MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB LXII


__ADS_3

Jalan raya arah Singosari.


Sebuah mobil terparkir di bawah pepohonan yang berjajar rapi di


pinggir jalan utama. Dengan penumpang seorang pria memakai kaca mata hitam


serta headset terpasang ditelinga.


Matanya menatap lurus ke warung pinggir jalan. Tampak antrian


panjang disana. Padahal malam sudah sangat larut. Dia melihat jam di


pergelangan yang menunjukan pukul dua puluh tiga lewat lima belas menit.


“Sudah hampir tengah malam,” pikirnya. “Mengapa mereka belum kelar


juga?”


Saat ada pria berjaket hijau keluar dari antrian itu, dia mulai


menghubungi anak buahnya. Dengan tak mengalihkan tatapan pada pergerakan orang


yang menjadi targetnya.


Sang pria pun duduk di sebuah saung yang agak jauh dari tempat


pemesanan, sambil meletakan baki makanan yang dibawa.


Menggeser kursi lebih dekat ke meja serta memindahkan isi ke


atasnya. Mengambil dua piring yang terletak di sisi kiri. Meletakan satu di


hadapan dan mengambil lainnya yang diletakan di sisi lain.


Sembari bersiul, “Fiuuuh, akhirnya semua telah siap,” gumamnya


pelan.


Tak beberapa lama seorang gadis berambut panjang menghampiri. Bergelayut


manja di lengan serta mencium pipinya. Mengurai adegan romantis, pria itu pun


mempersilahkannya duduk.


“Kenapa lama sekali, Yuli?”


“Antre mas…panjaaang,” jawabnya manja.


“Oh ya. Aku pun tadi antre di tempat pemesanan”.


“Ya, itulah. Harap maklum ini kan malam minggu”.


“Ouh iya benar juga. Mas sampai lupa,” jawabnya sambil menggusrak


rambut si gadis.


“Ayo dimakan keburu dingin,” katanya kembali.


“Oke mas. Setelah itu kita kemana?”


“Selesaikan dulu makannya. Kamu kebiasaan deh. Yang satu belum


kelar tanya yang lain. Gak sabaran banget”.


Mengerucutkan bibir sebagai tanda protes. Sang gadis pun tetap


mematuhi perintahnya.


Tiba-tiba,” Aduh”.


“Kenapa Yul?” sambil melihat ke arah perut gadis itu.


“Perutku mules”.


“Kebanyakan makan sambel kali. Sudah ke toilet sana”.


“Perasaan tadi aku cuma mengambil seujung sendok teh deh”.


“Sudah tak usah dipikir nanti keburu ambrol tuh disini,” suruhnya


sambil menutup hidung.


“Haah, mas Hendri ya gak gitu juga kali. Masak aku mau


mengeluarkannya disini”.


“Ya sudah sana cepetan”.

__ADS_1


“Baiklaaah,” jawabnya sambil berlari menuju toilet perempuan.


Hendri hanya melongo melihat kecepatan gadis itu berlari. Dalam sekejap


dia tak kelihatan dalam pandangan.


Ia tersentak menoleh ke samping kanan saat merasa tepukan di


bahunya.


“Eh, sampai kaget. Anda siapa?” tanyanya begitu orang tersebut


muncul di depan.


“Boleh kami duduk?” tanya lelaki berbaju seragam hitam-hitam.


“Si-silahkan. Apa saya mengenal kalian?”


“Em, anda tak perlu tahu siapa kami. Hanya dengarkan saja apa yang


saya katakan”.


“Baiklah asal hal itu baik”.


“Tentu saja manajer Hendri”.


“Ba~bagaimana anda tahu jabatan saya?”


“Bukankah sudah saya katakan. Saya tahu apa pun tentang anda,


keluarga, pekerjaan bahkan kekasih baru anda yang tadi pergi ke toilet. Bagaimana?”


tatapnya intens.


“Hems, oke. Jelaskan”.


“Bondan, berikan foto itu”.


“Ini bos”.


“Anda kenal perempuan ini tuan Hendri?”


Hendri terbeliak saat netranya menangkap gambar wanita dalam foto.


“Itu~itu kan Suti?” batinnya.


