
Tepat pukul dua puluh satu tiga puluh, netra Jay melihat
kedatangan tamu undangan yang dinantinya. Penuh semangat dia mematikan rokok
yang masih separuh ke dalam asbak di atas meja.
Gegas berdiri, kala sang tamu istimewa mencapai lantai lobi.
Merapikan penampilannya sesaat sebelum menghadang orang tersebut tepat di meja
resepsionis.
Mengangguk hormat pada keduanya. Mengulurkan tangan untuk berjabat
yang disambut dengan gerakan yang sama ditambahi dengan senyum penuh keramahan.
Mempersilahkan dengan gerakan tangan. Merekapun berjalan
beriringan menuju aula pesta. Tepatnya Jodi mengekori kedua tamunya.
Menatap punggung si wanita yang saat ini mengenakan gaun hitam
dengan banyak kilauan manik nan cantik. Rambut yang berombak dibiarkan tergerai
begitu saja. Hanya jepit rambut cantik dari permata menghiasi kepala.
Kembali Jay menelisik ke arah belahan gaun yang mencapai tiga
senti diatas lutut. Menunjukan kaki jenjang nan mulus. Kemudian arah tatapannya
semakin ke atas, dimana pinggul seksi sang tamu yang bergoyang kekiri dan kanan
mengikuti ayunan langkahnya.
Dia menghembuskan napas tertahan ke udara. Menahan gejolak jiwa. Menundukan
kepala sejenak dan detik berikutnya menggelengkannya pelan. Dia tidak ingin
sesuatu yang tidak di inginkan terjadi disini. Apalagi si pria gagah disamping
wanita, pasti akan melakukan gerakan perlindungan saat ada hal yang
membahayakan.
Tepuk tangan meriah memenuhi ruang aula, ketika ketiganya mencapai
karpet merah di ujung pintu. Pun saat sang MC memberitahukan jika sang pemilik
acara telah datang dan segera memintanya ke atas panggung. Memberikan pidatonya
sekaligus sebagai acara penutupan sebelum acara bebas.
Bebas bagi para undangan mengambil makanan yang terhidang dan
melakukan negosiasi bisnis tidak resminya dengan tamu yang lain.
Mengantarkan kedua tamunya ke kursi kehormatan, dia pun melangkah
ke panggung. Memberikan salam sejenak ke nyonya besar dan para tamu undangan
yang berada di meja VVIP, Jay menyebutkan semua progress perusahaan dalam
pidatonya.
Juga mengucapkan rasa terima kasihnya yang mendalam kepada pewaris
tunggal dari The Robinson. Pebisnis satu-satunya yang mempercayai dia untuk
bekerja sama walaupun dalam keadaan perusahaan yang hampir bangkrut.
Dia pun menyebut nama sang nona serta memintanya berdiri. Wanita yang
disebutnya pun berdiri, mengangguk ke semua undangan sebelum duduk kembali.
Laura sang nyonya besar terperangah tak percaya, melihat sang
menantu adalah orang dibalik kesuksesan anaknya. Dia pun menitikan air mata
terharu.
Batinnya penuh dengan harapan-harapan yang ingin segera terwujud
dari keduanya. “Tapi mungkinkah?” pikirnya.
Keseluruhan acara ditutup dengan doa oleh seorang kyai. Kata ‘Amin’
terdengar dari mulut semua yang hadir dalam ruangan, ketika beliau mengakhiri
panjatan doanya. Turun dari panggung, sang ulama disambut oleh panitia yang
mempersilahkannya ke ruang khusus pengisi acara.
MC pun mengumumkan saatnya acara bebas. Keriuhan pun memenuhi aula
dengan kesibukan para undangan. Menghambur ke meja hidangan atau pun mengambil
minuman di sisi meja lainnya, dan mulai melakukan pembicaraan bisnis tidak
resminya.
Sedangkan Laura berjalan menghampiri Suti. Saling berpelukan juga
menepuk pelan punggung masing-masing sebagai tanda rindu yang mendalam.
Saling mempersilahkan duduk, keduanya pun terlibat percakapan
seru. Menceritakan pengalaman masing-masing ketika berjauhan.
Tertawa tertahan ketika ada hal yang lucu dalam pembicaraan. Atau berkaca-kaca
ketika ada lintasan sedih didalamnya.
