MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XXIV


__ADS_3

‘Baiklah pemirsa kita akan menghubungi saudara Michelle di tempat kejadian perkara.


Silahkan Michelle!’


‘Selamat pagi pemirsa, saat ini saya sedang bersama bapak Hamdan selaku kepala


investigasi dari tindakan kejahatan yang sedang terjadi kemarin sore di kaki


gunung Gede Jawa Barat’.


‘Selamat pagi bapak’.


‘Selamat pagi kak Michelle’.


‘Bisakah bapak menjelaskan sedikit tentang penemuan orang meninggal tersebut’.


‘Em begini, mayat yang kami temukan kemarin adalah seorang perempuan, usia kurang


lebih tiga puluh lima tahun, tingginya sekitar seratus enam puluh lima


centimeter, berambut panjang dan memakai gaun berwarna merah menyala’.


‘Apakah orang tersebut mati dibunuh ataukah bunuh diri?’


‘Kalau dilihat secara kasat mata saya dapat menyimpulkannya untuk sementara ini dia


mati dibunuh’.


‘Dibunuh dengan apa pak?’


‘Menilik lebam dan birunya disekujur tubuh, saya dapat melihat bahwa perempuan itu


diracuni’.


‘Apakah ada tanda-tanda kekerasan ditubuh korban pak?’


‘Tidak ada, hanya saja saya lihat dileher sebelah kiri korban ada bekas gigitan


taring’.


‘Apakah bisa didefinisikan sebagai gigitan binatang buas pak?’


‘Kurang lebih begitu kak Michelle tapi dari pihak penyelidik masih perlu menunggu hasil


otopsi supaya lebih jelas lagi’.


‘Baiklah pak terima kasih atas penjelasannya, kami masih menunggu info selanjutnya dari


anda. Selamat pagi’.


‘Selamat pagi’.


‘Baiklah pemirsa kita akan kembali dengan rekan Deni di studio’.


Cartwright building.


‘Tok…tok’.


‘Masuk’.


Tampak Andrew berjalan mendekati meja bosnya dengan membawa tablet.


‘Ada apa Ndrew’, tanyanya begitu dia mendekat.


‘Ehm ini bos, kabar buruk’.


‘Apa maksudmu dengan itu’.


‘Ini rekaman video dari orang suruhan kita yang membuntuti Dina’.


Mengangsurkan tablet tersebut ke arah Jay.

__ADS_1


Meletakan dokumen yang ditelitinya, dia memutar rekaman tersebut. Matanya nanar melihat


gambar yang ada di dalamnya.


Tampak mayat Dina yang bersender di pohon yang ada di kawasan gunung Gede. Dan empat


pemuda yang tengah gemetaran disekitar lokasi kejadian.


‘Siapa mereka?’ tanyanya.


‘Mahasiswa dari Solo bos. Mereka baru turun gunung dan hendak pulang ketika salah satu


diantaranya menemukan mayat Dina’.


‘Anak buah kita tidak menaruh curiga padanya’.


‘Tidak bos, mereka betul-betul tidak ada hubungannya dengan wanita itu selain kesialan


saat menemukan mayatnya’.


‘Heemm’.


‘Ada lagi bos, di tas wanita itu ada bill club ‘Lady’s night’ Jakarta’.


‘Suruh mereka meretas CCTV club itu, Ndrew. Aku mau kabarnya besok pagi-pagi sekali di


Hand phone ku’.


‘Baik bos, saya pamit kembali ke ruangan dulu’.


‘Hemm, pergilah’.


Gegas Andrew membuka pintu ruangan presdir dan menutupnya. Ketika sudah sampai di


meja kerjanya, dia mengambil telepon genggam yang ada di saku celana serta


memencet nomor orang suruhannya agar segera menjalankan plan ‘B’.


sesuai rencana. Ia memijit keningnya perlahan tepat ditonjolan pembuluh darah


yang mulai bermunculan disana. Sekedar meringankan emosi yang mulai mencuat.


Horizon hotel kamar 302.


Sudah hampir jam sebelas siang, tapi Clark masih tertidur bergelung dibawah selimut


tebal.


David melangkah perlahan mendekati sang bos serta hendak membangunkannya untuk brunch


menjadi urung. Ditelitinya wajah Clark seksama. Menjulurkan tangan hendak


menyentuh badannya. Niatan itu tak terjadi saat dia melihat wajah sang bos yang


pucat pasi.


‘Tuan Clark, apa anda baik-baik saja’, tanyanya.


Tak ada jawaban.


‘Mr. Clark, are you allright?’, tanyanya kembali.


Sedangkan yang ditanya hanya bergerak miring ke kiri, memunggunginya.


‘Fiuuuh, dasar putri tidur’, umpat Dave dalam hati.


Duduk di sisi tempat tidur David kembali menatap bosnya intens.


‘Seperti orang mati saja. Apakah dia tidak lapar melewatkan sarapan paginya dan sekarang


hampir makan siang’.

__ADS_1


Mengecek sebentar ke jam tangan pengingat kegiatan sang bos. Kembali ia bergumam,


‘Untung dia free hari ini’.


Merasa bahwa sang putri tidur masih terlelap, dia pun beranjak keluar ruangan menuju


lift.


‘Ting’.


Ia pun turun ke lantai satu dimana restoran berada dan memesan sarapan untuk dirinya sendiri.


Double sandwich serta kopi pahit menjadi menunya hari ini. Ketika sesapan


terakhir dari cangkir yang ada di hadapannya selesai, teleponnya mulai berdering.


‘Truut…..truuut’.


‘Ya halo, David speaking’.


‘Halo Dave, apakah big bos ada?’, terdengar suara seorang perempuan dari seberang.


‘Ada’, sahutnya pendek.


‘Bisakah kamu memberikan panggilan ini padanya, penting!’


‘Tidak bisa orangnya masih tidur dan aku sedang sarapan di resto hotel’.


‘Whaat? Jam segini masih tidur. Tidak kah kamu bisa membangunkannya? Ini penting Dave,


please!’


‘Ada apa Selly, kamu bisa menyampaikannya padaku’.


‘I…..ini tentang perempuan suruhanku itu Dave. Dia mati terbunuh’.


‘Heeem’.


‘Kau tidak kaget?’


‘Aku sudah tahu berita itu dari acara News Morning. Lantas apa hubunganmu dengan


kematiannya’.


‘Ya jelas ada lah Dave. Bagaimana kalau nanti polisi menghubungkan kematiannya denganku. Aku


yang selama ini mengurusi keperluan dia selama tinggal di Jakarta. Aku yakin


semua orang di sekitar dia tahu itu’.


‘Daan’.


‘Damn you Dave, aku tidak mau membusuk di penjara’.


‘Ha…..ha ternyata kamu takut juga akan hal itu. Kupikir……’.


‘Oh ayolah, biarkan aku berbicara dengan bos’.


‘Tak bisa Selly beliau sedang tidur nyenyak, tak ingin diganggu’.


‘Lalu bagaimana denganku?’


‘Menyingkirlah dari tempatmu sekarang. Pergi sejauh mungkin sebelum mereka mengendus


keberadaanmu’.


‘Baiklah’.


‘Tut’.


David hanya menggelengkan kepalanya pelan dan beranjak dari restoran itu.

__ADS_1


__ADS_2