“Bagaimana dengan video ini, tuan?” sambung lelaki itu sambil


memperlihatkan video dari sebuah tablet.


Dengan gusar Hendri mengepalkan tangan dan mengebrak meja.


“Woo…wooo, sabar tuan. Ingat ini tempat umum. Bukankah anda


bekerja di instansi pemerintah. Anda tidak ingin ada skandal yang viral, kan? Nanti


anda terkena sanksi disiplin. Bukan begitu?”


Dia menurunkan kadar emosinya. “Apa mau kalian?”


“Tidak ada. Hanya menjauhlah dari dia dan hilangkan semua hal yang


berhubungan dengannya”.


“Jika aku tak mau!”


“Jangan menantang kami, tuan”.


“Aku tidak takut. Kalian pengawal pribadi seseorang, kan? Aku pun


punya, jadi jangan coba-coba mengancamku!”


“Baiklah jika itu yang anda inginkan tuan Hendri. Kami permisi dan


selamat bersenang-senang”.


Melotot dengan penuh emosi, Hendri membiarkan kedua lelaki


tersebut meninggalkannya.


Menetralkan gejolak dalam dada, dia mengambil air putih dan


menyesapnya pelan. Menghembuskan napas, saat netranya tak dapat melihat Yuli


yang seharusnya sudah selesai dengan urusannya di toilet.


Sedikit melamun, Hendri hanya bisa pasrah menunggu si wanita dari

__ADS_1


sana. Dan mengangguk mengucapkan terima kasih, saat ada seorang waiters


meletakan dua buah jus di meja.


“Silahkan dinikmati, tuan”.


“Hem”.


Begitu si pelayan pergi, Yuli datang dengan wajah penuh kelegaan.


“Mengapa lama sekali? Antrian panjang lagi?”


“Em, nggak. Hanya saja perutku terlalu mules. Kutuntaskan saja


semua tadi”.


“Merasa enakan?” nadanya melembut.


“Tentu saja. Bisa kita mulai makannya?”


“Hem, iya”.


Hanya dentingan sendok garpu yang terdengar kemudian.


“Well?” tanya Yuli sesudah menghabiskan jus yang tersisa.


“Ke tempat kontrakanku saja, bagaimana?”


“Baiklah”.


“Oke, let’s go,” jawab Hendri sembari mengangsurkan lengan.


Memencet remote mobil, saat berada di pelataran parkir. Hendri pun


membuka pintu disisi kemudi untuk sang kekasih. Menutupnya kembali setelah


memberikan kecupan singkat di pipi.


Dia berjalan menuju kemudi. Memposisikan dirinya dibelakang setir.


Memutar kunci dan mulai melajukan kendaraannya ke kota.


Sesampai di perumahan elit dekat kampus ‘Bens’, mobil itu


berhenti. Hendri turun dan memencet bel pintu gerbang. Tak beberapa lama,


seorang pria membukakannya.


Hendri pun melajukan kendaraan ke dalam. Gesekan roda dengan


kerikil terdengar. Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk.


Mengandeng tangan sang perempuan, dia pun melangkah ke rumah


dengan sedikit sempoyongan.


“Apa mereka sedang mabuk?” batin si penjaga rumah, saat melihat


kedua majikan yang berjalan tidak seperti biasanya.


Kedua sejoli tampak seperti terpengaruh oleh sesuatu,


bernyanyi-nyanyi dengan gembira, saat memasuki ruang tamu.


Saling dorong, Hendri menindih Yuli di sofa. Tatapannya penuh


minat, dia sangat menginginkan gadis itu.


“Emm, boleh kah?” tanya Hendri penuh nafsu.


“Boleh,” jawab Yuli dengan tidak sadar.


Mereka pun saling mencium tanpa jeda. Bertukar


saliva dengan kecipak nyaring terdengar. Napas keduanya memburu saling


bersahutan mengambil udara.


Menikmati hubungan terlarang yang


seharusnya tidak dilakukan. Hendri sang manajer perusahaan pemerintahan, malam


ini telah melakukan kesalahan fatal.


Menuntaskan hasrat gejolak jiwa, kedua


manusia lawan jenis itu tertidur dengan pulas. Saat semuanya telah terjadi.

__ADS_1


__ADS_2