoleh ke suara gocart yang tampak bergerak lambat dari kejauhan.


Tak beberapa lama kendaraan itu berhenti di dekat sang nona. Dan pria


indo pun turun. Membungkukan badan sebentar kepada sang majikan.


Hendri mendekat serta mengucapkan kata perpisahan kepada sang bos


dan asistennya. Setelah anggukan diberikan, dia pun meninggalkan tempat itu


bersama pak Kartono. Kendaraan pun melaju dengan di iringi oleh lambaian tangan


big bos hingga mereka hilang dari pandangan.


“Well nona?”


“Hem…hari hampir petang Dave. Kurasa tea time kita sudah saatnya


di akhiri”.


“Oke bos. Aku akan panggil mereka untuk membawa kita kembali ke


hotel”.


“Heem”.


Sang asisten pun memulai panggilan melalui gawai yang dipegangnya.


Dalam sekejap seluruh peralatan piknik mereka telah berpindah tempat ke wagon


perkebunan.


Sedangkan Suti dan Dave menaiki jep terbuka yang dibawa oleh Jeff.


Mereka pun beranjak menuju hotel disisi kanan perkebunan.

__ADS_1


__ADS_2