Hingga hampir dua jam, keduanya duduk bersama dan saatnya bagi
Suti untuk mencicipi makanan. Laura pun mengangguk mempersilahkan, meskipun
__ADS_1
berkali netranya mencari keberadaan anak semata wayangnya. Tapi tak ketemu, dia
pun bergabung dengan para istri pengusaha lainnya mendiskusikan trending topik dari
para sosialita sembari menunggu suami-suaminya selesai dengan lobi bisnisnya.
Suti melangkah dengan pelan menuju meja sambil mencari David di
sekitaran. Menghembuskan napas sejenak saat netranya tak menangkap siluet sang
asisten pribadi.
“Nona jangan kuatir, Mr. David masih ada lobi bisnis dengan tuan
Andrew di ruang sebelah, “bisik salah satu bodyguard Jay.
“Eh, “sedikit terkejut.
“Silahkan dinikmati hidangannya, nona” ujarnya sebelum berlalu
meninggalkan sang tamu sendirian.
“Ya…terimakasih”.
Wanita itu berjalan menuju ke menu favoritnya. Mengambil sepiring
kecil dan menandaskannya. Kemudian dia berjalan ke tempat minuman berada. Meminta
jus dari bartender yang siap meramu minuman sesuai keinginan para tamu
undangan.
Suti menyebutkan takaran yang dimintanya. Saat gelas sudah
digenggaman dia pun melangkah ke para pria yang sedang melakukan lobi bisnis.
Kehadiran sang CEO wanita satu-satunya di ruangan mendapat
sambutan hangat dari seluruh pimpinan perusahaan yang mayoritas pria.
Bahkan semua bisnisman yang semula berpencar, mendekat ke meja
Suti. Keakraban dari nona Robinson membuat mereka betah berlama-lama melakukan
pembicaraan.
Tak sedikit yang memuji gaya kepemimpinannya. Ataupun sekedar
mengagumi kecantikan si nona dari dekat.
Para lelaki yang masih single mulai mencari perhatian dengan
berbagai cara. Berharap dapat melakukan makan malam berdua untuk pembicaraan
bisnis. Atau sekedar kencan pendek yang berarti nantinya.
Suti hanya tertawa ramah menghadapi tingkah laku absurd mereka. Merekapun
bersiul nakal saat sang nona menceritakan hal lucu dalam perjalanan bisnisnya
merasa cemburu.
Setelah turun dari panggung sambutan, dia bersembunyi diantara
para tamu undangan. Mengamati gerak gerik Suti dari kejauhan.
Saat si wanita yang diamatinya berinteraksi dengan rekan-rekannya.
Dia mulai menyadari sesuatu, jika sang kekasih hati masih menjadi idola para
lelaki. Walaupun mereka baru berkenalan.
Itu membuat hatinya tersulut rasa cemburu. Saat ini dia
mendekatinya dan menepuk pelan punggung sang wanita dari belakang seraya
berkata, “Maaf teman-teman ada yang harus kudiskusikan dengan istriku. Kami permisi,
“ujarnya kepada semua yang hadir.
“Ouh ayolah Mr. Jay. Bukankah hari masih terlalu sore untuk
diskusi suami istri?” celetuk salah seorang.
“Ah maaf ini sangat urgen sekali. Bukan begitu sayang?” diraihnya
pinggang Suti dengan posesif.
“Ap~apa?”
“Penting sayang, bukan begitu?” sedikit mengangkat tubuh si wanita
agar mengikuti langkahnya.
“Apa maksudmu Jay?” bisik Suti.
“Ikuti aku jika tidak ingin sesuatu yang tidak kamu senangi
terjadi disini, “jawabnya ditelinga.
“Apa itu?”
“Aku akan mencumbuimu didepan mereka, “jawabnya santai.
“Jangan gila kamu”.
“Aku akan gila jika kamu tidak menurut. Ikuti aku”.
Dengan pinggang dalam rengkuhan, Jay membawa wanitanya memasuki
lift. Memencet tombol merah yang bertuliskan lantai tiga.
Begitu benda itu sampai dilantai yang dituju, dengan sedikit
paksaan Jay merengkuh Suti mengikuti langkahnya menuju kamar 302.
