
Jalan raya arah Singosari.
Sebuah mobil terparkir di bawah pepohonan yang berjajar rapi di
pinggir jalan utama. Dengan penumpang seorang pria memakai kaca mata hitam
serta headset terpasang ditelinga.
Matanya menatap lurus ke warung pinggir jalan. Tampak antrian
panjang disana. Padahal malam sudah sangat larut. Dia melihat jam di
pergelangan yang menunjukan pukul dua puluh tiga lewat lima belas menit.
“Sudah hampir tengah malam,” pikirnya. “Mengapa mereka belum kelar
juga?”
Saat ada pria berjaket hijau keluar dari antrian itu, dia mulai
menghubungi anak buahnya. Dengan tak mengalihkan tatapan pada pergerakan orang
yang menjadi targetnya.
Sang pria pun duduk di sebuah saung yang agak jauh dari tempat
pemesanan, sambil meletakan baki makanan yang dibawa.
Menggeser kursi lebih dekat ke meja serta memindahkan isi ke
atasnya. Mengambil dua piring yang terletak di sisi kiri. Meletakan satu di
hadapan dan mengambil lainnya yang diletakan di sisi lain.
Sembari bersiul, “Fiuuuh, akhirnya semua telah siap,” gumamnya
pelan.
Tak beberapa lama seorang gadis berambut panjang menghampiri. Bergelayut
manja di lengan serta mencium pipinya. Mengurai adegan romantis, pria itu pun
mempersilahkannya duduk.
“Kenapa lama sekali, Yuli?”
“Antre mas…panjaaang,” jawabnya manja.
“Oh ya. Aku pun tadi antre di tempat pemesanan”.
“Ya, itulah. Harap maklum ini kan malam minggu”.
“Ouh iya benar juga. Mas sampai lupa,” jawabnya sambil menggusrak
rambut si gadis.
“Ayo dimakan keburu dingin,” katanya kembali.
“Oke mas. Setelah itu kita kemana?”
“Selesaikan dulu makannya. Kamu kebiasaan deh. Yang satu belum
kelar tanya yang lain. Gak sabaran banget”.
Mengerucutkan bibir sebagai tanda protes. Sang gadis pun tetap
mematuhi perintahnya.
Tiba-tiba,” Aduh”.
“Kenapa Yul?” sambil melihat ke arah perut gadis itu.
“Perutku mules”.
“Kebanyakan makan sambel kali. Sudah ke toilet sana”.
“Perasaan tadi aku cuma mengambil seujung sendok teh deh”.
“Sudah tak usah dipikir nanti keburu ambrol tuh disini,” suruhnya
sambil menutup hidung.
“Haah, mas Hendri ya gak gitu juga kali. Masak aku mau
mengeluarkannya disini”.
“Ya sudah sana cepetan”.
__ADS_1
“Baiklaaah,” jawabnya sambil berlari menuju toilet perempuan.
Hendri hanya melongo melihat kecepatan gadis itu berlari. Dalam sekejap
dia tak kelihatan dalam pandangan.
Ia tersentak menoleh ke samping kanan saat merasa tepukan di
bahunya.
“Eh, sampai kaget. Anda siapa?” tanyanya begitu orang tersebut
muncul di depan.
“Boleh kami duduk?” tanya lelaki berbaju seragam hitam-hitam.
“Si-silahkan. Apa saya mengenal kalian?”
“Em, anda tak perlu tahu siapa kami. Hanya dengarkan saja apa yang
saya katakan”.
“Baiklah asal hal itu baik”.
“Tentu saja manajer Hendri”.
“Ba~bagaimana anda tahu jabatan saya?”
“Bukankah sudah saya katakan. Saya tahu apa pun tentang anda,
keluarga, pekerjaan bahkan kekasih baru anda yang tadi pergi ke toilet. Bagaimana?”
tatapnya intens.
“Hems, oke. Jelaskan”.
“Bondan, berikan foto itu”.
“Ini bos”.
“Anda kenal perempuan ini tuan Hendri?”
Hendri terbeliak saat netranya menangkap gambar wanita dalam foto.
“Itu~itu kan Suti?” batinnya.
“Bagaimana dengan video ini, tuan?” sambung lelaki itu sambil
memperlihatkan video dari sebuah tablet.
Dengan gusar Hendri mengepalkan tangan dan mengebrak meja.
“Woo…wooo, sabar tuan. Ingat ini tempat umum. Bukankah anda
bekerja di instansi pemerintah. Anda tidak ingin ada skandal yang viral, kan? Nanti
anda terkena sanksi disiplin. Bukan begitu?”
Dia menurunkan kadar emosinya. “Apa mau kalian?”
“Tidak ada. Hanya menjauhlah dari dia dan hilangkan semua hal yang
berhubungan dengannya”.
“Jika aku tak mau!”
“Jangan menantang kami, tuan”.
“Aku tidak takut. Kalian pengawal pribadi seseorang, kan? Aku pun
punya, jadi jangan coba-coba mengancamku!”
“Baiklah jika itu yang anda inginkan tuan Hendri. Kami permisi dan
selamat bersenang-senang”.
Melotot dengan penuh emosi, Hendri membiarkan kedua lelaki
tersebut meninggalkannya.
Menetralkan gejolak dalam dada, dia mengambil air putih dan
menyesapnya pelan. Menghembuskan napas, saat netranya tak dapat melihat Yuli
yang seharusnya sudah selesai dengan urusannya di toilet.
Sedikit melamun, Hendri hanya bisa pasrah menunggu si wanita dari
__ADS_1
sana. Dan mengangguk mengucapkan terima kasih, saat ada seorang waiters
meletakan dua buah jus di meja.
“Silahkan dinikmati, tuan”.
“Hem”.
Begitu si pelayan pergi, Yuli datang dengan wajah penuh kelegaan.
“Mengapa lama sekali? Antrian panjang lagi?”
“Em, nggak. Hanya saja perutku terlalu mules. Kutuntaskan saja
semua tadi”.
“Merasa enakan?” nadanya melembut.
“Tentu saja. Bisa kita mulai makannya?”
“Hem, iya”.
Hanya dentingan sendok garpu yang terdengar kemudian.
“Well?” tanya Yuli sesudah menghabiskan jus yang tersisa.
“Ke tempat kontrakanku saja, bagaimana?”
“Baiklah”.
“Oke, let’s go,” jawab Hendri sembari mengangsurkan lengan.
Memencet remote mobil, saat berada di pelataran parkir. Hendri pun
membuka pintu disisi kemudi untuk sang kekasih. Menutupnya kembali setelah
memberikan kecupan singkat di pipi.
Dia berjalan menuju kemudi. Memposisikan dirinya dibelakang setir.
Memutar kunci dan mulai melajukan kendaraannya ke kota.
Sesampai di perumahan elit dekat kampus ‘Bens’, mobil itu
berhenti. Hendri turun dan memencet bel pintu gerbang. Tak beberapa lama,
seorang pria membukakannya.
Hendri pun melajukan kendaraan ke dalam. Gesekan roda dengan
kerikil terdengar. Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk.
Mengandeng tangan sang perempuan, dia pun melangkah ke rumah
dengan sedikit sempoyongan.
“Apa mereka sedang mabuk?” batin si penjaga rumah, saat melihat
kedua majikan yang berjalan tidak seperti biasanya.
Kedua sejoli tampak seperti terpengaruh oleh sesuatu,
bernyanyi-nyanyi dengan gembira, saat memasuki ruang tamu.
Saling dorong, Hendri menindih Yuli di sofa. Tatapannya penuh
minat, dia sangat menginginkan gadis itu.
“Emm, boleh kah?” tanya Hendri penuh nafsu.
“Boleh,” jawab Yuli dengan tidak sadar.
Mereka pun saling mencium tanpa jeda. Bertukar
saliva dengan kecipak nyaring terdengar. Napas keduanya memburu saling
bersahutan mengambil udara.
Menikmati hubungan terlarang yang
seharusnya tidak dilakukan. Hendri sang manajer perusahaan pemerintahan, malam
ini telah melakukan kesalahan fatal.
Menuntaskan hasrat gejolak jiwa, kedua
manusia lawan jenis itu tertidur dengan pulas. Saat semuanya telah terjadi.
__ADS_1