__ADS_1
Menempelkan card key ke sensor pintu kamar terbuka. Dengan ujung
kaki kanan, Jay menutupnya kembali. Kemudian menempelkan tubuh Suti ketembok
dan menindihnya. Masih dengan posisi berdiri, Jay mendekatkan wajah.
“Plaaak!” tamparan melayang ke wajahnya saat jarak bibir mereka
tinggal satu senti.
Kembali lagi, “Plaak!” terdengar. Kali ini mengenai sisi kanan
pipi Jay.
Dengan napas memburu, Jay memaksa mencium bibir istrinya. Bukannya
menerima dengan perlakuan Jodi perempuan itu semakin meronta-ronta.
“Lepaskan aku brengsek, “tendangan pun dilayangkan ke
************.
Jay yang menyadari ilmu beladiri istrinya pun, segera
mengantisipasi gerakan tersebut. Diraihnya pergelangan kaki dan mengangkat
tubuhnya. Membantingnya ke kasur king size yang ada disana.
“Ouch, damn you Jay!” Ungkap Suti marah kala pergelangannya
sedikit nyeri.
Jodi mengungkung tubuh istrinya. Memegang kedua tangan mungil yang
tak berhenti berontak. Menyatukannya ke atas. Menarik dasi yang dipakainya
dengan kasar. Dia pun mengikat tangan sang istri ke ranjang. Mengambil bantal
untuk menyanggah kepala Suti. Lelaki yang penuh rasa cemburu itu pun mulai
menciumi istrinya dengan tak beraturan.
Merasa tak perdaya dengan posisinya, Suti hanya bisa
menendang-nendang ke atas. Sampai gerakannya terdiam oleh ulah Jay yang
menciumi bagian sensitive tubuhnya.
Dia mulai terhanyut dengan ulah Jodi. Hingga,”Tunggu!”
Menghentikan gerakan, “Apalagi sayang. Bukankah kamu menikmati
permainan ini?” jawab Jay.
“Ini tidak benar. Aku tidak mau melakukan dosa besar”.
Menghela napas kasar, “Apa maksudmu dengan dosa besar?”
“Kita-kita bukan suami istri lagi Jay. Bukankah ini zina namanya?”
“Ha…ha…ha. Aku tidak pernah menceraikanmu, asal kau tahu. Pernikahan
kita masih syah dimata hukum dan agama”.
“Be-benarkah?”
“Itu benar sayang. Kita masih suami istri, “dibelainya pipi Suti
dengan sayang. “Bagaimana kita lanjutkan permainan ini?”
“Aku-aku”.
Kata itu terputus tatkala Jay kembali menciumnya, kali ini dengan
perlakuan yang lembut dan tatapan penuh cinta.
“Bisakah kau melepas tanganku, Jay. Aku merasa tidak nyaman”.
“Asal kamu tidak akan berontak”.
“Fine. Aku juga ingin menikmati permainan kita Jay”.
“Sungguh, “binarnya bahagia.
Anggukan pun diterima. Simpul dasi dilepas, Jodi memijit
pergelangan tangan Suti yang sedikit memerah karena gerakan merontanya.
Suti merasa manis dihatinya, dia menangkup wajah sang suami. Menciuminya
lembut penuh cinta. Sedangkan Jay membalasnya dengan penuh perasaan. Kedua orang
pasangan suami istri pun menuntaskan semua rasa yang terpendam selama ini.
Mereka larut dalam gelombang permainan cinta yang menghanyutkan
keduanya. Mereguk segala kenikmatan yang dianugrahkan oleh Tuhan Yang Maha
Kuasa, atas rasa insting berdasarkan cinta sejati.
Tulus murni tanpa dikotori oleh nafsu saling menguasai. Meremehkan
satu sama lain ataupun hanya sekedar melepas nafsu hewani.
Keduanya luluh dan tunduk dengan kekuatan ikatan batin yang begitu
menggelora. Tertuntaskan semua rasa perih, pedih dan juga kerinduan yang
membuncah saat ini.
Hingga tanpa terasa ini sudah ketiga kalinya. Mereka pun tertidur
kelelahan dengan saling berpelukan dibawah selimut. Meneruskan mimpi panjang
tuk meraih kebahagaiaan yang berbeda ke esokan hari, berdua.
__ADS_1